
Sore hari saat Eleonara pulang Sekolah, baru saja dia ke luar dari mobil bersama Syam, Moza dan David datang bertamu.
"Tante Leona!" teriak Moza sambil berlari menghampiri Eleonara dengan rambut dikuncir dua serta menggendong tas ransel unicorn favoritnya. Kedua rambutnya yang dikuncir tampak mengampul-ampul saat berlari.
Eleonara menyambutnya dengan membentangkan tangan. Sontak Moza langsung memeluknya tanpa perintah.
"Sudah lama tidak bertemu, pipi Moza makin bulat saja, hihi," ucap Eleonara sambil tersenyum lebar.
"Bulat seperti donat?" tanya Moza dengan menaikkan kedua alisnya.
"Bukan, tapi seperti bola pingpong, hehe ...."
"Apa itu bola pingpong?"
"Moza tidak tahu? Bola pingpong itu bola kecil dari plastik berwarna oranye," jelasnya sambil mengelus kepala Moza dengan lembut.
"Oh, Moza tidak tahu, hehehe. Tante baru pulang Sekolah?" tanyanya.
"Iya nih, Tante baru pulang. Ayo, masuk. Kita ngobrol di dalam," ajak Eleonara sambil menggenggam tangan mungil Moza. Dia menggerakkan kepalanya pada David yang sedang mengobrol dengan Syam untuk masuk juga.
Syam dan David pun masuk ke dalam. David duduk di sofa dan Syam segera ke dapur untuk mengambil suguhan.
"Kapan Juna pulang?" tanya David memulai percakapan.
"Katanya malam ini, tapi tidak tahu diundur lagi atau tidak," jawab Eleonara sambil mengangkat tubuh Moza dan mendudukkannya di sampingnya.
"Dia itu memang aneh. Baru saja menikah sudah berani meninggalkan istri. Apalagi sampai seminggu lebih. Kalau saja dia minta izin dulu pada Ayah dan Ibu, mereka pasti akan melarangnya pergi," gerutu David sambil geleng-geleng kepala samar.
"Tidak apa-apa, Kak. Justru aku sangat senang Pak Juna pergi. Agar tidak bisa mengusili aku terus."
"Tante, bukannya Tante sudah menikah dengan Paman? Tapi, kenapa Tante memanggil Paman dengan nama Pak Juna? Sedangkan pada Baba malah Kak David?" tanya Moza heran.
"Ah, itu ... pertama Tante kenal dengan Paman, Tante sudah memanggilnya dengan Pak Juna, jadi sudah kebiasaan memanggilnya seperti itu," jelas Eleonara gugup.
"Kenapa tidak memanggilnya dengan Aşkım atau Hayatım?"
"Askem, hayatem? Apa itu?" tanya Eleonara penasaran.
"Aşkım itu cintaku, kalau hayatım-hidupku. Benar tidak, Baba?" tanya Moza pada David.
David mengangguk sambil tersenyum.
"Ah begitu, ya. Ternyata Moza hebat juga bahasa Turki-nya. Nanti ajari Tante dong, hehe."
__ADS_1
"Mosa hanya tahu beberapa kata saja. Aşkım dan Hayatım biasa Mosa dengar setiap Kakek memanggil Nenek. Saat Annem masih ada, Baba juga selalu memanggilnya begitu," ucap Moza dengan bibir mengerucut. Ekspresinya langsung murung setelah mengucapkan kalimat terakhir.
"Annem?" tanya Eleonara bingung sekaligus heran karena tiba-tiba Moza berwajah murung.
"Mantan istri saya," jawab David sambil tersenyum pahit.
Eleonara hanya membulatkan mulutnya dengan ekspresi bersalah. Dia ingat Annem itu nama panggilan Ibu di Turki. Biasa dia dengar dari beberapa film Turki yang pernah dia tonton.
Pantas saja wajah Moza langsung murung. Tidak tahu apa yang terjadi, tapi Moza terlihat sangat merindukan ibunya. Aku tidak boleh membuatnya semakin memikirkan ibunya karena tahu itu sangat menyiksa. (Batin Eleonara)
"Moza, apa sudah bisa membuat kreasi dari origami yang Tante ajarkan waktu itu?" tanya Eleonara berusaha mengalihkan pembicaraan.
Moza menggelengkan kepalanya dengan bibir yang masih cemberut. "Itu sangat rumit. Mosa hampir tidak bisa mengingatnya satu pun. Mosa juga tidak bisa membaca gambar yang ada di balik bungkus origaminya."
"Mau Tante ajarkan lagi tidak? Tante punya kreasi baru, lho. Bisa membuat dinosaurus, paus, mobil dan oh, unicorn! Sepertinya Moza suka unicorn, bagaimana kalau kita buat?"
"Unicorn? Benar Tante bisa membuatnya?!" Wajah Moza langsung ceria kembali. Dia begitu antusias menanggapi Eleonara. Tidak ada sedikit pun gurat kesedihan di matanya. Eleonara sukses membuatnya lupa pada ibunya dalam sekejap. David yang melihatnya pun merasa lega.
Syam datang menyuguhkan minuman dan camilan di atas meja. "Silakan Tuan David, Nona Kecil," ucapnya sambil tersenyum ramah pada Moza.
Namun, tiba-tiba saja ponsel Eleonara berdering. Ada panggilan video masuk dari Juna.
"Sebentar, Moza. Paman Juna menelepon. Panggilan video. Sini, duduk di pa-ha Tante." Eleonara mengangkat Moza dan mendudukkannya di atas pa-hanya, lalu menjawab panggilan itu.
Muncullah wajah tampan Juna yang sedang me-monyongkan bibir dengan mata terpejam. Eleonara panik bukan main. Dia buru-buru membalikan ponselnya secepat kilat.
"Apa? Dengan Moza?!" kata Juna cemas setengah mati. Malunya sampai ke ubun-ubun setelah melihat kenyataan bahwa Eleonara memang sedang bersama Moza.
"Hehe, Paman Juna kenapa mulutnya monyong-monyong seperti itu? Sariawan, ya?" tanya Moza sambil cengengesan.
"Bukan sariawan Moza, tapi sepertinya pamanmu habis makan tutut, hahaha ...," ledek Eleonara dengan tawanya yang pecah.
David dan Syam pun jadi tertawa terbahak-bahak. Meski tidak melihat secara langsung, mereka sudah bisa menebaknya dan membayangkan kalau Juna sedang bertingkah konyol.
"Ada Kak David dan Syam juga di situ?" tanya Juna dengan keadaan wajah merah total.
Eleonara mengangguk sambil cekikikan. "Malu, ya? Hahaha ...."
"Eh, Tante, aku baru lihat kalau Tante punya lesung pipi," ucap Moza sambil menengadahkan wajahnya menatap pipi Eleonara.
Eleonara mengangguk malu sambil menyentuh kacamatanya.
"Mirip seperti Tante Elena. Pacar Paman sebelum Tante. Iya kan, Baba? Mosa pernah lihat di album foto keluarga. Lesung pipinya manis sekali seperti Tante."
__ADS_1
Deg!
Elena lagi? Bahkan kali ini Moza yang bilang lesung pipiku mirip dengannya. Sebenarnya seperti apa sosok Elena ini? Aku jadi penasaran. (Batin Eleonara)
"Oh iya, Moza tanyakan pada Paman, dia belikan oleh-oleh tidak untuk Moza?" ucap David mengalihkan pembicaraan.
"Haaa, benar! Paman, katanya mau pulang malam ini. Sudah beli oleh-oleh untuk Mosa dari Sri Lanka belum?" tanya Moza.
"Sudah, bahkan Paman bawakan satu koper untukmu. Kapan kamu pulang?" tanya Juna.
"Paman mengusir Mosa, ya! Mosa mau menginap malam ini di sini. Mosa mau tidur bersama Tante, wle!" Moza menjulurkan li-dahnya meledek Juna.
"Apa? Menginap? Oh tidak bisa, Paman mau berduaan dengan Tante malam ini. Mosa jangan ganggu," kata Juna dengan gamblangnya. Membuat Eleonara malu di hadapan David dan Syam. Dia sampai berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Pak Juna ini apa bicaranya tidak bisa difilter sedikit?! Mau berduaan denganku katanya? Hoho, bagaimana ini? Mana datang bulanku sudah selesai. Bisa-bisa ketahuan Pak Juna nanti. Bahaya! (Batin Eleonara)
"Em, tidak apa-apa kalau Moza mau menginap. Tante tahu banyak cerita anak-anak. Nanti sebelum tidur, Tante bisa ceritakan pada Moza," ucap Eleonara meyakinkan Moza (meminta pertolongan).
"Wah, yang benar, Tante?! Asiiikkk...!" Moza tentu saja senang disuguhkan cerita anak-anak.
Juna di sana menelan pahit dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Leona, berikan ponselnya pada Kak David. Saya ingin bicara."
Eleonara memberikan ponselnya pada David. David mengambilnya dan saling pandang dengan Juna di layar ponsel.
"Kenapa?" tanya David dengan dagu terangkat naik.
"Jauhkan dari Moza dan Leona."
"Ck, iya, iya." David beranjak bangun dan dia berdiri di halaman depan rumah. "Sudah."
"Kak, sebaiknya bawa pulang Moza sekarang. Jangan mengacaukan rencanaku. Aku sudah memesan President Suite di Hotel. Jangan karena perkataan Moza, Leona jadi terpengaruh."
"Astaga, memangnya apa yang mau kamu lakukan di Hotel sampai memesan President Suite?" kata David sambil menahan tawanya.
Juna terlihat mengusap jambangnya dengan gurat kesal diwajahnya. "Apalagi? Memangnya ada hal positif apa yang dilakukan pasangan kalau sedang berduaan di Hotel?" geramnya sebal.
"Hahaha ... tamam. Kakak mengerti. Kakak akan segera membawa Moza pulang. Selamat bersenang-senang malam ini," ujar David sambil tersenyum lebar.
"Jangan katakan apa pun pada Leona. Aku merahasiakan kamar hotel darinya!" ucap Juna lirih, yang terlihat hanya mulutnya saja di layar.
"Ya Tuhan, sejak kapan kamu jadi kekanak-kanakan begini, Juna? Bikin Kakak merinding saja."
....
__ADS_1
BERSAMBUNG!!
Lanjut apa lanjut? Sogok author pake cinta dulu dong, ahihihi...