
"Kita bisa bahasa Endonezya karena kita sudah lama berteman dengan Juna dan ini bukan kali pertama kami datang ke Endonezya. Saya memiliki banyak cabang restoran di sini. Emran membuka banyak outlet fashion dan sudah memiliki brand fashionnya sendiri. Osman juga ada beberapa tempat gym yang dikelola di sini. Kalau Zafer sama seperti Juna, pembisnis ekspor. Dia tidak terlalu fasih bicara seperti kita," jelas Serkan pada Eleonara yang sedang fokus mendengarkan.
"Oh, begitu. Saya kira, hehe ... maaf, tadi apa ada yang berbisnis di bidang fashion?" tanya Eleonara dengan kerlipan di mata. Tampak sangat antusias mendengar sesuatu yang berbau fashion.
"Saya, kenapa?" tanya Emran heran.
"Bukan apa-apa, tapi saya sudah lama tertarik di bidang fashion, jadi saat mendengar sesuatu yang berbau fashion jiwa ini rasanya menggebu-gebu. Sesama pecinta fashion pasti mengerti apa yang saya sampaikan, kan?" ujar Eleonara menonjolkan diri.
"Ah, ternyata kamu menyukai fashion. Pakaian kamu ini kamu sendiri yang memadukannya?"
Eleonara mengangguk sambil tersipu malu. "Saya juga memiliki banyak koleksi desain pakaian yang saya gambar sendiri, tapi entah harus diapakan."
"Maşallah, ternyata kita satu frekuensi. Boleh saya lihat karya-karyamu?" tanya Emran dengan senyum mempesonanya yang dahsyat. Membuat Juna iri karena Eleonara bisa langsung dekat begitu saja dengan Emran.
"Kapan-kapan saja kamu tunjukkan. Dia ini sedang modus," sindir Juna sambil menatap sinis ke arah Emran. Aura Juna yang menakutkan membuat senyum manis Emran menyusut hilang.
"Cemburuan sekali," gerutu Emran sambil memonyongkan bibirnya. "Leona, apa yang membuatmu tertarik pada pria model Juna? Bukankah dia sangat menyebalkan?"
"Benar, kamu masih sangat belia. Ada kejadian apa sampai kalian terjebak dalam pernikahan? Saya tahu tipe wanita idaman Juna bukanlah seorang gadis yang masih remaja, tapi ...." Osman mengedikkan bahunya seakan ucapannya telah salah karena kini Juna menikahi gadis remaja.
"Ayah menjodohkanku dengannya," ujar Juna sambil mengusap lengannya karena tubuhnya terasa panas, tapi sedikit menggigil.
"Haa, jadi kalian terpaksa? Tidak heran kalau alasannya seperti itu. Artinya kalian sedang berusaha agar terlihat seperti pasangan suami istri sungguh? Pantas saja kami tidak diundang ke pernikahan kalian, Juna pun menutupi istrinya dari kami," kata Serkan menggerutu dengan sebal.
"Kalau begitu, Jun ... dia ini masih tersegel, kan?" goda Osman sambil menyeringai dengan tatapan nakal.
"Pasti, tapi ... apa kamu benar-benar sudah melupakan Elena begitu saja?" tanya Zafer penasaran karena sebelumnya dia pernah menaruh hati pada Elena, tapi tidak terlalu dalam.
"Seperti yang kita tahu, dulu kalian begitu melekat seperti prangko. Tidak bisa terpisahkan sedikit pun. Apa yang membuatmu memutuskan untuk menikah sekarang? Kalau masih mencintai Elena, seharusnya kamu tolak perjodohan ayahmu itu dan mencarinya tanpa henti," imbuh Emran ikut mempertanyakan.
"Kalian gila membahas dia di depan istriku? Pakai bahasa Indonesia lagi, setidaknya kalau penasaran tanyakan dengan bahasa Turki," gerutu Juna sambil menghela napas kasar. Sedang sakit, dibuat emosi.
Eleonara langsung menyorotinya dengan tatapan tajam setajam silet. Membuat Juna kelimpungan karena dia pun tanpa sadar sudah salah bicara.
"A-aku sudah lama melupakannya, jangan ada yang menyebutkan namanya lagi! Lagipula kenapa memangnya kalau istriku masih remaja? Kalau kami cocok, usia bukan lagi penghalang. Kalian ini memang pintar mengurusi urusanku. Lihatlah diri kalian sendiri, kecuali Osma, yang lainnya sudah di atas 30 tahun. Kalian tidak ada rencana untuk menikah atau apa? Sebentar lagi masuk kepala empat, nanti aku sudah menggedong cucu, kalian semua masih mencari istri, heh!" ledek Juna mati-matian. Dari raut wajahnya terlihat puas melihat mereka terzalimi.
__ADS_1
"Sialan kamu, Juna! Mentang-mentang sudah menikah, jadi bisa menyombongkan diri. Kalau begitu, aku akan jadi orang pertama yang menculik istrimu. Selama 24 jam jangan harap aku akan memberikannya padamu!" ancam Serkan. Dia merasa yang paling tersinggung karena usianya lebih tua dari yang lain. Hatinya tertusuk ribuan duri saat Juna menyindirnya begitu.
"Hey, hey, istriku bukan barang yang bisa seenaknya kalian gilir!"
"Kesepakatan tetap kesepakatan. Sekeras apa kamu membantah, tidak akan ada gunanya. Leona, panggil saya Serkan Bey mulai sekarang. Besok pagi saya akan jemput kamu," kata Serkan sambil beranjak bangun dan mengagungkan penampilannya di depan Eleonara (tebar pesona).
*Bey itu seperti Mr atau Tuan dalam bahasa Indonesianya*
"Hey, Serkan!" bentak Juna tidak terima. Yang lain langsung menahannya saat Juna hendak beranjak bangun dan membuat perhitungan terhadap Serkan.
"Hahaha, kenapa? Tidak terima? Mau adu jotos denganku? Kamu sedang sakit, jangan memaksakan diri," ujar Serkan semakin angkuh.
"Makanya, jadi orang jangan terlalu sombong. Kita bertiga sekarang berada dipihak Serkan. Aku akan menjadi orang kedua yang menculik istrimu. Leona, panggil saya Emran Bey," ujar Emran sambil tertawa puas melihat Juna tak berdaya karena sedang sakit.
"Sial sekali aku memiliki teman seperti kalian!" umpat Juna sambil mendengus sebal saat melihat otot-otot lengan teman-temannya yang padat berisi sedang menahannya dengan kuat.
"Aku jadi yang ketiga menculiknya. Güzelim, panggil saya Osman Bey mulai sekarang," goda Osman sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Huh, baiklah, aku yang terakhir," ucap Zafer. "Seperti yang lain, panggil saya Zafer Bey," sambungnya sambil mengintip Eleonara dengan sedikit melepaskan kacamata gayanya.
Eleonara yang sedari tadi menutup telinga Moza kiri-kanan dan selaku orang yang bersangkutan hanya bisa melongo melihat Juna dan teman-temannya sedang meributkan dirinya.
Namun, dari semua orang yang ada di sana, tidak ada satu pun yang memberikan Eleonara penjelasan. Padahal Eleonara sudah penasaran setengah mati. Eleonara hanya perlu menunggu hari esok untuk mendapatkan jawabannya.
*Moza sudah dijemput oleh David*
Juna dan teman-temannya berbincang sampai sore dan tak henti mengolok-olok Juna yang sedang sakit. Meski ada candaan yang kelewatan, mereka tetap pengertian dan perhatian pada Juna yang sakit.
Saat ini saja mereka sudah pindah posisi ke ruang televisi. Menghabiskan banyak camilan sambil bermain games. Katanya mumpung ada waktu luang, karena tiap harinya selalu disibukkan oleh pekerjaan. Juna hanya bisa menonton keasyikan mereka sambil berbaring di sofa. Tentu saja Eleonara tak lupa memperhatikan asupan dan obat-obatannya juga. Ketika Juna tidur, teman-temannya berhenti berisik.
Juna seakan tidak ingin teman-temannya pergi meski teman-temannya menyebalkan dan juga dia sedang sakit butuh istirahat. Ditinggal teman rasanya kembali hampa.
"Mobil berwarna merah milik siapa? Di luar menghalangi jalan, ada yang ingin masuk ke rumahnya," kata Eleonara yang sedang berdiri di ambang pintu mengarah pada teman-teman Juna yang masih asik bermain game.
"Mobil merah? Mobil saya, tapi ... saya sedang tanggung bermain. Zafer, tolong masukan mobilku ke dalam," titah Osman yang sedang fokus menatap layar televisi dengan tangan sibuk menekan-nekan stick game.
"Kamu pikir aku sedang nganggur? Tidak lihat aku juga sedang bermain?" gerutu Zafer.
__ADS_1
"Suruh Juna yang masukan saja. Dia diam saja dari tadi," celetuk Serkan sambil tersenyum mengejek.
"Mohon maaf, aku sedang meriang. Kamu tidak punya mata, kah?" balas Juna sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Aih, kalau begitu biar saya saja. Di mana kunci mobilnya?" pinta Eleonara sungkan. Dia tadinya sedang menyapu halaman depan, lalu ada tetangga yang mengomel, katanya sebuah mobil menghalangi jalan masuk ke rumahnya.
"Kamu bisa?" tanya Osman ragu.
"Syam sudah mengajarkannya mengendarai mobil. Jangan khawatir," tutur Juna dengan mata terpejam.
Osman pun akhirnya memberikan kunci mobilnya pada Eleonara dan dia kembali bermain dengan khusyuk bersama yang lain.
Eleonara pun duduk di balik kemudi dengan keringat membasahi telapak tangannya karena dia biasa mengendarai mobil yang Syam pakai dan sekarang malah mengendarai mobil orang.
"Tidak masalah, mobil Pak Syam dan Osman Bey tidak ada bedanya. Pertama-tama masukkan kunci ke dalam kotak. Kenali kopling, rem dan gas. Mobil sudah dalam posisi netral sekarang, lalu nyalakan kontak," gumamnya dengan sangat hati-hati.
Mesin mobil sudah hidup, getarannya sampai membuat tubuh Eleonara pun ikut gemetar karena sangat cemas.
"Oke, berhasil sampai sini," gumam Eleonara sambil menyapu keringat di kening. "Sekarang injak pedal kopling, pindahkan tuas transmisi ke gigi satu, angkat kaki dari kopling pelan-pelan dan ... mulai injak pedal gas. Tenang, Leona. Fokus dan hati-hati."
Namun, tiba-tiba saja saat mobil sedang melaju menuju gerbang rumah Juna..
Bruk!
"Apa itu?!" 😰
Spontan Eleonara menginjak pedal rem, mematikan mesin dan turun dari mobil dengan jantung berdebar tak karuan. Dia memeriksa apa yang baru saja dia tabrak karena suara benturannya terdengar kencang sekali seperti sesuatu yang sengaja ditabrakan ke mobilnya. Padahal laju Eleonara tidak sekencang itu. Dia menyadari kemampuannya sendiri.
"Astaga!" Wajah Eleonara langsung pucat seperti mayat, seakan darah di sekujur tubuhnya terserap habis tak tersisa.
Seorang wanita dengan rambut cokelat panjang bergelombang sedang terduduk di aspal sambil merintih menyentuh kakinya yang berdarah lecet-lecet. Parasnya sangat cantik dengan garis wajah Eropa.
...
BERSAMBUNG!!!
Nah loh, siapa gerangan wanita ini?
__ADS_1
.
.