Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Sudah Lama Tidak, Ehem! (18 Plus Plus)


__ADS_3

Malam harinya.


"İyi geceler, Hayatım (Selamat malam, Hidupku)," sapa Juna dengan wajah yang muncul dari celah pintu, mengintip Eleonara yang sedang fokus berkutat dengan buku-buku paket yang super tebal.


Dia meletakan bungkus martabak telur spesial serta pizza di samping buku paket tebal itu, lalu mengecup puncak kepala Eleonara. "Oh, çok güzel. Sedang belajar apa?" tanyanya memberi perhatian sekaligus berusaha membujuk.


Eleonara menelan saliva saat aroma martabak dan pizza menguar di hidungnya. Perutnya langsung bereaksi. Namun, Eleonara sedikit menahannya dan segera mengalihkan fokusnya, seolah tidak peduli dengan martabak dan pizza. Dia memperlihatkan deretan huruf yang besar-besar di buku paket pada Juna, M A T E M A T I K A.


Juna membulatkan mulutnya saja. Tampaknya Eleonara tidak bosan-bosan merajuk padanya. "Saya pulang tidak disambut, nih? Tidak cium tangan?" tanyanya.


Eleonara langsung menarik tangan Juna dan mencium punggung tangannya begitu saja, lalu melepaskannya kembali tanpa mengatakan apa pun lagi. Bahkan menatap Juna saja tidak.


"Saya dengar hari ini kamu bersenang-senang dengan Emran. Emran bilang kamu tak henti-henti tersenyum saat bersama dengannya. Mengapa saat dengan saya langsung berubah dingin seperti es batu?" tanya Juna sambil melipat kedua tangannya di atas perut dengan tatapan menuntut.


"Sudah habis energi untuk tersenyum, jadi tidak bisa," ucapnya ketus sambil merangkum kalimat-kalimat di buku paket dengan mencoretnya menggunakan stabilo.


Juna merengkuh rahang Eleonara dan menariknya, membuat wajah Eleonara mau tak mau menengadah menatapnya, tapi dengan kecepatan kilat Eleonara membuang pandangan ke arah lain. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan, 'aku sedang marah nih, cepat bujuk aku!'.


"Lihat saya, Leona," pinta Juna lirih. "Saya akan tetap minta maaf jika rasa kesalmu masih bersarang di hati. Saya tahu kamu tidak suka dengan keberadaan Elena, tapi saya juga tidak memiliki hak untuk menyuruhnya pergi lagi. Dia mau tinggal di mana, itu urusannya. Lagipula saya dan dia sudah memahami kondisi satu sama lain. Dia tidak akan mengganggu rumah tangga kita, dia datang untuk berteman," kata Juna sambil mengelus pipi Eleonara dengan tatapan getir.


Eleonara menurunkan tangan Juna dengan wajah mumet. "Justru instingku mengatakan sebaliknya. Dia kembali hanya ingin mencari gara-gara."


"Hey, hey, hey, tidak boleh berburuk sangka begitu. Tidak baik. Saya bukannya membela ya, tapi lebih baik berpikir positif saja. Bagus untuk kesehatan mental, dari pada menduga yang tidak-tidak," ujar Juna meyakinkan Eleonara.


"Lihat sendiri saja rekaman CCTV ini. Aku ingin tahu seperti apa tanggapanmu selanjutnya. Apa masih berprasangka baik pada 'cinta pertamamu' itu," ucap Eleonara sambil memberikan ponselnya pada Juna, memperlihatkan rekaman CCTV yang dia dapatkan dari Syam.


Juna melihatnya dengan seksama sampai duduk di tepi ranjang dengan memegang ponsel Eleonara.


"Lihat baik-baik, di sana bukan aku yang menabraknya, tapi dia sendiri yang menabrakkan diri. Luka di kakinya juga sudah dia dapatkan sebelumnya. Dia sedang berusaha menjebakku di waktu yang tepat. Dia tahu di rumah sedang banyak orang, kalau aku menabraknya tentu saja kamu termasuk teman-temanmu akan menyalahkanku. Dia pandai bersandiwara, cih!" desis Eleonara sebal sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


Eleonara melihat Juna yang seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi mau bagaimana lagi karena bukti sudah sangat jelas di depan mata. Raut wajah Juna langsung berubah menjadi muram. Matanya menyipit, keningnya mengerut.


"Saya akan bicarakan ini dengan Elena," ucapnya sambil beranjak bangun dengan tangan mengepal.


Eleonara buru-buru menariknya, sigap sekali. "Tidak perlu! Sudah malam, seperti tidak ada besok saja. Kamu sudah capek hari ini. Aku akan menyiapkan air untukmu mandi, setelah itu langsung istirahat!" tekannya mengerutu sambil masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Juna yang melihat kepergiannya malah senyum-senyum sendiri. "Padahal begitu takut suami sendiri diambil orang, tapi berani-beraninya dia terus marah dan mendiamkan aku," gumam Juna dengan hati yang berbunga-bunga.


Juna merasa harus memanfaatkan situasi seperti ini untuk menarik kembali perhatian Eleonara. Dia melepaskan kemejanya dan meletakannya di keranjang laundry, lalu membuka lemari untuk mengambil 'pengaman' yang dia sembunyikan di sela-sela tumpukan baju. Dalam satu dus hanya tersisa satu bungkus lagi.


Dia pun melangkah dengan penuh percaya diri memasuki kamar mandi sambil memanggil Eleonara dengan manja.


"Canım."


Juna melihat body Eleonara dari ujung kaki hingga kepala yang sedang mengisi bathtub sambil bersenandung. Dia bersiul dan hal itu mengerutkan Eleonara.


"Astaga, bikin kaget saja!" seru Eleonara.


Juna tersenyum menyeringai sambil menggerakkan alisnya dengan tatapan nakal. Berharap Eleonara mengerti maksudnya.


"Apa? Airnya belum penuh. Mau pakai aroma apa? Lavender saja, ya?" kata Eleonara sambil menuangkan aromaterapi lavender ke dalam air hangat karena aroma lavender dipercaya mampu menurunkan stres dan tingkat kecemasan.


Sebelumnya Eleonara sudah berendam lama dengan aromaterapi lavender karena akhir-akhir ini sukses dibuat stres oleh ujian, belum lagi dengan masalah Elena.


"Tidak usah bertanya kalau ujung-ujungnya kamu sendiri yang memutuskan," ujar Juna sambil mendekati Eleonara. Otot-otot tubuhnya menonjol dengan indah, sayang bila tidak segera dinikmati.


Eleonara buru-buru menarik diri sambil menatap Juna sinis. "Ngapain? Jangan pegang-pegang!" ucapnya ketus. Dia mengambil handuk dan melemparnya ke arah Juna sampai seluruh wajahnya tertutup.


Eleonara masih kesal pada Juna karena Juna belum meminta maaf mengenai ciiumannya dengan Elena. Dia tak ingin tubuhnya disentuh dulu. Eleonara segera melarikan diri dengan mengambil langkah seribu, tapi dengan cepat pula Juna menangkapnya. Tangannya melingkar di perut Eleonara.


"Lepas! Aku masih marah, tahu! Jangan coba-coba membujukku seperti ini, ya!" ancam Eleonara sambil menendang-nendang angin karena tak hanya ditarik, tapi Juna juga mengangkat sedikit tubuhnya sampai melayang di udara.


"Ada pepatah mengatakan, jika duduk berdua tidak dapat menyelesaikan masalah cobalah dengan tidur bersama," celetuk Juna sambil membuka bungkus pengaman dengan menggigitnya dan meniup sisa bungkus yang menempel di bibirnya yang seksi.


Juna menutup pintu kamar mandi sambil memanggul Eleonara di bahunya. Dia menurunkan Eleonara ke dalam bathtub. Sontak saja piyama dan sekujur tubuh Eleonara langsung basah total. Celana Juna pun turut basah.


"Junaaa, kamu! Aku sudah mandi barusan!" teriak Eleonara sambil menggertakkan giginya.


"Ya, teriak lebih kencang agar semua tetangga tahu kita sedang berbuat mes'um," celetuk Juna sambil mengorek-ngorek telinganya dengan kelingking karena teriakan Eleonara begitu melengking, hampir memecahkan gendang telinganya.


Eleonara berusaha melarikan diri lagi, tapi Juna tak akan membiarkannya semudah itu. Gairahnya sudah terlanjur terbakar, perlu dipadamkan.

__ADS_1


"Diam, diam! Bisa diam, tidak? Ini licin, kalau jatuh bagaimana?!" protes Juna karena dia sudah tidak bisa menundanya terlalu lama. Eleonara tidak bisa diam, gerakannya licin seperti belut.


Juna menggila, dengan buru-buru menarik piyama Eleonara sampai kancing-kancingnya terlepas. Eleonara masih tampak enggan dan risih karenanya. Juna yang melihatnya berekspresi begitu jadi membuat nafsunya menyusut yang sebelumnya menggebu.


"Huff ... Leona, sudah berapa lama kita tidak melakukannya? Saya menginginkannya sekarang, kamu tidak mau memberikannya juga?" gerutu Juna manja sambil mengerucutkan bibirnya dengan memalingkan wajah. "Saya sudah minta maaf mengenai masalah Elena, masih kurang apalagi?" tanyanya lirih, menyedihkan sekali.


"Tidak ingat, kamu belum mengakui kesalahanmu dan minta maaf setelah menciium Elena sampai sekarang?" Bagaimana pun Eleonara tidak terima kalau Juna memalingkan wajahnya seperti itu sambil cemberut. Hati dan perasaannya tergerak.


"Ah?" Kedua mata Juna membulat. Seakan telah menemukan jawabannya.


"Ah?" ledek Eleonara. "Baru ingat, ya? Kalau tidak aku katakan, sepertinya tidak akan ingat sampai tua."


Juna malah menyeringai memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Ternyata itu. Kamu sudah tahu kan, itu hanya ketidaksengajaan. Saya kira kamu sudah memaafkannya karena bukan saya yang memulai."


Eleonara hanya menaikan alis kirinya dengan air mengalir di sekitar wajahnya. Dia sedang menunggu kelanjutan ucapan dari mulut Juna.


Juna meraih kedua tangan Eleonara sambil mengecup punggung tangannya dengan kepala menunduk, lalu dia berkata, "Canım, Aşkım, Hayatım, Güzelim, saya minta maaf. Saya sudah melukai hatimu. Meski hanya ketidaksengajaan, tetap saja itu bukan hal yang patut dimaklumi," ucapnya sambil terus menghujani punggung tangan Eleonara dengan kecupan kasih sayang.


"Dimaafkan tidak?" tanya Juna lirih sambil mengulum senyum.


"Huh!" Eleonara memalingkan wajahnya dan memonyongkan bibirnya. Sulit mengakui kalau memang sudah memaafkannya, padahal masih merasa kesal, tapi ya sudahlah, mau sampai kapan marahnya?


Juna menarik kedua sudut bibirnya dengan lebar, lalu memeluk tubuh Eleonara yang basah sambil mengecup pipinya, lalu perlahan bergeser pada bibirnya yang manis. Mereka saling terpejam menikmati dan merasakan tubuh masing-masing terbakar gairah. Tangan Juna melepaskan piyama Eleonara dan melemparnya ke sembarang tempat, lalu dia membuka kait bra yang berada di punggung Eleonara. Seketika bra berwarna hitam polos itu terlepas.


Saat Juna akan melahap inti dadaanya, Eleonara menghentikannya dengan mata yang sudah sayu. "Pengaman. Mana pengamannya," ucapnya lirih. Wajahnya sudah memerah, tubuhnya panas dingin.


"Ini. Eh!" Juna mengulurkan tangannya berniat memperlihatkan pengaman yang sudah dia siapkan sebelumnya, tapi naas tidak ada, membuat matanya membulat sempurna. Padahal barusan dia betul-betul menggenggam pengamanan itu di tangan kanannya, kenapa bisa menghilang begitu saja tanpa jejak?


"Sepertinya sudah waktunya untuk tidak memakai pengaman lagi," ucap Juna sambil menyeringai bagai kuda.


...


BERSAMBUNG!!


.

__ADS_1


.


__ADS_2