Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Aku Ingin Dia Secepatnya!


__ADS_3

"Dijodohkan denganku? Apa maksudnya ini?" tanya Juna tak terima. Dia melihat ayah dan ibunya malah saling bertatapan.


"Jun, apa kamu masih mencintai Elena?" tanya Diana sambil menyentuh lembut tangan Juna dengan tatapan getir.


Juna langsung membuang pandangan ke arah lain dengan bola mata melirik ke sana kemari gelisah. Dia tidak menjawab pertanyaan ibunya sepatah katapun. Hanya diam dan membuat semuanya jelas bagi Diana.


"Sudah berkali-kali Ibu berharap kamu melupakannya dan membuka hatimu untuk wanita lain. Jangan diam di tempat seperti ini terus. Semua orang sudah berubah, hanya kamu saja yang belum," ungkap Diana sedikit mengomel.


"Bu, aku dapat melupakan orang yang tertawa bersamaku, tapi sulit bagiku melupakan orang yang pernah menangis bersamaku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa, aku hanya sedang berusaha untuk tidak mengingatnya saja. Aku juga sudah berhenti mencarinya sejak lama. Bukannya aku tidak ingin membuka hatiku untuk wanita lain, hanya saja ... aku takut jika akhirnya sama," jelas Juna dari hatinya yang paling dalam. Wajahnya langsung terlihat murung.


"Maka dari itu, Ayah selalu bilang padamu untuk segera menikah, tapi kamu masih tidak mau ke luar dalam zona nyamanmu. Ayah tidak pernah lihat kamu menggandeng seorang wanita lagi sejak kepergian Elena. Sekarang Ayah sudah membulatkan niat Ayah untuk menjodohkanmu dengan anak rekan kerja Ayah. Ayah tidak menginginkan persetujuanmu karena ini perintah! Siapkan saja niatmu," kecam Mohsen dengan wajah dan tatapan mata yang serius.


"Ayah, pernikahan bukan perkara yang mudah! Ada banyak yang perlu dipersiapkan," bantahnya.


"Kamu sudah dewasa dan siap menikah. Butuh apalagi? Dengar-dengar dokter psikologmu juga menyarankanmu untuk menikah, kan? Jun, tidak semua hubungan akan berakhir menyedihkan. Cobalah jadi seseorang yang humoris untuk pasangan, jangan memperlihatkan sikap dingin dan tegasmu seperti saat kamu bersama Elena. Kamu juga bisa bercermin dari pernikahan Ayah dan Ibu, lalu bisa mengambil pelajaran dari pernikahan kakakmu yang kandas," ucap Mohsen memberi masukan. Kemudian dia meletakan selembar foto seorang gadis berkacamata di atas meja.


"Namanya Eleonara. Masih sekolah, tapi akan lulus dalam beberapa bulan lagi," sambung Mohsen yang langsung membuat Juna terkejut setengah mati saat melihat fotonya. "Ayah sudah bertemu dengannya tadi malam. Orangnya baik, ramah dan penurut. Entah kenapa Ayah merasa dia cocok untuk peringaimu. Cobalah sesekali bertemu dengannya."


Juna mengambil foto tersebut sambil menatapnya dalam. Bagaimana bisa begitu kebetulan? Dia mengucek kedua matanya, takutnya salah lihat, tapi yang ada di foto memanglah gadis SMA berkacamata yang dia temui kemarin.

__ADS_1


"Kenapa, Jun? Tidak suka?" tanya Diana cemas.


"Menurut Ayah dia cantik, lho. Kelihatannya saja culun karena pakai kacamata dan berwajah murung. Tapi saat kacamatanya dilepas dan tersenyum, wah ... benar-benar gadis yang menarik. Oh iya, senyumnya juga persis seperti Elena. Ada lesung di kedua pipinya dan dagunya sedikit terbelah. Kalau Ayah masih seumuran kamu, Ayah akan langsung setuju untuk dijodohkan, hehehe...," bualnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Diana. Diana hanya geleng-geleng kepala sambil menghela napas hampa melihat tingkah suaminya.


Mohsen dan Diana sedang menunggu respon Juna karena dia masih saja terus memandangi foto Eleonara. Mereka menaikan kedua alisnya sambil tersenyum menyudutkan. Seakan sangat berharap Juna menerima tawaran perjodohan itu.


"Aku -"


"Tunggu, Ayah masih punya kandidat kedua dan ketiga. Kalau kamu memang tidak suka gadis itu, bagaimana dengan mereka?" Mohsen menyela sambil memberikan dua lembar foto lagi pada Juna.


Foto dua wanita dewasa. Mereka cantik dan wajahnya terlihat mewah. Yang satu berambut pendek, berpakaian dokter dan satunya berambut panjang, berpakaian formal, terlihat seperti wanita karir. Usia mereka siap untuk dinikahkan daripada Eleonara.


Namun, Juna menggelengkan kepalanya dengan mengerucutkan bibir. "Aku mau yang ini secepatnya," tunjuknya tanpa ragu pada foto Eleonara yang tergeletak di atas meja.


...


Ditengah makan malamnya, Abraham membawa kabar kurang baik. Abraham mengatakan kalau Pak Mohsen baru saja menghubunginya dan akan menikahi Eleonara empat hari lagi dari sekarang. Sora yang sedang makan sampai tersedak mendengarnya.


"Yang benar, Yah?! Pak Mohsen ingin menikahi dia secepatnya?" tanya Sora dengan ekspresi puas.

__ADS_1


Abraham mengangguk tanpa ragu. Dia melihat wajah Eleonara langsung menunduk muram. Dia tahu Eleonara tidak menginginkan perjodohan ini, tapi mau bagaimana lagi? Satu-satunya cara melunasi hutang adalah dengan menjodohkannya.


Sora dan Mariam langsung bersorak ria. Bahkan mereka tak perlu menyembunyikan kebahagiannya itu. Terang-terangan menunjukannya di depan Abraham dan Eleonara.


"Aku sudah menduganya saat malam kemarin Pak Mohsen berkunjung. Dia terus memperhatikan Ele dan sepertinya langsung tertarik sejak pandangan pertama. Haha, El, akhirnya kamu ada yang mau juga. Bersyukurlah meski menikah dengan pria tua, setidaknya dia kan, kaya. Kamu bisa mewarisi hartanya setelah dia meninggal, hihihi," ledek Sora tak tanggung-tanggung.


Eleonara cukup sakit hati mendengarnya. Mereka begitu puas mentertawakan nasibnya yang malang.


"Pak Mohsen sudah punya istri dan dua anak. Jika dia meninggal, kekayaannya tentu akan diwariskan pada istri dan anak-anaknya. Eleonara mungkin hanya akan kebagian sedikit," jelas Abraham sambil menyembunyikan sesuatu dibalik kata-katanya.


Sebenarnya Abraham tahu bukan Mohsen yang akan menikahi Eleonara, tetapi putera keduanya. Mohsen dan Abraham sepakat untuk merahasiakan ini karena Mohsen ingin menguji Sora dan Eleonara. Siapa diantara mereka yang memiliki hati tulus, maka dialah pemenangnya.


"Apa! Pak Mohsen sudah punya istri dan anak? Bhahahaha ...!" tawa Sora begitu menggelegar sampai menyakiti telinga dan perasaan Eleonara. Dengan cepat Abraham dan Mariam memelototinya karena Sora sudah keterlaluan, suara tawanya pun sangat mengganggu.


"Ah, hehe ... maaf, El. Tidak ada niat untuk menertawai, kok. Kalau begitu, aku hanya akan mengucapkan semoga berhasil dengan pernikahanmu, pffttt...!!" seru Sora sambil menutup mulutnya yang tidak terkendali. Terus saja menertawai Eleonara. Padahal wajah Eleonara sudah sangat merah menahan malu.


Eleonara tak bisa lagi membendung air matanya. Dia meninggalkan makan malamnya dan berlari menuju kamarnya sambil menangis tersedu-sedu.


...

__ADS_1


BERSAMBUNG!!


Jangan lupa like, komen & hadiahnya ya, xixi...


__ADS_2