
Abraham menyuruh Sora meminta maaf pada Eleonara, tapi Sora tidak mau harga dirinya jatuh kembali. Dia memutuskan untuk masuk ke kamarnya sambil membanting pintu dengan kasar.
"Dasar anak tidak tahu diri!" teriak Abraham merutuki sambil berkacak pinggang.
"Kamu sudah sangat keterlaluan, Abraham! Kali ini aku benar-benar kecewa padamu. Kamu sampai berani menampar Sora!" bentak Mariam sakit hati, lalu dia meninggalkan Abraham dan berniat membujuk Sora di kamarnya.
"Keterlaluan bagaimana? Dia pantas mendapatkannya!" Abraham masih meracau padahal Mariam sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
"Sudah, Ayah, sudah. Jangan marah-marah terus," kata Eleonara. Begitu pun dengan Varel yang mencoba menenangkan ayahnya.
"Ayah pergilah ke kamar untuk menenangkan diri. El, kamu ganti pakaianmu. Kakak akan belikan salep untuk pipimu," ucap Varel sambil menatap kasihan.
"Iya, kamu segera ganti pakaian sebelum Nak Juna kembali. Jika dia melihatnya bisa panjang urusannya," tutur Abraham cemas.
Eleonara menyembunyikan senyum aslinya sambil mengangguk menyentuh kacamatanya. Abraham pun berlalu meninggalkan Eleonara dan Varel.
"Kak," panggil Eleonara. "Itu ... em, tidak usah beli salep. Tamparan Kak Sora tidak begitu sakit. Aku akan ganti pakaian dulu, ya."
"Eh, tapi -"
Ucapan Varel terpotong sebab Eleonara sudah menghilang dari pandangannya. Sebenarnya ada hal yang ingin dia tanyakan pada Eleonara seputar perkataan Abraham dan Sora yang sangat membuatnya penasaran. Sikap keluarganya pun termasuk Abraham sangat aneh, seakan melindungi Eleonara dengan sungguh-sungguh. Padahal sebelumnya tidak begitu, orang tuanya lebih condong memperlakukan Sora dengan sangat baik bak puteri raja.
Apa sebenarnya yang telah terjadi selama aku tidak di rumah? Lalu, hukuman apa yang pernah Ayah berikan pada Sora sebelumnya? (Batin Varel)
....
Malam harinya.
Eleonara menggiring Juna masuk ke dalam menuju ruang makan karena dia baru saja pulang. Sudah banyak hidangan makan malam di atas meja. Dari hidangan yang digoreng, ditumis, disayur sampai yang bersantan pun ada. Varel yang sudah menempati salah satu kursi dari tadi memandang sinis kehadiran Juna. Berbeda dengan Abraham dan Mariam, mereka memliki dua muka untuk ditunjukkan pada Juna.
"Selamat datang kembali, Nak Juna. Pasti lelah dan lapar ya, silakan dinikmati. Ini semua Eleonara dan ibunya yang buatkan, hehehe," ujar Abraham sambil tersenyum lebar.
"Wah, meriah sekali. Ellerinize sağlık," ucapnya sambil duduk pada kursi yang sebelumnya telah Eleonara tarik.
"Apa artinya?" bisik Eleonara.
"Semoga tangan yang membuat hidangan ini diberkahi," balas Juna berbisik dengan penuh sensual di telinga Eleonara.
"Ah, begitu. Lalu, aku sebagai yang menghidangkan harus mengatakan apa dalam bahasa Turki?"
__ADS_1
"Afiyet olsun, semoga kesehatan menyertaimu," bisik Juna lagi sambil tersenyum penuh cinta.
"Oh, afiyet olsun, ya, hehe ...." Eleonara senyum-senyum sendiri. Membuat Varel yang melihat keharmonisan mereka sangat iri dan dengki.
Brak!
"Mana Sora?!" tanyanya dengan wajah merah padam sambil menggebrak meja tiba-tiba. Abraham dan Mariam sampai terkejut, begitu pula dengan Eleonara dan Juna.
Abraham hanya memberikan isyarat menggunakan matanya pada Varel untuk menjaga sikapnya di depan Juna.
"Em, Sora ... ada di kamarnya," ujar Mariam, kebingungan melihat sikap kasar Varel.
"Kenapa tidak ikut bergabung?" tanya Juna.
"Panggil dong, Bu. Sudah waktunya jam makan malam ini," ujar Abraham sambil diam-diam memberikan tatapan penuh penekanan pada Mariam. Abraham tak ingin Juna melihat keluarganya sebagai keluarga yang tidak harmonis.
"I-iya." Mariam terpaksa menurut. Dia bergegas memanggil Sora di kamarnya.
Setelah dipanggil, Mariam dan Sora pun duduk di kursi masing-masing. Mariam membujuknya mati-matian karena Sora menolak untuk makan bersama Eleonara dan ayahnya, dia masih kesal sampai sekarang mengenai persoalan yang tadi. Pipinya masih terasa sakit berdenyut. Bahkan tatapannya pun menyiratkan penuh kebencian pada Eleonara dan Abraham.
Tertawalah sepuasmu. Sebentar lagi aku akan membalasmu berkali-kali lipat dari yang aku dapatkan. (Batin Sora pada Eleonara yang sedang menyunggingkan senyumnya diam-diam)
Kak Sora kelihatannya masih belum kapok. Rencana apa lagi yang sedang dia pikirkan? (Batin Eleonara sambil pura-pura mengunyah makanan padahal pikirannya berdesakan)
Setelah makan malam selesai, Mariam meminta Sora membantunya membawakan jus buah dari dapur. Sora pun mengikuti perkataan ibunya karena desakan dari Abraham juga.
Mariam membawakan empat gelas di atas nampan, sisanya ada dua gelas lagi yang harus Sora bawa. Namun, Sora memiliki sedikit rencana nakal untuk memberi Eleonara pelajaran. Dia memasukkan banyak sekali garam ke dalam gelas untuk dia berikan pada Eleonara.
Setelahnya dia bawa ke meja makan dan memberikannya pada Eleonara tanpa memperlihatkan kecurigaan sedikit pun.
Begitu Eleonara menyeruput segelas jus miliknya, kedua matanya membulat sempurna. Dia langsung mengambil tisu sebanyak-banyaknya dan memunggungi yang lain sambil mengeluarkan jus asin itu dari mulutnya. Untung belum tertelan.
"Kenapa, Leona? Ada yang salah?" tanya Juna, cemas.
"Kamu baik-baik saja, El?" Varel pun ikut mencemaskan.
"Jusnya ... jusnya asin!" keluhnya sambil mengecap-ecap lidahnya berkali-kali, terlihat sangat tersiksa.
"Asin?" gumam semuanya kecuali Sora.
__ADS_1
Eleonara melihat Sora sedang menyunggingkan senyumnya seolah ini baru pelajaran kecil yang dia berikan pada Eleonara. Namun, wajahnya sudah seangkuh itu.
Ketika semua orang di meja makan sedang fokus pada Eleonara, Sora diam-diam menukar gelas tersebut dengan gelas jus miliknya. Sayangnya Eleonara melihat permainan liciknya itu dan membuatnya semakin ingin membalasnya dengan sedikit taktik.
Ternyata memang dia. (Batin Eleonara)
"Masa sih, asin? Jangan ngada-ngada kamu! Ini kan, jus buatan Ibu. Kamu kayaknya sengaja mau nyusahin kita di depan suamimu," kata Sora sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Iya, El. Ibu tidak mungkin salah sampai memasukan garam ke dalam jusmu," imbuh Mariam memberikan pendapat.
"Biar saya coba," ujar Juna. Juna meneguknya dan dia berkata, "Manis, pas dan enak. Tidak asin sama sekali."
Semua yang ada di situ tentu langsung menatap Eleonara, meminta penjelasan dengan apa yang sudah dia ucapan sebelumnya. Sora hanya diam sambil menyunggingkan senyumnya.
"Kini semua tekanan akan berbalik padamu," gumam Sora puas hati.
"Tentu saja tidak asin karena jus milikku sudah Kak Sora ganti dengan miliknya," celetuk Eleonara yang tak mau kalah cerdik.
"A-apa? Kamu sedang ngelantur apa? Apanya yang aku ganti? Jangan suka mengada-ada!" bantahnya tegas.
"El, apa yang sedang kamu permainkan? Sora dari tadi diam di situ saja, tidak bergerak sedikit pun. Jangan memfitnahnya!" kata Mariam yang semakin lama semakin gondok melihat tingkah Eleonara.
Heh, rasakan itu. Semuanya akan melihat kalau kamu sengaja mempermalukan keluargaku di depan Juna. Makanya jangan terlalu sombong jadi orang! (Batin Sora)
"Aku tidak memfitnahnya. Aku lihat dengan mata kepalalu sendiri Kak Sora menukar gelas jus milikku dengan miliknya saat kalian semua lengah. Kalau tidak ada yang percaya, Kak Sora bisa bantu aku membuktikan. Coba minum jus milik Kakak sampai habis. Jangan ada yang tersisa. Bukankah jus ini dibuat khusus oleh ibu kita tercinta, rasanya tidak akan mengecewakan. Kalau Kakak menghabiskannya, berarti memang aku yang bermasalah," tantang Eleonara sambil menaikan dagunya saat bicara.
Sontak saja hal itu membuat Sora tak bisa berkutik. Tubuhnya mati membeku. Sebab, garam yang dia masukan ke dalam jus itu tidak tanggung-tanggung yakni lima sendok makan. Bagaimana caranya menghabiskannya jus seasin itu agar kedoknya tidak terbongkar?
Siallan, kenapa jadi malah berbalik padaku?! (Batin Sora)
...
BERSAMBUNG!!
Dukung terus novel ini, ya^^
.
.
__ADS_1