Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Mempengaruhi Vivian


__ADS_3

Sore harinya.


Sesampainya di rumah Juna, Emran memarkirkan mobilnya di depan gerbang. Dia membukakan pintu bagian Eleonara dan menuntunnya keluar. Eleonara diperlakukan sangat spesial oleh Emran.


"Akhirnya sampai juga," ucap Eleonara sambil menghela napas dan membenarkan posisi kacamatanya.


"Hah, sayang sekali karena besok kamu masih ujian, jadi saya tidak bisa mencuri waktu lebih lama. Padahal belum cukup puas mengajakmu bersenang-senang," kata Emran sambil mengulum senyum.


"Iya, aku juga merasa belum puas. Tapi, nanti kalau aku sudah selesai ujian, boleh tidak aku menghubungi Emran Bey?" tanya Eleonara malu-malu.


"Boleh, dong. Ini kartu nama saya, ada nomor asisten saya di situ. Panggil dia jika ingin terhubung dengan saya," ucap Emran ramah sambil memberikan kartu namanya yang sudah dia ambil dari saku jasnya pada Eleonara.


Eleonara mengambilnya dengan suasana hati bahagia. "Sağol (terima kasih)," kata Eleonara sambil merekahkan senyumnya.


"Maşallah, lesung pipi itu," gumam Emran sambil menyentuh dadanya. "Kalau begitu masuklah, katakan pada Juna saya menjagamu dengan baik. Mengenai desain pakaianmu, masih dalam proses pembuatan, ya. Kalau sudah jadi, saya akan mengantarnya langsung."


"Oh, oke, tidak masalah. Terima kasih untuk hari ini, aku tidak akan melupakannya."


Emran hampir lupa. "Tunggu, Leona!" Dia tergesa-gesa mengambil sesuatu di dalam bagasi mobil. Sebuah tas jinjing ditariknya ke luar, lalu diberikan pada Eleonara.


"Eh, apa ini?" tanya Eleonara bingung.


"Hadiah kecil. Buka kalau sudah di dalam. Berjanji pada saya, kamu harus menggunakannya," ucap Emran sedikit memaksa.


"Eh, emm ... baik. Apa ya, isinya? Bikin penasaran saja. Tapi, terima kasih, hehe."


Emran mengangguk sambil mengacak-acak rambut Eleonara karena dia tak henti-henti mengatakan terima kasih sambil tersenyum. Membuat hati Emran meleleh saja melihat lesung pipinya yang manis. Dia pun masuk ke dalam mobil dan pergi dari situ.


Tanpa Eleonara sadari, Vivian mengintipnya dari kejauhan. Dia berada di dalam mobil dengan pakaian bebas. Sebelumnya Vivian curiga kalau Eleonara bukan bekerja sebagai pembantu di rumah megah itu, tapi ada sesuatu yang mesti dia selidiki dengan jelas.


Baru saja akan melajukan mobilnya, Vivian melihat seorang pria tinggi tegap seperti seorang asisten masuk ke dalam rumah tersebut dengan leluasa.


"Tunggu, tunggu ... kayaknya aku tau siapa cowok itu," kata Vivian yang rasanya familiar melihat perawakan Syam.

__ADS_1


Vivian mengeluarkan ponselnya dan dia membuka kumpulan foto Juna yang dia dapatkan dari berbagai media sosial, lalu mencari-cari sesuatu.


Jedar!


Kedua matanya membulat sempurna saat menemukan foto Juna bersama asistennya di sebuah kapal pesiar. Asistennya sama persis seperti orang yang baru saja masuk ke rumah 'majikan' Eleonara.


"Ja-jadi, majikan Eleonara itu asistennya Mr.Juna?!"


...


Di dalam rumah.


"Nona Leona," panggil Syam sungkan.


Eleonara yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil membuka hadiah yang katanya kecil dari Emran, mendongakan wajahnya. "Ya, Pak Syam? Kenapa?" tanyanya sambil menggenggam satu set seragam sekolah di tangannya.


"Ini rekaman CCTV yang sudah saya periksa," ujar Syam sambil memberikan ponselnya pada Eleonara. "Saya sudah menyalinnya ke dalam ponsel. Tadinya mau langsung dikirimkan pada Nona, tapi kebetulan Nona sudah pulang."


Eleonara mengambil ponsel Syam dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Sebelumnya kaki Elena sudah terluka, entah dia apakan, tapi tiba-tiba saja dia memanfaatkan situasi itu untuk menyalahkan hal tersebut pada Eleonara. Eleonara yang akhirnya tahu kebenarannya menjadi sangat geram karena pada saat itu Juna termasuk teman-temannya menyudutkannya.


Eleonara yang kelewat emosi sampai tak sadar sedang meremmas ponsel Syam dengan mata berapi-api.


"N-Nona, Nona bisa menghancurkan ponsel saya kalau seperti itu," kata Syam cemas melihat tingkah Eleonara.


Eleonara pun segera mengontrol emosinya dan memberikan ponsel tersebut pada Syam.


Di lain tempat, baru saja Vivian turun dari mobil berniat menuntut penjelasan pada Eleonara, tiba-tiba saja seorang wanita cantik dengan rambut cokelat bergelombang menghentikannya. Penampilannya terlihat elegan dari segala sisi. Siapa lagi kalau bukan Elena.


"Adik kecil, mau bertemu dengan siapa? Kelihatannya kamu seperti sedang kesal pada sesuatu," duga Elena turut campur tangan. Bola matanya menatap lekat penampilan Vivian dari ujung kaki hingga kepala.


"Siapa, ya?" tanya Vivian risih sambil menepis tangan Elena karena sembarangan menyentuhnya.

__ADS_1


Elena enggan menjawab, dia hanya menarik kedua sudut bibirnya saja sampai menimbulkan lesung di kedua pipinya. Sontak saja hal itu membuat Vivian melongo sambil menarik napas kasar.


"Ha!" Mulutnya menganga, matanya membulat. Dengan cepat Vivian membekap mulutnya. "Kamu ... kamu ...." Vivian sulit berkata-kata, lidahnya terasa kelu. Dia melihat kemiripan antara wajah wanita dewasa di hadapannya dengan sahabatnya, Eleonara.


"Kenapa denganku? Kamu mengenalku? Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?" tanya Elena terheran-heran.


"Wa-wajahmu mirip dengan sahabatku!" serunya antusias.


"Ah, ternyata kamu sahabat Leona. Pasti datang untuk mencarinya, ya?" duga Elena karena siapa lagi yang dimaksud gadis muda ini kalau bukan Eleonara yang memiliki lesung pipi persis sepertinya.


"Lho, kok, kamu bisa tahu? Apa jangan-jangan kamu Kakak Eleonara?!" tanya Vivian penasaran sampai ubun-ubun.


Elena kembali enggan menjawab, hanya memperlihatkan senyumnya. Membuat Vivian semakin bertanya-tanya. "Mau apa datang menemuinya?"


Siapa sebenarnya wanita ini? Masa iya, Kakak Eleonara? Tapi, wajah mereka sangat mirip ditambah lagi dengan lesung pipinya! (Batin Vivian)


"Itu ... ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Eleonara," kata Vivian canggung. Takutnya benar wanita dewasa ini kakaknya Eleonara, dia harus bersikap hati-hati karena akhir-akhir ini Eleonara sering menutup diri dan menciptakan misteri.


"Bicarakan apa? Ah, jangan-jangan mengenai pernikahannya, ya?"


Deg!


"Pe-pernikahan?!" Vivian melongo mendengarnya. Dia seakan tersambar petir di siang bolong. "Maksudnya apa? Pernikahan apa?!" cecarnya tak sabaran.


"Lho, bukannya kamu bilang Leona itu sahabatmu? Dia menikah saja, masa kamu tidak tahu? Aku kira Leona benar-benar menganggapmu sebagai sahabat," ucap Elena sedikit menyindir dengan begitu usil. Wajahnya terlihat merasa iba pada Vivian, tapi nada bicaranya seakan mengejek. Sengaja menjerumuskan Vivian agar timbul pandangan negatif terhadap Eleonara.


Vivian yang masih belum mengerti, seketika menundukkan wajahnya murung. Dia mencari-cari jawaban di kepalanya dengan apa yang di maksud Elena, tapi sayangnya kapasitas otaknya pas-pasan, jadi tidak dapat menerka-nerka lebih jauh. Hanya bisa mencari jawaban dengan bertanya dan meminta penjelasan dari Elena. Karena Elena-lah yang awal mula memancing kebingungan serta menghantam perasaannya dengan perkataan mengejutkan seputar Eleonara.


"Datanglah ke rumahku. Kita ngobrol santai, siapa tahu kita cocok dan bisa berkawan," goda Elena dengan racun bisa yang mematikan. Membuat pikiran terkecoh dan refleks orang yang terkena bisanya akan mengikuti perkataanya karena sudah terpengaruh.


...


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2