
Semenjak kejadian itu, Vivian benar-benar menjauhi Eleonara. Eleonara tentu merasa sangat sedih karena Vivian adalah sahabat satu-satunya yang dia miliki, tapi sekarang dia malah menjauhinya karena kesalahan yang dia buat. Setelah direnungkan dengan baik, ternyata memang Eleonara telah salah mengambil sikap. Tidak sepatutnya dia menutupi pernikahannya dari Vivian, apalagi sampai sejauh ini. Vivian marah dan merasa tidak dianggap adalah hal yang wajar. Eleonara hanya perlu sadar diri saja. Penyesalan memang datangnya belakangan.
Namun, ada ucapan Vivian yang membuat Eleonara bertanya-tanya sampai detik ini. Vivian bilang dia sudah tahu sebelumnya dari seseorang. Siapa seseorang itu? Inilah yang jadi pertanyaan. Sebab tidak ada yang tahu pernikahannya selain keluarganya dan keluarga Juna.
"Ini pasti Kak Sora!" duga Eleonara dengan mata berapi-api.
Tanpa pikir panjang, dia langsung pergi ke rumah Abraham dan menemui Sora. Untung saja Sora sedang ada di rumah.
"Ngapain kamu? Bukannya suami kamu udah mutusin hubungan diantara kita?" ujar Sora sambil meletakkan pewarna kuku di atas meja. Sedang asik mewarnai kukunya, malah datang tamu tak diudang yang membuatnya langsung naik darah.
"Pasti Kakak kan, yang ngasih tahu Vivian tentang pernikahan aku sama Pak Juna!" tuduhnya tanpa basa-basi.
"Eh, eh, eh, jangan asal nuduh kamu, ya! Sembarangan bilang aku yang ngasih tahu si pendek masalah pernikahan kamu. Kamu ada bukti apa nuduh aku kayak gitu?!" bantah Sora sampai dia beranjak bangun dari duduknya karena merasa tidak terima.
Tiba-tiba saja Mariam muncul karena dia mendengar keributan di ruang tamu dari kamarnya. "Ada apa, Sora? Heh, Eleonara, ngapain kamu ke sini?" tanyanya sinis.
"Bu, dia tiba-tiba datang terus nuduh aku yang enggak-enggak. Katanya aku yang ngasih tau temennya si pendek itu tentang pernikahannya," kata Sora meminta pembelaan dari sang ibu.
"Lancang kamu, El. Ada keberanian dari mana kamu nuduh anakku yang melakukannya. Sejak kamu berteman dengan Vivian, memangnya kamu ada melihat Sora rukun dengannya? Kamu datang ke sini pasti sengaja mau memfitnah kami, iya kan!" tekan Mariam dengan mata melotot sambil merangkul Sora.
"Justru itu, karena Kak Sora sama aku dan Vivian gak rukun, pasti Kak Sora ada niat jahat mau ngerusak pertemanan aku sama Vivian. Gak ada orang lain yang benci sama aku selain kalian," balas Eleonara dengan keberanian penuh.
"Heh, emang bener aku sama Ibu aku itu benciiiiiii banget sama kamu. Tapi, semenjak Juna memutus hubungan kita, aku udah gak mau berurusan sama kamu lagi. Jangan kepedean deh, jadi orang. Menang-mentang aku yang paling gak suka sama kamu, jadi semua hal negatif kamu limpahkan ke sini. Lagian emangnya cuma aku doang yang gak suka sama kamu? Siapa tau kamu punya musuh lain. Kamu kan, orangnya nyebelin. Sok polos, padahal penjilat. Cih, amit-amit deh!" ledek Sora sambil memutar bola matanya dengan bahu sedikit bergetar.
__ADS_1
"Jaga ucapan Kakak, ya! Aku gak sama kayak kalian yang bisa gelap mata gitu aja kalau liat uang," ujar Eleonara sambil menunjuk hidung Sora dengan tatapan menusuk.
Mariam yang mendengar ucapan Eleonara merasa kesal karena sikapnya menjadi sangat angkuh kali ini. Dia langsung menggigit jari telunjuk Eleonara sampai Eleonara merintih kesakitan.
"Ibu!" teriak Eleonara kaget sambil memeriksa jari telunjuknya. Ada bekas gigitan yang cukup dalam di sana, tapi untungnya tidak sampai berdarah.
"Ibu, Ibu, najjis aku dipanggil Ibu sama anak gak tau diri kayak kamu! Langsung merinding badanku. Dari kecil aku urus sampai sudah sebesar ini, ketika menikah dengan pria kayak eh, malah seperti kacang lupa kulitnya. Heh, Eleonara, kalau bukan karena aku dan Sora yang maksa kamu buat nikah sama Juna, kamu gak bakal ada di posisi sekarang! Sekarang aja kamu bisa sesombong ini. Kalau cinta pertama Juna datang, kamu pasti bakal langsung di tendang keluar. Dengar-dengar Juna belum melupakan cinta pertamanya, kasian deh. Hati-hati ya, jangan terbang terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit," ucap Mariam sambil tersenyum puas.
"Hahaha, bener, Bu! Dia itu kan sebenernya cuma dijadiin pengganti doang sama Juna. Juna gak bener-bener tulus nganggap dia, toh Eleonara ini baru anak kemarin sore, gampanglah buat Juna bohongin. Aku denger dari Ayah, katanya Pak Mohsen sempet bilang kalau dia ini mirip sama masa lalu Juna. Pasti waktu itu Juna mau dijodohin sama dia cuma gara-gara dia ini mirip sama masa lalunya, iya kan Bu. Gak salah lagi itu. Dia cuma pengganti doang, tapi belagunya minta ampun," imbuh Sora dengan mulut komat-kamit menyindir Eleonara dengan begitu puas.
"Gak masalah mau aku dijadiin pengganti atau apa pun itu sama Pak Juna. Yang penting uang bulanan aku di atas 300jt, dikasih awal bulan dan gak pernah telat! Belum sama perhiasan yang sering dia kasih tiap minggu, belum lagi sama fasilitas yang dia siapin buat aku selama di rumah atau pun sekolah. Tiap hari dianter jemput sama mobil mewah, perawatan dari ujung kaki sampai kepala. Tas, sepatu, baju semuanya dari barang branded, gak ada tuh yang thrift kayak Kakak cuma gara-gara pengen trendy doang. Uang emang bukan segalanya, tapi segalanya kan pakai uang. Kalau aku udah ngumpulin uang sampai miliaran, aku tinggalin aja Pak Juna yang kata kalian masih belum ngelupain masa lalunya itu, simple kan? Tapi, kalau dia akhirnya terpikat sama aku, ya gak bakal aku sia-siainlah. Takutnya nanti malah diambil Kakak," sindir Eleonara sambil menyunggingkan senyumnya.
"Eleonara, kamu!"
Melihat Sora dan Mariam yang kepanasan atas ucapannya membuatnya sangat puas hati. Orang tamak seperti Mariam dan Sora paling ampuh kalau dikompor-kompori seperti itu.
"El, Eleonara?!" Abraham langsung memeluknya dengan begitu erat. "Ayah tahu kamu pasti tidak akan tega memutus hubungan dengan kita. Ayah percaya kamu akan kembali ke rumah ini. Kamu akhirnya berhasil membujuk Nak Juna," sambungnya sambil tersenyum haru.
Eleonara melihat peluh bercucuran di kening Abraham, keriput dan uban semakin jelas terlihat, bajunya tampak lusuh, juga tidak ada semangat yang terlihat dari sorot matanya. Seakan dia telah lelah menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dan tak ada orang yang merawatnya.
"Ayah baru pulang?" tanya Eleonara sambil menatap Iba. Tetap saja hati kecilnya berkata lain.
"Iya, Sayang. Ayah baru pulang. Kelihatan kotor, ya? Mobil waktu itu sudah dijual lagi, jadi pulang pakai motor. Eh, mendadak motornya mogok di tengah jalan. Ayah mendorongnya, berharap menemukan bengkel, tapi sayangnya sampai depan rumah tidak ada yang buka, bengkelnya pada tutup. Maaf ya, Ayah langsung peluk kamu tadi. Habisnya kangen sudah lama tidak bertemu, hehehe...."
__ADS_1
Eleonara seakan melihat sisi lain dari Abraham, bicaranya kini begitu tulus, tidak terlihat ada maksud tersembunyi dari perkataannya. Entah apa yang sudah Abraham lalui sampai rasanya berbeda dari sebelumnya.
Eleonara berinisiatif memberikan tas branded serta jam tangan mewah yang sedang dia kenakan pada Abraham. Instingnya mengendalikan dirinya sendiri.
"Aku tidak bawa uang cukup ke sini. Ayah jual tas dan jam tanganku di E-commerce. Meski bekas, tapi pasti banyak yang mau. Nanti uangnya pakai untuk kebutuhan yang penting-penting saja, Ayah yang mengatur uang. Jangan diberikan pada Ibu apalagi Kak Sora, ya? Kalau Ayah melanggar, aku akan marah pada Ayah," ujar Eleonara mengancam pura-pura dengan bibir cemberut.
"Lho, tapi -"
"Aku harus cepat-cepat pulang, Ayah. Pak Juna bisa marah kalau tahu aku ke sini. Ayah jaga kesehatan, ya." Eleonara mencium tangan Abraham, lalu pergi begitu saja. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun pada Mariam dan Sora.
"Ugh, dasar sombong!" teriak Sora tersulut emosi.
Sora tak peduli pada kepergian Eleonara. Dia langsung merampas jam tangan serta tas Eleonara dari tangan ayahnya dengan tatapan lapar.
"Halah, tas sama jam tangan KW seperti itu paling cuma laku puluhan ribu doang, iya kan, Sora? Kamu yang paling tahu barang branded," nyinyir Mariam.
Namun karena penasaran, Sora mencari tahu nomor seri yang tertera di tas dan jam tangan tersebut untuk memastikan keasliannya. Setelah di cek, ternyata tas dan jam tangan Eleonara asli dan dari produk ternama, hanya dikeluarkan 5 buah pada tahun ini.
"Ayah, Ibu! Tas seukuran telapak tangan ini t-t-ternyata ... ternyata harganya 168jt! Jam tangannya juga harganya 53jt! Aku sudah memeriksa kode serinya, barang-barang Eleonara 100% asli dan hanya dikeluarkan 5 buah tahun ini!"
"Apa!"
Mariam langsung pingsan tak sadarkan diri. Abraham bukannya menolong istrinya, malah mengamankan tas dan jam tangan mahal itu terlebih dahulu. Lengah sedikit saja bisa raib dalam sekejap mata.
__ADS_1
...
BERSAMBUNG!!