
Di sisi lain.
Elena sedang tertawa puas melihat kemenangan yang sudah berada di depan mata. Seorang pelayan di rumah Mohsen disogok olehnya untuk merekam kejadian di rumah itu. Dia penasaran dengan pertengkaran hebat seperti apa yang akan terjadi setelah berhasil meracuni otak Juna dengan segala tipu dayanya.
"Aku tidak sangka, keberadaanku masih berpengaruh besar terhadap Juna. Hahaha, Mohsen, Diana, orang tua siialan itu akhirnya mengakui juga kalau Juna memang tidak bisa lepas dariku. Lihatlah, anak kalian lebih percaya ucapanku daripada kalian, kan? Juna, Juna, cintamu yang semakin besar terhadapku membuatmu buta dan menjadi tuli. Misiku hampir berhasil sepenuhnya," ejek Elena sambil menyeringai lebar bagai seorang Joker.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Markus untuk mengabarkan berita bahagia ini.
"Markus, sepertinya kali ini aku berhasil menarik perhatian Juna. Dia sedang bertengkar hebat dengan keluarganya saat ini. Bagaimana dengan rencanamu? Kamu mengikuti gadis itu?" tanya Elena penasaran.
"Ya, aku bahkan masih memantaunya. Dia bersama Osman dan Zafer di bar. Kedua teman Juna itu sedang berusaha menghiburnya," jelas Markus memberitahu.
"Bagaimana mereka bisa berada di bar?" Elena tampak bertanya-tanya, sebab yang dia tahu Juna dan teman-temannya paling anti menjejakkan kakinya di tempat hiburan malam seperti itu.
"Aku membayar seseorang untuk membuat mereka tergiur agar mereka mau datang ke bar ini. Menurutmu permainan apa yang harus aku lakukan pada mereka, Elena?" tanya Markus sambil menyeringai dengan tatapan jahat.
"Heh, sepertinya kamu sendiri bisa membaca apa yang sedang terangkai di kepalaku. Buat kedua pria itu menggila dan mempermainkannya."
...
Di bar.
"Zafer, kita benar-benar mendapatkan diskon yang besar," ucap Osman antusias.
"Bukan besar lagi, tapi nyaris gratis. Itu karena Leona sudah menolong pemilik bar ini hingga dia berbaik hati mengajak kita ke sini," kata Zafer sambil meneguk segelas champagne. "Ukhh!"
"Tapi Leona, tadi itu bahaya sekali. Kalau kamu yang tertabrak bagaimana kita menjelaskannya pada Juna?" ujar Osman, cemas.
__ADS_1
"Huh, mau bagaimana lagi? Itu refleks saja karena wanita pemilik bar ini berada di seberangku, jadi aku langsung menariknya saat truk itu hampir menabraknya," jelas Eleonara mengungkapkan aksi heroiknya saat menolong orang dari bahaya di tepi jalan.
"Lain kali pikirkan keselamatan diri sendiri dulu," ujar Osman perhatian, sambil mengusap jambangnya.
"Iya, Osman Bey. Ah, tapi kita datang ke sini sudah malam seperti ini bukannya tidak baik?"
"Tidak baik sih, hanya saja sayang sekali jika kesempatan ini tidak diambil. Saya dan Zafer jarang sekali pergi ke tempat hiburan seperti ini, jadi begitu ada kesempatan dan waktunya pas, yah tidak ingin menyia-nyiakannya, hahahaa...." Tawa Osman begitu renyah terdengar.
"Lagipula kamu di sini bersama kami. Kami akan menjagamu. Tidak akan ada yang berani mengganggumu," tutur Zafer sambil tersenyum dingin.
"Emm ... anu, Zafer Bey, bisa tidak beritahu Juna kita di sini? Rasanya tidak tenang saja kalau tidak memberitahu dia. Yah, meski aku masih marah sih padanya," ujar Eleonara sambil menunduk murung. Muncul rasa bersalah saat menjejakkan kakinya di tempat hiburan malam ini dengan dua pria dewasa tanpa suaminya.
"Tadi, saya sudah mencoba menghubunginya, tapi Juna tidak menjawab. Jadi, saya kirimkan pesan saja. Jika dia sudah membacanya, paling nanti datang kemari menjemput," kata Osman memberitahu sambil mengutak-atik remote. Ada karaoke di room tersebut dan Osman penasaran ingin mencobanya.
"Kamu bilang penyebab kamu marah karena kedatangan Elena ke rumah. Tapi, kenapa kamu malah pergi dan membiarkan mereka tinggal berdua? Dengan kepergianmu justru memberi ruang untuk Elena semakin mendekati Juna," ujar Zafer penasaran.
"Uh, Osman Bey, sepertinya kamu sangat memahami wanita, ya?" bisik Eleonara mengumpat. Dia jadi malu karena ucapan Osman 100% betul.
Merasa gelisah, Eleonara mencoba menuangkan champagne ke dalam gelas. Saat hendak diteguk, dengan cepat Osman dan Zafer menghentikannya.
"Jangan! Kita sudah memesan koktail untukmu. Mana ya, lama sekali pelayan di sini," ujar Osman.
"Kenapa memangnya? Apa ini minuman beralkohol?" tanya Eleonara polos.
Zafer mengangguk tanpa sungkan. Seketika kedua mata Eleonara membulat sempurna.
"Lalu, bagaimana kalau kalian mabuk? Apa yang akan terjadi nanti? Apa seperti dikebanyakan novel-novel, pria mabuk akan menggila dan meleceehkan wanita yang dia temui," ujar Eleonara ketakutan dengan asumsinya sendiri. Terbayang-bayang adegan tidak senonoh di kepalanya.
__ADS_1
Zafer dan Osman malah tertawa kecil mendengar perkataan Eleonara. "Tidak ada yang seperti itu. Kadar alkohol dichampagne ini sangat kecil. Kita hanya mencicipi sedikit, tidak akan sampai mabuk," kata Osman.
"Lagipula, kenapa memangnya kalau kami melakukan sesuatu padamu? Kamu tidak akan dirugikan, Leona. Kami lebih perkasa dari Juna. Mau membuktikannya?" goda Zafer sambil menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan nakal.
Eleonara langsung begidik ngeri ditatap seperti itu. Tatapan Zafer seperti seorang psiikopat. Dia menelan salivanya dan beranjak bangun.
"Aku mau ke toilet dulu," ucapnya gugup dengan lutut gemetar. Meski teman-teman Juna kelihatan baik. Eleonara harus tetap waspada. Apalagi mereka itu pria dewasa yang kapan saja bisa bertindak diluar batas.
Zafer tertawa puas melihat kepergian Eleonara. Dia tampak terhibur saat Eleonara memasang ekspresi takut. Namun, Osman segera menyentil mulutnya.
"Bagaimana kalau dia ketakutan dan kabur di tengah malam? Hah, dasar! Aku pergi lihat dia dulu," ujar Osman. "Güzel!" panggilnya sambil berlalu.
"Sekalian katakan pada pelayan untuk segera membawa koktail kemari!" teriak Zafer karena Osman sudah keluar.
Saat Eleonara hendak masuk ke toilet, dia mendengar dua orang pelayan pria sedang berbisik secara misterius di balik tembok. Tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan. Eleonara penasaran karena curiga, dia mengintipnya secara hati-hati.
Dia melihat salah satu pelayan sedang menggenggam nampan berisi tiga minuman. Satu pelayan lain memasukan serbuk di setiap gelas dan juga ke dalam botol minuman secara hati-hati.
Apa yang mereka masukan? Fruit acid yang ada di bungkus nutrijel? (Batin Eleonara polos)
...
BERSAMBUNG!!
.
.
__ADS_1