Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Hasil Patologi Anatomi Elena


__ADS_3

"Bagaimana Dokter, apa aborsinya lancar? Anak itu sudah tidak ada di dalam perutku lagi, kan?" tanya Elena cemas dengan tatapan sayu.


"Sangat lancar. Sekarang Bu Elena tidak perlu khawatir lagi. Bu Elena hanya harus istirahat 1-2 hari untuk pemulihan," jelas Dokter wanita dengan kacamata minus tebal yang dikenakannya. Dia sangat heran pada Elena, usianya sudah matang untuk memiliki anak, tapi bukannya senang malah minta diaborsi.


"Hah, baguslah. Jam berapa sekarang? Sudah malam?"


"Jam sembilan malam, Bu."


Tiba-tiba saja ponsel Elena berdering. Dia mencarinya sambil meraba-raba sekitar ranjang, tapi tidak ada. Dokter mengambilkan ponsel Elena yang tergeletak di atas meja, lalu memberikannya.


"Oh ya, terima kasih, Dok." Elena menggerakan tangannya menyuruh Dokter pergi karena dia ingin menjawab telepon dari Markus yang bersifat pribadi.


"Bagaimana aborsinya? Kamu jadi melakukannya hari ini, kan?" tanya Markus penasaran.


"Tentu saja jadi. Anakmu sudah tidak ada di dalam perutku," ujar Elena ketus.


"Baguslah kalau begitu, kita tidak terikat dengan anak itu lagi. Elena, ada yang ingin aku bicarakan. Tapi, nanti saja kalau kamu sudah pulih," ujarnya menggantung membuat Elena penasaran.


"Mau bicarakan apa? Katakan saja sekarang!" serunya tak sabaran.


"Hah, mengenai Juna. Kamu bisa kembali ke Indonesia itu gara-gara aku. Sebelumnya kita sudah membuat perjanjian, kan? Kamu kembali dengan misi tersembunyi. Mendekati Juna dan mencaritahu rahasia suksesnya, lalu buat dia jatuh. Jangan sampai kamu mengkhianatiku dengan benar-benar kembali padanya. Jika itu terjadi, aku tidak akan segan menghancurkan hidupmu!" ancam Markus tak main-main.

__ADS_1


"Ck, iya, aku ingat! Kamu tenang saja. Percayakan semuanya padaku. Kamu juga harus membantuku untuk menyingkirkan istrinya. Bagaimana aku bisa mendekati Juna kalau istrinya selalu ada di sampingnya?" gerutu Elena kesal jika mengingat perlakuan Eleonara yang angkuh, padahal usianya terpaut jauh dengannya.


"Tentu saja aku juga harus ikut serta. Mengenai istrinya, biar jadi urusanku. Aku sudah mencari tahu tentang dia. Elena, pokoknya aku ingin melihat Juna terpuruk dalam waktu dekat!" kecam Markus dengan nada marah.


Markus memiliki dendam tersembunyi pada Juna. Satu tahun yang lalu, para pengusaha kaya di seluruh negeri berkumpul untuk melakukan pelelangan. Untuk pertama kalinya Markus menginjakan kaki di pelelangan karena sang ayah sakit. Dia bersaing sengit dengan Juna demi mendapatkan batu giok asli dengan bobot 30 ton. Namun, sayangnya pelelangan kali itu dimenangkan oleh Juna.


Di pertemuannya yang kedua dan ketiga, lagi-lagi Juna yang memenangkan barang lelang. Dan di pertemuannya yang keempat akhirnya Markus yang menang. Namun, Juna sangatlah pintar. Dia tahu Markus merupakan orang baru dalam dunia bisnis dan perusahaan ayahnya sedang merosot. Jadi, dia menjebak Markus. Terus bersaing dengannya sampai diharga yang paling tinggi. Markus ragu menaikan harga lagi, tapi karena ambisinya dia rela mengeluarkan triliunan rupiah untuk bisa merasakan kemenangan. Karena ambisinya itu sudah menggelapkan mata, dia tidak dapat berpikir jernih.


Pada akhirnya Markus yang jadi pemenang. Sayangnya pulang dari pelelangan, bukan pujian yang ayahnya berikan, melainkan pukulan dan cambukan di tubuhnya. Tidak hanya itu, beberapa waktu dari situ beredar luas bahwa perusahaan yang dirintis ayahnya dari nol mengalami krisis moneter yang semakin parah. Dari situlah timbul kebencian pada Juna. Karena Juna, kondisi ayahnya memburuk dan perusahaannya sulit terkendali.


...


"Apalagi yang perlu dibawa?" tanya Juna sambil berkacak pinggang menatap bagasi mobilnya yang penuh dengan bebawaan selama dia dan Eleonara di sana. "Memangnya tempatnya jauh?"


"Jauh, kalau dari sini mungkin sekitar 4-5 jam. Itu juga kalau tidak macet," ujar Eleonara sambil memasukan botol minuman ke dalam mobil.


"4-5 jam? Yang benar saja," gumam Juna sambil geleng-geleng kepala.


"Tunda dulu kagetnya. Di perjalanan menuju ke sana akan lebih mengejutkan dan menantang. Sudah aku bilang tidak perlu pakai pakaian formal seperti ini. Pakai kaos polos dan celana pendek saja. Pakaian santai, ganti, ganti!" kata Eleonara dengan bola mata naik turun, menatap penampilan Juna yang mengenakan celana bahan serta kemeja lengan panjang. Seperti orang yang hendak pergi bekerja.


"Lho, kan saya harus memberikan kesan yang baik pada Ibu Panti yang pernah mengurusmu. Lagipula pakai ini juga nyaman, rapi lagi. Apa salahnya?"

__ADS_1


"Aih, terserahlah. Sudah diberitahu dua kali masih saja ngeyel. Nanti jangan salahkan aku tidak memberitahu, ya?" ujar Eleonara.


Baru saja dia hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Juna dari arah gerbang. Suara yang lazim terdengar di telinga Eleonara. Seketika membuatnya terhenti dan menoleh ke sumber suara.


"Jun?" panggil Elena sambil berjalan menghampiri Juna dengan wajah pucat pasi. Dia terlihat sangat lemah, seperti orang sakit.


"Elena? Ada apa? Wajahmu terlihat pucat. Kamu sakit?" tanya Juna, penasaran.


Elena terdiam menunduk sambil menyentuh perutnya dengan bibir mengerucut. Dari raut wajahnya terlihat penuh kesedihan, tapi dia enggan mengatakan sepatah kata pun hingga membuat Juna dan Eleonara bertanya-tanya.


Rencana apalagi yang sedang dia mainkan? (Batin Eleonara, curiga)


Elena mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan Patologi Anatomi dari dalam tasnya dan memberikannya pada Juna.


...


BERSAMBUNG!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2