
Saat Eleonara ke luar dari kamar Varel, Abraham memanggilnya. Dia pun bergegas menghampirinya.
"Kenapa, Ayah?" tanya Eleonara sambil menyentuh kacamatanya.
"Suamimu ada urusan dulu, jadi menitipkan kamu pada Ayah untuk tinggal dulu sebentar di sini. Katanya sudah memberitahu melalui pesan, tapi tidak dibalas juga. Mungkin tidak mau mengganggu waktumu dengan Varel. Nak Juna sangat dewasa dan pengertian, awas kalau kamu macam-macam. Satu lagi, Ayah ingin ingatkan. Kamu itu sudah menikah, meski dulu sangat dekat dengan Varel, tapi sekarang beri jarak sedikit. Ayah kan, jadi tidak enak melihat Nak Juna didiamkan olehmu sejak tadi. Itu namanya keterlaluan. Jangan seperti itu lagi, ya. Hargai suamimu. Ayah maklumi kali ini karena kamu masih dalam proses berkembang," ujar Abraham memperingati dengan tegas.
Dia tak ingin sikap Eleonara yang masih kekanak-kanakan mengacaukan tujuannya untuk berjaya. Jika Eleonara membuat Juna tak senang bahkan sampai menyinggungnya, takutnya berimbas pada bisnisnya. Bisa rugi besar dia.
"Sekarang bantu ibumu menyiapkan hidangan makan malam di dapur. Nanti suamimu menjemputmu kemari pasti datang dengan perut kosong. Apa makanan kesukaan Nak Juna, kamu bicarakan dengan Ibu di dapur," sambung Abraham.
"Em, iya." Eleonara bergegas ke dapur sambil memeriksa ponselnya. Tenyata memang benar Juna telah mengirimkan pesan padanya.
Apa yang Ayah katakan memang benar, sudah menikah harus tetap jaga jarak meski dengan kakak sendiri. Aku tidak akan marah, justru menerima masukan ini. Huh, sekarang jadi menyesal mendiamkan Pak Juna selama ini. Kalau begitu, demi membuatnya senang, aku akan tanya dia ingin dimasakan apa, hehe. (Batin Eleonara)
'Maaf ya, terlalu asik ngobrol dengan Kak Varel jadi melupakanmu :( Untuk makan malam, mau aku buatkan apa? (Emot titik dua bintang)'
'Tidak masalah. Saya mengerti kamu merindukan kakakmu, tapi lain kali tidak akan saya biarkan terlalu dekat. Untuk makan malam, kita cari restoran dekat rumah orang tuamu saja. Tidak perlu repot-repot memasak.' (Balas Juna)
'Tapi, Ayah mengundang kita makan malam. Kamu selesai dari urusan jam berapa?'
"Sekitar jam tujuh. Kalau begitu baiklah, kita makan malam di sana. Saya akan segera menyelesaikan pekerjaan saya, lalu datang memakanmu.'
Memakanmu? Salah ketik atau bagaimana?! Hah, dasar. (Batin Eleonara)
Begitu dia melepaskan pandangannya dari layar ponsel, Sora dengan sengaja menabraknya sampai ponsel Eleonara yang berada di genggaman tangannya terjatuh ke lantai.
Prak!
"Kakak!" seru Eleonara dengan spontan mengambil ponselnya dan memeriksanya. Ada sedikit retakan di samping layar, tapi untunglah ponselnya masih berjalan normal.
Eleonara memelototi Sora dengan rahang mengeras kuat.
"Aku tidak sengaja, kenapa?!" kata Sora sambil membusungkan dadanya dengan ekspresi sombong.
Tidak sengaja? Justru dia sengaja cari gara-gara! Kali ini aku tidak akan membiarkannya. (Batin Eleonara)
Eleonara melihat Sora juga sedang memegang ponselnya di tangan. Tanpa basa-basi Eleonara menepis ponsel tersebut sampai terjatuh ke lantai. Raut wajah Sora langsung merah padam.
__ADS_1
"Kamu! Beraninya menjatuhkan ponselku!" Sora naik pitam sambil mendorong bahu Eleonara dengan mata melotot. Eleonara balik memelototi sambil mendorong bahunya juga lebih kasar.
"Heh, berani ngelawan? Ingat tidak terakhir kali kamu berakhir tragis sampai hampir mati di dalam kolam renang karena melawanku. Mau aku beri pelajaran lagi agar kamu jadi anak yang disiplin?!" gertak Sora, mengancam.
"Sepertinya Kakak lupa, meski aku hampir mati, tapi Kakak juga hampir kehilangan harga diri, kan? Sampai-sampai minta maaf berkali-kali padaku, duh sungguh terharu bahkan air mataku hampir menetes saat itu. Sekarang masih tidak kapok juga dihukum Ayah dan Ibu? Atau jangan-jangan Kakak minta mereka menghukum Kakak lagi karena hukumannya kurang?" ujar Eleonara dengan ekspresi mengejek, membuat Sora gondok bukan main.
Sora tak menyangka kalau kali ini Eleonara berani melawannya secara terang-terangan. Padahal Eleonara sedang berada di rumah orang tuanya (dikandangnya), tapi sepertinya Eleonara tak takut jika Sora mengancam akan mengadukannya pada ayah dan ibunya.
"Kamu sedang mengejekku atau bagaimana? Tidak takut aku adukan kelakuanmu ini pada Ayah dan Ibu?!" gertaknya lagi.
"Heh, lebih takut mana kalau kelakuan Kakak aku adukan pada Pak Juna?"
Deg!
"Eleonara, kamu!" Sora mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan hidung kembang kempis seperti banteng yang siap menyeruduk. "Jangan belagu, mentang-mentang ada Juna dibelakangmu, kamu jadi sok seperti tuan puteri di rumah ini. Lagipula di sini hanya ada kita berdua, Juna pun sedang pergi. Tidak akan ada yang menolongmu sekarang, heh! Mau lari masih sempat, cepatlah minta maaf dan pergi!" ujarnya sambil menyeringai dengan berkacak pinggang.
"Kakak lupa ya, bukan hanya Pak Juna saja yang berpihak padaku, tapi Kak Varel juga." Eleonara memperlihatkan tatapan licik yang membuat Sora merinding tiba-tiba.
Eleonara mengambil secangkir kopi di atas meja yang entah bekas siapa, lalu dia tumpahkan pada bajunya sendiri. Kemudian Eleonara mengusap pipinya dengan kasar dan kencang sampai pipinya memerah seperti habis di tampar.
"Heh gila, sedang apa kamu?!" tanya Sora terheran-heran. Namun, Eleonara malah menyunggingkan senyumnya seperti Joker.
"Dasar sinting, apa yang coba kamu lakukan?!" bentak Sora kelimpungan campur panik.
Abraham, Mariam dan Varel pun turun tangan menghampiri sumber suara.
"Ada apa, El?" tanya Varel cemas.
"Ada apa ribut-ribut?" Begitu pun dengan Abraham dan Mariam.
Begitu mereka melihat baju Eleonara yang penuh dengan noda kopi serta pipinya yang merah sebelah, mereka panik sampai mata mereka membulat sempurna.
"Astaga, apa yang terjadi denganmu, El?!" tanya Abraham cemas.
"Sora, kamu apakah Ele?!" bentak Varel dengan emosi menggebu.
"A-aku tidak ... ini b-bukan seperti yang kalian kira. Aku -"
__ADS_1
"Aku tidak sengaja menyenggol Kak Sora sampai ponselnya terjatuh, tapi Kak Sora malah marah-marah sampai menamparku dan menyiram aku dengan kopi, hiks. Ayah, kalau Pak Juna tahu bisa gawat, kan?" rengek Eleonara sambil memeluk Abraham, minta perlindungan.
"Tidak, bukan begitu! Heh culun, kamu jangan -"
"Kelewatan kamu, Sora! Kamu masih tidak paham untuk tidak mengganggu adikmu?! Atau masih belum cukup hukuman yang Ayah berikan padamu kemarin?!" teriak Abraham, emosinya meledak.
"Sora, Ele hanya tidak sengaja menjatuhkan ponselmu, haruskah dibalas dengan tamparan dan siraman kopi?!" tutur Varel sambil berkacak pinggang.
Sora merasa tersudutkan dan sangat tertekan oleh keadaan. Tidak sangka Eleonara pintar berakting. Amarahnya sudah berada di ujung tanduk, Sora tak mampu menahannya lagi. Tanpa aba-aba dia jambak rambut Eleonara sambil memaki Eleonara dengan sumpah serapah karena Sora sama sekali tidak merasa telah menampar dan menyiram kopi padanya.
"Siialan, beraninya memprovokasi aku dengan keluargaku! Katakan pada mereka apa yang kamu bilang tidak benar!" teriak Sora seperti orang gila yang sedang kumat.
Namun tiba-tiba saja...
Plak!
Abraham menamparnya dengan kencang. Semua langsung terdiam termasuk Eleonara. Eleonara tak menyangka Abraham berani menampar anak kandungnya sendiri demi membelanya. Suatu hal yang mustahil, tapi kali ini terjadi dengan jelas di depan matanya.
Ups! (Batin Eleonara)
"Abraham!" teriak Mariam tak terima.
"Diam! Gara-gara kamu selalu memanjakannya, dia tumbuh jadi anak yang kurang ajar!" ucap Abraham memarahi Mariam. "Berapa kali dia menamparmu?! Katakan pada Ayah berapa kali! Sepertinya hanya dengan cara seperti ini baru bisa membuatmu mengerti, Sora!"
"A-ayah berani menamparku demi anak angkat siallan ini!" Tangis Sora pecah tak tertahan.
"Kak Sora menamparku dua kali, Ayah," kata Eleonara tergesa-gesa. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk melihat Sora ditindas ayahnya sendiri.
Plak!
Satu tamparan melayang lagi di pipi Sora tanpa perhitungan. "Kalau kamu masih bertindak tanpa pikiran, Ayah tidak akan segan-segan melakukan yang lebih dari ini untuk mendisiplinkanmu! Kamu tahu, Nak Juna akan kembali ke sini sebentar lagi. Bagaimana jika dia tahu dan tak memberimu kesempatan kali ini? Imbasnya bukan hanya padamu saja, tapi kita semua. Bodoh!"
....
BERSAMBUNG!!
.
__ADS_1
.