
Setelah selesai mandi, Eleonara berkaca di cermin wastafel sambil melilitkan handuk kecil pada rambutnya yang basah. Terlihat samar-samar beberapa tanda merah di sekitar leher dan pundaknya. Membuat jantung berdebar karena lagi-lagi mengingat kejadian semalam. Juna mengetuk pintu dari luar.
"Sudah belum?" tanyanya.
"Sudah, sebentar," balas Eleonara. Ketika Eleonara hendak ke luar dari kamar mandi, dia melihat handuk kimono Juna tergantung. Seketika saja terbesit ide untuk mengusili Juna. Eleonara mengambil handuk itu dan dia sembunyikan di dalam perutnya, lalu buru-buru keluar.
Juna sudah menunggunya di depan kamar mandi dengan bertel-anjang dada. Eleonara memperlihatkan senyumnya yang mengembang dengan indah sampai menimbulkan lesung di kedua pipinya. Namun, senyum Eleonara terlihat aneh di mata Juna, seperti menaruh maksud tertentu.
"Sarapannya di atas meja bar, ya," ujar Juna.
Eleonara mengangguk. Juna pun masuk ke kamar mandi. Perut Eleonara keroncongan, dia segera menuju meja bar dan menyantap sarapan paginya sambil menunggu moment nanti ketika Juna berteriak menyuruhnya mengambilkan handuk.
Setelah perut terisi makanan dan Eleonara kekenyangan, terdengar suara Juna memanggilnya dari kamar mandi.
"Leona?" panggilnya. Pintu kamar mandi terbuka sedikit dan memperlihatkan celah. Wajah Juna nongol sambil celingak-celinguk. "Leona, ambilkan saya handuk!"
"Di mana Pak Juna meletakan handuknya?" tanya Eleonara.
"Sepertinya di kamar."
Eleonara tertawa tanpa suara. Dia berpura-pura masuk ke kamar dan mengeluarkan handuk Juna dari dalam perutnya, lalu segera membawanya ke kamar mandi.
"Ini," katanya.
Pintu kamar mandi kembali terbuka, memperlihatkan sedikit celah. Juna hanya menunjukkan wajah dan menjulurkan sebelah tangannya saja. "Sini, berikan."
"Ini ambillah," kata Eleonara sambil menyodorkan handuknya, tapi dengan jarak yang jauh. Tangan Juna tak dapat meraihnya.
"Leona, jangan bercanda," tekannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Hahaha, ayo, ambil. Apa yang sedang Pak Juna sembunyikan?" Eleonara tertawa usil melihat Juna yang sedang malu di dalam sana, menyembunyikan kepemilikannya di balik pintu.
"Saya marah, nih!" kecam Juna karena handuknya tak bisa digapai.
"Iya, iya, deh. Nih...." Eleonara buru-buru mendorong pintu kamar mandi dan sontak Juna yang sedang bertel-anjang terekspos dengan jelas. Tawa Eleonara langsung pecah tak tertahan melihat Juna yang refleks menjepit pa-hanya karena malu.
"Buahahhahaa, apaan itu? Kok, bentuknya seperti belalai gajah yang sedang kedinginan? Aduh, aduh, sampai sakit perut. Hahahaaa," kata Eleonara sambil menyodorkan handuk dengan tawa menggelegar. Namun, tiba-tiba saja Juna menariknya ke dalam.
"Eh, eh, tunggu! Tunggu, Pak Juna! Pak Juna mau apa?!" Eleonara menggenggam gagang pintu sekuat tenaga dengan ekspresi panik.
"Inilah akibatnya mempermainkan saya," bisik Juna sambil berusaha melepaskan tangan Eleonara yang masih mempertahankan diri dan menarik pinggangnya. Hingga akhirnya tangan Eleonara terlepas dan Juna langsung mendudukannya di atas wastafel.
Eleonara menyilangkan kedua tangannya di dad-a secepat kilat dengan kening mengernyit. "Pak Juna mau apa? Cepat, pakai handuknya. Na-nanti masuk angin," ucapnya gelagapan.
__ADS_1
"Kamu coba-coba mengusili saya, ya?" tuduh Juna.
"Em, itu -"
Tanpa perhitungan, Juna langsung membungkam mulut Eleonara dengan bibirnya. Dia menarik tangan Eleonara dan melingkarkannya di lehernya. Juna menyesap dalam bibir bawah Eleonara dengan penuh kenikmatan sambil melepaskan handuk kimono yang dikenakannya.
Tangannya mulai coba-coba mer-emas dad-a padat Eleonara. Ternyata begitu lembut. Seketika terdengar suara des-ahan kecil yang ke luar dari mulut Eleonara. Sekujur tubuh Eleonara menegang dengan rasa panas semalam yang kembali membakarnya.
Juna mengecup leher, pundak serta dad-anya, lalu Juna terdiam ketika Eleonara mendorong bahunya. "Semalam kan, sudah," ucap Eleonara dengan rona di kedua pipinya.
"Tapi, pagi ini belum," jawab Juna sambil kembali mengecup bibir Eleonara, satu kali kecupan. Dia ingin merasakan inti dad-a Eleonara yang sedang mengeras minta dicicipi. Dengan cepat Juna melahapnya.
"Ah."
Seketika tubuh Eleonara mengejang panas dingin dengan napas terengah-engah. Wajahnya menengadah ke langit-langit dengan mulut menganga dan mata terpejam nikmat. Tangannya meremas acak rambut Juna yang basah. Geli yang dahsyat sampai rasanya jantungnya meledak-ledak seperti kembang api.
Juna menekuk lutut Eleonara dan segera menyiksanya karena jamur supernya sudah berdiri menantang dari tadi. Er-angan demi er-angan menggema di kamar mandi. Kamar mandi yang seharusnya terasa dingin menyejukkan, malah terasa panas membara.
...
Eleonara ke luar dari kamar mandi sambil tertatih-tatih. Dia menyentuh kakinya yang bergetar, terasa sangat lemas. Bagian kepemilikannya begitu perih, pinggangnya pun sakit.
"Pak Juna kelewatan!" gerutunya yang terdengar jelas di telinga Juna.
"Kenapa jalannya seperti itu?" tanya Juna polos.
"Lemes, Pak Juna. Pinggang aku juga sakit," jawabnya sambil memandang bola mata hazel Juna yang indah.
"Saya terlalu kasar, kah?"
Eleonara mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Juna mengecup kening Eleonara. "Saya hilang kendali, maaf ya."
Eleonara mengangguk sambil tersenyum. Dia melingkarkan tangannya di leher Juna dan memeluknya erat. Juna bersandar di dad-a Eleonara seakan telah menemukan kenyaman di sana.
"Pak Juna?" panggil Eleonara lirih.
"Hm?"
"Di dad-a Pak Juna ada tato inisial EL. Apa maksudnya itu?" Akhirnya Eleonara berani mempertanyakan hal tersebut untuk memastikan. Tangannya terus mengelus rambut Juna.
"Dulu saya berpikir, selama saya hidup saya hanya akan mencintai Elena saja. Jadi, saya membuat tato di dada saya dengan mengambil kedua huruf depannya saja," jawab Juna lirih.
"Oh, begitu. Elena itu wanita yang seperti apa?" Meski perasannya tidak nyaman, tapi rasa keingintahuan Eleonara terhadap Elena sangat tinggi.
__ADS_1
"Dia ... baik," jawab Juna sekenanya. Membuat Eleonara sebagai pendengar merasa tidak puas.
"Itu saja?"
Eleonara melihat kepala Juna yang sedang bersandar di dad-anya mengangguk. "Kalau baik, kenapa Pak Juna berpisah dengannya?"
"Dia menghilang. Saya sudah mencarinya, tapi tidak kunjung menemukan keberadaannya."
"Menghilang saat status masih berpacaran?"
Juna kembali mengangguk, membuat kening Eleonara mengernyit. "Artinya Pak Juna ini masih kekasih orang, dong? Aku menikah dengan pria yang masih memiliki kekasih."
Juna menengadahkan wajahnya menatap Eleonara. "Hayır, sudah dua tahun sejak dia menghilang. Saya sudah menganggap hubungan kita putus. Jangan memikirkan yang aneh-aneh," jelasnya.
"Ah, tapi kalau dia tidak menghilang, sepertinya hubungan kalian masih berjalan sampai sekarang, kan? Apa yang membuatnya pergi meninggalkan Pak Juna?"
"Saya juga ingin tahu jawabannya."
"Kalau dia kembali sekarang, Pak Juna mau bagaimana menyikapinya?" tanya Eleonara. "Pak Juna kan, sudah menikah denganku. Sedangkan sepertinya hati dan pikiran Pak Juna masih berpusat padanya. Apa Pak Juna akan melepaskan aku dan kembali padanya?"
Juna terdiam membisu beberapa saat sambil menatap kedua mata Eleonara. "Jujur, saya merasa bingung ditanya seperti ini. Jika kamu tidak ingin saya kembali padanya saat dia muncul nanti, dari sekarang berusahalah mendominasi hati dan pikiran saya. Ambil perhatian saya, buat saya hanya melihatmu seorang."
Eleonara mengulum senyum mendengarnya. Juna begitu terbuka mengenai perasaannya. Dilihat dari sorot matanya tidak ada yang Juna tutup-tutupi.
"Pak Juna harus bisa membuka hati Pak Juna untukku. Bagaimana aku bisa masuk kalau Pak Juna sendiri menutupnya?"
Juna menganggukkan kepalanya sambil mengecup pundak Eleonara. "Tentu, sudah saya buka sejak saya memutuskan untuk menikahimu. Masuklah, tapi maaf berantakan, seseorang pergi tanpa permisi."
Eleonara terkekeh geli mendengar kalimat terakhirnya. "Pak Juna, aku jadi ingat sebuah lirik lagu. Aku ingin Pak Juna mendengarnya untuk pengingat diri."
"Lagu apa?"
"Ehem, sebentar. Olah vokal dulu, hehe. Ini lagu lawas yang sering diputar Ibu di rumah, tapi Pak Juna jangan melihatku bernyanyi, cukup dengarkan saja. Aku tidak percaya diri," ucap Eleonara sambil menutup mata Juna dan bersiap bernyanyi.
"Tamam," kata Juna, pasrah matanya ditutup. Dia menajamkan indera pendengarannya saja.
"Sudah punya mawar putih, jangan cari yang merah. Sudah punya cinta suci, jangan cari masalah. Mahkota cinta kuberikan, benang sari janganlah bimbang. Jagaa, jagaa, setiaaa~. Kemesraan menghangatkan hati yang dilanda cinta. Awas jangan sampai terbakar panasnya dusta. 'Jangan sampai putik berpaling ke lain cinta. Jangan sampai engkau menyesal, kemudian terluka, meranaaa~'."
...
BERSAMBUNG!!
Geboy bestie, jangan lupa sawerannya buat Leona, haha^^
__ADS_1