
"Apa ini? Hasil pemeriksaan laboratorium?" ucap Juna sambil membaca isi kertas yang kini sudah berpindah tangan padanya.
"Iya, Jun. Aku baru pulang dari dokter kandungan," jawab Elena sendu.
Eleonara merasa penasaran. Dia mengintipnya dari belakang dan juga ikut membacanya.
Patologi Anatomi? Bukannya itu ilmu kedokteran yang mampu mengidentifikasi beberapa penyakit? Di kertas itu dia didiagnosa abortus inkomplit. Apa itu abortus inkomplit? Ah, kalau tidak salah abortus itu aborsi, kan? Jangan-jangan... (Batin Eleonara menduga-duga)
"Kamu sakit, El?" tanya Juna, penasaran.
"Aku keguguran, Jun."
"Apa? Keguguran?" Juna tampak terkejut, begitu pun dengan Eleonara. Ternyata dugaannya benar.
"Ini hasil minggu lalu dan kemarin aku baru saja melakukan kuret, hikss. Aku tidak akan pernah melahirkan. Anakku sudah tiada," rengeknya sambil mendekati Juna dan hendak bersandar di dadanya, tapi dengan cepat Juna menyingkir hingga Elena hampir terjatuh karena keseimbangannya goyah.
Eleonara menutup mulutnya, menahan tawa.
"Bagaimana bisa kamu keguguran? Apa terjadi sesuatu?" tanya Juna.
"Itu semua berawal dari tamparannya waktu itu," tunjuknya ke arah Eleonara. "Kamu ingat kan, saat dia menamparku? Di situ aku terjatuh dan perutku terasa sakit."
"Karena aku? Memang benar kamu terjatuh saat aku menamparmu, itu karena tubuhmu saja yang lemah. Tapi, bukannya waktu itu Pak Syam langsung mengantarmu ke dokter untuk periksa? Pak Syam bilang bisa dipastikan tidak ada yang salah dengan kehamilanmu. Kenapa sekarang menyalahkanku?" ucap Eleonara dengan tegas.
Gadis ini apa tidak bisa bicara dengan suara rendah? (Batin Elena gondok)
"Memang saat itu tidak ada kesalahan, tapi setelah kejadian itu aku sering merasa perutku sakit. Lalu, beberapa waktu lalu aku mengalami pendarahan hebat dan ternyata aku keguguran. Dokter kandungan bilang katanya keguguranku disebabkan karena benturan keras. Aku tidak pernah terjatuh, bahkan sangat hati-hati melangkah. Hanya sekali aku terjatuh, yaitu saat kamu menamparku," jelas Elena sambil menyapu air matanya.
"Kamu pasti sedang mengarang cerita, kan? Kamu terjatuh dengan posisi duduk saat itu, tidak sampai berguling-guling."
"Sungguh! Aku tidak berbohong. Aku bisa bersumpah demi anakku yang sudah tiada, aku benar-benar keguguran karenamu!" tuduh Elena tak segan-segan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau memang benar keguguran karena aku, harusnya kamu senang, kan? Bukannya sedih. Dari awal kamu tidak menginginkan anak itu karena kamu dilecehkan. Setidaknya aku sudah membuatmu merasa lega karena tidak perlu menanggung malu saat melahirkan anak yang tidak tahu ayahnya siapa," ketus Eleonara sambil mengerutkan keningnya karena suasana hatinya memburuk dan instingnya mengatakan kalau Elena datang hanya untuk cari gara-gara saja dengannya.
"Leona!" tekan Juna sambil menatapnya tajam. Tatapannya mengisyaratkan untuk hati-hati dalam bicara.
"Kalau memang kamu sudah mengakuinya, kenapa tidak langsung meminta maaf? Apa seperti ini etikamu yang sebenarnya?" tutur Elena sambil memandang remeh Eleonara.
"Minta maaf? Untuk apa? Aku tidak salah, justru sudah membantumu. Dengan keguguranmu ini bukannya kamu merasa senang, ya?" celetuk Eleonara.
"Jun, sepertinya ada yang salah dengan otak istrimu. Setelah keguguran haruskah aku senang dan merayakannya? Hello, aku masih waras! Kehilangan seorang anak meski anak itu hadir karena ketidaksengajaan, tetap saja rasanya sedih dan terpukul. Kamu tidak akan tahu karena tidak pernah merasakannya," balas Elena sambil menunjuk hidung Eleonara dengan tatapan kebencian.
"Benar, Leona. Jangan seperti itu, dong. Bagaimana pun orang yang baru keguguran itu pasti merasa terpukul. Saya tidak membelanya, hanya saja jangan keterlaluan," imbuh Juna dengan nada lembut.
"Terpukul dari mananya? Mataku masih berfungsi dan bisa menilai dengan jelas, tidak ada tuh tanda-tanda dia sedih sampai meratapi kehamilannya yang keguguran. Malah aku curiga dia hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungan lain," ujar Eleonara sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Astaga, sehina itukah aku dimatamu?" ucap Elena pilu sambil menangis tersedu-sedu.
Juna yang melihatnya langsung menghela napas kasar. "Hah, ada apa denganmu, Leona? Selalu saja berburuk sangka pada Elena. Bukannya kalian sudah sepakat untuk berteman?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba, suasana hatinya sudah buruk seburuk-buruknya, Osman datang memarkirkan mobil di depan rumah Juna. Tanpa pikir panjang, Eleonara berjalan menghampiri Osman dan masuk begitu saja ke mobilnya.
"Osman Bey, bawa aku pergi," pintanya sambil cemberut.
"Leona?!" panggil Juna sambil berusaha mengejar sampai tak peduli sudah menyenggol Elena.
"Cepat, Osman Bey!" seru Eleonara dengan rahang mengeras.
Osman yang sedang kebingungan, memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil dan menutup pintu sambil garuk-garuk kepala.
Juna menggedor-gedor kaca jendela dengan tak sabaran. Brugh, brugh, brugh!
"Osman, buka pintunya! Aku dan Leona akan pergi hari ini!" teriak Juna yang terdengar berdengung-dengung di telinga.
__ADS_1
"Leona, apa yang terjadi?" tanya Osman, penasaran. Dia mengabaikan Juna dengan memunggunginya di dalam.
"Tidak perlu aku jelaskan juga sepertinya Osman Bey sudah mengerti," ujar Eleonara sambil membuang pandangan ke arah lain.
Osma melihat keberadaan Elena di rumah Juna. Pasti itulah sebab keributan antara Eleonara dan Juna. Osman berpikir Juna masih tidak bisa bersikap tegas pada Elena karena dulu dia begitu cinta mati padanya hingga masih merasa sungkan dan tak enak hati.
"Dia tidak adil lagi padamu?" tanya Osman.
"Begitulah. Sudah ah, aku tidak mau bahas. Bikin dada semakin sesak saja. Cepat tancap gas Osman Bey. Kalau tidak, mungkin Juna akan memecahkan kaca jendela mobilmu," ucap Eleonara sambil menggerakkan kepalanya, menyuruh Osman melihat ke arah jendela sampingnya.
Begitu menoleh, Osman terkejut sampai mulutnya menganga lebar, Juna membawa batu besar di tangannya dan sedang ancang-ancang untuk memecahkan kaca mobilnya. Bar-bar sekali.
Tak ada pilihan lain, dengan cepat Osman menyalakan mesin mobil dan pergi dari situ dengan kecepatan kilat. Melihat tanduk dan cakar Juna yang muncul bersamaan membuatnya bergidik ngeri.
"Argh, Osma, sialan! Siapa yang waktu itu merutuki Serkan saat membawa kabur istriku. Sekarang malah dia yang bertindak begitu. Kali ini aku tak akan membiarkan siapa pun membawa Leona!" kecam Juna sambil melempar batu besar di tangannya ke tanah berumput.
Niatnya membawa Eleonara ke panti asuhan dan menghabiskan waktu berdua, namun sayangnya harus gagal!
Tiba-tiba saja saat hendak pergi, tangannya di tahan dengan kuat oleh Elena.
"Jun, biarkan saja. Jangan dikejar. Dia harus merenungkan kesalahannya agar tidak bersikap kasar dan angkuh dikemudian hari. Mungkin karena kamu terus memanjakannya, dia tumbuh menjadi gadis seperti itu. Apa kedepannya tidak akan membuatmu repot kalau dia bersikap kasar seperti yang dia lakukan padaku? Aku bisa saja memakluminya, tapi kalau orang lain bagaimana? Kali-kali mendidiknya dengan keras tidak apa-apa, lho. Aku juga sebenarnya ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu mengenai kepergianku bertahun-tahun. Kamu pasti akan sangat terkejut karena hal itu bersangkutan dengan orang tuamu," ucap Elena lirih dengan sorot mata membujuk. Dia terpaksa mengatakannya karena tidak kepikiran alasan lain untuk menahan Juna.
Juna tentu penasaran, dia mengajak Elena masuk untuk mengobrol. Namun, Elena tidak langsung masuk, dia menghubungi Markus terlebih dahulu secara sembunyi-sembunyi.
"Aku sedang bersama Juna dan berhasil membujuknya. Akan kulakukan sesuatu padanya. Kamu urus istrinya. Dia baru saja pergi dengan mobil merah berplat B15XXXX. Kita harus memanfaatkan situasi ini dengan baik," bisik Elena sambil menatap hati-hati ke sekitar.
...
BERSAMBUNG!!
.
__ADS_1
.