Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Aku Juga Bisa Menciyum Serkan Bey


__ADS_3

"Serkan Bey, Juna datang," ucap Eleonara menanggapi dengan tenang dan damai kedatangan Juna.


Begitu Serkan menoleh, Juna sudah berdiri di sampingnya sambil menatap Eleonara dalam diam. "Serkan, aku akan buat perhitungan padamu, tapi tidak sekarang," bisiknya mengintimidasi.


Eleonara memalingkan wajahnya dengan melipat kedua tangannya di atas perut. Bersikap acuh tak acuh.


"Pulang!" seru Juna tak ramah.


"Kenapa ke sini? Bukannya kamu membawa wanita itu ke rumah sakit? Apa sudah selesai kangen-kangenannya?" sindir Eleonara sambil meneguhkan hatinya untuk tidak menatap Juna sama sekali. Melirik bahkan sedikit pun tidak dia lakukan.


"Jangan seperti anak kecil. Kita bicarakan di mobil!" Juna menarik pergelangan tangan Eleonara, tapi Eleonara berusaha melepaskan dengan kasar.


Serkan merasa bingung harus berbuat apa karena mereka bertengkar di hadapannya. Banyak karyawannya yang melihat. Seolah Serkan telah merebut kekasih orang dan tak sengaja kepergok.


Serkan menggerakan bola matanya pada salah satu karyawan pria, mengisyaratkan untuk menutup pintu dan menyuruh karyawan lain untuk tidak menonton mereka (bersembunyi).


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku hanya ingin dengar satu kata darimu," ucap Eleonara dengan raut wajah semrawut tidak enak dilihat.


"Apa? Kamu ingin dengar apa?" tanya Juna tak sabaran. Apa pun akan dia lakukan saat ini demi mengambil hati Eleonara lagi.


"Pikir saja sendiri. Sudah besar, apa tidak tahu harus mengucapkan apa kalau sudah melakukan kesalahan?" kata Eleonara yang semakin menekan Juna. Dia kesal sampai rasanya ingin mengeluarkan isi kepala Juna dan menampar otaknya bolak-balik karena otak Juna sepertinya berhenti ditempat.

__ADS_1


Serkan pun sampai mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa di pastikan dari raut wajahnya dia sedang merutuki sahabatnya ini.


Bodoh! Dia ingin dengar kamu meminta maaf. (Batin Serkan menggerutu)


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi. Saya sudah pusing mencarimu ke mana-mana. Leona, kamu tahu tidak pergi dengan seorang pria dengan statusmu sebagai istri saya bukanlah hal yang baik. Kamu tahu kan, Serkan itu sahabat saya," ucap Juna dengan kerutan di kening. Wajahnya masih terlihat pucat, kurang sehat.


"Lalu, dici'um mantan kekasih saat statusmu sebagai suami orang, apa itu hal yang baik? Kalau memang begitu, aku juga boleh dong menci'um Serkan Bey. Kamu mau lihat?" tantang Eleonara yang dengan secepat kilat menarik kerah kemeja Serkan. Spontan tubuh Serkan terdorong maju dan kini begitu dekat dengan wajah Eleonara.


Blush...


Kedua pipi Serkan merah tak tertahan. Jantungnya berdebar tak karuan seperti genderang mau perang.


"Aku tahu memang dia yang nyosor duluan. Tapi, setelah itu apa yang kamu lakukan? Kamu bahkan tidak memarahinya dan malah berbalik memarahi aku. Seolah ci'uman itu bukan apa-apa untukmu dan kamu juga melindungi dia dengan sangat baik. Padahal yang istrimu itu aku, bukan dia. Yang terluka parah juga aku, bukan dia. Aku hanya memberinya sebuah tamparan kecil, dia langsung jatuh dengan manja. Sikap liciknya begitu kontras, masa tidak terlihat? Menjijikan! Lemah sekali mantanmu itu," geram Eleonara dengan mulut komat-kamit. Yang tadinya suasana hatinya mulai baik, malah kembali buruk lagi. Malah semakin buruk.


"Tidak seperti yang kamu lihat, Leona. Saya tidak hanya diam membiarkan dia melakukan itu. Lagipula saya bukan melindungi dia, tapi bayinya. Saya hanya takut bayinya yang tidak tahu apa-apa terluka olehmu. Jika terjadi sesuatu pada bayinya, dengan sikapmu ini saya yakin kamu pasti akan sangat menyesal nanti," jelas Juna dengan tatapan memohon.


"Cih, alibi. Kalau begitu, sekarang aku mau tanya. Kamu harus jawab jujur dengan keyakinan penuh. Apa kamu masih mengharapkannya? Kamu senang tidak dia kembali setelah sekian tahun menghilang tanpa kabar?" tanya Eleonara sampai dia beranjak bangun dengan sorotan tajam menusuk pada Juna yang sedang bimbang memikirkan jawabannya.


Kedua mata Eleonara berkedut memerah panas. Kekecewaanlah yang diperlihatkan kini.


"Heh, bingung kan di tanya begitu? Sebenarnya kamu sendiri tidak tahu mau di bawa ke mana hati dan perasaanmu itu, iya kan? Aku juga bingung harus menyikapi kamu bagaimana sekarang. Tapi, aku tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkanmu, tidak ada. Melihatmu setiap hari capek, jam tidur berantakan, pulang pergi ke Luar Negeri-Indonesia terus demi memenuhi kebutuhanku, membuatku tidak tega. Tapi, aku tidak mungkin terus-terusaan berharap pada seseorang yang hatinya belum selesai dengan masa lalunya, Jun. Kamu ngerti kan, maksudku?" tanya Eleonara pilu sambil mengusap air matanya yang entah kapan menetes. Padahal sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Ehem, Juna, kalau kamu ingin Leona tetap di sisimu, segera lupakan Elena. Tidak perlu menengok ke belakang lagi. Tidak ingat menyembuhkannya sampai setengah mati? Jangan sampai Leona berada di titik di mana dia sudah lelah dan dia tidak lagi menginginkanmu," imbuh Serkan memperingati dari hati ke hati.


Mulutnya gatal sedari tadi ingin menceramahi sahabatnya yang sedang berada di jalan buntu, jadi bodoh dan tidak berpendirian. Membuatnya kesal setengah mati.


"Sudahlah, aku juga tidak mau memaksakan perasannya karena memang hati tidak bisa dipaksa, bukan begitu Serkan Bey? Yang ada nantinya malah menorehkan luka semakin banyak padaku. Aku tunggu kamu menata hatimu dengan baik dulu dan putuskan saat pikiranmu jernih. Besok aku sudah harus mengikuti Try Out, masalah seperti ini jangan sampai mempengaruhi nilai-nilaiku. Aku akan berusaha mengesampingkannya. Kamu pulanglah, berikan aku sedikit kedamaian hari ini," ucap Eleonara sambil membuang muka.


Hatinya menginginkan Juna untuk tetap di sini dan meminta maaf padanya karena telah melukainya, lalu membujuknya untuk berbaikan. Namun, pikirannya menentang keras. Sudah terlalu lama menunggunya minta maaf sampai rasa kesalnya menembus ubun-ubun, tapi Juna tak kunjung mengatakannya juga.


Hah, sial! Karena cinta, Eleonara jadi tak bisa membencinya dan marah terlalu lama. Meski hatinya sakit bagai dirremas setiap kali mengingat Juna membela Elena dan ketika mereka berci'uman.


Eleonara berusaha mengacuhkan Juna saja. Dia memilih masuk ke dapur di mana para patissier sedang memanggang roti dan aneka kue. Dia ingin pikirannya kembali normal lagi sebelum bergulat dengan soal ulangan besok.


Namun, tiba-tiba saja Serkan berteriak memanggil namanya dan membuat langkah kaki Eleonara terhenti.


...


BERSAMBUNG!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2