Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Sugar Daddy-nya Leona


__ADS_3

"Siapa Anda?" tanya Midas dengan mata menyipit.


Kedua mata Vivian sontak berbinar ria melihat sosok pria tampan yang menjadi asupan semangatnya setiap hari seperti Emran yang kini berada di hadapannya. Dari ujung kaki hingga kepala, tidak ada celah sedikitpun yang terlihat oleh Vivian dari Emran, dia begitu sempurna di mata Vivian. Air liurnya sampai hampir menetes.


"Saya tidak perlu menjelaskan hubungan diantara saya dengan Leona," celetuk Emran sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Terlihat sangat-sangat cool.


Namun begitu, sekujur tubuh Eleonara menjadi panas dingin sekarang karena perkataan Emran mempengaruhinya. Begitu pula dengan Vivian dan Midas yang bingung, cemas dan bertanya-tanya. Otak mereka terpancing memikirkan yang bukan-bukan.


"Siapa, El? Ada hubungan apa dia sama kamu? Kok, dia menyangkal omongan Kak Midas kalau kamu belum punya pacar?" tanya Vivian penasaran.


"Ah, anu ... itu ... aku -" Eleonara ketar-ketir panik memikirkan jawaban apa yang akan dia ucapkan. Otaknya mendadak ngeblank.


Tiba-tiba saja Eleonara menangkap banyak sekali yang sedang membicarakannya di sekitar karena Eleonara baru sadar kalau kini Emran sedang jadi pusat perhatian seluruh siswa-siswi Sekolahnya.


"Huwaaa~ ganteng banget! Kok, si Eleonara dari kelas 12 MIPA-1 bisa turun dari mobil cowok ganteng kayak dia?"


"Iya, ya. Aku juga tadi liat dia turun dari mobil itu sambil buru-buru gitu. Kayak yang takut diliat sama orang-orang."


"Apa hubungan mereka?"


"Jangan-jangan ... dia Sugar Daddy-nya."


"What! Yang bener?!


"Cih, luarnya aja yang keliatan kayak orang cupu, alim, sok polos, tapi ternyata ... iyuh."


"Ah, masa sih, Eleonara kayak gitu? Kita semua tau dia murid terterter di Sekolah kita, kan. Masa iya mainannya Sugar Daddy?"


Emran langsung menolehkan pandangannya dengan tajam pada para murid yang sedang berbicara buruk tentang Eleonara.


"Sugar Daddy itu kan, Om-om kaya. Kenapa memangnya kalau saya adalah Sugar Daddy-nya? Dia cantik, pintar, tidak banyak bergosip dan sangat menarik. Tapi, Leona bukan saya jadikan sebagai wanita simpanan, melainkan incaran saya. Kalau kalian sirik, cari Sugar Daddy sendiri sana. Lihatlah, ada yang mau tidak dengan perempuan yang suka bergosip seperti kalian!" geram Emran membela Eleonara karena dia tidak bisa tinggal diam melihat Eleonara dibicarakan jelek begitu. Emran sudah memahami situasinya bagaimana teman-teman Eleonara mengolok-olok. Pasti karena penampilannya yang berbeda dari siswi-siswi sok cantik pada umumnya.


Emran menyuruh para siswi itu bubar karena dia bukan tontonan gratis. Para siswi yang merasa tersinggung karena sikap kasar Emran pun pergi sambil menggerutu tidak jelas.


Ck, Emran Bey benar-benar cari masalah. (Batin Eleonara mengeluh, tapi dia pasrah karena tak bisa berbuat apa-apa)

__ADS_1


"Kamu juga kenapa masih di sini?" kata Emran pada Midas. "Saya dengar tadi katanya lamaranmu ditolak? Kalau sudah di tolak, ya sudah. Jangan mengharapkan apa-apa lagi. Beri yang lain kesempatan untuk mengejarnya," ujarnya dengan wajah sombong.


"Cih, apa hakmu menyuruh saya pergi? Lagipula kalau saya belum dengar Nara mengkonfirmasi hubungan kalian, saya tidak akan mau percaya begitu saja," bantah Midas keras kepala.


"Kamu pikir disaat situasi seperti ini dia akan berkata dengan jujur?!" balas Emran sambil berkacak pinggang.


"Kenapa tidak? Kita tidak tahu kalau belum mencobanya. Kenapa? Takut kalau ternyata ucapanmu barusan hanya omong kosong?" singgung Midas dengan dagu terangkat naik. Dia seolah sedang menantang Emran berkelahi.


"Heh, tidak ada kata takut dalam kamus besar saya. Leona, dia sedang meragukan ucapan saya Katakan dengan jujur, apa kamu lajang? Tidak boleh berbohong, dosa!" seru Emran sambil menatap tajam pada bola mata Eleonara.


Glek!


Eleonara menelan salivanya sambil meremas seragam dengan keringat dingin mengucur di kening. Midas dan Vivian pun melihatnya dengan tatapan penuh tanya. Ada sedikit gurat kesedihan dari sorot mata Midas, seolah dia tidak ingin dengar jawaban yang akan membuat hatinya kacau.


"El? Jawab jujur!" Vivian pun menekannya, membuat pikiran Eleonara semakin berkecamuk tidak tenang.


Eleonara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak lajang. Aku sudah memiliki pria di sisiku," jawab Eleonara sambil menundukkan wajahnya. Tidak berani melihat ekspresi Vivian dan Midas setelahnya.


Kriing!!


Kriing!!


"El, tunggu!" Vivian berusaha mengejar Eleonara dan mengacuhkan kakaknya begitu saja. Tidak penting seperti apa perasaan kakaknya saat ini, yang terpenting adalah mendengar penjelasan sahabatnya mengenai ucapannya barusan. Dasar adik kurang ajar!


Saat Vivian masuk ke dalam kelas yang Eleonara masuki, seorang pengawas menghentikannya. "Kamu Vivian, kan?! Nama dari awalan V ada di ruangan sebelah. Di ruangan ini hanya dari awal A-J saja," katanya dengan tegas.


"Tapi, ada yang harus saya omongin dulu Pak sama Eleonara," kata Vivian sambil berusaha mengintip Eleonara duduk di kursi mana dia. Namun, Eleonara tidak terlihat, sepertinya sedang bersembunyi di belakang tubuh salah satu murid.


"Tidak bisa. Sekarang sudah waktunya masuk. Bicarakan nanti saja setelah ujian selesai." Bapak Pengawas menyuruh Vivian pergi dan langsung menutup pintu kelas.


...


Selesai ujian.


Eleonara menghindari kelas di mana Vivian mengikuti Try Out. Dia berusaha menyelesaikan ujian lebih dulu dari yang lain agar dapat diizinkan pulang lebih awal. Eleonara tahu kapasitas otak sahabatnya-Vivian, pasti dia akan pulang paling akhir. Jadi, Eleonara memanfaatkan kesempatan itu untuk menghindarinya.

__ADS_1


Namun, begitu ke luar gerbang Sekolah, Eleonara melihat mobil Emran terparkir di depan halte. Eleonara mengintip ke dalam mobil Emran dengan tatapan penuh tanya, tapi Emran tidak ada di dalam mobil.


"Tidak ada siapa-siapa. Masa iya, bukan mobil Emran Bey?" gumamnya sambil terus memeriksa isi mobil itu.


"Kamu cari saya?" bisik Emran dari belakang yang membuat Eleonara terlonjak kaget setengah mati.


"Astaga, Emran Bey, bikin jantungan saja!" gerutu Eleonara sambil mengelus-elus dadanya. "Emran Bey sedang apa di sini? Belum pulang dari tadi?"


"Nunggu kamu keluar. Sudah selesai, ulangannya?" tanyanya ramah sambil menyesap es boba yang gerainya bersebelahan dengan sekolahan Eleonara. Di tangan sebelahnya menggenggam es boba lain.


Eleonara menganggukan kepalanya. "Tapi, nunggu aku pulang, kenapa?"


"Kita bukannya akan menghabiskan 24 jam bersama?" kata Emran sambil memberikan sebotol es boba pada Eleonara. "Sejukkan pikiranmu. Sepertinya kamu memang pintar ya, saya perhatikan dari tadi belum ada satu pun murid yang keluar, baru kamu saja. Saya sempat mengobrol dengan penjual es boba ini. Dia memberitahu banyak tentang bagaimana kamu di Sekolah. Kamu suka beli es boba di samping sekolahmu, kan?" kata Emran.


Tiba-tiba saja...


"Eleonaraaaa! Jangan coba-coba kabur lagi kamu!" teriak Vivian sambil menggenggam sepatu ditangannya yang siap dia lempar ke arah Eleonara dengan tatapan memburu.


"Vi-Vivian?! Celaka, bagaimana dia bisa keluar dengan cepat. Emran Bey, bawa aku pergi, cepat! Aku belum siap menjelaskan pada sahabatku itu kalau aku sudah menikah." Eleonara menggerutu sambil masuk ke dalam mobil Emran.


Emran melempar bungkus es boba ke tempat sampah dan buru-buru membawa lari Eleonara dari Vivian yang kelihatannya sedang murka.


"Argh, Eleonaraa!!" teriak Vivian yang lagi-lagi frustrasi, sambil melempar sebelah sepatunya. Berharap mengenai mobil Emran, tapi sayangnya Vivian bukan ahli dalam lempar jauh. Jarak sepatunya yang dia lempar hanya berjarak tidak lebih dari dua meter saja.


Padahal Vivian sudah mengerahkan segala tenaga dan upaya untuk dapat mengisi soal-soal ujian dengan cepat, berharap Eleonara tidak bisa lolos lagi darinya kali ini.


Begitu Vivian ke luar dari kelasnya dengan penuh sukacita karena baru kali ini selesai lebih dulu dari yang lain saat sedang ujian, lalu Vivian sengaja menunggu Eleonara di luar kelasnya. Tidak disangka, Bapak Pengawas ruang Eleonara bilang kalau Eleonara baru saja keluar. Sia-sia usahanya kalau tahu akhirnya akan sama saja.


**


Emran Bey : "Enaknya saya bawa Leona ke mana, ya? Langsung mengantarnya pulang sepertinya tidak asik."


....


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2