Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Goyah Sedikit Iman Saya, Menjerit Kamu


__ADS_3

"Merindukan saya?" Juna merasa aneh dan bertanya-tanya, seakan tak percaya Eleonara bicara begitu. Membuatnya salah tingkah saja.


"Rasanya tidak ada Pak Juna di rumah sepiii sekali," bisik Eleonara sambil memeluk guling di dalam selimutnya. Suaranya mendengung di dalam sana.


"Saya jadi ingin segera menyelesaikan pekerjaan saya di sini dan terbang menemuimu," ujar Juna sedikit merayu.


"Terbang saja kalau ada sayap."


"Ha, nanti saya pinjam pada burung. Kamu tunggu ya, bukakan pintu. Saya sampai dalam satu menit lagi. Hati-hati dengan tubuhmu, saya akan langsung menerkamnya."


"Uh, Pak Juna! Kemarin malam saja memperingati begitu, pagi-paginya langsung nyosor," gerutu Eleonara dengan pipi bersemu merah. Kedua lesung di pipinya timbul dengan indah karena bayangan Juna saat mengecupnya melayang-layang di kepala.


Juna tampaknya sedang menertawainya di sana. "Saya tidak pernah main-main, Leona. Jadi, kamu harus memperlakukan saya dengan sangat hati-hati. Goyah sedikit iman saya, menjerit kamu."


Eleonara menutup seluruh wajahnya. Perkataan Juna sukses membuat pikirannya terpengaruh hal-hal negatif. Apa yang dimaksud dengan menjerit? Seketika saja membuatnya tersipu.


"Hah, saya benar-benar ingin pulang sekarang. Membuka pintu kamar, merayap ke atas ranjang dan memelukmu dengan erat dari belakang," racau Juna yang semakin membuat Eleonara senyum-senyum sendiri. Pikirannya sudah liar, berlarian ke mana-mana karena Juna.


"Ah!" rintih Eleonara tiba-tiba sambil menyentuh bibirnya. Lagi-lagi lupa kalau bibirnya sedang terluka.


"Ah, kamu bilang? Sedang mencoba menggoda saya, ya?! Kamu tahu tidak, gairah saya lebih mudah terbakar di pagi hari. Kalau kamu bisa lihat, bulu kuduk saya sampai merinding sekarang," ucap Juna lirih. "Sudah dulu, ada yang harus saya selesaikan di kamar mandi. Beri saya kecupan, cepat!" tuntutnya tak sabaran.


"Ke-kecupan? Bagaimana?" tanya Eleonara bingung.


"Muah!"


Blush...

__ADS_1


"Astaga, Pak Juna benar-benar genit!" Pipi Eleonara kembali merona. Tangannya sampai meremas seprei dan giginya menggigit sarung bantal saking gemasnya pada tingkah Juna. Seumur-umur baru merasakan gombalan parah seperti itu. Rasanya seakan melayang di udara. Eleonara tampak seperti remaja yang sedang kasmaran.


"Genit pada istri sendiri adalah suatu keharusan. Mana kecupannya? Lama sekali."


Eleonara membenamkan wajahnya pada bantal sambil memeluk erat dua guling sekaligus. Denyut jantungnya berdebar tak karuan. Dia bersiap-siap dan, "Muah!" Buru-buru Eleonara mematikan telepon setelahnya karena sangat memalukan baginya. Darah seakan mengalir dengan panas ke seluruh tubuh.


"Huaaa ... malu sekali, huhu!" teriaknya sambil menyibak selimut seperti orang gila, tapi itu menunjukan kalau Eleonara sangat senang. Rasa sakit bibir, lengan dan pahanya sampai tak dirasa lagi.


...


"El! Eleonara!" panggil Vivian saat Eleonara akan memasuki kelas 12 Mipa-1. Vivian berlari menghampiri sambil terengah-engah.


"Kenapa, Vi? Segitunya ngefans sama aku," canda Eleonara.


"Aih, PD banget! Duduk dulu, buruan!" bisiknya sambil menggiring Eleonara ke kursi. "Gimana kemaren sama Mak Lampir dan si Kakak Lampir? Kamu pasti habis dimarahin mereka, kan? Tuh, mata kamu juga keliatannya sedikit bengkak. Pasti nangis semaleman, iya kan!"


"Gak bener gimana? Ngawur mereka! Terus kamu jelasin yang sebenernya gak?"


"Iyalah, aku bilang kalau aku sama kamu cuma nanya lowongan doang di Hotel itu, gak ada yang macem-macem. Aku dimarahin dikit, udah gitu langsung pulang deh."


"Bohong! Pasti ada yang lebih dari sekedar 'dimarahin doang'. Liat aja, kamu sampai nangis semaleman gitu, gak mungkin cuma dimarahin doang," cecar Vivian mendesak Eleonara untuk jujur.


"Bener, Vi, cuma di marahin doang. Kalau nangis sih, mereka ada sedikit nyinggung tentang aku yang dibuang waktu bayi, jadi kepikiran sampai nangis semaleman. Tau kan, perasaan aku sensitif kalau ada yang bahas tentang itu."


"Hmm ... bener ya, gak bohong?" Vivian masih meragukan Eleonara. Matanya menyipit memeriksa apakah Eleonara benar-benar bicara jujur.


Eleonara menyentuh bibirnya yang berdenyut sambil mengangguk. "Gak percayaan banget. Kalau ada apa-apa juga biasanya aku terbuka kan, sama kamu."

__ADS_1


"Huff, iya deh, percaya. Oiya, El, tau gak kemaren waktu aku ngelaporin si Risty, ternyata ada aduan lain juga ke Kepsek. Banyak banget aduannya, jadi kita bisa tenang, mereka gak bakal gangguin kita. Katanya sekarang si Risty di panggil ke ruang BK. Aku tebak ya, paling kena skorsing beberapa hari doang. Soalnya udah mau ujian kelulusan, gak mungkin juga sekolah ngeluarin dia," ucap Vivian menceritakan yang dia tahu.


"Baguslah. Sedikit pelajaran biar dia gak bertingkah terus."


"Satu lagi, El. Aku mau nunjukin sesuatu ke kamu." Vivian merogoh saku bajunya dan mengeluarkan ponselnya. Dia memperlihatkan akun sosial media Juna pada Eleonara.


"Akun sosmed Pak Juna? Kenapa?" tanyanya dengan kerutan di kening.


"Ck, Mr.Juna kali! Mulai hari ini aku udah fix jadi fans berat Mr.Juna! Follow dong, liat tuh, semua foto-fotonya keren banget. Di Paris, di Menara Pisa, di Cappadocia juga, masih banyak lagi ke bawahnya aku udah scroll semaleman, huhu ... gantengnya gak ada obat! Gayanya udah kayak model papan atas aja. Tapi, rumor tentang dia udah nikah itu bener gak, ya? Soalnya ada postingan terbaru Mr.Juna, nih liat. Dia pake cincin di jari manisnya. Di foto sebelumnya kan, gak ada tuh dia pake cincin kayak begitu," gerutu Vivian sambil membesarkan salah satu foto Juna yang sangat tampan dan penuh wibawa.


Eleonara menyentuh kacamatanya sambil berkata dengan gugup, "Paling cincin biasa doang, bukan cincin nikah. Bisnisnya kan, bergerak di bidang agate sama jewelry. Gak heran kalau dia pake salah satu perhiasan."


"Lho, kamu tau bisnis Mr.Juna? Dari mana?" tanya Vivian sambil menatap heran.


"Eh? Emm ... i-itu, waktu seminar minggu lalu dia kan sempet bahas bisnisnya. Emang kamu gak denger?" bual Eleonara sambil meremas lutut dengan keringat dingin.


"Iya gitu? Aku gak inget, ah."


"Kayaknya waktu Pak Juna lagi bahas materi, kamu cuma liat mukanya doang, gak merhatiin apa yang dia bahas, ya?" sindir Eleonara.


"Hehe, ya gitulah. Kayak yang gak tau aku aja. Tapi, El, kayaknya aku pernah liat deh, cincin yang Mr.Juna pake ini. Di mana gitu, ya? Familiar aja rasanya," ucap Vivian sambil memperhatikan dengan seksama cincin yang tersemat di jari manis Juna di foto.


Eleonara menelan salivanya kuat-kuat. Dia semakin erat meremas lutut karena dia takut. Takut ketahuan, sebab Eleonara pernah tak sengaja memakai cincin pernikahan ke Sekolah dan itu dilihat oleh Vivian. Vivian sempat bertanya dan memuji kalau cincinnya bagus. Besoknya Eleonara tak memakai cincin itu lagi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari.


....


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


Kalau suka ceritanya, terus dukung ya. Like, komen & hadiahmu akan sangat membantu^^


__ADS_2