
"Aih, bukan begitu. Maksudku ... kita kan, sudah melakukannya. Apa memungkinkan kalau aku hamil sebelum lulus Sekolah?" tanya Eleonara gelisah sambil duduk di tepi ranjang.
"Hah, saya kira kamu benar hamil. Mungkin sekali, Leona. Kenapa yang seperti itu saja harus dipertanyakan?" kata Juna, heran. Dia pun duduk di tepi ranjang sambil mengusap punggung tangan Eleonara.
"Kalau aku hamil sebelum lulus, teman-temanku akan tahu. Bahkan mungkin satu sekolahan akan tahu. Aku bisa di keluarkan dari Sekolah, nantinya aku akan sangat malu. Lalu, nasip prestasiku juga bagaimana?" keluhnya sambil menunduk murung.
"Ah, jadi kamu mencemaskan itu. Ada banyak cara untuk menundanya jika kamu mau," kata Juna.
Eleonara langsung menengadahkan wajahnya menatap Juna dengan antusias. "Serius?"
Juna mengangguk sambil tersenyum.
"Pak Juna tidak masalah?"
"Tidak, lagipula untuk memikirkan anak sekarang-sekarang mungkin terlalu cepat. Saya tidak masalah menundanya sampai kamu lulus Sekolah," jelasnya. Juna beranjak bangun menuju lemari pakaian. Dia mengambil dua buah topi serta masker hitam, lalu memberikan satu-satu pada Eleonara.
"Pakai," katanya yang membuat Eleonara terheran-heran.
"Untuk apa?" tanya Eleonara.
"Ikut saya ke Minimarket. Saya ingin beli beberapa camilan," ujar Juna sambil tersenyum penuh maksud. Membuat Eleonara menaruh curiga.
"Ingin camilan? Kenapa begitu tiba-tiba?" gumamnya, aneh. Eleonara pun menurut saja, dia memakai topi dan masker hitam. Kemudian Juna menariknya masuk ke dalam mobil.
Mereka menuju Minimarket terdekat. Eleonara tahu Juna memberikan topi dan masker hitam karena takut membuatnya khawatir jika ada seseorang yang mengenalnya saat sedang jalan berduaan dengan Juna.
Juna menggiringnya masuk ke dalam dan mengambil keranjang berwarna merah sambil berbisik, "Ambil yang kamu mau."
__ADS_1
"Serius, nih? Baiklah, hehe." Eleonara bergegas menuju rak camilan dengan semangat menggebu. Tidak perlu sungkan untuk jajan di Minimarket seperti kehidupannya sebelumnya, kini dia sudah memiliki Juna yang ber-uang. Apa pun pasti dituruti, mungkin jika Eleonara menginginkan tokonya sekalian Juna bisa langsung membelikannya. Namun, itu terlalu berlebihan.
Eleonara mengambil beberapa ciki-cikian berukuran besar dan makanan ringan lainnya dari yang rasa keju, cokelat, rumput laut, jagung dan BBQ, lalu memasukannya ke dalam keranjang. Dia berjalan lagi mencari-cari camilan lain. Juna hanya mengikutinya dari belakang sambil membawakan keranjang tersebut.
Juna menjadi fokus utama di Minimarket. Petugas Minimarket dan beberapa orang yang berbelanja menatapnya dengan tatapan kagum. Padahal Juna menutupi wajahnya, tetap saja aura dan wibawanya terasa kental. Membuat orang penasaran dengan wajah di balik maskernya.
"Pak Juna, sini!" teriak Eleonara hati-hati.
Juna menghampiri Eleonara yang sedang membuka frizer. Dilihatnya Eleonara mengambil beberapa ice cream, lalu memasukannya ke dalam keranjang.
"Pak Juna suka yang vanila, cokelat atau strawberry?" tanyanya.
"Saya tidak begitu menyukai yang dingin-dingin."
"Pantas saja selama ini sikapnya hangat, hihi," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri. "Kalau menikah denganku, harus suka yang dingin-dingin. Yang cokelat saja, ya?"
Eleonara mengambil beberapa frozen food, seperti fish dumpling cheese, chikuwa, bola udang, nugget kepiting, fish roll dan satu bungkus steamboat rasa tomyam. Juna melihat Eleonara begitu bahagia dan merasa bebas, auranya beda. Dia jadi bertanya-tanya, apa sebelumnya Eleonara tidak pernah sebebas ini?
"Sudah, aku hanya jajan itu saja," kata Eleonara dengan tatapan polos.
"Hanya kamu bilang? Dua keranjang berisi makanan semua, apa cukup perutmu menampungnya?" tanya Juna.
"Bukan untukku semua, untuk kita berdua. Besok aku masuk siang, Guru-guru ada urusan dulu. Jadi, malam ini aku mau bergadang sambil nonton drakor. Pak Juna temani, ya," godanya sambil membuat lingkaran di dada Juna.
Drakor? Juna menghela napas hampa, lalu mengangguk. Mereka menuju kasir untuk membayar. "Ah, Pak Juna beli camilan yang mana saja? Aku rasa semua ini camilan-camilan yang aku pilih?" gumamnya sambil garuk-garuk kepala.
Juna mengulurkan tangannya, mengambil bungkusan berbentuk kotak di rak meja kasir dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Blush...
I-itu ... itu kan, kond'om? (Batin Eleonara tersentak)
Eleonara menarik ujung baju Juna sambil menyembunyikan wajahnya di dalam topi karena sangat malu pada kasir yang sedang menghitung camilannya.
Dia menggerakan alisnya, mengisyaratkan kenapa beli yang begituan, bikin malu saja? Namun, tampaknya Juna tidak mengerti. Dia mengambil merk lain dengan rasa strawberry, cokelat dan bahkan yang teksturnya bergerigi.
Astaga, Pak Junaaaa! (Batin Eleonara menjerit)
Dia melihat ke belakang, ada banyak orang mengantri. Kacau sudah suasana hatinya. Padahal Juna selaku yang membelinya adem ayem, memasang wajah tak berdosa.
Begitu Eleonara menoleh ke arah pintu, dia melihat Vivian dan Arga masuk ke Minimarket. Matanya sontak membulat dengan tubuh menegang. Eleonara langsung memeluk lengan Juna, dan membenamkan wajahnya ke dalam ketiak Juna.
"Leona, geli!" bisik Juna. "Malu sampai segitunya, kah?"
"Bukan, bukan! Itu ... itu ada Vivian dan kakaknya!" ucapnya panik.
"Mana?"
"Tidak perlu dicari. Suruh kasirnya cepat saja!" gerutu Eleonara yang semakin di rundung gelisah tidak tenang.
Duh, Vivian sama Kak Arga ngapain mereka ke sini? (Batin Eleonara)
....
BERSAMBUNG!!
__ADS_1