
Beberapa hari setelah belajar menyetir mobil dengan Syam, Eleonara pun hampir mahir. Memarkirkan mobil, berbelok, berhenti, hal-hal dasar seperti itu sudah dia kuasai saat ini. Hanya saja masih belum berani menjalankannya di jalan raya. Rasa takut menabrak orang masih menghantui.
Selepas pulang sekolah, Eleonara mendapatkan sebuah pesan teks dari Vivian. Vivian mengajaknya ke luar untuk nonton bioskop. Menjelang Try Out membuat mereka ingin bebas bersenang-senang karena akhir-akhir ini sudah begitu tertekan dengan pelajaran.
Saat Eleonara hendak meminta izin pada Juna, dia mendengar bel rumah berbunyi. Bergegas dia membuka pintu, begitu dilihat ternyata kurir paket lagi.
Akhirnya dia ke luar mengambil paket yang sudah dipastikan paket agate milik Juna karena besar dan berat, tak kuasa Eleonara menggenggamnya.
"COD, Pak?" tanya Eleonara.
Kurir paket tampak memperhatikan penampilan Eleonara dari ujung kaki hingga kepala yang memakai baju mocca model sabrina dengan rok mini hitam sejengkal di atas lutut. Memberi kesan manis, elegan dan perfect. Bahu dan kaki jenjangnya yang mulus tampak mengundang syahwatt.
"Pak? Ini COD?" tanya Eleonara lagi sambil melambaikan tangannya di depan mata kurir yang sedang mengusap air liurnya.
"A-ah, iya, iya, COD," jawabnya gelagapan.
"Berapa?"
Kurir tampak memeriksa ponselnya sebelum menjawab dengan pasti. "11.800.000."
"S-sebelas juta?" Eleonara sampai melongo dibuatnya. Namun, dia urungkan raut wajahnya itu dan segera memberikan uang 11 juta untuk membayar paket milik sang suami. Meski dalam hatinya menggerutu.
Setelah menghitung jumlah uangnya, kurir pun pergi dari situ.
"Paket yang kemarin-kemarin antara 2-6 juta saja, kenapa yang sekarang naiknya tidak kira-kira sampai 11 juta?" gumamnya sambil menutup gerbang dan duduk di kursi teras.
Eleonara berniat menghubungi Juna. Mempertanyakan apa isi paketnya sampai begitu mahal. Namun, suara klakson mobil mengejutkannya. Saat Eleonara beranjak bangun dan melihat siapa, ternyata mobil Juna.
Eleonara bergegas membukakan pintu gerbang, padahal seharusnya tidak perlu karena Juna memiliki remote control-nya.
Kelihatannya ada seseorang yang bersama Juna di dalam mobil. Seorang pria seusianya. Mereka turun dari mobil setelah Juna memarkirkannya.
"Ah, halo ... saya Juan, sekretaris Mr.Juna," ucapnya sambil menyentuh kacamata minus. Penampilannya seperti orang cerdas bak kutu buku. Namun, matanya jelalatan, tak henti-henti menatap kagum ke arah Eleonara.
Eleonara menjabat tangan Juan yang terulur minta balasan. "Saya Eleonara ... emm, saya -" Eleonara bingung, haruskah dia memberitahu statusnya pada sekretarisnya Juna.
__ADS_1
"Dia istri saya. Sstt, rahasiakan," kata Juna sambil menggerakkan matanya seolah mengisyaratkan pada Juan untuk tutup mulut.
"I-istri?!"
Glek!
Juan sampai menelan saliva dengan bola mata membulat sempurna kala mendengar bosnya ternyata sudah memiliki istri.
"Jangan bercanda, Mr.Juna! Kapan Anda menikah? Kenapa saya tidak tahu?" tanya Juan seolah kecewa pada Juna.
"Saya akan jelaskan di dalam. Masuk saja dulu, ada yang ingin saya bicarakan dengan istri saya," ujar Juna sambil mengerutkan kemeja lengan panjangnya sesiku.
Juan pun masuk ke dalam seperti yang diperintahkan.
"Mau ke mana pakai pakaian seksi seperti ini?" tanyanya sambil merengkuh pinggang Eleonara dan menatapnya dalam.
"Itu ... aku mau pergi nonton dengan Vivian. Jangan seperti ini, tidak baik dilihat Pak Juan," ujar Eleonara sambil menatap hati-hati.
"Biarkan saja dia lihat agar percaya."
"Sudah bosan menutupinya saja. Biarkanlah orang-orang tahu, sebentar lagi kamu akan lulus, tidak akan jadi masalah."
"Tapi, tunggu sampai aku melewati Ujian Nasional dulu, dong. Kalau seperti ini takutnya menyebar sampai kepala sekolah tahu dan aku bisa di keluarkan dari sekolah," kata Eleonara sambil mencubit gemas dada Juna.
"Tidak, apa pun yang Juan tahu tidak akan bocor ke mana-mana. Saya bisa jamin," ujar Juna. "Hari ini saya biarkan kamu ke luar dengan pakaian seperti itu, tapi sebagai imbalannya malam ini puasakan saya."
Eleonara langsung mendorong Juna dan pelukannya terlepas. "Kecilkan sedikit suaramu. Tidak malu apa kalau sekretarismu dengar? Mau menggoda juga lihat-lihat tempat dan situas, dong. Ah, itu tadi ada paket datang. Apa sih, isinya sampai harganya 11 juta lebih. Pakai uangku dulu lho, tadi."
"Paket?"
Eleonara menunjuk ke arah paket Juna yang terletak di samping gerbang. Dia melihat Juna yang langsung mengambilnya dengan raut wajah bahagia. Padahal paketnya begitu berat, tapi Juna membawanya seolah dia sedang membawa kapas.
"Akhirnya...," gumam Juna.
"Hey, apa isinya?" tanya Eleonara tak sabaran.
"Koleksi agate, apalagi?" kata Juna yang membuat Eleonara geleng-geleng kepala. Lagi-lagi agate. "Berapa tadi? 11 juta?"
__ADS_1
"... 800," tutur Eleonara.
"Ah, baik. Nanti saya transfer. Pergilah bersenang-senang." Juna mengecup kening dan pipi Eleonara. "Jaga pandangan di luar!" bisiknya mengancam sambil berlalu masuk ke dalam.
Tiba-tiba ponsel Eleonara berdering. Telepon masuk dari Vivian. Eleonara menjawabnya sambil ke luar dan menutup gerbang.
"Ini udah siap, lagi nunggu taksi," ucap Eleonara sambil menyempilkan ponselnya di antara telinga dan bahu.
"Jangan dulu naik taksi, El. Aku udah di depan perumahan, ini lagi jalan ke situ. Tuh, udah keliatan kamu dari sini," kata Vivian sambil melambaikan tangannya ke arah Eleonara yang berdiri di depan gerbang. Namun, sayangnya Eleonara tak bisa melihat pergerakan Vivian di dalam mobil, hanya mobilnya saja yang dia tahu sedang melaju ke arahnya.
Telepon pun dimatikan, Vivian menghentikan mobilnya. Dia mengedarkan pandangan matanya setelah menurunkan kaca mobil, melihat ada mobil mewah terparkir di dalam rumah majikan Eleonara.
"El, ada majikan kamu?" tanyanya penasaran.
"Iya, udah pulang. Yuk," ajaknya tergesa-gesa sambil memakai sabuk pengaman.
"Aku penasaran sama majikan kamu. Tiap ke sini gak ada terus," keluhnya.
"Udahlah, biarin aja. Ngapain kepo sama majikan aku? Yuk, nanti telat lho."
Vivian menutup kaca jendelanya dan mulai melajukan mobilnya pelan-pelan. "Penasaran doang, emangnya gak boleh? Orang sebaik apa dia sampai bisa ngerubah penampilan kamu secantik ini sekarang. Aku bersyukur banget kamu ketemu orang baik kayak dia. Aku juga jadi pengen kerja, dapet uang, terus beli ini itu biar cantik dan modis kayak kamu. Tapi El kamu gak ngerasa dia punya maksud atau tujuan lain sama kamu? Takutnya dia cuma manfaatin kamu doang, lho."
"Eh, eh, tetangga kamu ada yang pindahan?" tanya Vivian tiba-tiba sambil melirik ke arah rumah yang jaraknya tidak jauh dari jarak rumah Juna. Hanya terhalang satu rumah. Banyak orang yang sedang mengangkut barang-barang ke dalam mobil pick up.
"Iya ya, aku gak tau sebelumnya. Tapi, emang udah lama sih, rumah itu dijual. Udah laku kali, jadi pemilik barunya mau nempatin," duga Eleonara sambil memeriksa make up-nya menggunakan cermin kecil.
"Sayang banget rumah sebagus itu dijual. Kepepet butuh duit kali yang punyanya."
"Gibah terus. Cepet, ah!"
"Hmmzzz iya, iya. Jangan ngaca mulu dong, udah cantik nyampe gak ada celahnya. Nanti ajarin aku pake softlens kayak kamu, El, hihi. Kak Midas kalau liat kamu secantik ini sekarang gimana reaksinya, ya? Aku jadi penasaran. Udah nonton ke rumah aku yuk, udah lama kamu gak ke rumah lho, kamu. Mentang-mentang waktu itu nolak lamaran Kak Midas," cecar Vivian sambil fokus mengemudi.
"Bukan gitu, cuma sekarang jadi agak canggung aja mau main. Belum siap ketemu Kak Midas, hehe," bantah Eleonara
....
BERSAMBUNG!!
__ADS_1