
Saat Eleonara akan menjawab telepon dari Juna. Panggilan telepon itu sudah terlanjur mati. Namun, selang beberapa detik, ponsel Eleonara kembali bergetar. Ternyata Juna mengganti telepon suara dengan telepon video.
Eleonara jadi harus semakin waspada. Dia menjawabnya sambil melihat kiri kanan secara hati-hati, lalu merapikan sedikit rambut dan kacamatanya yang sedikit retak, baru dia berani menunjukan diri.
"Ada apa Pak Juna, sampai menelepon video?" tanya Eleonara lirih. Wajah tampan Juna mengisi seluruh layar ponselnya.
"Di mana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Ada yang lecet, tidak? Kenapa bisa terserempet motor?" Juna menghujaninya dengan beberapa pertanyaan.
"Aku baik-baik saja. Pasti Pak Syam yang memberitahu, ya?"
"Ya, tadi dia menghubungi saya dan bilang kamu terserempet motor dengan temanmu. Saya langsung menghubungimu karena cemas."
"Bukan. Bukan aku yang terserempet, tapi kakaknya Vivian, Kak Midas. Dia menyelematkan aku, tapi dia sendiri yang malah ditabrak," jelas Eleonara dengan ekspresi sedih.
Timbul sedikit rasa iri mendengar pria lain menyelamatkan Eleonara. Juna jadi merasa kesal sendiri. "Benar begitu? Kamu tidak terluka sedikitpun?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku sedang di rumah sakit. Tadi ikut dengan Vivian membawa Kak Midas. Lutut dan tangannya terluka. Darahnya begitu banyak. Kasihan sekali, demi menyelamatkan aku dia mengorbankan dirinya sendiri. Aku jadi merasa sangat bersalah," ucap Eleonara dengan bibir mengerucut.
"Dia sendiri yang mengambil keputusan untuk menyelamatkanmu, tidak perlu merasa tidak enak begitu. Apalagi demi pria lain. Nanti saya yang akan tanggung biaya rumah sakitnya. Apa nama rumah sakitnya? Kirimkan melalui pesan."
"Tidak perlu. Bukankah aneh kalau mereka tahu Pak Juna tiba-tiba membayar rumah sakit Kak Midas? Padahal Pak Juna tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Mereka akan mempertanyakan ini kedepannya," jelas Eleonara.
"Benar juga. Lalu, saya harus buat apa untuk mengucapkan rasa terima kasih saya sebagai suamimu?"
__ADS_1
"Diam, jangan melakukan apapun. Itu urusanku dengan Kak Midas," kata Eleonara.
"Hey, urusanmu sudah sewajarnya menjadi urusan saya juga. Apa pun yang kamu lakukan mulai sekarang harus melibatkan saya. Apalagi berurusan dengan seorang pria. Kamu belum menganggap saya sebagai suamimu, ya?!" protes Juna dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Hmm, iya, iya. Aku hanya lupa, maaf. Kalau begitu sudah dulu, aku takut Vivian datang tiba-tiba. Pak Juna jangan dulu menghubungiku ya, aku akan mematikan teleponnya untuk sementara sampai aku pulang nanti," bisik Eleonara yang terlihat hanya bibirnya saja di layar ponsel.
"Tunggu dulu! Mau ke mana sampai harus mematikan telepon? Saya curiga kamu dan pria yang bernama Midas itu akan melakukan sesuatu di belakang saya," duga Juna sambil menatapnya penuh curiga.
"Ya ampun, Pak Juna, aku tidak akan berbuat sesuatu di belakang Pak Juna. Tenang saja."
"Benar, ya? Tidak boleh bohong. Saya tidak suka!"
"Iyaaaaaa!" geram Eleonara dengan bola mata berputar.
"Memangnya perasaanku pada Pak Juna seperti apa sampai aku harus menjaganya segala?" ledek Eleonara sambil menyembunyikan senyum usilnya.
"Oh, gitu ya. Jadi, kamu belum terpikat pada ketampanan saya beberapa hari ini? Tamam! Saya hanya belum mengeluarkan pesona saya saja. Nanti saya pulang, tahu rasa kamu!"
"Uh, jadi tidak sabar menunggu Pak Juna pulang dan melihat pesonanya. Apakah aku akan dibuat kelepek-kelepek atau kejang-kejang dan pingsan sampai di rawat di rumah sakit?" sindir Eleonara sambil menjulurkan lidahnya ketika melihat wajah Juna yang semakin merah padam.
"Leona!" seru Juna kesal dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Tiba-tiba saja terdengar suara Vivian memanggilnya dari belakang. Eleonara buru-buru menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh dan berbalik menatap Vivian.
__ADS_1
"Lagi teleponan sama siapa?" tanya Vivian penasaran.
"Eh, t-teleponan? Bukan, aku lagi mau foto sekitar rumah sakit aja. Ada apa, Vi?" Eleonara berusaha mematikan telepon videonya menggunakan insting dengan keringat dingin mengucur di kening. Tangannya menekan layar ponsel secara asal dari belakang tubuhnya. Namun, kenyataannya telepon video itu tidak terputus.
Juna mengerti situasinya. Tadi dia mendengar suara Vivian memanggil Eleonara, jadi Juna tidak bersuara agar tidak menimbulkan masalah bagi Eleonara. Dia hanya mendengarkan saja dalam diam.
"Kak Midas udah beres di periksa. Pengen ketemu kamu sambil ngobrol berduaan katanya, hehe. Ada hikmahnya Kak Midas sakit gara-gara nolongin kamu. Nanti kamu juga ikut nganterin Kak Midas pulang ya, sama aku. Bilang ke orang tua kamu, kamu mau nginep di rumah aku, ngejagain Kak Midas, soalnya Kak Midas kayak gini gara-gara kamu, gitu. Oke gak, El?" bujuk Vivian sambil menyeringai bagai kuda dengan kedua alis naik turun.
"Leona!" teriak Juna yang membuat Vivian tersentak kaget setengah mati.
"A-apaan, tuh? Kayak ada yang manggil 'Leona'. Kamu dengar gak, El? Jelas banget tau. Siapa ya? Padahal di sini gak ada siapa-siapa, lho," ucap Vivian ketakutan sambil memepet tubuh Eleonara dengan bola mata melirik ke sana-kemari.
Eleonara menelan salivanya dalam-dalam dengan wajah pucat pasi. "Gak, aku gak denger apa-apa. Jangan nakut-nakutin ah, Vi. Gak lucu tau. Udah malem, nih," bual Eleonara. Tangannya sedang sibuk menonaktifkan ponselnya.
"Serius, aku denger suara orang manggil nama 'Leona'! Apa jangan-jangan...?" Vivian menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu mengelus lengannya sendiri yang bulu kuduknya sedang merinding. "Hih, serem! Yuk, ah, pergi!"
Uh Pak Juna, bikin jantungan saja! Aku kira teleponnya sudah mati, ternyata belum. Pak Juna pasti marah tadi mendengar Vivian bilang seperti itu. Ck, pasti mikir yang tidak-tidak juga dia. (Batin Eleonara)
...
BERSAMBUNG!!
Ada yang belum kasih bintang 5 untuk novel ini? Jangan lupa diberi ulasan ya, hehe^^
__ADS_1