
Pagi hari menjelang siang.
Setelah membantu Eleonara mandi dan sarapan, Juna bersiap-siap untuk membawanya pulang karena Eleonara sudah di periksa dokter dan dokter memperbolehkannya pulang hari ini. Eleonara meminta pada Juna agar masalahnya ini jangan sampai terdengar oleh Pak Mohsen dan Bu Diana. Mereka akan sangat tidak senang pada keluarganya.
Sesampainya di rumah, baru saja Eleonara merebahkan tubuhnya di ranjang, Juna mengatakan kalau orang tuanya datang membawa Sora kemari. Syam yang menuntut mereka untuk menemui Juna dan Eleonara di rumah. Syam menemukan Sora sedang bersembunyi di rumah kekasihnya. Pagi-pagi buta dia memaksa Sora untuk ikut menghadap Juna.
Di tengah perjalanan, Sora menghubungi Abraham dan Mariam untuk menolongnya, tapi Syam tidak membiarkan itu terjadi. Dia justru menyuruh Mariam dan Abraham menemui Sora di rumah Juna. Mereka pun sampai bersamaan.
Semuanya duduk di sofa ruang tamu, termasuk Eleonara dan Juna. Eleonara melihat Sora yang terus menundukkan wajahnya dari tadi dengan tangan gemetar. Begitu juga dengan Abraham dan Mariam, mereka tidak berani memandang Juna.
"Bersyukurlah kalian karena masalah ini tidak saya beritahukan pada orang tua saya. Bagaimana jadinya jika orang tua saya tahu menantu satu-satunya keluarga Emirhan dicelakai sampai hampir meregang nyawa oleh anak kalian sendiri. Kesepakatan batal dan modal pasti akan dicabut," ucap Juna memulai pembicaraan.
Perkataan Juna membuat Abraham tersentak kaget setengah mati selaku orang yang paling diuntungkan oleh keluarga Juna. "Tidak, Nak Juna. Saya mohon jangan sampai orang tua Nak Juna tahu mengenai ini! Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Nak Juna karena sudah gagal dalam mendidik Sora sampai nekat mencelakai adiknya sendiri," ujarnya dengan tatapan memohon.
Eleonara tidak tega melihat ayahnya memohon seperti itu, tapi jika diingat perlakuannya yang hanya memanfaatkannya saja, Eleonara kembali dendam.
"Saya tidak ingin mendengar maaf dari Pak Abraham, tapi dari pelakunya," kata Juna sambil menatap penuh kebencian pada Sora. Seakan sorot matanya ingin melahapnya hidup-hidup. Membuat Abraham, Mariam termasuk Sora bergidik ngeri.
Hebat sekali pengaruh Pak Juna, baru bicara begitu saja sudah sampai membuat mereka gemetar ketakutan. (Batin Eleonara)
"Sora, bicaralah!" bisik Abraham menuntut dengan kesal.
"Dia akan bicara. Jangan memelototinya begitu!" imbuh Mariam pada Abraham. Tak terima anaknya ditekan sana sini.
__ADS_1
"Ada yang mau kamu sampaikan?" sindir Juna dengan alis kiri terangkat naik. Dia genggam erat tangan Eleonara agar terlihat oleh Sora kalau dia sangat menyayangi Eleonara. Tak ada niat sedikit pun melirik wanita lain apalagi wanita macam dirinya yang jahat.
Sora menelan salivanya dengan keringat dingin mengucur di seluruh tubuh. "I-itu ... saya ... saya minta maaf karena sudah bertindak tanpa berpikir sampai membuat adik saya tenggelam."
Baru kali ini aku melihat Kak Sora ketakutan. Seperti sedang mengobrol dengan Malaikat maut saja. (Batin Eleonara puas)
"Bukan meminta maaf pada saya, dong. Yang kamu celakai kan, adikmu. Minta maaf padanya!" tegas Juna dengan menaikan dagunya, tampak arogan.
Bola mata Sora melirik ke arah Eleonara. Dia tampak tidak terima harus meminta maaf pada Eleonara yang biasanya dia tindas habis-habisan itu. "Ah ... emm ... El, Kakak minta maaf. Kakak h-hilang kendali saat itu dan ti-tidak sengaja menceburkan kamu ke kolam renang," ucapnya gelagapan.
Eleonara menghela napas sambil mengerucutkan bibirnya. "Tidak sengaja, ya?" Eleonara menggerakkan bola matanya pada Syam, mengisyaratkan sesuatu.
Syam merogoh ponselnya di saku celana, lalu menunjukan rekaman CCTV pada Sora dan orang tuanya. Di sana terlihat jelas sekali Sora dengan sengaja menceburkan Eleonara ke dalam kolam. Padahal Sora sudah berniat menolongnya, tapi dia malah menarik diri dan masuk ke dalam tanpa memedulikan Eleonara yang sedang berusaha menyelamatkan dirinya.
Wajah Abraham, Mariam dan Sora langsung pucat pasi seperti mayat hidup.
"Bicara yang benar!" seru Abraham sambil mendorong lengan Sora dengan kasar. Lagi-lagi Mariam marah dan kali ini dia memelototi Abraham.
"Lalu, aku harus mengatakan bagaimana, Ayah?! Haruskah aku mengatakan kalau aku sengaja?" protes Sora marah-marah karena terus disudutkan ayahnya.
"Lho, bukannya memang seperti itu?" sindir Eleonara sambil mengedip-ngedipkan matanya lugu.
"Jangan ngompor-ngomporin kamu, El!" bentak Sora sambil menunjuk Eleonara dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
"Akh, Pak Juna, kepalaku tiba-tiba sakit mendengar suaranya," bual Eleonara merintih sambil menyenderkan kepalanya pada dad'a bidang Juna. Minta dielus.
"Perhatian sikapmu, Sora! Apa seperti ini sikap orang yang meminta maaf?! Kamu tidak tahu Leona semenderita apa saat tenggelam? Mau mencobanya?" geram Juna dengan kening mengernyit tajam.
Abraham semakin kesal melihat tingkah angkuh yang Sora tunjukan di depan Juna. Benar-benar tak memberikannya muka sama sekali, membuatnya sangat malu mengakui kalau Sora adalah anaknya. Ingin Abraham menampar mulut Sora agar membuatnya hati-hati dalam bersikap.
"Maaf, maaf, Nak Juna. Sora terkadang kesulitan mengendalikan emosinya. Saya mohon untuk memakluminya," ucap Abraham memebela sambil memaksakan senyumnya meski dia jengkel setengah mati pada anaknya itu.
Diam-diam Abraham mencubit lengan Sora sambil berbisik, "Buka matamu lebar-lebar, lihat siapa yang sedang kamu hadapi! Kalau tidak bisa bersikap baik, jangan salahkan Ayah kamu dijebloskan ke dalam penjara!"
Deg!
Pe-penjara? (Batin Sora terpukul)
...
BERSAMBUNG!!
Terus dukung novel ini, ya. Jangan lupa like dan komentarnya^^
.
.
__ADS_1