Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Bercerailah Dengan Leona


__ADS_3

Malam hari, di rumah Mohsen.


Setelah mendengar keterangan dari Elena mengenai alasannya pergi sampai bertahun-tahun, Juna langsung mendatangi orang tuanya dengan ekspresi marah. Matanya merah berapi-api.


"Ayah! Ibu!" teriak Juna, murka.


Mohsen dan Diana ke luar dari kamarnya menuju sumber suara, diikuti dengan beberapa pelayan. Mereka terkejut melihat kedatangan Juna dengan tatapan penuh amarah.


"Ada apa, Jun?" tanya Diana, cemas.


"Sopan santunmu hilang ke mana? Apa yang membuatmu teriak malam-malam di rumahku?!" geram Mohsen dengan kening mengernyit. Dia tidak suka jika waktu istirahatnya diganggu.


"Kepergian Elena itu atas perintah kalian, kan?!"


Deg!


Mohsen dan Diana tersentak kaget mendengarnya. Mata mereka membulat, tubuhnya menegang. Mohsen dan Diana saling bertatapan dengan wajah pucat.


"Jawab!" teriak Juna dengan mata yang sudah tertutup emosi.


"A-apa yang kamu katakan, Jun? Ayah dan Ibu sama sekali tidak mengerti," ucap Diana gelagapan sambil mengusap tengkuk lehernya. "Ah, mana Leona? Kamu tidak datang bersamanya?" Diana bertanya dengan tangan gemetar.


"Jangan berusaha mengalihkanku. Aku hanya ingin dengar pengakuan dari kalian. Aku sudah mencari tahu alasan Elena pergi dan ternyata itu adalah perintah kalian. Ayah, Ibu, kenapa kalian begitu tega?" rintih Juna dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu ... kamu sudah mencaritahunya?" gumam Diana semakin cemas. Lututnya bergetar dengan wajah yang semakin pucat. Dia menatap Mohsen, bertanya-tanya sikap apa yang harus dia tunjukan dalam situasi mendesak seperti ini.

__ADS_1


Ketakutan orang tua Juna kini sudah tak dapat disembunyikan lagi.


Mohsen menatap nanar wajah Juna. Dia mengembuskan napas kasar dan berusaha menjernihkan pikirannya.


"Karena kamu sudah mendapatkan jawabannya, maka tidak ada yang perlu disembunyikan lagi," kata Mohsen sambil merangkul Diana dan duduk bersamanya di sofa.


Diana semakin tegang, dia tidak ingin Mohsen mengatakan yang sebenarnya, tapi dari tatapan Mohsen meyakinkan bahwa ini sudah saatnya.


Juna tersenyum menyungging. Matanya berkedut memerah panas. Tak sangka orang tuanya yang ternyata sudah membuat hidupnya hancur dan menderita bertahun-tahun.


"Kenapa kalian melakukan itu padaku? Apa senang melihatku menderita? Apa keterpurukanku selama ini membuat kalian terhibur?" tanya Juna menahan gejolak amarah di dadanya. Rasa kecewanya sudah begitu besar.


"Duduk dulu!" bentak Mohsen sambil melotot. Istrinya sampai gemetar dengan tangan dan kaki dingin sedingin es karena ketakutan.


"Heh, berselingkuh? Apa kalian yakin kalau Elena berselingkuh dariku?" kata Juna menyepelekan.


"Apa yang harus diragukan lagi? Elena bahkan meminta maaf pada kita berdua dan mengatakan untuk jangan memberitahumu. Lalu, kita menyepakati sesuatu. Kita tidak akan memberitahu kelakuannya asalkan dia harus pergi dari sini!" sambung Mohsen.


"Inilah yang Ibu takutkan, Jun. Jika Ibu dan Ayah menceritakannya padamu saat itu, kamu tidak akan percaya," tutur Diana sambil menatap pilu.


"Ayah, Ibu! Pria yang bersama Elena 2 tahun yang lalu itu adalah pria yang terobsesi pada Elena sejak lama. Dia mencari banyak kesempatan untuk menjebak Elena. Yang kalian lihat di hotel saat itu adalah sebuah jebakan. Elena dijebak olehnya! Kenapa kalian langsung menuduhnya begitu saja tanpa mencari bukti terlebih dahulu?" geram Juna dengan rahang mengeras.


"Apa? Jebakan? Tidak mungkin. Tahu dari mana kamu kalau itu adalah jebakan? Apa Elena yang mengatakannya?" cecar Diana.


"Hayır. Aku mencaritahunya sendiri."

__ADS_1


"Tidak mungkin itu jebakan. Elena mengaku sendiri dan meminta maaf pada kami. Dia bahkan sampai bertekuk lutut agar kami tidak mengatakannya padamu. Sepertinya yang tidak mencari bukti terlebih dahulu adalah kamu!" tuduh Mohsen sambil menunjuk Juna dengan napas terengah-engah.


"Jangan asal menuduh, Ayah! Kalianlah yang salah menilai. Dari awal aku berpacaran dengan Elena, kalian tidak pernah setuju. Kalian hanya baik di depannya, tapi menjelek-jelekkannya di belakang. Ayah, Ibu, jika kalian tidak memaksanya pergi, aku tidak akan sampai menikahi Leona. Aku pasti sudah bersama Elena sekarang dan membangun rumah tangga dengannya."


Plak!


Tiba-tiba saja tamparan keras mendarat di pipi Juna. Tangan Diana bergetar setelah menampar Juna tanpa sadar. "Kamu!" Bibirnya pun ikut gemetar. Insting seorang istrinya menggerakkan dirinya sendiri untuk membungkam Juna yang sudah kelewatan.


"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Juna! Bagaimana bisa kamu bicara begitu? Apa kembalinya Elena membuatmu menyesal telah menikahi Leona? Ibu tak habis pikir denganmu, sepertinya Ibu telah salah menilai anak Ibu sendiri. Ibu kira kamu pria yang patuh dan berpendirian teguh. Ibu kira kamu pria baik-baik, tapi nyatanya salah. Bagaimana jika Leona mendengarnya? Dia pasti akan terluka, Jun. Kamu membuat Ibu dan Ayah menyesal telah menjodohkannya denganmu. Dia wanita yang baik. Tulus menerimamu yang setiap harinya masih dihantui masa lalu. Ibu bersumpah, Ibu sangat kecewa padamu!" Diana murka. Matanya melotot marah, rahangnya sampai mengeras kuat.


Juna hanya terdiam menunduk sambil menyentuh pipinya. Tamparan Diana menyadarkan ucapan gila apa yang sudah dia lontarkan. Bisa-bisanya bicara begitu.


"Sepertinya kamu memang tidak bisa lepas dari Elena. Kalau begitu segera ceraikan Leona dan pergilah dengan wanita pilihanmu. Ayah akan langsung mencoret namamu dari daftar keluarga dan mengangkat Leona sebagai anak kedua keluarga Emirhan. Jika tidak, Ayah lihat Moza sangat menyukai Leona. Kalau Leona setuju, Ayah bisa menikahkannya dengan David."


Deg!


Ucapan Mohsen adalah sebuah ancaman yang membuat Juna langsung mendongakkan wajahnya dengan mata terbelalak besar. Timbullah rasa takut dan tak terima.


...


BERSAMBUNG!!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2