Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Saya dan Elena Memang Sudah Melakukannya


__ADS_3

Kalau ada typo kasih komentar di paragrafnya ya ^^


.


.


"Duh, gara-gara kamu aku jadi terlambat ke Bandara! Kak Varel pasti sudah pulang bersama Ayah, Ibu sekarang," gerutu Eleonara sambil melipat kedua tangan di atas perut dengan bibir mengerucut. Dia sedang berada di dalam mobil bersama Juna menuju Bandara.


"Saya tidak tahu kalau kakakmu akan pulang hari ini. Kenapa tidak memberitahu saya semalam? Keenakan sih, sampai merem melek," sindir Juna sambil terkekeh geli membayangkan kejadian semalam.


Eleonara mencubit gemas pipi Juna yang ditumbuhi jambang tipis itu. "Yang ada itu kamu yang keenakan. Aku malah kesakitan tahu!"


"Tidak ada rasa sakit seenak itu. Lagipula punya keberanian dari mana sampai menghina keperkasaan saya? Jadi, saya buktikan saja langsung," kata Juna dengan sompral.


"Huh! Semalam kan, sudah bilang tidak benar-benar mengatakannya. Aku hanya terbawa emosi saja," ungkap Eleonara.


"Emosi kenapa memangnya? Saya ada salah apa?" tanya Juna penasaran sekaligus ingin memastikan dugaannya.


"Emm ... itu ... bukan apa-apa," jawab Eleonara ragu karena malu mengatakan kalau dia sedang cemburu pada asumsinya sendiri yang belum pasti kebenarannya.


"Karena masalah saya dengan Elena?" celetuk Juna inisiatif sendiri. Eleonara langsung menoleh menatapnya seolah dia terkejut kenapa Juna bisa tahu. Juna hanya menyunggingkan senyum melihat respon Eleonara yang sudah jelas mengatakan kalau dugaannya benar.


"Tadi pagi kamu mengigau. Kamu bilang saya tidak boleh melakukan sseks dengan Elena karena kamu akan sangat marah. Dapat dari mana pemikiran seperti itu, hm?" tanya Juna lirih sambil fokus menyetir.


Astaga, apa benar-benar aku mengatakan itu saat tidur?! Sepertinya aku benar-benar sangat tidak terima hubungan Pak Juna dan Elena sudah seperti itu sampai meracau tidak jelas. Duh, bikin malu saja! (Batin Eleonara)


Eleonara terlihat resah sambil menyentuh kacamatanya. "Aku ... aku hanya penasaran saja, apa kamu dan Elena sudah pernah melakukan hubungan sampai seperti itu sebelumnya? Elena orang Eropa, kan? Pergaulan barat sangat bebas. Melakukan sseks sebelum menikah bukan hal yang aneh lagi di sana," ujarnya sambil meremas dengkul, malu-malu mengatakannya dan takut mendengar jawabannya.


"Ah, itu ya ... sepertinya kamu sangat penasaran, tapi jawaban saya mungkin bisa menghancurkan suasana hatimu hari ini," kata Juna memberikan kode sebelumnya.


Eleonara langsung terlihat murung setelah mendengar Juna bicara begitu, meski belum jelas jawabannya, tapi perasaannya sudah gemetar ketakutan duluan. Seakan menyuruhnya bersiap-siap dan hati-hati.

__ADS_1


"Memangnya kamu dan Elena benar-benar sudah sampai berhubungan badan?" tanya Eleonara. Dari tatapannya menyiratkan menyerah sebelum berperang.


"Em ... sudah," ucap Juna.


Seketika saja jantung Eleonara merosot jatuh dan dunianya seakan runtuh luluh lantak. Sebelumnya sudah wanti-wanti, tapi tetap saja mendengarnya secara langsung membuat perasaannya hancur berkeping-keping.


"Bohong, bohong. Saya bercanda, hahahahaha!" ucap Juna sambil tertawa puas melihat ekspresi Eleonara.


Eleonara yang tadinya sedang berduka atas kemalangan hati dan perasaannya, langsung mendatarkan ekspresi wajahnya secepat kilat. Bola matanya menatap sinis ke arah Juna yang sedang menertawainya dengan puas. Kesal sekali sudah dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya, ternyata dia tertipu.


"Permisi, di mananya yang lucu, ya?!" geram Eleonara sambil menggertakan giginya.


"Hahahaha, lucu sekali wajah putus asamu tadi. Saya sampai mengeluarkan air mata berlian," ujar Juna sambil mengusap air mata di sudut matanya.


Argh!


"Benar nih, kamu dan Elena tidak pernah melakukannya?" tanya Eleonara meyakinkan sambil menatap dengan tatapan ancaman.


"Tentu saja tidak, Leona. Saya baru pertama kali melakukannya denganmu. Sebelumnya saya masih bersih dan sangat suci."


"Tahu dari mana saya pernah jadi model? Tapi, bukan model majalah dewasa juga. Saya jadi model produk saya sendiri. Perhiasan pria dari agate. Yang mengaturnya pun Kak David dan beberapa teman prianya. Jangan asal nuduh," bantah Juna.


Hah, model produknya sendiri? Apa iya? (Batin Eleonara)


Dia memeriksa beberapa foto Juna yang sudah dikirimkan oleh Vivian sebelumnya. Ternyata memang benar, di leher Juna terdapat kalung dengan batu berwarna biru laut, di jari manisnya pun tersemat cincin dengan batu yang sama biru laut. Foto-foto yang lain juga semua ada perhiasannya. Eleonara merasa tak bisa menerimanya.


Lagi-lagi bikin malu diri sendiri. T_T (Batin Eleonara)


"Kenapa sih, sensitif sekali? Jangan-jangan mau datang bulan," duga Juna sambil tersenyum mengejek.


"Hum!" Eleonara membuang pandangan ke arah lain sambil menaikan dagunya. Terlihat seperti sudah salah masih tidak mau mengaku. Arogan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel Eleonara berdering. Ada panggilan masuk dari Abraham. Tidak pikir panjang Eleonara menjawabnya.


"Halo, El? Kamu sedang menuju ke Bandara?" tanyanya tergesa-gesa.


"Iya, sedang terjebak macet. Apa Kak Varel sudah dengan kalian?" tanya Eleonara cemas.


"Sudah sejak setengah jam yang lalu. Kami baru saja sampai rumah. Varel menyuruh Ayah menghubungimu untuk pulang sekarang. Tadi dia tanya kamu ke mana tidak ikut menjemputnya, Ayah terpaksa bilang kamu sedang membeli sesuatu. Ayah tidak bisa mengatakan kalau kamu sudah menikah. Sekarang kamu minta izin pada suamimu untuk pulang. Cepat ya, El, jangan buat Ayah cemas lama-lama. Kamu tahu sendiri seperti apa Varel terhadapmu," ujar Abraham yang terdengar tergesa-gesa. Bahkan mematikan telepon begitu saja sebelum Eleonara merespon.


"Neden?" tanya Juna penasaran.


"Kak Varel sudah di rumah. Ayah meminta aku pulang sekarang," jawabnya lesu.


"Jadi tidak perlu lanjutkan perjalanan? Kalau begitu kita pergi ke rumahmu saja," ucap Juna dengan wajah santai.


"Tunggu dulu! Kak Varel tidak tahu mengenai pernikahan kita. Ayah dan Ibu tidak ada yang berani mengatakannya. Jadi ... sepertinya harus dirahasiakan. Aku pulang sendiri saja." Eleonara menatap Juna dengan tatapan memohon. Dia berharap Juna dapat mengerti dan memahaminya.


Namun, sayangnya tidak semulus yang Eleonara harapkan.


"Saya dapat mempertimbangkan untuk merahasiakan hubungan kita dari teman-temanmu dan orang luar. Tapi, untuk keluarga sendiri tidak bisa. Siapa pun yang menjadi bagian keluarga sudah seharusnya tahu hubungan kita," kata Juna dengan ekspresi serius.


"Tapi, Kak Varel pasti tidak akan terima kalau tahu kita -"


"Terima atau tidaknya, belum pasti kalau belum mencobanya. Tapi, memangnya kakakmu itu berani keberatan atas pernikahan kita?! Tenang saja, jika dia tidak terima itu urusannya dengan orang tuanya," ucap Juna tegas. Dia tidak mau kalau Eleonara dan keluarganya masih ingin merahasiakan hubungannya dari Varel yang statusnya adalah anggota keluarga Abraham sendiri.


Memangnya siapa dia? Hanya seorang Kakak saja, kenapa Leona begitu menjaga perasaannya? (Batin Juna sirik)


...


BERSAMBUNG!!


Like, like, like!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2