
Selepas pulang dari rumah Abraham, Eleonara merenungkan sesuatu di dalam kamarnya. Kalau bukan Sora yang memberitahu Vivian, lalu siapa? Pikirannya terus berputar sampai instingnya mengatakan dengan kuat memang ada seseorang yang ingin membuatnya menderita, tapi bukan Sora.
Meski jahat, tapi Sora dan Vivian memang tidak pernah akur. Vivian tidak mau berurusan dengan orang licik seperti Sora. Jika Sora mengatakan apapun pada Vivian, Eleonara yakin Vivian tidak akan mudah percaya karena Vivian tahu sifat asli kakak angkatnya itu.
"Siapa? Siapa yang bertemu dengan Vivian, lalu memberitahunya? Uh, bikin pusing saja. Tapi, kalau tidak menemukan jawabannya sekarang, aku tidak bisa tidur malam ini," gumamnya sambil gulang-guling di ranjang dengan gelisah.
Eleonara mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Vivian. Sialnya Vivian memblokir kontaknya, jadi Eleonara tak dapat menghubunginya. Sakit hatinya bukan main. Vivian sampai sebegitunya memblokir kontak Eleonara.
"Canım, buatkan saya kopi. Antar ke ruang kerja, ya," pinta Juna tiba-tiba.
Namun, Eleonara tidak mendengarnya. Pikirannya sedang berkecamuk tidak tenang. Juna yang merasa diabaikan terheran-heran. Dia segera menghampiri Eleonara dengan duduk di ranjang.
Melihat Eleonara yang seperti banyak pikiran membuatnya semakin penasaran. "Leona?" panggilnya sambil mengguncang bahu Eleonara.
"Ah, iya, kenapa? Mau tidur?" tanya Eleonara sedikit terkejut. Dia beranjak duduk dan bersandar menatap Juna.
"Bukan. Kenapa denganmu? Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu?" duga Juna berusaha ingin tahu yang Eleonara pikirkan.
"Em, bukan apa-apa," bualnya sambil memasang ekspresi baik-baik saja.
"Kalau ada apa-apa cerita, berbagi dengan saya, jangan disembunyikan. Saya itu suamimu, temanmu seumur hidup. Pasti ada sesuatu yang kamu pikirkan. Mengenai apa? Sekolah?" tanya Juna lagi.
Mendengar perkataan Juna seakan mengingatkannya pada kesalahan yang sudah dia perbuat pada Vivian. Dia menyembunyikan pernikahannya sampai Vivian marah dan tak mau lagi berteman dengannya. Ketidakjujurannya menghancurkan diri sendiri.
__ADS_1
"Itu ... Vivian sudah tahu aku menikah. Dia sangat marah dan kecewa karena tahu dari mulut orang lain," ungkapnya sambil menunduk sedih.
"Dia tahu dari orang lain? Siapa?" tanya Juna penasaran.
"Entahlah, aku juga sedang mencari tahu."
"Ah, jadi itu yang mengganggumu. Sepertinya ada yang tidak suka melihat kamu bahagia. Kalau begitu tanya langsung saja pada Vivian, siapa yang mengatakannya."
"Nomorku di blokir, huwaaaa~. Vivian sudah tidak ingin berteman lagi denganku. Dia sangat kecewa padaku, hikss ... aku menyesal sekali, kenapa tidak memberitahunya dari awal," rengek Eleonara sambil menangis tersedu-sedu. Seakan separuh jiwanya hilang dibawa pergi Vivian. Hidup rasanya hampa dan kesepian tanpanya.
"Sudah, sudah, jangan menangis. Dia butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan kalau sahabatnya ternyata sudah menikah. Kalau pertemanan kalian sungguh-sungguh, dia pasti akan kembali. Kalau tidak, ya relakan saja. Mungkin kalian memang tidak cocok. Jangan bersedih sampai berlarut-larut. Baru selesai Try Out kan, bagaimana kalau saya ajak kamu liburan ke pantai akhir minggu ini?" usul Juna berusaha menghibur Eleonara.
"Pantai?" ucap Eleonara. Air matanya disapu lembut oleh Juna.
"Iya, ke pantai. Kalau tidak mau, ganti tempat. Kamu maunya ke mana?"
"Boleh. Ke mana pun yang kamu inginkan, saya turuti. Asal jangan menangis di depan saya lagi, ya? Sekarang buatkan saya kopi," ujar Juna, kembali pada tujuan awalnya.
"Kopi lagi? Kenapa kamu tidak memperkerjakan Bu Hasna sampai malam? Kalau begini kan, akan membuat orang bertanya-tanya. Katanya punya banyak uang, tapi kok cuma ada satu pembantu dan jam kerjanya pun hanya setengah hari. Artinya kamu jarang sekali bertemu dan berbincang dengan Bu Hasna, kan?" tanya Eleonara penasaran.
"Leona, orang seperti saya tidak haus pujian. Justru kita sangat menjaga privasi. Pantrang bagi saya menjadi pusat perhatian publik. Saya tidak perlu memberikan sinyal pada orang-orang kalau saya kaya, buat apa? Bagi saya hal semacam itu sangatlah tidak berguna. Malah akan mengundang banyak orang jahat yang berusaha untuk menjatuhkan. Saya dan banyak sekali orang kaya yang saya temui termasuk teman-teman saya, kita lebih sibuk memutar kembali kekayaan. Kita bahkan cenderung tidak menyukai pesta, kecuali pesta itu bisa menjadi ajang mendapatkan projects, client atau customer. Kita sangat efisien, kita hanya mengeluarkan uang untuk sesuatu yang kita butuhkan. Jika satu pembantu saja bisa merapikan rumah, untuk apa banyak-banyak? Lagipula sekarang di rumah ini sudah ada kamu. Jangan diam saja seperti Tuan Puteri, kita juga perlu bekerja sama untuk merawat rumah," ujar Juna yang lagi-lagi mencerahkan pikirkan Eleonara seputar dunia orang kaya yang sesungguhnya.
"Jadi, orang kaya yang suka pamer-pamer harta itu kenapa? Aku juga banyak menjumpai orang kaya yang suka pamer hartanya," ujar Eleonara.
__ADS_1
"Mungkin mereka ingin diterima dan diakui masyarakat untuk memuaskan hati. Mungkin juga baru jadi OKB (orang kaya baru), hihi. Tapi, ketika seseorang telah merasa kenyang dan cukup atas kekayaannya, maka dia tidak bergantung pada pengakuan orang lain lagi dan cenderung menutup diri," ujar Juna, mengungkapkan pendapatnya.
"Ah, apa jangan-jangan kalian menutup diri karena tidak mau diincar orang pajak, ya? Hahahaaa ...," duga Eleonara sambil tertawa puas.
"Hahaha, itulah salah satunya. Tahu saja kamu. Pusing saya kalau sudah kedatangan orang pajak. Makanya lain kali harus pintar-pintar menjaga privasi, ya. Tidak perlu pamer, yang terpenting kebutuhan hidup sudah tercukupi dan tidak pernah merasa kelaparan, itu saja. Sudah ngobrolnya. Sekarang buatkan saya kopi."
"Eh, tidak mau belah duren nih, malam ini?" tawar Eleonara sambil menyeringai dan mengguncang tubuhnya dengan tetapan menggoda.
Juna menahan tawanya. Dia terkekeh geli melihat tingkah Eleonara yang sedang berusaha merayunya di atas ranjang. Seperti cacing kepanasan, melingak-linguk tidak bisa diam.
"Kebetulan, tadi pulang kerja mampir dulu ke minimarket, beli konndom," ujar Juna, senyumnya mengembang dengan sempurna. Tanduknya perlahan muncul. Gairah pun menggebu dalam dada.
Dia seret tubuhnya ke atas ranjang dan segera menerkam Eleonara.
...
Di lain tempat tepatnya di dokter kandungan. Elena sedang terbaring lemah tak bertenaga dengan selang infusan di punggung tangannya. Dia baru saja melakukan aborsi. Wajahnya terlihat begitu pucat, seperti orang mati.
...
BERSAMBUNG!!
Jaga kesehatan kalian ya akak-akak cantik. Makasih banyak untuk yang setia menunggu^^
__ADS_1
.
.