Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Sekali Berbalik Tidak Akan Diberi Ruang


__ADS_3

"Kamu jangan mengecohkan pikiranku, El. Aku sudah menikah dengannya, orang tuaku juga sangat mendukung pernikahan ini. Dan lagi ... bagaimana bisa aku melepaskannya? Dia ... dia sudah aku rusak," ujar Juna sambil menunduk murung.


"Sudah apa? Sudah kamu rusak? Maksudmu?" Kening Elena menjurus tajam ke bawah.


Juna menghela napas panjang sambil beranjak bangun. "Aku pikir hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku terima keadaanmu seperti ini dan kamu harus menerima aku yang sudah menikah. Kita bisa sama-sama saling menghargai. Mengenai kehamilanmu, jangan tega menggugurkannya. Dia tidak salah apa pun, dia ingin hidup."


Saat sedang begitu, tiba-tiba Serkan datang dengan pakaian yang amat rapi, celana hitam panjang dengan kemeja biru dongker lengan pendek, otot lengannya tampak menonjol dengan Indah. Dia turun dari mobil dan melihat keberadaan Juna serta Elena di halaman depan yang sepertinya sedang memperdebatkan sesuatu. Mereka tidak menyadari kehadiran Serkan.


"Tunggu dulu, Jun! Kamu mau pergi ke mana? Aku masih belum selesai. Apa maksud dari perkataanmu barusan? Kamu merusak apa?" tanya Elena sambil menarik-narik lengan Juna.


"Apalagi yang seharusnya dilakukan suami istri? Lepas, El, kita seperti ini tidak baik!" kecam Juna yang mulai kesal karena sentuhan Elena membuatnya tidak nyaman.


Serkan tidak berani campur tangan. Dia cukup diam menonton karena tujuannya kemari untuk bicara dengan Eleonara. Dia hanya bisa menunggu perdebatan antara Juna dan Elena selesai. Serkan mengerti Elena masih syok mengetahui Juna sudah menikah.


"Kamu dan gadis kecil itu sudah ...? Bagaimana bisa?! Apa yang ada di dalam tubuhnya yang membuatmu bergairah? Dia masih kecil, Jun. Secara keseluruhan tubuhnya belum sempurna, belum ada yang matang. Apa yang kamu lihat? Dibandingkan denganku, aku lebih unggul segala-galanya dari dia. Dulu, aku menciiummu saja, kamu pasti langsung menolak. Kenapa sekarang seperti ini?!" Elena bicara terus terang kalau dia tidak menerima perlakuan Juna dulu berbeda dengan perlakuannya pada Eleonara sekarang. Secercah dendam mencuat dalam benaknya.

__ADS_1


"Dia istriku, aku mau memperlakukannya seperti apa wajar-wajar saja. Kalau dulu, kamu hanya sebatas kekasihku saja. Tentu aku tidak berani bertindak gegabah. Aku tidak mau merusakmu, apa kamu masih belum mengerti juga sampai sini?!" geram Juna sambil menarik lengannya dari genggaman Elena.


Namun, tiba-tiba tanpa diduga, Elena kembali menarik lengan Juna dan dalam hitungan detik dia menciium bibir Juna untuk membalaskan dendam di hatinya.


Sontak saja Serkan yang melihatnya tersentak kaget setengah mati. Dia melihat Eleonara ke luar dari rumah dengan langkah cepat. Tanduk, taring dan cakarnya muncul bersamaan. Dengan segudang kebencian dalam benaknya, tak segan-segan Eleonara memisahkan mereka dan menampar Elena dengan begitu kuat sampai kepala Elena terhempas dan keseimbangannya goyah. Elena ambruk, jatuh ke lantai.


"Akh! Perutku ....!" rintih Elena, berteriak histeris sambil menyentuh perut dan pipinya yang berdenyut nyeri.


"Leona, kamu ... sejak kapan kamu begitu kasar?! Kamu tahu dia sedang hamil, kan?" ucap Juna memarahi dengan rahang mengeras.


"Jangan gila, kamu! Tadi saya hanya belum sempat mengelak saja. Kamu tiba-tiba datang langsung menamparnya," ujar Juna membela diri. "Dan lagi kita sedang di luar, tidak bisakah kamu mengecilkan nada suaramu?!" geramnya.


"Kamu juga, turunkan telunjukmu! Ngapain nunjuk-nunjuk aku begitu?! Tidak enak dilihat!"


"Aw, Jun, huhu ... perutku sakit, Jun! Tolong aku," rengek Elena sambil mengulurkan tangannya pada Juna.

__ADS_1


Eleonara menunduk menatap akting Elena sambil melipat kedua tangan di atas perut. Sedangkan Juna masih diam karena bimbang.


"Benar, tolong saja. Kenapa melihatku? Aku izinkan, kok. Cepat, tolong dia. Bawa masuk ke rumah, lalu hubungi dokter. Rawat dia dan bayinya dengan baik di rumah ini dan kembalilah bersama-sama. Kehadirannya sudah membuatmu buta siapa aku di sini! Memangnya kenapa kalau dia masa lalumu? Aku tidak berhak menyinggungnya, begitu? Semakin kamu melindunginya, aku semakin ingin menghancurkannya. Dengar ya, Juna, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku! Meski aku harus menghadapi masa lalumu, aku siap pasang badan. Tapi, sekali kamu berbalik, tidak akan kuberi ruang sedikit pun untuk berdamai! Melirik saja aku enggan!" kecam Eleonara sembil berjalan menghampiri Serkan.


"Serkan Bey, kamu belum menikah, kan? Jika Juna melepaskanku demi wanita itu, apa kamu bersedia melamarku? Meski usiaku masih muda, aku pandai dalam urusan ranjang, lho," ucap Eleonara sengaja dengan nada suara kencang.


"Tentu saja. Saya tidak akan menyia-nyiakan bunga segar yang datang sendiri ke dalam genggaman saya," ucap Serkan sambil mencium ujung rambut Eleonara dengan penuh sensual. Dia tahu harus bersikap bagaimana.


"Leona, jangan macam-macam kamu!" teriak Juna meledak saat melihat kepergian Eleonara dengan Serkan. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja tanpa memedulikannya. Padahal Juna masih sakit, meski sudah mulai membaik, tapi sepertinya karena kejadian ini membuat Eleonara benar-benar hilang respeck.


....


BERSAMBUNG!!


.

__ADS_1


.


__ADS_2