Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Aku Hanyalah Anak Tidak Beruntung


__ADS_3

Di perjalanan pulang ke rumah, Sora terus saja menangis sambil merutuki perlakuan Eleonara padanya. Dia menyumpahserapahi Eleonara agar hubungannya dengan Juna selalu diterpa banyak masalah dan kalau bisa langsung pisah saja.


"Mariam, jangan diam saja! Tenangkan anakmu. Aku sedang menyetir, suara tangisnya sangat mengganggu konsentrasi!" seru Abraham kesal.


"Ayah, Ayah tidak benar-benar akan menghukumku, kan? Ayah tidak mungkin tega memotong uang jajanku selama sebulan dan mengambil kartu kreditku?" rengek Sora sambil terisak-isak.


"Sora, kalau kamu masih punya otak, pakai untuk berpikir! Jangan bertindak gegabah sampai berani menyinggung Juna. Bisa-bisanya kamu menenggelamkan adikmu ke kolam renang yang di mana kolam renang itu berada di rumah suaminya sendiri. Sin'ting, kamu! Apa tidak pernah berpikir kalau di rumah sebesar dan seluas itu pasti akan ada CCTV-nya?! Ayah memotong uang jajanmu dan mengambil kartu kreditmu merupakan hal yang pantas kamu dapatkan!" Abraham baru saja meledakkan emosinya sambil menyetir. Kepalanya mengeluarkan kepulan asap seperti air mendidih.


"Ibuuu, huhuu... Ayah berkata kasar padaku dan meneriaki aku," isak Sora sambil memeluk Mariam di sampingnya dengan air mata yang terus mengalir.


Mariam memeluknya tak tega sambil mengusap punggung serta lengannya. "Abraham, hanya karena anak pungut sialan itu kamu sampai memarahi anakmu sendiri. Apa otakmu bermasalah?!" belanya protes.


"Otakmu yang bermasalah! Anak pungut juga sudah berkontribusi sangat besar untukku, anak kandung sendiri malah tidak berguna! Kalian sekarang lihat, kalau ternyata Juna sangat melindungi Eleonara. Itu artinya Eleonara tidak bisa kita ganggu sedikit pun. Kalian kan, tahu siapa itu Juna dan keluarganya bagi kita. Untung saja Eleonara tidak menyulitkan kita dengan membawa permasalah ini sampai ke ranah hukum. Keputusan Eleonara sangat mempengaruhi Juna, hal itu akan berdampak buruk pada bisnisku. Kalian mau membuatku bangkrut lagi? Mau hidup di jalanan seperti gelandangan?!" bentaknya benar-benar marah kali ini.


Mariam dan Sora hanya bisa bungkam saat Abraham sudah mengungkit masalah harta, bangkrut dan menjadi gelandangan. Beberapa bulan terakhir sudah merasakan seperti apa rasanya tidak punya uang untuk berbelanja sampai harus menjual barang-barang berharga dan menghutang ke sana-kemari. Setelah Eleonara menikah dengan Juna ekonomi mereka baru saja stabil, mereka tidak mau kembali ke masa-masa tersulit. Mariam dan Sora memilih untuk mundur selangkah dulu untuk melompat lebih jauh.


Tiba-tiba saja ponsel Mariam berdering. Ada panggilan masuk. Mariam berusaha mengontrol emosinya, lalu memeriksa siapa yang menelepon.


"Varel?" Mariam langsung menjawabnya tanpa pikir panjang karena sudah beberapa minggu Varel tidak mengabarinya, membuatnya cemas saja.


"Ya, Sayang? Ke mana saja kamu? Sudah beberapa minggu tidak menghubungi Ibu." Suara Mariam terdengar normal, seperti tidak terjadi apa pun.


"Siapa, Bu? Kak Varel?" tanya Sora berbisik yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Mariam.


"Aku sangat sibuk akhir-akhir ini menyiapkan laporan penyelesaian. Bu, kenapa nomor Ele tidak aktif terus? Apa dia baik-baik saja?" tanya Varel yang terdengar mencemaskannya.


"Kenapa yang pertama kali kamu tanyakan malah dia, bukannya adik kandungmu sendiri?" geram Mariam, masih terbawa suasana emosi.


"Hah, aku sudah beberapa kali berkirim pesan dengan Sora. Apa Ibu sedang bersama Ele sekarang? Aku ingin bicara dengannya," ujar Varel.


"Ele?" Mariam saling bertatapan dengan Abraham dari kaca spion tengah. Abraham memberikan isyarat untuk tidak memberitahu Varel masalah pernikahan Eleonara dengan Juna. Varel pasti akan sangat marah jika tahu. Mereka belum mempersiapkan alasan kuat untuk memberitahunya.

__ADS_1


"Ibu sedang di jalan. Mungkin ... dia masih di sekolahnya," bualnya.


"Kenapa nomornya sulit dihubungi? Setiap aku menghubunginya selalu saja tidak aktif," tanya Varel mengulangi pertanyaan yang belum sempat dijawab.


"Oh, itu ... dia ... ganti nomor."


"Ganti nomor? Hah, pantas saja. Kalau begitu kirimkan nomor barunya padaku. Aku tunggu ya, Bu."


-tut-


Panggilan telepon diakhiri.


"Selalu saja si culun yang jadi prioritas Kak Varel. Heran aku, Bu. Kayaknya Kak Varel bukan sayang sebagai kakak adik sama si culun, melainkan sayang sebagai lawan jenis. Perhatiannya terlalu berlebihan, aku kadang-kadang muak lihatnya!" seru Sora protes sambil menggertakan rahangnya.


"Diam kamu, Sora! Ayah tidak memperbolehkanmu bicara sampai kita tiba di rumah!" gertak Abraham tegas.


...


"Sedang baca novel," jawabnya. Mata Eleonara tertuju pada isi novel, bahkan tidak menengok Juna sama sekali.


Juna menatapnya dalam diam. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil yang begitu polos dapat menyimpan luka dan memikulnya sendiri selama ini. Juna semakin tidak tega jika terus membayangkannya.


"Saya dengar kamu bukan anak kandung Pak Abraham."


Deg!


Eleonara menyentuh kacamatanya dengan bola mata melirik ke sana kemari. Dia tampak resah dan minder mendengar Juna berkata demikian.


"Iya, memang bukan. Aku diangkat Ayah saat kecil. Kamu tahu dari mana?" tanya Eleonara yang sudah hilang napsu membaca novel.


"Ketika saya pergi ke rumahmu, Pak Abraham dan Bu Mariam mengatakannya. Umur berapa kamu saat itu?" Juna bersandar pada ranjang dan menarik kepala Eleonara untuk bersandar di dadanya.

__ADS_1


"Sekitar lima tahunan."


"Ah, seumuran Moza. Mau berbagi cerita?" Juna meminta izin terlebih dahulu, takutnya Eleonara merasa keberatan jika dia ingin tahu seluk beluknya.


Eleonara menutup buku novel 'Istri Kecil Yang Nakal' dan meletakan di atas nakas, dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut sambil memeluk erat perut Juna. Suasana kamar terasa hangat karena hanya lampu tidur yang menyala, membuat keadaan remang-remang.


"Aku adalah salah satu anak yang tidak beruntung di dunia ini, tidak seperti yang kamu kira sebelumnya. Ketika lahir aku sudah dibuang orang tuaku. Bisa diartikan saat dalam kandungan pun sudah tidak diinginkan. Bahkan orang tuaku tidak tanggung-tanggung membuangku di dalam saluran air. Aku ditemukan oleh warga sekitar, katanya ari-ari saja masih menempel denganku saat itu. Beruntung sekali aku sehat sampai saat ini. Dari kejadian itu, aku di masukan ke panti asuhan. Meski tidak memiliki orang tua, aku sangat bahagia karena Ibu Panti-Bu Asih sangat menyayangiku. Dia selalu mengajarkanku untuk sabar, berbuat kebaikan dan menjadi sosok yang kuat meski di luar panti banyak yang mengejek aku anak yang tidak diinginkan," jelasnya sambil mengusap air mata pelan-pelan karena tak ingin Juna tahu dia menangis saat mengungkapkannya.


"Lalu, bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Pak Abraham dan Bu Mariam sampai diangkat jadi anak?" tanya Juna dengan perasaan getir sambil merengkuh tubuhnya. Kasihan dan tak tega mendengarnya, tapi rasa penasarannya lebih besar.


"Saat aku masih kecil, mereka pernah tinggal sementara di dekat panti asuhan. Kak Varel sering bermain denganku dan anak-anak panti lainnya. Dia menyukai lesung pipiku dan sangat baik padaku, ke mana-mana selalu mengajakku untuk ikut bersamanya. Saat itu dia sudah menganggapku sebagai adik, jadi demi mewujudkan keinginannya agar menjadi nyata, dia memaksa orang tuanya untuk mengadopsiku sebagai anggota keluarga mereka. Pada akhirnya aku diadopsi dan tidak lama aku ikut dengan mereka pindah ke Ibu Kota."


Kali ini Eleonara tersenyum menceritakannya karena teringat kisah masa kecilnya bersamaan Varel. Hanya Varel yang dari dulu sampai sekarang baik dan peduli padanya.


Namun, sudah satu bulan ini Varel tidak pernah menghubunginya.


"Tunggu dulu, siapa Varel?" tanya Juna penasaran sampai keningnya berkerut.


"Anak pertama Ayah. Kakaknya Kak Sora. Pak Juna tidak tahu?"


Juna menggelengkan kepalanya. "Saya tidak pernah ingin tahu mengenai keluarga kalian sebelumnya. Di mana dia saat kita menikah? Apa saya pernah bertemu dengannya?"


"Tidak, Kak Varel sedang menyelesaikan kuliahnya di luar kota. Sudah beberapa bulan tidak pulang. Sampai sekarang pun tidak pernah menghubungiku, padahal aku selalu menunggunya. Ah, tapi aku rasa Kak Varel sedang sibuk-sibuknya sekarang, jadi aku akan coba mengerti," ujar Eleonara dengan ekspresi sedikit kecewa.


...


BERSAMBUNG!!


Tebar VOTE-nya dong akak-akak cantik, biar author semangat! Sebentar lagi sosok Varel muncul. Saingan Juna sesungguhnya atau bukan, ya^^


.

__ADS_1


.


__ADS_2