Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Midas Menjemput Eleonara - Juna Geram!


__ADS_3

"Vi, Pak Reka! Pak Reka!" ucap Eleonara ketar-ketir sambil menepuk lengan Vivian saat melihat Pak Reka-Guru Kimia yang berkacamata tebal dan kepala botak mengkilap berjalan masuk ke kelas.


Vivian buru-buru membenarkan posisi duduknya dengan wajah panik. Mendengar namanya membuat bulu kuduk Vivian langsung berdiri, seakan yang masuk ke kelas adalah malaikat maut. Auranya menyeramkan. Kelas yang tadinya berisik saja bisa langsung sunyi senyap seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


...


Sore harinya selesai jam pelajaran, Eleonara dan Vivian merapikan alat-alat tulisnya dan mereka keluar bersama dari kelas sambil menggendong tas ransel masing-masing.


"El, biasanya kamu ngedesain baju. Tapi, tadi aku liat kok, kamu kayak bikin kalung atau gelang gitu, sih?" tanya Vivian heran.


Eleonara diam beberapa saat untuk mengumpulkan alasan. Sebab, dia mendesain perhiasan untuk dia jual pada Juna karena uang yang Juna berikan padanya sudah habis tak tersisa. Sedangkan dia sudah berjanji pada Bu Asih akan mengirimkan uang. Bu Asih pasti sudah menunggu kabarnya sejak kemarin.


"Aku bikin kalung tadi. Cuma nyoba-nyoba aja," jawabnya. "Vi, aku ngembaliin buku dulu ke Perpus. Kamu pulang duluan aja."


"Ngapain sih, ke Perpus? Ada Pak Reka juga. Kalau gak ada Pak Reka aku ikut. Aku tunggu di pos ajalah."


"Eh, pulang aja langsung. Gak usah nunggu. Aku juga mau langsung pulang kalau udah beres di Perpus," kata Eleonara memaksa. Sebab, Syam sudah menunggu di tempat sepi untuk menjemputnya.


"Gak, aku mau pulang bareng kamu," ujar Vivian sambil tersenyum penuh maksud ke arah Eleonara, kemudian dia berlalu pergi begitu saja.


Eleonara bertanya-tanya mengenai senyum Vivian yang tampak aneh. Seperti merencanakan sesuatu. Namun, tak mau ambil pusing dia segera ke perpustakaan untuh mengembalikan buku-buku yang telah dia pinjam sebelumnya.


Setelah setor buku, Eleonara menuju pos. Dia melihat Vivian yang benar-benar sedang menunggunya di sana.


"Aih, beneran nunggu?" ucap Eleonara.

__ADS_1


Vivian yang sedang mengutak-atik ponselnya terperangah melihat kedatangan Eleonara. "Iyalah, beneran. Yuk," ajaknya sambil menyeret tangan Eleonara ke luar gerbang Sekolah.


Eleonara jadi gelisah tidak tenang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba saja mobil berwarna putih berhenti tepat di depannya saat Eleonara dan Vivian sedang menunggu taksi di halte.


"Kak Midas!" teriak Vivian sambil melambaikan tangan.


Sontak Eleonara yang sedang terlamun langsung terkesiap panik. Kak Midas? Begitu kaca jendela mobil terbuka, Eleonara melihat sosok Midas di dalam sana yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.


"H-halo Kak Midas," sapa Eleonara terpaksa.


"Halo, Nara. Ayo, masuk," ucap Midas yang sedang memegang setir.


"Masuk, El. Kamu di depan ya, hihi ...," kata Vivian sambil cengengesan.


Jadi, ini yang dimaksud senyum Vivian tadi. Pantas, senyumnya aneh. Tidak tahunya sedang merencanakan sesuatu. (Batin Eleonara)


"Eh, aku sengaja minta jemput Kak Midas lho, buat nganterin kamu pulang. Tau gak pas aku chat minta dijemput, Kak Midas nolak soalnya lagi banyak kerjaan di kantor katanya. Tapi, pas aku bilang aku pulang sama kamu, Kak Midas langsung bales 'ok'," bisik Vivian sambil mengulum senyum.


"Ah, masa sih?"


"Gak percayaan, serius, El!"


"Emm, tapi ... gimana, ya?" gumam Eleonara resah.


"Gimana apanya? Tinggal masuk ke dalem, duduk manis, udah gitu doang. Gak usah susah-susah nyari taksi lagi. Kalau ketemu Ibu sama Kakak kamu gimana coba? Kayak kemarin," bujuk Vivian memaksa.

__ADS_1


Aku memang harus pergi ke rumah dulu untuk mengambil ATM. (Batin Eleonara)


"Kasian lho, El, Kak Midas udah bela-belain nunda pekerjaannya buat jemput kita. Hargain dikit, kek," sambung Vivian.


Eleonara mendekati Vivian dan berisik, "Lagian kamu ngapain coba nyuruh Kak Midas jemput. Kan, aku biasa pulang sendiri. Lain kali jangan kayak gini lagi ya, Vi. Aku jadi gak nyaman, nih."


"Ck, gitu doang juga, baperan amat sih, El. Udahlah, masuk. Lain kali aku gak gini lagi deh, janji. Padahal aku lagi usaha deketin kamu sama Kak Midas, huh, gak pengertian banget." Vivian menggerutu sambil masuk ke dalam mobil. Diikuti Eleonara.


Eleonara tak mau duduk di depan dengan Midas. Syam bisa melihat dan melaporkannya pada Juna. Juna pasti akan langsung menginterogasinya lagi karena salah paham. Mobil pun melaju pergi dan melewati mobil Syam.


Syam yang melihat kepergian Eleonara dengan mobil temannya segera menghubungi Juna.


"Halo, Tuan?"


"Aku sedang di gunung, susah sinyal. Katakan saja kenapa?" tanya Juna tak sabaran. Selain serendibite yang Juna buru, dia juga berburu agate lain di salah satu gunung di Myanmar.


"Saya hanya ingin melapor kalau Nona Leona pulang dengan mobil temannya," jelas Syam.


"Temannya? Yang namanya Vivian itu?"


"Benar, tapi yang mengendarainya adalah kakaknya."


"Kakaknya?! Oh, aku pernah melihatnya sekali. Syam, awasi mereka. Apa mereka benar-benar mengantar Leona pulang ke rumahku atau malah membawanya ke tempat lain. Lapor juga padaku kalau pria itu terlihat macam-macam pada Leona!" Juna langsung mematikan telepon sebelum Syam meresponnya.


Tak mau berlama-lama, Syam langsung mengikuti mereka dari belakang. Tanpa Syam sadari, ada pengendara motor yang mengikuti mobil Midas juga dari belakang.

__ADS_1


....


BERSAMBUNG!!


__ADS_2