Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Kamu Hamil?


__ADS_3

Selesai ujian, Vivian masih terus menghindari Eleonara. Eleonara menjadi semakin gelisah bertanya-tanya, kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai Vivian terlihat marah padanya.


Di rumah, Eleonara mencoba menghubungi Vivian berkali-kali, tapi Vivian tak mau menjawab teleponnya satu kali pun. Dia juga sempat menghubungi Midas minta disambungkan pada Vivian, sayangnya Vivian tidak mau berbincang dengan Eleonara. Dia berkata secara terang-terangan pada Midas kalau sedang malas dengan Eleonara. Membuat Midas cemas karena tidak biasanya Vivian marah seserius itu pada Eleonara.


Semalaman Eleonara berpikir seputar apa yang membuat Vivian marah padanya, setelah dia mendapatkan jawabannya, besoknya saat di sekolah Eleonara menunggu Vivian di depan gerbang. Namun lagi-lagi Vivian lolos dari pantauannya dan pulang begitu saja.


"Vi, apa yang terjadi antara kamu dan Nara?" tanya Midas penasaran. Dia masuk ke kamar Vivian sambil membawa segelas susu ketika melihat Vivian sedang melamun di meja belajarnya.


Vivian pura-pura kembali berkutat dengan buku pelajaran sambil menggelengkan kepalanya, acuh tak acuh.


Midas meletakan segelas susu di atas meja belajar Vivian dan menarik kursi lain, lalu duduk di sampingnya dengan wajah damai.


"Kalian bertengkar?" tanya Midas lagi dengan nada lirih.


"Aku lagi belajar, Kak! Jangan ngusik konsentrasi aku, dong! Besok ujian terakhir tau!" seru Vivian tak ramah.


"Bohong, dari tadi Kakak perhatiin kamu gak niat belajar. Pikiran sama matanya ke mana-mana," kata Midas berusaha memancing.


"Ck, sok tau! Ibuuuu ... Kak Midas ganggu aku belajar nih, Bu!" teriak Vivian dengan amarah di sorot matanya.

__ADS_1


"Midas, Midas, ngapain kamu ganggu Vivi? Gak liat adik kamu lagi belajar? Besok masih ujian kan, Vi?" tanya Maya sambil berdiri diambang pintu dengan kedua tangan dilipat di atas perut.


"Iya, Bu. Besok sehari lagi. Suruh Kak Midas pergi ah, aku gak bisa konsentrasi belajarnya, nih!" gerutu Vivian sambil mendorong-dorong tubuh Midas dengan kasar.


"Bu, aku cuma pengen tau ada masalah apa antara Vivi sama Nara. Kemarin sore Nara nelepon aku, katanya mau ngobrol sama Vivi soalnya Vivi ngehindarin terus di sekolah, tapi Vivi gak mau bicara. Tadi juga aku coba intip ke sini, dia lagi ngelamun kayak yang banyak pikiran, gak keliatan niat belajarnya. Aneh kan, biasanya mereka bertengkar gak kayak gini." Midas mempertanyakan apa yang membuatnya penasaran sejak kemarin.


"Lho, bener, Vi? Ada masalah apa kamu sama Ele?" Maya pun jadi ikut penasaran setelah mendengar penjelasan Midas.


"Gak, gak ada masalah serius. Cuma pertengkaran remaja doang. Kak Midas sama Ibu kayak yang gak pernah muda aja. Udah sana, jangan ganggu aku, ah, berisik banget!" Vivian mendorong paksa Midas hingga mau tak mau Midas ke luar dari kamar Vivian, begitu pun dengan sang ibu. Vivian langsung mengunci pintu kamarnya serapat mungkin sampai tidak ada celah sedikitpun untuk nyamuk masuk.


Maya dan Midas hanya berusaha mengerti saja, mungkin Vivian butuh sendiri untuk merenungkan sesuatu.


Vivian jadi benar-benar kehilangan semangatnya untuk belajar. Dia menutup buku pelajaran, lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan hampa.


Wanita dewasa yang Vivian ketahui namanya Elena itu mengungkapkan sebuah pernyataan yang membuat Vivian terkejut setengah mati sampai rasanya sulit dipercaya. Dia mengatakan kalau Eleonara sudah menikah dan Eleonara menikahi calon suaminya yaitu Juna Syach Emirhan.


"Ju-Juna ... Juna Syach Emirhan?! A-apa jangan-jangan kamu itu cinta pertama Mr.Juna?" tanya Vivian dengan mata membulat sambil membekap mulutnya yang menganga lebar.


"Benar, akulah cinta pertamanya," jawab Elena sendu.

__ADS_1


"Astaga, ternyata benar! Tapi, bukannya kamu dikabarkan menghilang tanpa jejak? Sampai Mr.Juna sulit mencarimu bertahun-tahun."


Elena mengangguk sambil menunduk dan pura-pura menyeka air matanya. "Aku menghilang karena aku mempunyai tugas yang tidak boleh Juna tahu, yaitu mencari keberadaan adik kandungku. Hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini. Keberadaannya simpang siur, ada informasi yang mengatakan dia di Belanda, di Amerika dan di negara lain, tapi begitu aku tahu keberadaannya ternyata di Indonesia, aku mau tak mau harus kembali lagi ke sini. Tidak sangka aku bertemu dengan Juna dan ternyata dia sudah menikah dengan adik kandungku sendiri."


"Ya Tuhan, aku benar-benar masih tidak percaya kalau Eleonara ... dia sudah menikah dan suaminya adalah ... Mr.Juna," kata Vivian dengan gurat kesedihan serta kekecewaan mendalam dari sorot matanya. "Apa Eleonara tahu kalau kamu adalah kakak kandungnya dan cinta pertama Mr.Juna?"


Elena kembali menganggukan kepalanya. "Dia tahu, aku sudah menceritakan semua padanya, tapi Eleonara tidak mau menyerahkan Juna padaku, padahal pernikahan mereka hanya berdasarkan perjodohan. Juna tidak benar-benar mencintainya, dia terpaksa bersama dengan Eleonara karena keluarga mereka yang meminta. Juna dan aku masih saling mencintai satu sama lain, tapi teganya adikku seolah acuh pada perasaan kami berdua."


Vivian merasa iba sampai matanya menatap getir. Dia mengelus bahu Elena, berusaha menguatkan. "Tapi, masa iya Eleonara orang yang egois dan kejam seperti itu? Aku mengenalnya bukan setahun dua tahun, tapi kita sudah berteman sejak SMP."


"Begitulah adanya, kamu mungkin hanya belum melihat sifat lain dari dirinya. Dia bahkan berani berbohong tentang pernikahannya padamu, kan? Vivian, aku bicara begini hanya ingin minta bantuan darimu. Kamu selaku sahabatnya, bujuklah dia agar mau melepaskan Juna. Perutku ini kalau dibiarkan semakin lama akan semakin membesar, orang-orang sekitar pasti akan merundungku dan bergosip kalau aku wanita yang tidak baik," ungkap Elena tersedu-sedu sambil mengusap perutnya.


Tentu saja Vivian semakin terkejut mendengar ungkapan Elena. Apalagi dia memberi isyarat dengan mengelus-elus perutnya.


"Ka-kamu ... kamu sedang hamil?!"


...


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2