
Begitu pintu di buka, Eleonara melihat kurir paket di luar gerbang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Di tangan kirinya menggenggam sebuah paket dibungkus plastik hitam.
"Ah, ya ampun. Aku pikir siapa. Paket aku atau paket Pak Juna, ya?" gumam Eleonara sambil berlari kecil menghampiri.
"Atas nama Leona?" tanya kurir memastikan sebelum memberikan paket tersebut.
"Benar, saya." Barulah Eleonara menerima paketnya dan dimintai foto serta tanda tangan sebagai bukti.
Setelah itu Eleonara membawa paketnya masuk ke dalam dengan penuh suka cita. Dia sampai melompat-lompat kegirangan menghampiri Juna yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Juna sedang mencuci agate berwarna biru safir yang sudah dibentuk menyerupai earings atau anting.
"Paket lagi? Pasti isinya pakaian," duga Juna karena akhir-akhir ini Eleonara suka menghabiskan uang untuk membeli pakaian baru dengan model kekinian.
"Hehe, iya, dong. Kamu kan, pernah bilang kalau aku harus merubah gayaku. Aku itu asal dimodalin bisa kok, jadi cangtip hihi," ujar Eleonara sambil cekikikan. Dia mengambil gunting dan membuka plastik hitam tersebut.
Kedua matanya berbinar ria saat melihat pakaian model kekinian yang dia idam-idamkan akhirnya berada di genggaman tangannya. "Sayang, gimana ... bagus tidak?"
Juna menoleh menatap pakaian yang Eleonara tunjukan padanya. Bajunya berwarna putih campur biru soft kotak-kotak berlengan panjang beserta dengan rok mininya.
"Mana celananya?" tanya Juna karena pakaian itu terlihat menyatu dan pendek.
"Ini satu set pakaian dengan rok. Tidak ada celananya."
"Mau menggoda siapa pakai rok sependek itu? Mentang-mentang postur tubuhmu sudah mulai membentuk. Hah, pantas saja akhir-akhir ini banyak membeli pakaian-pakaian seksi dan belajar make up. Rupanya ada udang di balik batu," ujar Juna sambil menyipitkan matanya.
"Hahaha, fitnah! Aku begini juga untuk menyenangkanmu. Memangnya matamu tidak segar kalau lihat aku selalu cantik dan seksi?" kata Eleonara.
"Pakaian seksi tidak boleh dipakai keluar. Cukup saya saja yang boleh lihat. Coba ganti, saya ingin lihat kamu cocok tidak pakai itu," titah Juna sambil menyapu tangannya menyuruh Eleonara masuk kamar.
Namun, Eleonara tidak menuruti perkataan Juna. Dia melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan yang baru, tepat di hadapan matanya.
"Leona?" panggil Juna dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia meletakan earrings agate di atas meja. "Haruskah ganti pakaian di sini?"
"Kenapa memangnya? Tidak ada orang ini."
__ADS_1
"Saya kamu anggap apa?"
"Ahehe, kamu kan suamiku, bukan orang lain. Setiap inci dari tubuhku sudah kamu lihat dan bahkan kamu cicipi, apa yang perlu ditutupi?" balasnya sambil mengancingkan rok mini sejengkal di atas lutut itu.
Eleonara kemudian berlari kecil ke kamarnya untuk melepas kacamata dan menggantinya dengan softlens minus berwarna hitam dengan diameter yang cukup besar, matanya terlihat seperti mata boneka. Setelahnya, Eleonara memakai riasan mata berwarna flawless, eyeliner cokelat, maskara dan juga lipstik nude. Dia mempelajari make up dari internet. Asal ada kemauan menggunakan jalur apa pun, pasti bisa.
Tak lupa Eleonara mencatok rambutnya agar bergelombang dengan rapi dan indah. Sedikit sentuhan terakhir, dia menyelipkan jepit rambut pita di sisi kiri atas telinganya dan memakai sepatu boots putih bertali hitam.
"Omo, daebak! Aku seperti eonni-eonni Korea saja."
Terlihat dari wajahnya, Eleonara sangat puas dengan pencapaiannya saat ini. Tidak ada penyesalan mengikuti kemauan Juna untuk memperbesar bagian-bagian sensitifnya dan olahraga bersama, juga dibantu dengan racikan jus buah+sayuran agar mempercepat proses pembentukan tubuhnya. Meski tidak enak, harus dia tahan demi hasil yang maksimal kelak.
Kedua dadanya sudah mulai membesar dan terlihat penuh, pinggangnya ramping, bokongnya padat berisi. Namun, semua itu belum maksimal, masih perlu beberapa waktu lagi.
"Aşkım (cintaku)?" panggil Eleonara manja sambil menghampiri Juna yang masih saja sibuk membersihkan agate earrings.
Eleonara tersipu malu. Dia berjalan menghampiri sambil menepuk bibir Juna. "Air liurmu sampai menetes tuh, jorok!"
"Mana ada," bantah Juna. Dia mengeringkan tangannya dengan lap kecil, lalu tangannya itu merayap masuk ke dalam rok Eleonara.
"Hey!" Eleonara langsung menepis tangannya.
"Neden?" tanya Juna keberatan dengan penolakan Eleonara.
"Aku kan, baru datang bulan. Mau apa itu tangan pegang-pegang?"
"Huff ... tamam, kalau begitu jangan berkeliaran di depan mata saya dengan pakaian seperti itu. Pergi ganti lagi bajunya, kunci diri di kamar. Pakai baju yang panjang dan tebal! Kebiasaan kamu, setiap datang bulan pasti pakai pakaian seksi dan merias diri sambil memanggil saya dengan manja. Sengaja menggoda saya," gerutu Juna dengan bibir cemberut.
Eleonara tertawa terbahak-bahak melihat bibir tipis Juna komat-kamit seperti baca mantra. Setiap kali dia datang bulan, memang merupakan momen langka melihat Juna tersiksa tak bisa menyentuhnya. Bahkan tak jarang Juna bersikap cuek dan acuh pada Eleonara. Juna hanya tidak ingin terrangssang saja.
"Kalau begitu aku ke luar saja, mumpung libur sekolah. Refreshing otak. Sayang kan, cuaca cerah begini malah dikurung di kamar. Bulan depan sudah mulai Try Out," ucap Eleonara sambil memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Tidak boleh!"
"Ayolah, cuma perawatan. Biar Pak Syam yang antar jemput. Ya, ya, ya? Please ...," rengek Eleonara sambil menggelayut manja di lengan Juna.
Juna masih enggan menyetujui. Eleonara sudah mengecup pipinya berkali-kali pun, tetap saja Juna menggelengkan kepalanya.
"Wajahku sudah terlihat kusam, kantung mata menghitam seperti panda. Komedo di mana-mana. Tega sekali seorang Juna Syach Emirhan tidak memperbolehkan istrinya perawatan. Bagaimana pandangan orang kalau tahu, pasti akan jadi gosip kalau kamu kekurangan uang," keluh Eleonara sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kekurangan uang? Yang benar saja. Bukannya beberapa hari yang lalu baru perawatan?" tanya Juna.
"Beberapa hari apanya? Sudah dua Minggu yang lalu itu. Ayolah, Sayang, boleh ya aku perawatan? Kalau tidak boleh, aku ke pusat perbelanjaan nih, atau nongkrong di kafe?" ancamnya.
Juna menghela napas hampa sambil menjepit keningnya. "Ya sudah, suruh Syam menjagamu. Hari ini saya harus ke pabrik, lalu menemui Mr.Rudolf di Bandung."
"Hehe, baiklah. Hati-hati di jalan, ya. Muah, muah, muah!" Eleonara menghujani wajah Juna dengan kecupan sampai Juna mengernyitkan matanya, pasrah mendapat serangan.
Tiba-tiba saja Eleonara menjulurkan tangannya. Juna kira mau langsung pergi.
"Apa?" tanya Juna pura-pura tak tahu.
"Fulus, hehe ...."
Juna tersenyum pahit saat mengeluarkan dompetnya. Kali ini tidak dapat apa-apa dari Eleonara, hanya dapat kecupan saja. Dia pun memberikan uang gepokan pada Eleonara. Eleonara menyadari kalau Juna tidak puas dengan imbalan yang dia berikan.
Eleonara mengambilnya, lalu membungkukan tubuhnya. Dia menyesap bibir bawah Juna sambil meremas jamur supernya di bawah sana. Sekujur tubuh Juna mengejang secara spontan.
"Astaga, ternyata sudah bangun. Sejak kapan sekeras itu? Hahahaaa!!" Tawa Eleonara pecah. Dia segera mengambil langkah seribu karena terlambat melarikan diri sedetik saja, Juna pasti langsung menyeretnya ke ranjang.
"Leona ...!" teriak Juna sambil menjepit pahanya dengan wajah merah mengepulkan asap panas.
....
BERSAMBUNG!!
__ADS_1