
Malam hari, sebelum besoknya Sekolah, Eleonara sedang mengerjakan tugas di meja ruang tamu. Buku tulis, serta beberapa buku paket berceceran di atas meja. Eleonara tampak sedang mencari jawaban dengan ekspresi serius dari salah satu buku paket.
Sesekali dia menyesap es boba yang dia beli di luar untuk mencairkan kepalanya yang terasa sudah mendidih. Stres mencari rumus molekul, bikin kepala cenat-cenut.
Ponselnya berbunyi, ada panggilan telepon masuk. Begitu dilihat, ternyata Vivian yang menelepon.
"Hm, ya, Vi?" ucap Eleonara sambil menyentuh kacamatanya.
"Lagi ngerjain tugas Kimia, gak?"
"Iya, kenapa?" tanyanya curiga.
"Hehe, udah dikerjain semua belum?" Vivian malah cengengesan, mengisyaratkan kalau dia menelepon memang memiliki maksud dan tujuan tertentu.
"Belum semua, sih. Tinggal, no.7 sama no.9 yang belum di isi. Bingung konfigurasi elektronnya, belum ketemu jawabannya," gerutu Eleonara. "Kamu no.7 sama 9 gimana?"
"Yaelah, El, kamu aja bingung apalagi aku yang cuma remahan ini. Belum ada satupun yang aku isi. Nelpon kamu juga pengen minta jawabannya, hihi."
"Aih, sudah kuduga," ledek Eleonara. Tiba-tiba saja matanya melihat Juna ke luar dari ruang kerjanya dan hendak memanggilnya untuk dibuatkan kopi. Refleks Eleonara mengangkat tangannya, mengisyaratkan pada Juna untuk diam, jangan bicara.
"Ssttt, aku sedang teleponan dengan Vivian," bisik Eleonara dengan suara yang sangat kecil, nyaris tidak terdengar. Juna mengerti dari gerakan mulutnya yang komat-kamit.
"Halo, El? Lagi ngomong sama siapa? Di marahin Mak Lampir?" tanya Vivian di balik telepon.
"Gak, gak ngobrol sama siapa-siapa. Ada kecoak tadi gangguin."
Juna langsung menoleh dengan tatapan tajam setajam silet. Niat hati ingin pergi, tapi setelah mendengar Eleonara menyebutnya sebagai kecoak (hewan yang sangat-sangat menjijikan baginya), dia langsung melangkah mendekati.
Eleonara beranjak bangun sambil masih mengobrol dengan Vivian di telepon. Dia merasa terancam kalau Juna sudah mendekatinya seperti itu.
__ADS_1
"El, Kak Midas nanyain kamu terus, tahu!" kata Vivian.
"N-nanyain gimana? Udah sembuh emang?" tanyanya sambil duduk di pojok sofa dengan tangan kiri mengangkat, menyuruh Juna untuk tidak mendekatinya. Namun, dalam sekejap Juna sudah duduk di sampingnya dengan tangan beruratnya yang melingkar di perut.
"Udah mendingan, sih. Katanya kapan kamu mau main ke rumah? Kayaknya seminggu ini kamu juga agak ngehindarin aku deh, El. Kenapa, sih? Aku ada salah ya, ke kamu?"
"Ah, masa sih? Aku gak ngerasa kayak gitu." Eleonara menepuk pelan tangan Juna yang masuk merayap ke dalam baju piyamanya.
"Eh, El, ada Kak Midas, nih! Katanya mau ngobrol sama kamu," seru Vivian tergesa-gesa. Belum sempat Eleonara menolaknya untuk jangan diberikan pada Midas, suara Midas sudah terdengar di balik telepon.
"Nara?" panggilnya lembut.
Eleonara menepuk keningnya, terlihat putus asa. Dia melirik ke arah Juna yang sedang mengawasi sambil memeluknya manja seperti seorang bayi yang minta mimi pada sang Ibu.
"Ya, Kak Midas?" bisik Eleonara hati-hati.
Benar saja, mata Juna langsung mengkilap sambil melotot tajam. "Ma-ti-kan," ucap Juna tanpa suara, mulutnya hanya mangap-mangap.
"Alihkan ke panggilan video. Saya ingin lihat kamu," kata Midas yang membuat tubuh Eleonara panas dingin. Eleonara menggerakan tangannya menyuruh Juna pergi, tapi Juna malah semakin menempel padanya.
Midas sudah mengalihkan panggilan suara ke panggilan Video. "Angkat, Nara."
Duh, gimana ini? Kalau dimatikan, aku semakin gak enak sama Kak Midas. (Batin Eleonara)
Pada akhirnya Eleonara menjawab panggilan video itu dengan mendekatkan layar ponsel dan hanya memperlihatkan sekitar wajahnya saja.
Ini apa lagi sih, Pak Juna malah melepaskan kancing piyamaku! Please, Pak Juna, beri aku kedamaian, huhu.... (Batin Eleonara)
"Kenapa, Nara? Kelihatannya kamu tertekan?" tanya Midas.
__ADS_1
"Oh, t-tidak, kok. Hanya pusing memikirkan tugas Kimia saja, hehe," jawabnya sambil memaksakan tersenyum. Tangan kirinya menahan tangan Juna yang semakin liar tak terkendali. Semua kancing piyama sudah terlepas.
"Seminggu ini saya rasa kamu menghindari saya. Setiap saya menyuruhmu untuk datang ke rumah, kamu selalu mengalihkan pembicaraan. Kamu merasa tidak nyaman dengan perlakuan saya?" tanya Midas yang terdengar sangat jelas di telinga Juna. Suara Midas yang lemah lembut membuat hatinya panas membara.
"Bu-bukan, bukan begitu."
"Apa karena masalah di rumah?" duga Midas dengan mata menyipit. "Nara, saya sudah dengar masalah kamu dengan kakak dan ibu tirimu dari Vivian, saya merasa sangat sedih kamu melalui hidup yang berat seperti itu. Malam kemarin saya sudah bicara dengan ibu dan ayah saya, saya ingin menolongmu ke luar dari rumah itu dengan cara melamarmu. Apa boleh?!"
Ctar!!
Kedua mata Eleonara membulat sempurna. Begitu pun dengan Juna yang mendengarkan, matanya lebih bulat dari Eleonara, nyaris ke luar dari rongganya.
"Sebenarnya kemarin ingin langsung memberitahumu, tapi pesan terakhir saya saja belum kamu balas. Saya jadi over thinking. Kalau kamu setuju, saya dan keluarga saya akan datang ke rumahmu."
"Ah!" des'ah Eleonara tiba-tiba. Buru-buru dia menutup mulutnya. Juna sedang menye'sap salah satu dadanya dan membuat tubuhnya mengejang secara spontan.
"Kak, kita bicarakan ini nanti." Eleonara mematikan telepon itu dengan perasaan kesal, lalu mendorong tubuh Juna dan melepaskan diri.
"Pak Juna apaan, sih?! Aku sedang mengobrol dengan Kak Midas, jangan seperti itulah! Bagaimana kalau Kak Midas melihatnya tadi?!" gerutunya marah sungguhan sambil mengancingkan kembali piyamanya.
"Saya tidak suka kamu dekat dengannya, kamu tidak mengerti?" tuntut Juna dengan kening mengernyit dan sorot mata yang tajam. "Karena kamu terus meresponsnya, dia jadi semakin berani sampai ingin melamarmu. Bagaimana kamu akan menyikapinya nanti? Bagaimana jika dia benar-benar membawa orang tuanya ke rumahmu? Dan orang tuamu akan mengatakan yang sebenarnya kalau kamu sudah menikah. Semua kebohongan dan rahasiamu akan terbongkar. Vivian sebagai sahabatmu akan turut membencimu. Kamu mau kehilangan sahabatmu?!" cecar Juna mengintimidasi sambil berkacak pinggang.
Eleonara langsung terdiam seribu bahasa dengan wajah menuduk murung serta bibir cemberut setelah mendengar Juna menegurnya tegas untuk yang pertama kali. Hatinya sakit bak tertusuk ribuan duri karena sebelumnya yang dia terima selalu gombalan, rayuan dan perkata-perkataan lembut dari Juna. Sekarang Juna bicara dengan nada meninggi dan tatapan penuh amarah. Cukup menghantam perasaannya.
Kedua mata Eleonara berkedut memerah panas.
Juna menghela napas hampa melihat mata Eleonara sampai berkaca-kaca setelah ditegur olehnya. Dia meredakan amarahnya dan menjernihkan pikiran, lalu meraih tubuh Eleonara. Memeluknya erat. Sesekali dia kecup kepala Eleonara.
"Maaf ya, mengejutkanmu. Lain kali, kalau saya bilang tidak atau jangan, sebaiknya kamu menurut," bisiknya lembut. "Saya bicara seperti itu juga untuk kebaikanmu. Saya tidak ingin ada duri dalam rumah tangga kita."
__ADS_1
...
BERSAMBUNG!!!