Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Kamu Masuk Angin Sampai Muntah-Muntah?


__ADS_3

Pagi harinya, setelah Eleonara selesai merias diri untuk pergi ke Sekolah, dia ke luar dari kamarnya menuju meja bar. Di atas meja sudah tersedia sarapan dan segelas susu. Eleonara bisa menduga itu dari Syam.


Saat dia hendak duduk dan mencicipi sarapannya, dia terkejut melihat Juna muncul tiba-tiba dari dapur.


"Astaga, bikin kaget saja! Pak Juna sudah bangun? Kemarin-kemarin sepertinya jam segini masih tidur," kata Eleonara sambil memperhatikan penampilan Juna yang sudah sangat rapi dengan kemeja navy yang dikenakannya.


"Saya akan pergi ke Myanmar dan Sri Lanka," jawabnya sambil mengelap tangan dengan kain kering karena habis mencuci piring.


"Apa! Ke Myanmar dan Sri Lanka?" Mata Eleonara sampai terbelalak.


"Evet, selama kurang lebih satu minggu."


Satu minggu? Horeeyy...! Akhirnya aku bisa tidak melihatnya juga. Yah, meskipun hanya satu minggu saja, sih. Kenapa coba tidak sekalian satu bulan atau dua bulan? Tak masalah, yang penting aku bisa merasa nyaman tinggal di sini tanpa digentayangi Pak Juna terus, hihi. (Batin Eleonara)


"Kelihatannya kamu kecewa berat saya hanya pergi satu minggu?" duga Juna sambil berjalan menghampiri.


"Kecewa? Aku ini sedih lho, karena akan ditinggalkan lama, bukan kecewa. Dua kata itu berbeda makna, ya," bualnya sambil tersenyum puas dalam hati. "Ah, ngomong-ngomong ada acara apa ke Myanmar dan Sri Lanka? Bukannya dua negara ini sangat jauh?"

__ADS_1


"Berburu. Tiga hari di Myanmar dan mungkin empat hari di Sri Lanka," jelasnya sambil menuangkan air ke dalam gelas, lalu meneguknya.


"Berburu sejauh itu? Berburu apa?" tanya Eleonara penasaran.


"Bisnis saya bergerak di bidang jewelry. Saya sering berburu agate, emas, berlian, logam mulia dan material lainnya untuk dijadikan perhiasan. Saya sedang mencari batu serendibite yang cukup langka untuk dijadikan perhiasan dan semalam ada yang menghubungi kalau supplier batu serendibite ada di Myanmar dan Sri Lanka," jelasnya sambil meletakkan gelas kosong di samping sarapan Eleonara.


Eleonara yang sedang mengunyah sarapan menjadi salah tingkah saat diam-diam ditatap lembut oleh bola mata hazel yang memancarkan keindahan dari mata Juna. Tatapannya seperti mengandung maksud tertentu.


"Kenapa menatapku begitu? Apa di mataku masih ada beleknya?" tanya Eleonara sambil melepaskan kacamatanya dan membersihkan sekitar rongga matanya.


"Setiap menatapmu jadi mengingatkan saya padanya," ucap Juna lirih, nyaris tidak terdengar jelas di telinga Eleonara.


"Hoek!" Eleonara segera beranjak bangun dan berlari menuju dapur.


Juna panik karena Eleonara berlari tidak memakai kacamatanya. Dia segera mengikutinya dan benar saja apa yang dia khawatirkan, Eleonara hampir terjeduk tembok karena saking buru-buru. Untungnya Juna mengulurkan telapak tangannya untuk melindungi dahi Eleonara. Jadi, dahinya tidak merasa sakit saat terjeduk.


Juna segera mengarahkannya menuju wastafel. Pikirannya dipenuhi tanya saat membantu Eleonara memuntahkan makanan dimulutnya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, Leona?" tanya Juna, cemas.


Eleonara mengangguk sambil membasuh mulutnya dengan air.


"Sepertinya kamu masuk angin. Sebaiknya kita pergi ke dokter. Saya akan siapkan mobilnya."


Eleonara bergegas menarik pergelangan tangan Juna dengan mata merah berair. Dia terlihat sangat tersiksa dengan sesuatu. "Tidak perlu. Dari kecil aku tidak suka bawang bombay dan daun bawang. Tadi di dalam telur dadarnya ada campuran itu. Uh, rasanya tidak enak. Bau sekali! Jadi, aku langsung memuntahkannya," jelasnya sambil mengecap-ngecap lidahnya yang masih meninggalkan rasa tidak enak.


"Sarapannya saya yang buat. Kamu benar-benar tidak suka bawang bombay dan daun bawang?" tanya Juna memastikan dengan kening mengernyit.


"Eh? Pak Juna yang buatkan? Aku kira Pak Syam yang membawakannya untukku." Eleonara sangat tidak enak hati karena telah memuntahkan sarapan yang Juna buatkan untuknya.


Dia segera melarikan diri mengambil susu dan meneguknya sampai habis tak tersisa. Berharap bisa menghilangkan bau keluarga perbawangan yang amat tidak dia sukai itu. Setelah itu dia akan meminta maaf pada Juna karena sudah tidak menghargai sarapan buatannya.


Diam-diam Juna memperhatikan punggung Eleonara yang kini tengah mengenakan kacamatanya. Sorot mata Juna menyiratkan kesedihan dan kerinduan mendalam.


Elena juga tidak menyukai bawang mombay dan daun bawang. Dia selalu memuntahkan makanan jika di dalamnya ada campuran itu. Kenapa ada banyak kemiripan diantara mereka? (Batin Juna)

__ADS_1


...


BERSAMBUNG!!


__ADS_2