
Juna mengambil tiga jinjingan di tangannya sambil mengedarkan pandangan matanya. Karena rivalnya ada di sini. Namun, begitu melihat pria yang sedang bersama Vivian, Juna terheran-heran sebab yang dia lihat bukanlah Midas, melainkan wajah lain.
"Kamu bilang Vivian dan kakaknya. Saya tidak lihat pria yang bernama Midas," kata Juna.
"Vivian bersama Kak Arga. Kak Midas itu kakak pertamanya dan Kak Arga kakak keduanya," jelasnya. "Ayo, cepet Pak Juna. Vivian bisa melihatku!"
"El? Eleonara?!"
Deg!
Benar saja. Yang Eleonara takutkan pun terjadi, Vivian memanggilnya dari belakang. Jantungnya berdetak kencang seperti genderang mau perang. Langkah Eleonara dan Juna pun terhenti.
"Jangan menoleh ke belakang! Pak Juna tunggu di mobil saja. Aku akan menanganinya. Cepat!" seru Eleonara ketar-ketir.
Juna pun pergi diam-diam meninggalkan Eleonara karena tak ingin menyulitkannya. Eleonara menoleh sambil melepaskan topinya. "Eh, Vivian? Wah, lagi ngapain, nih? Sama siapa?" tanya Eleonara ceria, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Lagi cari jajanan aja sama Kak Arga. Itu tadi yang sama kamu siapa, El?" tanya Vivian sambil melihat ke luar.
"O-oooh, itu ... tadi Bapak-bapak itu nanya punya uang recehan 100 ribu gak katanya, buat ngasih tukang parkir. Biasalah, orang kaya. Aku bilang aja gak punya duit, hehe ...," jelas Eleonara gelagapan. Tubuhnya panas dingin, ternyata Vivian memperhatikan Juna. Untunglah Juna memakai masker dan topi.
"Oh, gitu. Kamu sendiri mau beli apa ke sini? Minimarket ini kan, lumayan jauh dari rumah kamu," katanya.
"Emm ... beli, apa tuh, namanya? Duh, sampai lupa. Aku di suruh Kak Sora beli maskara, tapi udah nyari ke mana-mana gak nemu merk yang Kak Sora mau," bualnya random.
"Alah, palingan si Kakak Lampir itu cuma mau nyusahin kamu doang. Lagian nurut banget sih, kamu, El. Biar dia aja sendiri yang cari," gerutu Vivian sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Biarin, itung-itung cuci mata. Jarang-jarang aku dibolehin ke luar malem, kan?"
Di sisi lain, Juna yang sedang menunggu Eleonara di dalam mobil melihat banyak sekali pasangan kekasih muda-mudi di depan matanya. Mereka semua berboncengan di motor sambil berpelukan mesra.
Juna menurunkan sedikit kaca jendela mobil dan samar-samar menguping pembicaraan mereka sambil membuka minuman yang baru saja dibelinya di Minimarket, karena dahaganya terasa kering.
"Ayang, kamu mau dibeliin apaan? Aku baru gajian, nih," tanya si lelaki sambil tersenyum sombong.
"Em, apa, ya? Aku pengen martabak telur spesial aja," jawab si perempuan.
Juna melirik pada pasangan di sebelahnya yang kedengarannya sedang berdebat. "Yang, jangan marah atuh, ih! Aku telat sedikit juga, gak usah diperbesar!" rengek si perempuan.
"Telat sedikit gimana, Yang?! Aku udah nunggu hampir sejam lho, di sini!" gerutu si lelaki. "Kamu habis dari mana? Ngaku!"
Juna kembali mengedarkan pandangan matanya dan mendengar beberapa pasangan lagi yang sebutannya berbeda-beda pada kekasih mereka.
"Beb, ke kafe yang deket alun-alun, yuk!"
__ADS_1
"Ih, si Bebeb mah ngajaknya ke kafe itu mulu! Kafe yang lain, kek."
"Sayangku, cintaku, suamiku terloplop, hayu pulang. Anak-anak udah nungguin di rumah."
"Jangan bilang gitu kalau lagi di luar, Mam, malu. Nanti orang geli dengernya."
Juna menutup kembali kaca jendela mobilnya sambil merenung memikirkan sesuatu. "Dari yang remaja sampai pasangan yang sudah memiliki anak, mereka memiliki nama panggilan sayang masing-masing. Kenapa Leona tidak pernah memanggilku Sayang, Beb, Ayang atau Suamiku? Dia terus memanggilku Pak Juna dan Pak Juna. Padahal tak jarang aku memanggil, Canım," gerutunya sebal.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka dan Eleonara masuk tergesa-gesa. "Cepat, pergi, Pak Juna! Aku kabur dari Vivian. Dia pasti akan menyadari aku tidak ada, lalu mencariku. Ayo, cepat!" cecarnya tak sabaran.
Nah, Pak Juna lagi, kan? (Batin Juna tak terima)
"Panggil saya dengan panggilan lain selain Pak Juna dulu, baru saya jalankan mobilnya," pintanya tiba-tiba.
"Eh? Maksudnya?" Pikiran Eleonara loading sesaat.
"Saya tidak ingin kamu menyebut saya Pak Juna terus. Ganti panggilannya."
"Apa sih, Pak Juna? Tiba-tiba bilang seperti itu, aneh, deh."
"Tadi saya mengamati banyak sekali pasangan yang memangil Sayang, Ayang, Beb, Cintaku pada pasangannya. Kenapa kamu berbeda? Kamu terus memanggil saya Pak Juna. Seakan-akan saya itu Bapakmu."
"Oh, jadi Pak Juna itu iri? Tapi, sebelumnya biasa saja, kan? Kenapa jadi tidak terima begini sekarang?" kata Eleonara.
"Pokoknya saya tidak mau dipanggil Pak Juna. Boleh kalau tidak sengaja bertemu di luar, tapi kalau sedang berduaan seperti ini, panggil dengan kata lain," ujar Juna dengan tatapan manja.
"Apa, pun."
"Ya, apa? Aku kan, tidak tahu. Canım? Hayatım?"
"Bukan."
"Ck, sudahlah kita pulang dulu. Nanti di rumah pikirkan lagi. Vivian bisa memergoki kita di sini," ujar Eleonara cemas. "Tuh, kan, benar! Vivian, ke luar nyariin! Buruan Pak Juna, tancap gasnya!"
"Panggil dengan kata lain dulu," gerutunya sambil cemberut.
"Astaga! Aku sudah secemas ini, masih saja keras kepala," gumam Eleonara.
Dia melingkarkan tangannya di leher Juna, lalu berbisik dengan penuh sensual, "Ayang Juna, bawa aku pulang sekarang, ya ya yaaa?" katanya sambil menghujani pipi Juna dengan kecupan manja, membuat gairah Juna mencuat. Sentuhan Eleonara terasa menyengat dan membangkitkan sesuatu di balik celananya.
Juna pun langsung tancap gas menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Juna membawa masuk jinjingan di tangannya dengan wajah merah total. Eleonara terheran-heran, sebab di sepanjang perjalanan Juna diam saja dengan wajah menegang, seperti menahan sesuatu.
__ADS_1
Apa aku berbuat salah? (Batin Eleonara)
Tanpa perhitungan, Juna menyeret Eleonara ke dalam kamar. Dia mengunci pintu rapat-rapat, lalu mendorong Eleonara ke atas ranjang dan menahannya agar diam.
"Panggil saya seperti itu lagi," kata Juna sambil merogoh saku celananya.
"Apa? A-a-ayang?" tanyanya canggung.
Juna mengangguk. "Bisikkan ke telinga saya," pintanya sambil mendekatkan telinganya pada bibir Eleonara.
"Ayang, Ayang, Ayang Juna. Hihihi, tidak terbiasa memanggilnya, jadi aku rasa agak aneh," ujar Eleonara sambil cekikikan. "Keluarga Pak Juna biasa memanggil Pak Juna bagaimana?"
"Jun," kata Juna lirih.
"Apa? Cun?"
"Jun."
"Cun?" kata Eleonara sengaja. Juna memperhatikan bentuk bibir Eleonara yang memonyong, sungguh menggoda.
"Jun, Leona, Jun!" tekan Juna.
"Hahaha, iya, iya, tahu. Jun."
"Coba katakan lagi. U-nya dipanjangkan. Selanjutnya kamu panggil saya seperti itu, ya."
"Juuuuuuuuuu ... mmh! Mmh!"
Juna malah langsung melahap bibir Eleonara secepat kilat, membuat Eleonara terkejut karena belum bersiap-siap. Namun, lambat laun Eleonara pun menyesuaikan diri. Dia terbuai oleh sentuhan dan gerakan lidah Juna.
Juna merengkuh leher Eleonara dan menekannya agar dapat meny'esap bibirnya lebih dalam dan lebih nikmat. Tiba-tiba Eleonara membayangkan gambar organ reproduksi laki-laki yang siang tadi dia lihat dalam buku paket Biologi-nya. Membuat gairahnya terbakar maksimal.
Eleonara melepaskan kancing kemeja Juna dari atas sampai bawah dan meraba lembut dada bidang Juna. Tangannya bergerak sendiri, merayap liar ke bawah pusar Juna, melepaskan ikat pinggang Juna serta kancing celananya.
Sontak hal itu membuat Juna menarik diri karena terkejut Eleonara bersikap demikian. Kaget sekaligus senang yang tergambar di wajahnya.
"Sejak kapan kamu seberani ini?" tanya Juna sambil menyeringai.
Eleonara jadi malu. Dia menutup mulutnya yang sedang tersenyum. "Tidak suka aku seperti ini?"
"Suka, sangat-sangat suka! Seberani inilah mulai sekarang." Juna menyobek kemasan 'pengaman' dengan giginya, lalu melemparkan isinya yang licin-berminyak pada Eleonara. "Pakaikan," katanya dengan begitu gamblang. Membuat Eleonara membulatkan matanya dengan sempurna.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!
Jangan lupa like & giftnya bestie ( ꈍᴗꈍ)