
Malam harinya.
Eleonara yang baru selesai belajar serta mengerjakan tugas sekolah merasa bosan karena tidak bisa tidur, padahal sudah pukul sembilan malam. Biasanya dia sudah tertidur di jam ini. Dia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru kamar, tidak ada Juna yang menemani. Suasana pun sunyi sepi.
Juna baru saja sampai dari Bandung dan dia meminta Eleonara untuk tidak mengganggunya di ruang kerjanya karena dia sedang meeting dengan beberapa staff perusahaannya melalui video call.
Selama hampir setengah jam Eleonara menunggu Juna di kamar, tapi tampaknya Juna belum selesai meeting juga. Dia pun memberanikan diri menguping pembicaraan Juna dari luar pintu kerjanya.
Terdengar suara Juna yang sedang bicara dengan lantang memberikan pendapat yang bijak. Dari suaranya saja bisa menggambarkan kalau suaminya itu sangat berwibawa.
Tiba-tiba saja entah dari mana Eleonara mendapatkan sebuah ide untuk mengusik Juna karena dia sangat kesepian atau bahasa gaulnya gabut.
Eleonara mengganti piyama lengan panjangnya dengan lingerie kimono berwarna hijau botol. Dia hanya memakai CD saja tanpa bra. Dia mencatok ujung rambutnya agar keriting gantung, lalu sedikit diacak-acak, memberi kesan sensual. Dia pun merias tipis-tipis wajahnya agar terlihat fresh. Tak lupa Eleonara memoles bibirnya dengan lipstik merah menggoda untuk memikat Juna.
Saat hendak melangkahkan kakinya ke luar kamar, Eleonara lupa belum memakai parfum. Dia semprotkan di tengkuk lehernya dan di beberapa titik lainnya, kemudian Eleonara menuju dapur untuk membuatkan kopi. Kopi hanya sebagai alibi saja.
Tok, tok, tok!
Eleonara sudah terlanjur mengetuk pintu, tapi dia merasa tidak perlu karena Juna tak mungkin meresponnya. Akhirnya Eleonara membuka pintunya dan masuk begitu saja membawa secangkir kopi.
"Kopi!" ucap Eleonara tanpa suara, bibirnya hanya mangap-mangap saja.
Juna sedikit melirik dan mengangguk, tak begitu memedulikan Eleonara. Telinganya di sumbat earphone. Wajahnya tampak serius, tatapan matanya pun fokus pada layar laptop. Eleonara merasa kecewa karena Juna tak menatapnya sama sekali. Sepertinya aroma parfum yang Eleonara kenakan pun tak menggugah seleranya.
Eleonara mengintip dari samping, ada banyak orang di layar laptop. Tiga wanita dan sisanya pria.
Cantik-cantik lagi. Uh, pantas saja dia betah. (Batin Eleonara)
Eleonara meraba tangan Juna. Jari jemarinya merayap dan menari-nari di punggung tangannya. Namun, Juna malah menepisnya begitu saja dan menggerakkan tangannya, menyuruh Eleonara ke luar. Dia benar-benar sedang dalam mode tidak boleh diganggu sama sekali.
Eleonara sakit hati. Bibirnya cemberut. Dia tidak mau pergi, masih ingin cari perhatian. Dia menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengan meja Juna. Kakinya menggelitik betis Juna, lalu naik ke paha dan berhenti di jamur supernya.
Juna menggenggam pergelangan kaki Eleonara dan dengan perlahan menurunkannya ke lantai. Benar-benar acuh.
"Tidak, saya sedang sendiri. Tadi ada nyamuk gigit kaki, jadi saya pukul dulu. Lanjutkan!" ujar Juna pada para staff-nya.
Nyamuk? Aku maksudnya?! (Batin Eleonara menggeram)
__ADS_1
Eleonara mengguncang kepalanya sampai rambutnya benar-benar berantakan sekarang. Dia duduk menatap Juna dengan tatapan menggoda sambil menyingkap sedikit lingerie kimononya agar belahan dadanya terlihat.
Pak Juna, apa masih tidak tergoda? Damage-ku sudah sebesar ini pasti sudah berhasil menyengat jamur supermu, kan? (Batin Eleonara)
Juna curi-curi pandang ke arah Eleonara karena auranya begitu kuat. Mendominasi ruangan. Tatapannya yang sayu dengan bibir seksi merah menggoda membuatnya sesak napas dan kepanasan. Juna jadi resah mau meneruskan meeting yang belum terlihat ujungnya ini. Dia mengendurkan dasinya dan melepaskan satu kancing bagian atas kemejanya agar bisa mengambil napas dengan lega.
"Kenapa Mr.Juna? Anda seperti sedang gelisah," tanya salah satu staff-nya tanpa Eleonara tahu karena dia tak bisa mendengarnya.
Juna hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi angkuh.
Eleonara tersenyum mengejek. Puas hati melihat Juna terusik.
Setelah mengumpulkan banyak keberanian, Eleonara pun melepaskan piyama kimononya tepat di hadapan Juna. Juna yang sedang menyeruput secangkir kopi langsung tersedak melihat dua buah dada Eleonara yang bulat menggelantung, sintal nan kenyal begitu menonjol di depan matanya. Rasa cemas seolah para staff-nya akan melihat kelakuan gila Eleonara mulai menghantui.
Juna batuk-batuk.
"Mr.Juna, hati-hati."
"Ada apa Mr.Juna? Mungkin kami bisa membantu."
"Ya, perlukah kami datang ke rumah Anda?"
Begitulah perkataan para staff-nya yang mencemaskan gelagat Juna.
"Tidak apa, saya baik-baik saja. Jangan pedulikan. Meeting di tunda. Lanjutkan besok. Juan, catat hasil meeting malam ini. Sophia, susun anggaran. Saya ada keadaan mendesak, harus pamit lebih dulu. İyi geceler (selamat malam)."
Juna menutup layar laptopnya dengan tergesa-gesa, seperti orang yang sudah tak kuat menahan pipis. Dia melihat Eleonara yang sedang tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Saat Juna beranjak dari duduknya sambil menggebrak meja. Eleonara langsung lari kocar-kacir sambil sibuk mengenakan lingerie kimononya kembali.
"Buahahhaahaa! Selamat tersiksa, Sayang ...."
"Leona, jangan lari kamu!" teriaknya murka sampai ubun-ubun.
Juna hendak mengejarnya, tapi dia baru sadar kalau Eleonara masih datang bulan. Pada akhirnya Juna menelan pahit sambil mengusap kasar wajahnya. "Sial!" umpatnya dengan rahang mengeras.
__ADS_1
Namun, tampaknya bukan hanya rahang saja yang mengeras, jamur supernya pun sama. Malah lebih keras dan menantang.
....
Sepulang sekolah, Eleonara melihat Juna yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang rumah dengan suara musik Turki yang menggema. Tidak biasanya sore-sore Juna ada di rumah.
"Sayang, tumben jam segini ada di rumah?" tanya Eleonara sambil memeluknya dari belakang.
"Minggir, saya masih menyimpan dendam semalam. Jangan berusaha bersikap baik kamu," celetuknya dengan nada ketus sambil menggoyangkan tubuhnya agar pelukan Eleonara terlepas.
"Dih, kok gitu? Haha, semalam kan cuma bercanda saja. Jangan di masukan ke dalam hati," ujar Eleonara membujuk sambil menggelayut di lengan Juna. Semprotan tanaman jadi goyang-goyang karena kelakuannya.
"Sana ganti baju. Hari ini Syam akan mengajarimu mengendarai mobil," ujar Juna tanpa berpaling. Terus menerus memunggungi Eleonara. Mempertahankan kemarahannya demi harga diri.
"Mengendarai mobil? Tidak ah, aku tidak mau. Takut!" tolaknya.
"Takut apa? Kalau kamu bisa mobil, saya belikan satu. Kamu bebas mengelilingi Ibu Kota," ucap Juna tanpa pikir panjang. Hal itu justru membuat Eleonara berpikir macam-macam.
Sebagai remaja, sifat ingin bebas dengan main ke sana kemari tentu dia miliki dan memang sedang menggebu-gebu. "Tapi, bagaimana kalau nanti aku nabrak orang?"
"Kalau orangnya mati, ya kamu masuk penjara. Hati-hati saja, emosimu sudah stabil. Usia juga sudah lewat 18 tahun. Jadi, tidak ada salahnya mengendarai mobil. Bagaimana pun juga kamu harus bisa mengendarai mobil untuk antisipasi kalau ada apa-apa yang terjadi pada saya saat Syam tidak ada. Kalau nanti saya sekarat karena ada kecoak di rumah, kamu bisa langsung membawa saya ke rumah sakit. Tidak perlu menunggu Syam bahkan menghubungi ambulans," kata Juna meracau tidak jelas.
"Pfftt, hahaha ... mana ada sekarat karena kecoak? Tapi, ngomong-ngomong kenapa harus diajari oleh Pak Syam? Memangnya kamu tidak mau mengajariku?" tanya Eleonara sambil menyentuh kacamatanya.
"Saya sudah bilang, saya masih marah padamu. Sudah sana, temui Syam di luar," kata Juna sambil mendorong-dorong bahu Eleonara seakan benar-benar benci dan marah.
"Cih, kalau marah ya marah saja, tidak perlu dorong-dorong! Cari ribut nih, Om-om!" sindir Eleonara sambil meremas jamur super Juna sebagai balasannya. Setelah itu dia lari terbirit-birit seperti sebelumnya.
"Haha, 3-0!" teriak Eleonara puas. Wujudnya sudah tidak terlihat, sudah masuk ke dalam rumah.
Juna mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil mengintip nasip jamurnya yang sudah tidak karuan di dalam celana. Dia hanya bisa turut prihatin saja.
Akhir-akhir ini hormonnya bagus sekali. Ingin tak heuhh 😤 (Batin Juna)
...
BERSAMBUNG!!
__ADS_1