
Liat judulnya, ada warning! 18 tahun ke bawah, loncatin bab ini^^
.
.
"Mau ke mana? Mencoba kabur? Jangan harap!" seru Juna sambil menarik kerah piyama Eleonara dari belakang karena Eleonara mengendap-endap seperti kepiting untuk kabur.
"Hehe, kabur? S-s-siapa yang mau kabur? Justru aku akan bersiap-siap," bualnya gelagapan setengah mati.
Juna menarik Eleonara ke atas ranjang dan menatapnya dengan penuh penekanan. "Di mananya yang kecil, pendek dan tidak memuaskan? Tunjukan pada saya!"
Glek!
Eleonara menelan saliva. Aura dingin yang menguar dari tubuh Juna terasa menusuk ke dalam kalbu, Eleonara sampai bergidik ngeri. Nyesel dia telah menyinggung Juna.
"Begini, sayangku, cintaku ... tadi itu aku tidak sengaja bicara begitu karena sedang emosi. Jadi tanpa pikir panjang perkataan itu ke luar begitu saja dari mulutku. Jamur kamu big, long dan tentunya sangat memuaskan, kok. Aku saja sampai hampir mati ketika kamu sudah mencapai puncak, hehe. Sudah ya, jangan dipermasalahkan lagi," bisik Eleonara merayu sambil menggelayut manja di tubuh Juna dan sesekali mengecup pipi Juna.
Juna masih saja menatapnya sinis. "Sudah tidak sempat menarik kata-katamu. Api yang kamu hidupkan, harus dipadamkan."
"Apa? Aku sudah bicara manja dan menggelikan seperti itu masih tidak berhasil?!" gumam Eleonara putus asa.
Saat Juna akan menerkamnya Eleonara lari terbirit-birit ke sudut kamar. "Tunggu dulu -"
Juna tak memberikan kesempatan apa pun. Yang ada di dalam otaknya memburu Eleonara sampai dapat. Perkataannya pun tidak di dengar.
"Tunggu, Sayang! Aku ... duh, dadaku rasanya sesak. Sepertinya efek tenggelam masih terasa," bual Eleonara sambil mengintip respon Juna dari sudut matanya seperti apa.
Namun, Eleonara tidak melihat Juna kasihan sama sekali. Justru masih dengan tatapan seperti sebelum.
Gila, benar-benar maniak orang tua ini! (Batin Eleonara)
Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Juna menarik piyama Eleonara sampai kancingnya terlepas dan piyamanya robek. Dia dilucuti suami sendiri.
"K-kamu!" seru Eleonara panik dengan mata melotot serta kedua tangan menyilang di dada. "Tidak sopan!"
Karena kesal terus ditindas oleh Juna setiap akan berhubungan. Eleonara ingin kali ini dia yang menindasnya bahkan harus mendominasi dan lebih kejam.
Eleonara mendorong tubuh Juna sampai terjatuh dan memantul di ranjang empuknya. Tanpa segan dia tarik celana Juna sampai melorot ke bawah. Kemudian, dia mencari kain panjang dan dia ikat pergelangan tangan Juna pada head board. Juna tercengang dengan apa yang Eleonara lakukan. Kini dia tak bisa bergerak, ikatan di pergelangan tangannya cukup kuat. Entah simpul apa yang Eleonara pakai.
__ADS_1
Simpul anak pramuka, nih. (Batin Eleonara sombong)
"Apa yang mau kamu lakukan, Leona? Bukankah saya yang harusnya seperti ini terhadapmu?!" protes Juna.
Eleonara menampar pelan mulut Juna agar diam.
Plak!
"Argh, beraninya kamu!" teriak Juna merasa teraniaya.
Eleonara tak menggubris perkataan Juna. Dia melepas kancing baju Juna sampai membuat dadanya yang bidang dan perutnya yang kotak-kotak bak roti sobek tersingkap dengan sempurna. "Jadi ini yang membuat para fansnya tergila-gila?" ucapnya sinis (cemburu).
Dia mengambil cup obat pembesar sambil duduk di bawah pusar Juna, menekan jamurnya. Dia melepaskan branya sendiri, lalu mengolesi obat tersebut sambil memijatnya pelan-pelan.
"Ouchh, ah, enak sekali licin ...," dessahnya.
Sengaja Eleonara mendessah begitu sambil memasang ekspresi 'sagne' agar Juna yang melihatnya tersiksa karena tak bisa menyentuhnya.
Sekujur tubuh Juna panas terbakar. Wajahnya memerah, jantungnya berdebar kencang mendengar dessahan Eleonara dengan ekspresi yang menggoda sambil memijat kedua dadanya. Obat pembesar yang dioleskan membuat dadanya yang padat nan kencang menjadi mengkilap seperti diolesi minyak. Juna menelan salivanya. Dia kehausan.
Eleonara sesekali memainkan p*tingnya sambil mengerang kecil di depan mata Juna. Tubuh Juna sudah panas dingin, napasnya tak beraturan karena terasa semakin sesak melihat kelakuan gila Eleonara. Tubuhnya gatal-gatal ingin mencabik-cabik Eleonara. Juna berusaha beranjak duduk dan bersandar. Kedua tangannya melipat ke belakang bahu, otot-otot lengannya terlihat sangat kencang kalau posenya seperti itu.
Eleonara menyunggingkan senyumnya. Puas hati melihat Juna tersiksa. Dia menyimpan cup obat pembesar di atas nakas, lalu menghampiri Juna. Dia menghujani leher serta dada Juna dengan kecupan hangat sambil menjamah tubuhnya dengan liar. Juna semakin tidak tahan. Sentuhan-sentuhan dan cara Eleonara merangssangnya memberikan beberapa sengatan pada jamurnya.
Ketika Eleonara mengecup bibirnya, Juna terdiam. Ketika Eleonara kembali menggerayangi dadanya, Juna kembali beraksi sampai ikat talinya terlepas.
"Hanya simpul biasa. Tidak akan semudah itu menghentikan saya," ucap Juna lirih membuat Eleonara ketar-ketir panik sampai matanya membulat ketika melihat tangan Juna sudah terlepas dan kini merengkuh lehernya dan melahap bibirnya tak sabaran.
"Humhh!"
"Hmmphh!!"
Satu tangan Juna menyentuh tengkuk leher Eleonara, satu tangannya lagi meremmas dada Eleonara yang licin.
Eleonara mendorong bahu Juna dengan kuat sampai ciiumannya terlepas. Dia terengah-engah mengambil napas. "B-bagaimana kamu bisa lepas dari simpul pramukaku?!" tanyanya dengan wajah merah, tersipu malu.
"Tidak sulit. Kemari, kamu sudah bersenang-senang dengan tubuh suamimu. Sekarang giliran saya yang bersenang-senang," ucapnya sambil memperlihatkan tatapan iblis.
Juna membalikkan tubuh Eleonara dalam sekejap mata, lalu mencengkeram rambut Eleonara dan menyiksanya dari belakang sampai Eleonara tercengang kaget. Dia hanya bisa menggigit seprei setiap Juna menghentak-hentakkan pinggulnya sambil meremmas pinggangnya.
__ADS_1
Ugh, gaya apa yang dia lakukan?! Bisa-bisanya menusukku dari belakang! (Batin Eleonara)
...
Pagi harinya.
"Canım, Hayatım, Güzelim," bisik Juna di telinga Eleonara yang masih terlelap tidur di balik selimut. Eleonara yang tadinya memunggungi Juna, berbalik dan langsung memeluk tubuhnya.
"Mmm ... Pak Juna dan Elena tidak boleh melakukan sseks. Aku sangat marah dan tidak terima!" racaunya mengigau.
Juna yang mendengarnya merasa terheran-heran. "Apa yang dia bilang? Aku dan Elena ... punya pemikiran dari mana? Jangan-jangan semalam moodnya jelek sampai berani menghina jamurku karena ini?" gumamnya menduga-duga.
Juna mengecup bibir manis Eleonara satu kali kecupan. "Canım, sudah siang. Waktunya saya melatihmu olah raga. Bangun!"
Eleonara tidak kunjung bangun. Juna menyesap bibir bawahnya tak tanggung-tanggung. "Oh, lembutnya." Sekali lagi, Juna isap bibirnya dengan nikmat sampai pada akhirnya Eleonara terbangun.
Kedua tangannya diregangkan ke samping untuk mengendurkan otot-otot yang kaku sampai tak sengaja menepuk wajah Juna.
Plak!
"Hoam, jam berapa ini? Sudah siang, kah?"
Juna mengusap kasar wajahnya sambil menghela napas hampa. "Semalam mulutku yang ditampar, sekarang wajah," gumamnya sambil mengelus dada. "Sudah jam 7 lewat, Leona. Cepat bangun! Sekarang weekend. Seperti yang sudah disepakati, saya akan melatihmu ngegym."
"Apa, sudah jam 7!" Eleonara beranjak duduk dengan ekspresi panik. "Gawat, aku terlambat!"
Dia buru-buru menyibak selimut dan masuk ke kamar mandi sambil berjalan pincang. Saking tergesa-gesanya sampai tak menyadari tubuhnya yang tidak memakai sehelai pakaian pun.
"Ada apa, Leona!" teriak Juna sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Kamu ada urusan? Atau tugas dari sekolah?"
"Bukan, aku harus ke Bandara menjemput Kak Varel," ucapnya dari dalam. "Uh, tulang-tulangku rasanya rontok semua."
Kak Varel? (Batin Juna)
...
BERSAMBUNG!!
Mau ke mana? Like, dulu! Hwehehe...
__ADS_1
.
.