
Semalam, karena Eleonara berani membuat Juna murka atas ucapannya, Juna memberinya hukuman dengan menyiksanya lagi di atas ranjang. Pagi ini, Juna belum ada tanda-tanda bangun. Eleonara meregangkan otot-otot tubuhnya sampai terdengar bunyi kretek-kretek dari tulang belulangnya. Bahkan pinggangnya sepertinya encok, sakit sekali.
Bagaimana jalanku tidak ngangkang seperti yang Vivian katakan, perlakuan Pak Juna yang ingin disebut 'Sayang' ini saja begitu sadis. Tubuhku tidak dapat menahan serangannya. Ukh! (Batin Eleonara)
Dia melirik ke samping di mana Juna sedang terlelap dengan menelungkupkan badannya tanpa mengenakan baju. Bahunya yang panjang terlihat kuat dengan otot-otot lengan yang padat nan kencang. Terlihat sangat seksi sekali.
Eleonara mendapatkan sebuah ide untuk mengusili Juna. Dia mengambil spidol hitam dari tasnya, lalu menuliskan untaian kata di punggung Juna sambil menahan tawanya agar tidak pecah.
Kemudian, Eleonara pergi ke kamar mandi karena harus segera bersih-bersih rumah sebelum mertuanya tiba. Dua jam lagi tepat pukul sembilan, dia pun harus berangkat ke Sekolah.
Saat Eleonara sedang menyapu teras depan dengan seragam sekolahnya, Syam datang menghampiri tergesa-gesa.
"Nona, maaf saya terlambat. Ayo," ucap Syam sambil terengah-engah.
"Hari ini aku masuk jam 9, Pak Syam. Santai saja," jawabnya sambil memperlihatkan senyum beserta lesung di kedua pipinya.
"Benarkah? Huff, syukurlah kalau begitu. Ah, ngomong-ngomong apa yang Nona lakukan?" tanyanya saat menyadari di tangan Eleonara terdapat sebuah sapu.
"Bersih-bersih. Ayah dan Ibu Pak Juna akan bertamu pagi ini."
"Ah, begitu. Tapi, ini semua tidak perlu. Bersih-bersih rumah sudah menjadi tugas Bu Hasna," kata Syam.
"Bu Hasna? Siapa?"
"Nona tidak tahu Bu Hasna? Bu Hasna itu yang setiap hari membersihkan rumah ini," jelasnya.
"Eh, kok aku bisa tidak tahu?"
"Jam kerja Bu Hasna dari jam delapan pagi sampai jam empat sore, Senin sampai Jumat. Di pikir-pikir wajar saja kalau Nona tidak tahu. Jam segitu kan, Nona sedang berada di Sekolah...."
"Oh, pantas saja setiap aku pulang Sekolah, rumah selalu terlihat bersih dan rapi. Makan malam pun selalu siap di meja bar. Aku kira itu Pak Syam, lho," ucapnya tak menyangka.
"Bukan, Nona. Tugas saya hanya mengantar jemput Nona dan melayani Tuan ketika ada sesuatu yang perlu di bantu."
__ADS_1
Tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna silver terparkir di halaman depan. Bu Diana dan Pak Mohsen turun dari mobil. Eleonara buru-buru menghampiri sambil menyapanya sopan.
"Syam, keluarkan pigura dari dalam mobilku beserta buku albumnya. Semua itu foto pernikahan Juna dan Leona. Bawa masuk ke dalam, hati-hati," ucap Pak Mohsen dengan suara berat. Dia terlihat sesak dengan perut buncitnya.
"Kamu sedang beres-beres rumah, Leona?" tanya Bu Diana yang melihat Eleonara menggenggam sapu di tangannya.
"Ah, iya, hehe." Eleonara segera meletakan sapu itu, bersandar ke dinding.
"Sudah mau berangkat sekolah?" tanyanya lagi.
"Tidak, kok. Hari ini masuk agak siangan. Guru-gurunya ada urusan," jelas Eleonara. "Aku papah masuk ya, Bu."
Saat Eleonara memapah Bu Diana, Pak Mohsen yang dibelakangnya berteriak. "Ayah tidak dipapah masuk juga? Dilirik saja sepertinya tidak sama sekali," sindirnya sambil cemberut.
"Aduh, dia itu. Semakin tua tingkahnya seperti anak kecil saja," gerutu Bu Diana. Eleonara sampai tergelak mendengarnya. Dia pun segera memapah Pak Mohsen di sisi lain. Mereka masuk ke dalam.
"Di mana Juna? Masih belum bangun juga jam segini? Allah, Allah!" seru Pak Mohsen sambil geleng-geleng kepala dengan aksen Turki-nya yang khas.
Eleonara hanya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi kecil-kecil.
Syam datang membawakan jamuan dan menyuguhkannya di atas meja. Sedangkan Eleonara sedang melihat foto pernikahannya. Wajahnya sangat cantik dan mulus, sempat tak menyangka bahwa itu adalah dirinya. Eleonara begitu puas melihatnya berdiri tepat di samping Juna. Juna pun sangat gagah dan berwibawa dengan jas pengantin. Seperti pasangan-pasangan selebriti saja.
"Em ... bagusnya di mana ya, Bu?" Eleonara malah balik bertanya pada Bu Diana sambil menyentuh kacamatanya.
"Di sini juga bagus. Di atas sofa ini," kata Bu Diana sambil mengarahkan telunjuk ke arah yang dimaksud.
"Ya sudah di situ saja. Syam, pasangkan sekarang juga, aku ingin lihat sebelum kembali pulang," ujar Pak Mohsen.
Syam mengambil perkakas di dekat gudang agate, lalu dia mulai memasangnya. Mungkin karena suara ketukan palu yang berisik, membuat Juna terbangun dari tidurnya. Saat melihat tidak ada Eleonara di sampingnya, dia ke luar dari kamar sambil menggaruk-garuk lehernya dan mengucek matanya. Juna hanya menggunakan boxer saja.
Setelah penglihatannya jelas, Juna melihat kehadiran ayah dan ibunya yang sedang berbincang dengan Eleonara di ruang tamu. Ada Syam yang berdiri di kursi sedang memasangkan foto pernikahannya dengan Eleonara.
"Jun, kemari kamu," ucap Pak Mohsen sambil menggerakkan jari telunjuknya pada Juna yang sedang menggaruk jambang tipisnya. "Sudah menikah jangan dibiasakan bangun siang. Kamu kan, sudah bukan bujang lagi. Katanya sudah bisa tidur nyenyak tanpa obat."
Juna hanya mengangguk sambil duduk di samping Eleonara dengan wajah yang masih terlihat mengantuk. Dia tarik pa'ha Eleonara dan terlelap tidur di atasnya.
__ADS_1
Eleonara selaku yang bersangkutan menjadi ketar-ketir malu di hadapan mertuanya. Diam-diam dia mencubit kecil lengan Juna agar terbangun.
"5 menit lagi!" rengek Juna, tak ingin diganggu.
Syam dan Bu Diana yang melihatnya justru terkekeh geli. "Ada-ada saja Tuan Juna. Saya baru kali ini melihatnya bertingkah manja seperti itu," ucap Syam, turut berbahagia.
"Hah, biasalah tu, pengantin baru. Kamu juga akan merasakannya setelah menikah. Sudah ada calonnya belum, Syam? Kalau belum, mau dijodohin juga seperti Juna?" tanya Pak Mohsen sedikit tegas, tapi kesannya lucu.
"Whehehe, tidak. Tidak perlu, saya akan menemukan jodoh saya sendiri," kata Syam menolak sambil tertawa sungkan.
"Pak Juna, bangun! Bikin malu saja," geram Eleonara berbisik dengan mulut komat-kamit. "Aduh, lihat tuh, ilernya sampai menetes di rokku membentuk pulau dari Sabang sampai Merauke. Ih, jorok! Pulau apa nih, yang bentuknya seperti huruf K? Oh, Sulawesi! Luar biasa, maha karya terbaik sepanjang masa yang pernah aku lihat, hebat Pak Juna!"
Sontak Juna pun beranjak bangun sambil mengusap sudut bibirnya dan melihat rok Eleonara yang baru saja dia tiduri. Bersih tak ternoda.
"Mana ada, Leona. Saya tidur tidak pernah ileran. Memangnya Syam," tuduhnya random.
"Astaga, Tuan. Sejak kapan Tuan memperhatikan saya tidur?" tanya Syam sambil menutup mulutnya. "Lagipula saya juga tidak pernah ileran."
Suasana menjadi semakin hangat karena semuanya tertawa.
"Eh, tunggu-tunggu ... sepertinya ada sesuatu di punggung Juna. Coba kamu berbalik Jun," pinta Bu Diana dengan kening mengernyit.
Eleonara sebagai pelaku kejahatan menahan tawanya sambil meremas rok Sekolah. Bersiap-siap melihat ekspresi semua orang termasuk Juna.
Begitu Juna berbalik memperlihatkan punggungnya, betapa terkejutnya semua saat membaca untaian kata yang tertulis di punggung Juna menggunakan spidol hitam.
"Saya berjanji akan melupakan Elena dan mencintai Leona! Jika tidak, saya akan mencukur habis jambang keramat saya dan akan menjadikan kecoak sebagai hewan peliharaan yang menggemaskan," ucap Syam membacakan.
Begitulah sekiranya yang Eleonara tulis. Dia memasang wajah tak berdosa saat Juna menoleh menatapnya tajam dengan kilatan cahaya di matanya. Tanduk, taring dan cakar tajamnya muncul bersamaan.
...
BERSAMBUNG!!!
Mau ke mana? Buru-buru amat. Like dulu dong, hihi^^
__ADS_1
.
.