
"Kata Ayah sudah dari dua bulan yang lalu kalian dijodohkan. Artinya pernikahan kalian sudah berjalan dua bulan?" tanya Varel sambil mengeluarkan oleh-oleh yang dia bawa untuk Eleonara dari dalam tasnya.
Eleonara mengangguk, lalu menerima oleh-oleh yang Varel berikan padanya. "Wah, bakpia dan brownies ... pasti enak!" serunya antusias.
Varel memperhatikan gestur tubuh Eleonara dari ujung kaki hingga kepala. Tidak ada yang berubah, hanya saja wajahnya tampak lebih segar dan bercahaya daripada sebelumnya. Seakan dia berada di tempat yang tepat selama dua bulan ini.
"El, kamu terpaksa kan, nikah sama orang itu?" tanya Varel.
"Eh? Emm ... iya, tadinya memang terpaksa bahkan sampai tidak mau, tapi ... ternyata Pak Juna orangnya baik dan lembut. Dia memperlakukan aku dengan sangat baik," jawab Eleonara sambil tersipu malu.
Dada Varel terasa sesak karena baru pertama kali Eleonara menceritakan pria lain di depannya sampai tersipu malu seperti orang yang sedang kasmaran begitu. Dia sebagai Kakak jadi cemburu dan merasa tak rela.
"Yakin dia baik? Wajahnya menyeramkan begitu."
"Di mananya yang menyeramkan? Dia itu sangat lucu dan konyol, Kakak belum dekat saja dengan Pak Juna. Kalau sudah dekat, pasti bisa menilainya seperti apa nanti. Tidak perlu meragukannya, dia benar-benar baik, kok," ucap Eleonara meyakinkan Varel.
"Dekat? Cih, jangan harap! Kamu bicara begini bukan karena sedang melindungi dia kan, dari Kakak? Atau menutupi sesuatu dari Kakak?"
"Haih, tentu saja tidak. Aku berkata jujur."
"Hum! Lalu, dengan keluarganya bagaimana? Mereka juga sama menerima kamu dengan baik?" tanya Varel lagi seakan masih terus mengorek agar mendapatkan celah untuk membombardirkan Juna.
"Baik, mereka semua tidak ada yang tidak baik," jawab Eleonara sambil melahap bakpia di mulutnya. "Hmmm ... enyak sekali!"
Varel tersenyum pahit menatap lesung di kedua pipinya yang timbul. Mungkin kini bukan hanya dirinya seorang yang bisa menikmati keindahan lesung pipi Eleonara lagi, tapi ada pria lain juga. Rasanya semakin tidak rela bagi-bagi.
"Kamu bahagia dengannya?" 🥹
__ADS_1
Eleonara menghentikan mengunyah, dia melihat Varel yang sedang menatapnya getir. Aneh sekali sampai sesedih itu. Eleonara pun mengangguk memberikan jawaban.
"Bahagia mana, bersama Kakak atau dia?" Varel ingin memastikan keunggulan dirinya di hati Eleonara karena sejak kecil dia selalu menjaga Eleonara dengan sangat baik. Tidak mungkin kedudukannya lebih rendah dari Juna.
"Hmm ... bahagia bersama dua-duanya, hehe ...."
"Dua-duanya?! Tidak boleh! Pilih satu!"
"Pilih satu? Itu ... tidak bisa. Yang satu adalah kakakku yang paling baik sedunia, yang satunya adalah suamiku yang paling baik sedunia. Berbeda julukan, tapi sama-sama bahagia ketika berdua dengan kalian."
"Jadi maksudnya Kakak setara dengan dia di hatimu, hum?! Jahat kamu El, sekarang mentang-mentang sudah punya suami, posisi Kakak jadi tidak begitu penting lagi. Tahu tidak, rasanya seperti habis manis sepah dibuang!" gerutu Varel sebal.
"Lho, kok, Kakak ngomongnya gitu? Mana ada aku habis manis sepah dibuang? Kakak tetap jadi Kakak yang terbalik di hati aku, hehe ... cup, cup, jangan sedih."
Varel tidak melihat kebohongan di mata Eleonara saat Eleonara mengatakan kalau mereka memiliki kedudukan yang sama di hatinya. Dia tidak ingin memaksa Eleonara lagi dan membuatnya jadi tidak nyaman.
Deg!
"J-jatuh cinta?"
Dari ekspresi Eleonara yang sedikit terkejut, Varel bisa menangkap kalau perasaan diantara Eleonara dengan Juna masih ambigu. Eleonara bingung dan ragu mengatakannya kalau mereka sudah jatuh cinta atau belum karena dia belum pernah mendengar Juna mengatakan cinta padanya sampai detik ini.
"Belum, ya?" duga Varel.
"Em ... aku ... tidak tahu," jawab Eleonara sambil menunduk murung.
"Baguslah kalau belum. Lagipula hubungan kalian masih seumur jagung, jangan cepat-cepat menaruh hati. Tidak tahu kan, dia mempunyai masa lalu seperti apa. Jangan-jangan dia menikah denganmu juga karena ingin memanfaatkanmu untuk melupakan masa lalunya atau lebih parahnya lagi mungkin dia sedang bosan saja dan kebetulan ada kamu, jadi ... ya, kamu ngerti maksud Kakak, kan? Kakak bicara begini karena merasa aneh saja. Kalau boleh berkata jujur, orang hebat dan tampan seperti dia kok mau menikahi gadis kecil dari keluarga biasa?" ujar Varel mengeluarkan rasa kekhawatiran yang sesungguhnya.
__ADS_1
"El, biasanya orang-orang kaya itu akan menikahkan anaknya dengan anak orang kaya lagi yang setara dengan mereka. Menurut mereka menikah dengan orang yang setara itu berguna untuk menyatukan kekayaan dan kekuasaan. Hal seperti ini sudah berlaku sejak zaman dulu, seperti raja-raja yang memperistri wanita dari keturunan bangsawan. Orang kaya tentu tidak mau taraf hidupnya malah menurut setelah menikah, kan? Mereka membutuhkan wanita yang mampu membantu menangani bisnisnya bahkan mampu meneruskan bisnisnya ketika dia meninggal nanti, bukan malah menghancurkannya," sambung Varel.
Dia melihat Eleonara yang sudah kehilangan napsu makannya. Bakpia di tangannya di letakan di lantai. Dia duduk sambil memeluk lutut dengan penuh kebimbangan. Perkataan Varel yang begitu runut telah sukses mempengaruhi pikirannya. Karena perkataannya akurat sekali dan sangat masuk akal.
"Coba realistis saja, deh. Misal kita ini termasuk dari keluarga kaya raya, lalu Kakak sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini menikah dengan wanita miskin atau wanita biasa-biasa saja. Pasti satu hal yang Ayah, Ibu, Sora dan kamu pikirkan adalah wanita yang menikah dengan Kakak itu matre. Hanya mengincar uang keluarga kita saja. El, Kakak mau kamu melihat seperti apa dunia orang kaya. Orang kaya punya circle-nya sendiri dan biasanya mereka akan berusaha meningkatkan status sosial mereka agar diakui dalam circle-nya. Sekarang, mertua kamu yang kaya raya itu duduk berkelompok bersama orang kaya raya juga, di mana anak-anak teman mereka menikah dengan orang yang sukses dan kaya (setidaknya yang sejajar), pasti mertuamu minder karena kamu sebagai istri Juna hanya dari keluarga biasa saja dan juga masih kecil, lulus SMA saja belum. Harga diri itu segala-galanya bagi orang kaya, asal kamu tahu! Mungkin memang di depan kamu keluarganya baik, tapi kita tidak tahu di belakangnya seperti apa, kan?"
Sungguh menusuk hati setiap kalimat yang terlontar dari mulut Varel. Membuka pikiran dan mata Eleonara mengenai orang kaya yang rumit dengan segala hingar bingarnya.
Eleonara sangat mengerti kalau Varel bicara seperti itu karena memang benar-benar mencemaskannya. Varel tidak mau Eleonara dipermainkan orang kaya yang belum dia tahu seluk beluknya seperti apa. Takutnya ujungnya malah melukai adik yang sudah dia jaga setulus hati ini. Varel sangat menjaga perasaan Eleonara karena dia tahu seperti apa pilu serta pahit kehidupan Eleonara sebelum dia bertemu dengannya.
Menikah dengan orang kaya memang tidak seindah cerita di film-film. Aslinya banyak sekali orang miskin yang tertekan oleh orang kaya karena biasanya si kaya yang lebih dominan. Tetapi, tidak semuanya seperti itu, ada juga yang beruntung menikah dengan orang kaya yang semua anggota keluarganya baik padanya meski perbandingannya mungkin 1:1000.
"Aku mengerti kecemasan Kakak, tapi aku yakin dan percaya kalau Pak Juna dan keluarganya tulus padaku. Meski baru mengenal mereka, tidak ada sedikit keraguan di hatiku terhadap Pak Juna maupun keluarganya. Mereka pengecualian dari orang-orang kaya yang Kakak sebutkan tadi. Aku juga yakin aku adalah satu dari salah satu orang biasa yang beruntung bertemu dengan keluarga kaya dan baik hati seperti mereka," ujar Eleonara sambil merekahkan senyumnya dengan penuh percaya diri.
Tampaknya memang perkataan Varel sebelumnya telah mempengaruhinya, tapi Eleonara menepis keras semua keraguan dalam hatinya.
Setelah malam pertama yang aku lalui dengannya, semua hidupku dan kepercayaanku kuserahkan seutuhnya. Aku terima baik buruk sifatnya. Aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri, jika jalan terjal pernikahan kita semakin berat kedepannya, aku akan terus menggenggam tangan Pak Juna dan percaya padanya. Menurut Bu Diana, ada banyak kunci kesetiaan termasuk kepercayaan. Akan aku tunjukkan pada orang-orang yang ragu dan meremehkan usiaku, aku bisa mempertahankan rumah tanggaku dengan baik bersama Pak Juna! (Batin Eleonara, semangatnya menggebu-gebu)
...
BERSAMBUNG!!
Monggo, siapa tau ada yang mau berpendapat atau menentang pemikiran Varel seputar orang kaya, tapi jangan lupa likenya^^
.
.
__ADS_1