
"Tolong, hentikan! Kalian tidak bisa seperti ini terhadapku! Osman Bey, Zafer Bey, hiks ... aku mohon, sadarlah!" Eleonara berusaha mendorong tubuh Zafer dan menendang Osman. Meski sebenarnya tubuhnya pun mulai merasa tidak enak.
Tiba-tiba saja, Zafer yang sedang membenamkan wajahnya di tengkuk leher Eleonara membisikan sesuatu. "Maaf Leona, sebenarnya ada yang sedang berusaha menjebak kita. Ada kamera juga yang sedang mengawasi. Untuk menangkap pelakunya, ikutlah berakting dengan kami."
Sontak saja hal itu membuat Eleonara terkejut bukan main. Jadi, apa yang dilakukan Osman dan Zafer sejak tadi hanyalah akting? Eleonara ditipu?
Rasa panik yang memburu dalam diri mulai mereda. Eleonara melihat Osman yang sedang menggenggam pergelangan kakinya. Sebelah matanya berkedip. Dia yang merasa ditipu tentu saja sangat marah, bahkan ingin sekali meluapkan amarahnya. Namun, mereka melakukan hal seperti ini juga terpaksa karena ada yang menjebak mereka.
Benar! Ada yang menjebak kita. Siapa yang tega melakukan trik murahan seperti ini? (Batin Eleonara)
"Tapi, aku sudah terlanjur menghabiskan segelas koktail itu. Tubuhku mulai merasa tidak karuan Zafer Bey," bisik Eleonara sambil menghindari kamera tersembunyi di sudut kanan atas.
"Bertahanlah, saya sedang menunggu konfirmasi dari asisten saya," kata Zafer sambil menyentuh telinganya. Ternyata di telinga kirinya menempel alat kecil untuk bisa terhubung dengan asisten pribadinya.
"Zafer Bey, para pelaku melarikan diri!" ucap sang asisten.
"Kejar sampai dapat!" teriak Zafer yang membuat Eleonara tersentak kaget karena jarak mulut Zafer dengan telinganya sangat dekat. "Ah, maaf, Leona. Pelakunya melarikan diri, saya refleks. Sudah, kita tidak perlu berakting lagi."
Akhirnya Eleonara bisa lega terlepas dari jerat dua Pria Turki ini. Osman dan Zafer pun terlihat menghela napas panjang. Tanpa diduga mereka mengulurkan tangan kanannya masing-masing, berniat membantu Eleonara bangun. Namun, Eleonara yang merasa tidak enak, memilih untuk bangun sendiri.
"Pelakunya kabur, lalu bagaimana?" tanya Eleonara cemas.
"Tenanglah, asisten saya dan Osman dapat diandalkan. Mereka pasti tertangkap," kata Zafer mencoba menenangkan Eleonara.
"Huff, syukurlah kalau memang begitu. Tapi, bagaimana kalian bisa menyadari semua ini?" tanya Eleonara penasaran sambil merapatkan dengkulnya, karena baru saja pahanya disentuh Osman. Jadi, tidak enak.
"Saat kamu ke toilet, saya mengejarmu. Tapi, saya malah melihat sesuatu yang tidak beres dilakukan oleh dua orang pelayan yang akan mengantar koktail pada kita. Mereka memasukan sesuatu ke dalam minuman itu, tapi saya tidak tahu apa yang mereka masukan," jelas Osman. "Setelah mereka mengantar minuman-minuman itu, mereka tidak benar-benar pergi. Justru malah memantau kami dari celah pintu. Saya yakin dari situ ada yang tidak beres."
"Osman tidak langsung menceritakan pada saya karena dia tahu kita sedang diawasi, padahal saya sudah terlanjur meminum segelas koktail itu. Setelah saya minum, barulah dia berkata. 'bagaimana rasanya? Apa ada yang aneh? Kedua pelayan itu memasukan sesuatu ke dalam koktailnya'. Uh, saya kesal dari situ. Bagaimana kalau yang mereka masukan itu racun tikus? Saya bisa mati ditempat," ujar Zafer menggerutu sambil menatap sinis ke arah Osman dengan kedua tangan di lipat di atas perut.
"Hey, tapi kamu bilang itu bukan racun kan, hanya obat halusinasi saja!" tekan Osman tak ingin disalahkan.
__ADS_1
"Itu karena sedang beruntung saja." Zafer ngeles sambil menuangkan koktail ke dalam gelas dan meminumnya lagi. Eleonara langsung membulatkan matanya.
"Lho, katanya koktail itu sudah diberi obat halusinasi, tapi kenapa masih diminum? Yang ada di botolnya juga pasti sudah tercemar, kan?" kata Eleonara terheran-heran.
"Tidak akan ada efeknya, Leona. Tenang saja." Zafer menyepelekan sambil terus meneguk koktail itu. Rasanya menyegarkan dengan aroma buah yang menguar di hidung.
Tidak ada efeknya? Aku minum satu gelas saja, rasanya tubuh jadi aneh. (Batin Eleonara. Samar-samar dia melihat Osman dan Zafer adalah Juna, tapi Eleonara segera menyadarkan pikirannya)
Osman pun ikut-ikutan minum koktail itu karena melihat Zafer baik-baik saja. Mereka tidak tahu, reaksi obat ada jangka waktunya. Semakin banyak diminum, reaksinya akan semakin besar dan cepat.
Benar saja, tidak lama dari situ, Osman dan Zafer mulai bertingkah aneh. Eleonara sudah bisa menduganya. Sebelumnya, Eleonara sudah menghubungi asisten masing-masing dari mereka untuk menjemput mereka, tapi para asistennya sedang melakukan pengejaran pada pelaku.
Kebetulan David menghubunginya lagi melalui panggilan video, katanya Moza tidak bisa tidur karena ingin mendengar cerita Cinderella dari Eleonara. Pada akhirnya, Eleonara meminta pertolongan pada David untuk datang ke bar di mana Eleonara terkurung bersama Osman dan Zafer.
Begitu David datang menyelamatkan, kegilaan Osman dan Zafer pun meledak. Waktu yang pas sekali. Eleonara segera bersembunyi di belakang tubuh David karena Osman dan Zafer kali ini benar-benar sudah hilang kendali. Ingin menyantap Eleonara bulat-bulat seperti singa jantan yang kelaparan.
"Ck, apa yang membuat kalian seperti ini?" gerutu David sambil berusaha memasukan Osman dan Zafer ke dalam mobilnya.
"Kak David, sepertinya mereka harus ada yang menjaganya. Kalau tidak, bisa berkelahi di dalam mobil," ucap Eleonara.
"Kalau begitu, biar aku yang nyetir. Kak David yang jaga mereka," usul Eleonara.
"Tapi, kamu belum punya SIM."
"Belum punya, tapi jangan diragukan. Ayo, sebelum mereka bertindak semakin parah," kata Eleonara tergesa-gesa.
David pun memberikan kunci mobilnya pada Eleonara dan mobil mulai melaju. David duduk di tengah-tengah antara Osman dan Zafer.
"Kita mau antar mereka ke mana, Kak?" tanya Eleonara sambil fokus mengemudi. Ketika melihat polisi di depan, segera mencari jalan pintas.
"Mereka ada apartemen, tapi biasa tinggal di hotel. Kalau kita pergi ke sana pun pasti akan ada banyak orang yang curiga melihat tingkah aneh mereka, bisa dipastikan akan timbul masalah baru lagi. Hah, saya tidak ingin berurusan dengan polisi," David mengacak-acak rambutnya karena pikirannya semrawut.
__ADS_1
Dia berusaha melepaskan diri karena Osman dan Zafer malah memeluknya, bahkan sesekali mereka hendak mengecup David. Lihatlah, sekarang saja bibir mereka sedang monyong-monyong.
"Geçmiş olsun untuk kalian (semoga cepat pulih). Saya memang sudah menjadi duda bertahun-tahun, tapi tidak akan sampai menyimpang juga pada bujang lapuk seperti kalian!" geram David yang terdengar lucu ditelinga Eleonara.
Eleonara cekikikan melihat tingkah David dari kaca spion tengah yang sedang digerayangi Osman dan Zafer. Andai saja dia yang ada dibelakang sana, sudah tamat riwayatnya.
Namun, tiba-tiba saja pandangan Eleonara kabur. Dia melihat sosok Juna sedang berdiri di tengah jalan dengan bertellanjang dada. Eleonara tahu itu karena efek obat halusinasi. Dia kembali mengontrol dirinya sendiri agar terjaga.
Jika saat ini harus memilih pergi ke rumah Juna, akan menghabiskan waktu sekitar 30 menit. David pun menyuruhnya untuk pergi ke rumah orang tuanya karena hanya itu yang paling dekat. Di sana pun banyak pelayan. Tidak perlu bersusah payah lagi mengurus Osman dan Zafer.
...
Sesampainya di rumah Mohsen, David meminta tolong pada satpam untuk memapah Osman masuk, dia akan memapah Zafer dengan hati-hati karena kemungkinan orang tuanya sudah tidur.
Eleonara berusaha membantu David, tapi Zafer malah mengambil kesempatan dengan memeluk pinggangnya dan membelai pipi Eleonara sambil menatapnya penuh hasrat. Jamur supernya yang sudah menegang dari tadi digesek-gesekkan pada tubuh Eleonara. Sontak saja hal itu membuat Eleonara kejang setengah mati.
"Kak David, tolong!"
David pun segera menariknya dan bersusah payah membawa Zafer ke salah satu kamar yang ada di rumah besar itu. Zafer dibaringkan di samping Osman di atas ranjang.
Tanpa mereka tahu, Moza sedang mengintip mereka dari celah pintu karena Moza merasa ada yang aneh saat melihat Osman dan Zafer dipapah masuk. Sebelum ke bar, David menitipkan Moza pada ayah dan ibunya di rumah ini.
Saat sedang mengintip begitu, tiba-tiba Moza melihat Eleonara yang hendak bangun, tangannya di tarik oleh Osman. David menahannya dan berusaha menarik lengan Eleonara agar terlepas dari Osman hingga tidak disangka keseimbangan David goyah dan dia terjatuh, menabrak tubuh Eleonara.
Moza menganga sambil menutup setengah matanya karena ayahnya terjatuh tepat di atas tubuh Eleonara. Mereka saling tatap beberapa saat. Eleonara terkecoh karena efek obat halusinasi. Menganggap yang berada di atasnya adalah Juna, bukan David.
"Me-mereka ... aku harus segera memberitahu Paman dan meminta Tante darinya," gumam Moza dengan mata berbinar-binar.
...
BERSAMBUNG!!
__ADS_1
.
.