Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Kerja Paruh Waktu


__ADS_3

'Leona, tunggu saya pulang. Saya akan memberikan kejutan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidup.'


Itu adalah pesan dari Juna. Eleonara baru sempat membukanya karena dari tadi Vivian terus menempel padanya sampai jam pelajaran berakhir. Bahkan Eleonara harus pura-pura ke toilet dulu untuk bersembunyi karena sekarang Vivian akan membawanya ke Hotel untuk menanyai lowongan kerja itu.


"Kejutan seperti apa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup? Bikin aku bingung saja," gumam Eleonara sambil menggaruk keningnya.


Eleonara tak ada niat membalas Juna karena sebenarnya tujuannya ke toilet adalah untuk menelepon Bu Asih-Ibu Panti yang sampai saat ini memang masih berhubungan dengan Eleonara. Semalaman dia berpikir uang yang Juna berikan akan dia pakai untuk apa? Karena foya-foya menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting bukan sifatnya.


"Halo?" sapa Eleonara lirih.


"Halo, dengan Panti Asuhan Elektra Gamananta," ucap seorang wanita tua yang begitu familiar di telinga Eleonara. Siapa lagi kalau bukan Bu Asih. Mendengar suaranya yang lembut memberi kesan kerinduan terhadap suasana panti.


"Bu, ini Eleonara," katanya memberitahu.


"Eleonara?!" Bu Asih terdengar kaget dari suaranya yang meninggi. "Nak Ele?"


"Iya, ini nomorku yang baru, Bu. Yang lama sudah tidak dipakai. Simpan nomorku ya, Bu. Bagaimana kabar Ibu dan anak-anak?" tanya Eleonara penuh perhatian.


"Ibu sehat, anak-anak yang lain juga sehat. Hanya ada satu yang sedang tidak baik-baik saja, Arumi. Dari kemarin dia ngeluh sakit perut," jelasnya dengan pilu.


"Arumi? Sakit perut kenapa dia, Bu?" tanya Eleonara cemas.

__ADS_1


"Sepertinya salah makan. Ibu belum sempat membawanya periksa karena tidak ada kendaraan. Kamu tahu sendiri di sini kendaraannya masih jarang," ucap Bu Asih.


Panti asuhan Elektra Gamananta berada di desa pedalaman, jalan menuju ke sana masih beralaskan tanah dan bebatuan. Jalan terjalnya sangat sulit. Kendaraan pun bisa dihitung jumlahnya karena resikonya yang besar, harus ekstra hati-hati. Sudah hampir 3 tahun Eleonara tidak ke sana karena Abraham tidak mau mengantarnya dengan alasan jalannya rusak dan jarak tempuhnya pun lumayan memakan banyak waktu. Akhirnya hanya dengan sambungan telepon Eleonara bisa melepas rindu pada Bu Asih.


"Kalau ada kendaraan langsung bawa periksa ya, Bu. Kasihan, pasti Arumi menderita. Bu, ini aku ada sedikit rezeki. Aku ingin memberikannya pada Ibu untuk keperluan anak-anak. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa berkunjung ke sana. Jadi, aku minta nomor rekening saja ya, Bu," ucap Eleonara dengan senyum haru.


"Ya ampun, Nak Ele. Tidak perlu, pakai saja untuk keperluan Nak Ele di sana. Tidak usah menghawatirkan anak-anak panti. Biar mereka jadi tanggung jawab Ibu dan Ibu-ibu pengurus yang lain."


"Ibu dan anak-anak panti lebih membutuhkan. Sudah lama aku ingin membantu meringankan keperluan panti. Sekarang aku punya rezeki lebih. Jangan di tolak ya, aku akan sangat sedih kalau Ibu menolaknya."


Terdengar suara isak tangis dari balik telepon. Eleonara yakin kalau Bu Asih sedang menangis karena terharu. Dia jadi sedih mendengarnya.


"Terima kasih sebelumnya Nak Ele, sampai sekarang masih ingat dan selalu memperhatikan panti. Meski jarak kita jauh, tidak pernah lupa menanyakan kabar kami di sini. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai Nak Ela di mana pun Nak Ele berada, ya. Nanti Ibu akan kirimkan nomor rekeningnya melalui pesan."


"El! Eleonara...! Lama banget sih, nyampe pegel nih nunggunya! Buruan dong, keburu sore, nih!" teriak Vivian marah-marah di luar toilet.


"Udah nih, bentar!"


....


Sesampainya di Hotel yang Vivian maksud, Eleonara dan Vivian masuk dan menanyakan kebenaran lowongan kerja yang tertera di secarik kertas pada seorang Satpam. Satpam bilang Hotel bintang 3 ini memang sedang membuka lowongan kerja, tapi bukan untuk seorang siswa.

__ADS_1


"Yah, bukan buat kita. Padahal cuma nyapa tamu doang di depan, kita juga bisa ya, El? Gimana dong sekarang? Padahal lumayan banget lho, kalau bisa kerja di sini. Gak jauh juga dari rumah sama Sekolah kita," tutur Vivian sambil berkacak pinggang di depan pos Satpam.


"Kita? Emang kamu mau ikut nyari kerja juga?" tanya Eleonara.


"Iyalah, itung-itung nyari pengalaman sambil bisa cuci mata, hehe. Tau sendiri pelanggan-pelanggan Hotel biasanya orang berduit. Siapa tau kan nih, pas aku lagi jaga, tiba-tiba ada orang ganteng berjas yang gak sengaja nabrak aku, terus kita saling pandang memandang kayak di film-film itu lho, hehe."


"Aih, aih!" Eleonara menghela napas hampa sambil geleng-geleng kepala. "Kamu sih, gak usah khawatir mikirin jodoh kamu kayak gimana. Orang berada kayak kamu pasti bakal ketemu sama orang yang berada lagi. Gak kayak aku."


"Weh, kata siapa? Gak semua kayak gitu kali. Emangnya kamu yang nentuin takdir, huh! Udah yuk, nongkrong di kafe dulu. Siapa tau di salah satu kafe ada loker buat kita," ajak Vivian.


Bulan kemarin memang sempat terpikir untuk kerja paruh waktu untuk menambah biaya sekolah dan kelulusan. Tapi, sekarang aku sudah menikah dan suamiku mencukupi kebutuhanku. Malah lebih dari yang aku bayangkan. Jadi, sekarang seharusnya tidak perlu cemas memikirkan kerjaan juga tidak masalah, kan? (Batin Eleonara)


Baru saja Eleonara dan Vivian hendak melangkah pergi dari Hotel, tiba-tiba saja seseorang memanggil nama Eleonara.


"El!" panggil Mariam dari dalam mobil yang menepi di bahu jalan.


Eleonara menoleh dan terkejut setengah mati setelah melihat Mariam dan Sora di dalam mobil. Begitu pun dengan Vivian.


"Mamp*s! Ngapain si Mak Lampir sama Kakak Lampir ada di sini?!" umpat Vivian ketar-ketir.


"Sini kamu!" geram Mariam emosi saat melihat Eleonara ke luar dari Hotel bersama Vivian. Mereka langsung berprasangka buruk. Tatapannya pun seakan jijik saat memandang Eleonara.

__ADS_1


...


BERSAMBUNG!!


__ADS_2