Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Setuju Menikah, Setuju Membagi Hidup


__ADS_3

Eleonara langsung mematikan panggilan video itu dalam sekejap mata. Dia membenamkan kepalanya ke dalam selimut, lalu berteriak histeris. Malunya sampai ke ubun-ubun. Entah mau ditaruh di mana mukanya nanti bila dia bertemu dengan Midas.


...


Esok harinya, Eleonara sedikit menjauhi Vivian di sekolah. Mengobrol pun hanya sekedarnya saja, tidak terlalu menanggapi. Eleonara tak ingin Vivian membujuknya main ke rumahnya lagi dan bertemu dengan Midas.


Dari kejadian malam itu, Midas semakin aktif mengirimkan pesan pada Eleonara. Eleonara hanya membalas seperlunya saja agar tidak terlalu menunjukan kalau dia sedang menghindarinya. Dia pun tak ingin melupakan pengorbanan Midas yang sudah menolongnya sampai mengorbankan dirinya sendiri.


Sepulang sekolah, Eleonara pergi ke rumah Abraham. Dia mengambil kartu ATM miliknya dari Mariam. Untunglah tidak ada Sora, jadi tidak ada yang memulai keributan. Abraham menanyakan hubungannya dengan Juna seperti apa. Eleonara menjawab apa adanya saja kalau Juna sangat baik.


Setelah dari rumah Abraham, Syam mengantar Eleonara ke toko kacamata karena kacamatanya retak dan harus diperbarui. Saat Syam sedang menunggu di dalam mobil, dia tak sengaja melihat seorang wanita cantik yang begitu familiar sedang berjalan di trotoar jalan.


"Nona Elena?!" seru Syam dengan mata membulat. Dia buru-buru ke luar dari mobil dan mengejar sosok wanita yang dia duga sebagai Elena-cinta pertama tuannya yang hilang.


Namun, karena banyak pengguna jalan yang berlalu lalang, membuat Syam kesulitan menembus orang-orang yang sedang berkerumun dan menyebabkan dia kehilangan jejak Elena.


Syam melirik ke sana-kemari panik. "Aku tidak salah lihat! Tadi benar-benar Nona Elena," ucapnya meyakinkan diri sendiri sambil terengah-engah.


Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang. "Pak Syam!" panggil Eleonara.


Syam menoleh dengan perasaan campur aduk. Eleonara sudah mengganti kacamatanya dengan yang baru.


"Ada apa, Pak Syam?" tanya Eleonara penasaran sambil melihat ke sekitar karena tampaknya Syam sedang mencari sesuatu.


"Ah, tidak ada, Nona. Sudah selesai membeli kacamatanya?" tanyanya yang berusaha bersikap normal di hadapan Eleonara.


"Sudah."


"Mari, kita langsung pulang," ujar Syam sambil berlalu masuk ke dalam mobil mendahului Eleonara.


Eleonara merasa ada yang tidak beres dengan Syam. Tingkahnya aneh sekali. Tak mau ambil pusing, Eleonara pun masuk ke mobil dan pergi dari situ.


....


Selesai mandi, Eleonara mengobati luka lebamnya di lengan dan paha. Dia selalu menyediakan obat oles khusus luka lebamnya di dalam dompet. Obat oles ini sudah seperti kewajiban barang yang harus dia miliki karena setelah luka lebamnya sembuh, pasti muncul lagi yang baru.


Setelah Eleonara mengenakan piyama dan siap untuk tidur, Juna menelepon. Panggilan video. Eleonara merapikan penampilannya di cermin sambil senyum-senyum sendiri, setelah menurutnya cukup baik, dia duduk bersandar di ranjang dan menjawab telepon itu dalam keadaan siap serta percaya diri.

__ADS_1


Layar ponselnya langsung dipenuhi parasnya yang tampan rupawan. Membuat jantung Eleonara berdebar tak karuan.


"Çok güzel, Maşallah!" puji Juna sambil tersenyum lembut. "Kamu bersolek?" tanyanya.


Eleonara menggelengkan kepalanya sambil mengernyitkan kening. "Apa itu cok guzel?"


"Artinya sangat cantik. Kamu terlihat berbeda malam ini," ujar Juna yang membuat Eleonara semakin meleleh mendengarnya.


"Cih, gombal. Padahal biasa saja seperti sebelumnya," gumam Eleonara sambil berdesis sebal, padahal hatinya berbunga-bunga.


"Ya sudah kalau tidak percaya. Kacamata baru, ya?" tanya Juna basa-basi.


Eleonara mengangguk. "Yang kemarin retak, jadi aku membeli yang baru."


"Kenapa bisa retak? Kamu gigit?"


"Bukan! Retak saat hampir terserempet motor waktu itu," jelasnya sambil membenarkan posisi kacamatanya.


"Oooo." Juna membulatkan mulutnya yang seksi. "Uang jajan masih ada?" tanya Juna lagi.


"Emm ... masih," bualnya sambil meremas seprei. "Oh iya, Pak Juna, aku sudah membuat beberapa desain perhiasan. Aku ingin menunjukannya pada Pak Juna. Mau lihat tidak?"


Eleonara beranjak bangun dan membuka laci nakas, lalu mengeluarkan tumpukan kertas dan dia perlihatkan desain perhiasan buatannya pada Juna dengan begitu antusias.


"Ini kalung. Ini juga sama kalung, tapi agak rumit. Yang ini gelang, ini cincin. Yang ini satu set perhiasan, dari kalung, gelang, cincin dan anting. Simple, tapi elegan. Kalau dipakai ke acara formal sangat cocok. Baru pertama kali sih, buat perhiasan seperti ini, hehe. Jadi, sedikit kaku," jelas Eleonara. Malu sebenarnya, tapi harus dia perlihatkan demi mendapatkan kepastian bisa mendapatkan uang atau tidak dari karyanya.


"Coba saya ingin lihat satu set perhiasannya dari dekat," pinta Juna.


Eleonara mendekatkan kamera belakangnya pada kertas desainnya. "Begini?"


Juna tampak sedang menimbang-nimbang. "Kamu foto semua hasil desainmu, lalu kirimkan pada saya."


"Eh, beri ulasan dulu. Bagus atau tidak, memiliki nilai jual atau tidak? Aku membuat semua ini sampai lupa waktu, lho. Butuh perjuangan sekali," gerutunya sambil mengerucutkan bibir.


"Oh, jadi itu maksudmu. Apa uang jajan yang saya kasih kurang?" tanya Juna.


Eleonara langsung mengarahkan wajahnya pada kamera depan ponsel. "Bukan begitu! Pak Juna sendiri yang bilang untuk mencoba membuatnya. Lumayan juga kalau Pak Juna mau membeli. Itung-itung menambah uang jajan kan, hehe."

__ADS_1


"Bagus. Saya suka kalau kamu mau mencoba dan berusaha. Tanamkan sifat seperti itu untuk bekal saat kamu dewasa. Kalau begitu saya mau semua desainnya. Kamu mau menghargai berapa?" tanya Juna tanpa segan.


"Mau semua?! Serius!" Kedua mata Eleonara sampai membulat sempurna.


Juna mengangguk yakin. "Kamu sepertinya cukup berbakat. Desain perhiasan yang kamu gambar untuk seorang pemula sangat bagus," jelas Juna memberikan ulasan baik.


"Benarkah?" tanya Eleonara sambil tersipu.


"Saya tidak bohong. Katakan, mau dihargai berapa? Mau saya bayar pakai uang atau ...." Juna mengarahkan kamera pada tubuhnya yang seksi dengan otot-otot padat berisi di balik kemeja hitamnya. "Bayar pakai tubuh saya?" sambungnya menggoda.


"Astaga, Pak Juna, masih sempat-sempatnya menggodaku! Aku sedang serius, tahu!" gerutu Eleonara sambil menggertakan giginya.


Juna tertawa puas di sana melihat ekspresi Eleonara yang berwajah masam, membuatnya jadi gemas ingin mencubit pipinya. "Habisnya kamu tidak menjawab pertanyaan saya. Mau dihargai berapa? Saya kira kamu sedang menunggu saya menawarkan diri."


"Ck, mana ada seperti itu. Aku hanya bingung, kenapa aku yang harus menghargainya? Bukannya Pak Juna pernah bilang kalau Pak Juna sendiri yang biasa menghargainya $30 - $200 perdesain?" tanya Eleonara.


"Itu untuk orang lain. Berbeda kalau istri sendiri yang buatkan, harus memberikan harga istimewa. Bahkan kalau bisa jiwa raga saya, saya berikan seutuhnya, hihihi ...."


Eleonara langsung mendatarkan wajahnya. "Aku matiin ya, selamat tidur. Semoga mimpi indah."


"Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan dimatikan, saya hanya bercanda! Serius sekali sih, hahahahaaa ... Baiklah, saya akan kirimkan uangnya sekarang juga. Syam sudah menyangkutkan nomormu dengan M-banking belum?" tanya Juna.


"Sudah."


"Oke, baik. Tunggu sebentar," Juna terlihat sedang mengutak-atik ponselnya. Tidak lama menunggu notifikasi uang sebesar 20 juta masuk ke rekening Eleonara. Mata Eleonara langsung terbelalak besar.


"Du-dua puluh juta? Besar sekali, Pak Juna!" kata Eleonara gelagapan.


"Dicukup-cukupkan untuk seminggu, ya. Bilang apa?" kata Juna.


Bukan cukup seminggu lagi, tapi ini sih, bisa cukup berbulan-bulan untuk seorang pelajar sepertiku. (Batin Eleonara jiwa miskinnya meronta-ronta)


"T-terima kasih, hehe. Tapi, Pak Juna ... aku kan, tidak terbiasa memegang uang besar. Kenapa Pak Juna memberikan uang besar terus padaku? Tidak takut membuatku jadi tamak?" tanya Eleonara sambil malu-malu. Ingin dia tolak karena terlalu besar baginya, tapi tidak mungkin karena pasti Bu Asih sudah sangat berharap.


"Saya ingin tahu saja kamu bisa tidak mengelola keuangan. Mulai sekarang harus terbiasa memegang uang besar. Nanti jika ada apa-apa pada saya, lalu saya menyerahkan keuangan bisnis saya untuk kamu kelola, kamu tidak kaget. Belum lagi listrik, keperluan dapur, biaya perawatan mobil, lalu gaji ribuan pekerja saya dan masih banyak lagi, nanti semua itu kamu yang urus. Setuju menikah artinya setuju membagi hidupmu dengan saya, mulai dari berbagi ruang, keuangan dan masalah. Saya memiliki uang banyak, tapi berputar untuk semua transaksi. Selain istri, jabatanmu di rumah sebagai Bendahara. Ingat, ya," ucap Juna menjelaskan secara terperinci, membuat otak Eleonara loading sesaat.


...

__ADS_1


BERSAMBUNG!!


Dukung terus ceritanya, ya^^


__ADS_2