
"Halo, Paman? Paman sedang ada di mana?" tanya Moza dibalik telepon. Dia menggunakan telepon rumah untuk menghubungi Juna.
"Paman sedang di luar. Ada apa Moza menelepon malam-malam?"
"Paman, Mosa secara pribadi dan berterus terang ingin meminta Tante Leona sebagai ibuku. Bersediakah Paman memberikannya padaku dan Baba?" tanya Moza dengan bahasa baku dan suara kecilnya yang terdengar cukup menggelitik di telinga. Namun, tidak dengan Juna. Dia justru berwajah masam di sana.
"Moza, kamu tahu apa yang sedang kamu bicarakan? Paman tahu kamu menyukai Tante, tapi untuk menjadikannya sebagai ibumu tidak mungkin. Paman dan Tante kan, sudah menikah," jelas Juna secara perlahan.
"Evet, tapi sebelumnya Mosa dengar dari Kakek dan Nenek katanya Paman tidak lagi mencintai Tante. Seperti Annem yang tidak lagi mencintai Baba, pada akhirnya mereka bercerai. Kenapa Paman tidak melakukannya juga kepada Tante Leona?" Pertanyaan polos yang keluar dari mulut Moza cukup menghantam ketenangan Juna.
Juna terdiam beberapa saat. Entah apa yang harus dia sampaikan pada Moza, otaknya tidak dapat menghasilkan perkataan bagus untuk diucapkan. Mungkin karena dia sedang membandingkan banyak hal.
"Entahlah Moza, Paman sedang bingung. Moza ... bagaimana kalau Paman berpisah dengan Tante Leona dan kembali dengan Tante Elena?" tanya Juna. Gila dia bertanya hal seperti itu pada anak seusia Moza, terlebih dengan statusnya yang masih suami Eleonara..
"Emm ... sejujurnya Mosa sangat mendukung Paman dengan Tante Leona karena Tante Leona sangat baik. Tante Leona tidak pernah berkata kasar pada Mosa, beda cerita dengan Tante Elena. Mosa ingat Tante Elena pernah mengatakan perkataan kasar sampai melukai perasaan Mosa saat kecil. Oh iya, apa Paman tidak tahu Tante Leona sekarang sedang berada di mana?" tanya Moza sedikit menggoda pamannya sambil cengengesan.
"Di mana?"
"Di sini, di rumah Kakek. Sedang peluk cium dengan Baba di kamar. Mungkin sekarang mereka sudah melakukannya, hahaha ... maaf ya, Paman, meski Mosa sangat mendukung Paman dengan Tante Leona, tapi Mosa tetap ingin menjadikan Tante Leona sebagai ibuku. Mosa ingin Baba dan Tante Leona bersama dan memberikan seorang adik untuk Mosa. Güle güle!"
-tut-
"MOZAAAAAA!" teriak Juna murka sampai pejalan kaki yang berada di sekitarnya menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.
Juna yang memang sedang mencari Eleonara pun akhirnya segera masuk ke dalam mobil dan tak basa-basi lagi langsung tancap gas ke rumah orang tuanya.
Sesampainya Juna di rumah Mohsen, dia memarkirkan mobilnya asal, lalu masuk ke dalam. Namun tiba-tiba saja dua petugas keamanan menghentikannya.
"Aku mau masuk. Kenapa dengan kalian?" tanya Juna tak bersahabat.
"Maaf Tuan, tapi Tuan dan Nyonya besar berpesan pada kami, jika Tuan Juna datang, langsung usir," ungkap salah satu petugas keamanan dengan tegas sampai membuat Juna tercengang kaget.
__ADS_1
"Apa? Langsung usir? Kalian tahu kan, siapa aku?!" geram Juna emosi.
"Tentu saja, Tuan. Tapi, begitulah pesan Tuan dan Nyonya besar. Mereka tidak ingin melihat Tuan Juna untuk sementara. Kami hanya menjalankan perintah saja. Mohon Tuan Juna mengerti dan tidak mempersulit pekerjaan kami," ucap para petugas keamanan dengan penuh rasa hormat. Mereka sebenarnya tidak berani berkata demikian sampai mengusir Juna, tapi mau bagaimana lagi, majikannya yang menyuruh.
"Ayah, Ibu, awas kalian!" Juna menggeram sejadi-jadinya. Dia melihat dari celah gerbang, di halaman depan terparkir mobil David.
"Apa di dalam ada Leona?" tanya Juna sambil berkacak pinggang.
"Ada, Tuan."
"Suruh dia keluar."
Para petugas keamanan terdiam dan malah saling pandang memang, lalu mereka menggelengkan kepalanya. "Tuan David berpesan, Nona Leona sedang istirahat, tidak boleh ada yang mengganggunya, termasuk Tuan Juna sendiri."
"Kalian! Atas dasar apa kalian berani bicara begitu?!" cecar Juna yang hampir meledak. Kepalanya sudah mendidih dan mengepulkan asap panas. Tangannya mengepal kuat sampai urat di lengannya menonjol menjalar seperti akar.
Diam-diam Moza mengintip dari balik jendela. Dia menutup mulutnya yang sedang tertawa cekikikan. Sebelumnya, Moza menyuruh para petugas keamanan untuk menghentikan Juna jika dia benar-benar datang dengan menggunakan nama ayahnya. Tak sangka, pamannya betulan datang dan dihentikan oleh mereka.
Juna mengambil tali yang menggantung di pos keamanan, lalu dia berusaha mengikat kedua petugas keamanan yang banyak bicara itu dengan mengerahkan tenaga dan upayanya. Tak lupa dia menutup mulut petugas keamanan menggunakan lakban hitam yang dia dapatkan dari meja pos. Setelahnya, Juna mengambil kunci gerbang dan masuk ke dalam dengan cepat.
"Mmm! Mmm! Mmm!" teriak dua petugas keamanan yang mulutnya dilakban dengan tubuh terikat. Mereka merasa tak rela melihat Juna melenggang masuk begitu saja.
Di dalam rumah, Juna mengedarkan pandangan matanya. Mencari dengan menajamkan indera pendengarannya, berada di mana Eleonara dan David.
Suasana rumah terasa sunyi karena hari semakin larut. Juna pun semakin meningkatkan kewaspadaannya karena masuk tanpa persetujuan orang tuanya.
Terdengar suara grasak-grusuk di lantai atas pintu kamar ketiga. Dengan berjinjit, Juna menuju ke sana. Setelah sampai di lantai atas, tepatnya di depan pintu kamar ketiga. Perlahan Juna membuka pintu tersebut. Tanpa menimbulkan suara.
Begitu dilihat ke dalam melalui sedikit celah, kedua mata Juna membulat sempurna. Manik matanya menatap nanar ketika mendapati David dengan Eleonara sedang berduaan di dalam selimut dengan posisi David berada di bawah tanpa mengenakan baju dan Eleonara menguasainya dari atas.
Tanpa pikir panjang, Juna masuk ke dalam dan menyibak selimut itu, lalu menarik Eleonara dengan kasar.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan?!" Juna berteriak, tapi dengan suara yang tertahan. Dia masih cukup berhati-hati agar tidak membangunkan orang rumah.
David tentu saja terkejut melihat kedatangan Juna, tapi tidak dengan Eleonara yang memang sudah mabuk kepayang. Dia mendorong Juna, tak menghiraukannya, dan malah memeluk tubuh David.
"Juna, dia mabuk. Jangan memarahinya. Buka ikatan di tubuh Kakak dulu," pinta David sambil menggoyangkan tubuhnya yang ternyata kedua tangannya diikat kebelakang.
Juna meraih wajah Eleonara dan memeriksa bola matanya. Benar saja, Eleonara mabuk. "Bagaimana bisa dia mabuk? Apa Omar dan Zafer yang mengajarkannya?!" ucap Juna kesal sambil berusaha melepaskan ikatan di lengan David.
"Ada yang menjebak mereka di bar. Untung saja mereka bisa langsung menyadarinya, kalau tidak, mungkin istri kecilmu ini sudah dimangsa kedua sahabatmu," jelas David.
"Ck, lalu bagaimana bisa dia mengikat Kakak? Apa otot-otot lengan Kakak ini sudah tidak berfungsi? Bisa-bisanya kalah dengan seorang wanita," gerutu Juna gondok.
"Aih, panjang ceritanya. Ambilkan kemeja Kakak!" tunjuknya ke arah lantai. Kemeja putih miliknya tergeletak asal di sana.
Melihat Juna berjalan menjauh, Eleonara kembali mendekati David sambil cengengesan. Di matanya Juna hanya satu yaitu David. Juna yang asli tidak dia khiraukan sama sekali.
Begitu Juna menoleh sambil menyodorkan kemeja kakaknya, dia melihat Eleonara sedang memeluk erat tubuh David sambil membenamkan kepalanya ke dada bidang David.
"Leona!" seru Juna tak rela.
Belum sempat menariknya, Eleonara menangis terisak-isak dalam pelukan David. Tangisannya terdengar sedih sekali, lirih sekali, semacam orang yang benar-benar putus asa sampai membuat David dan Juna terdiam dengan ekspresi tak tega.
"Kenapa, Leona? Suamimu ada di sini, lepaskan saya. Kita seperti ini tidak baik," kata David berbisik sambil menepuk pelan bahu Eleonara.
Eleonara malah semakin erat memeluk David, seolah mencurahkan segala isi hatinya melalui tangis dan pelukannya tersebut.
"Juna, jangan selalu melihatku seperti anak kecil. Meski usiaku masih sangat muda, aku tetap punya perasaan dan penilaian sendiri. Aku didewasakan oleh rasa sakit, bukan usia. Seusia Moza aku sudah tidak memiliki waktu untuk bermain, hidupku penuh dengan luka. Orang-orang seringkali mengejekku karena orang tuaku yang tidak menginginkanku. Lalu, aku diadopsi, awalnya merasa senang sekali dan berpikir tidak akan diejek teman-teman lagi. Nyatanya di rumah orang tua angkatku aku diperlakukan tidak adil oleh mereka. Mereka terus menyakiti fisik dan mentalku. Dan ketika kesempatan itu datang, saat aku dijodohkan denganmu. Awalnya pun sama, aku sangat bahagia dan berpikir akhirnya bisa keluar dari keluarga yang toxic. Hahaha, nyatanya sangat mengecewakan. Suamiku tidak pernah melihatku, dia selalu memikirkan kekasih lamanya. Sebenarnya aku sudah lelah dengan semuanya, Jun, tapi sialnya perasaan ini masih belum mau menyerah. Serius, aslinya mah aku bener-bener capek banget, cuma kebetulan aja punya bakat pura-pura kuat."
"Setiap malam, aku bertarung sendirian, melewati depresi dalam diam. Mencoba melewati perasaan putus asa dan perasaan tidak tertolong. Orang-orang seperti kamu tidak akan pernah tahu dan mungkin tidak akan merasakannya, perasaan yang sering muncul untuk mengakhiri hidup. Berapa kali aku jatuh dan berusaha bangkit, tidak ada satu pun yang bertanya 'apa aku baik-baik saja?'. Jadi sekarang, kamu putuskan sendiri, mau tetap bersamaku atau kembali pada Elena. Tidak apa-apa, jangan merasa tidak enak. Luka yang aku dapat sudah tidak terhitung jumlahnya, kamu tambah satu lagi juga bukan apa-apa." 😊
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!