
"Setiap menyebutkan namanya, kamu selalu tersenyum. Ada apa?" tanya Juna iri.
"Oh, itu karena Kak Varel sangat baik padaku. Dia selalu membantuku jika aku berada dalam kesulitan. Ketulusannya telah menyentuh hatiku meski kita bukan saudara kandung," jelas Eleonara sambil senyum-senyum sendiri.
"Begitu? Lalu bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Seperti Bu Mariam dan Sora?" Juna menyindirnya halus. Ingin melihat seperti apa reaksi Eleonara mendengar dia mengatakan itu.
Eleonara tampak diam sejenak sambil melepaskan pelukannya. Wajahnya langsung murung. "Mereka juga baik," bualnya.
"Benarkah?" tanya Juna memastikan dengan alis kiri terangkat naik.
"Kenapa? Meragukanku?"
Juna menyunggingkan senyumnya sambil menggelengkan kepala. "Hayır. Saya tidak pernah meragukanmu," ujarnya lirih.
Leona, rencana apa yang kamu buat sampai tidak ingin saya mengetahuinya? Apa kamu pikir saya tidak bisa diandalkan? Saya kira kita sudah terbuka satu sama lain, tapi ... baiklah, tidak masalah. Sepertinya kamu ingin bermain-main dulu. Saya akan ikut bermain denganmu. (Batin Juna)
Juna merasa sifat Eleonara yang dibicarakan Syam bertolak belakang dengan sifatnya yang barusan ditunjukan saat mereka berhadapan dengan Mariam, Abraham dan Sora. Di saat itu Eleonara terlihat santai menghadapinya seperti sedang mempermainkan mereka, bukan seperti gadis lemah yang mudah ditindas. Maka dari itu Juna berpikir kalau Eleonara mungkin saja sudah sadar dengan apa yang harus dia lakukan dan pada akhirnya memutuskan untuk mempermainkan mereka dengan memanfaatkan kekuasaannya.
....
Setelah beberapa hari tidak masuk Sekolah karena dipaksa Juna untuk istirahat total, akhirnya Eleonara pun dinyatakan benar-benar sembuh dan dia bisa bergerak bebas di Sekolah. Tidak ada tekanan dari Juna lagi untuk diam di rumah seperti boneka.
"Udah sembuh, El?" tanya Vivian sambil meraba-raba seluruh tubuh Eleonara.
"Udah. Geli Vi, jangan raba itunya," kata Eleonara sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Dia meletakan tas ransel di bangku dan duduk bersama Vivian.
"Gimana si Kakak Lampir itu? Kamu apain? Udah minta maaf belum?" tanya Vivian penasaran.
"Udah, aku kerjain dia sampai beberapa kali minta maaf. Kak Sora juga dapet hukuman dari Ayah sama Ibu. Uang jajannya di potong sebulan full, kartu kreditnya juga diambil, buahahaha!" Eleonara tertawa lepas. Baru kali ini Vivian melihatnya sebahagia itu.
__ADS_1
"Kok, bisa?" Kening Vivian sampai berkerut karena yang dia tahu Mariam dan Abraham sangat pilih kasih, mereka tidak akan menghukum anak kandungnya sendiri, kecuali Eleonara.
"Eh? Emm." Eleonara langsung mengatupkan mulutnya karena salah bicara. Rasa senangnya yang berlebihan hampir saja membunuhnya. Dia tidak menyangka Vivian akan menyadari keanehan itu. Tidak mungkin dia mengatakan kalau semua itu dikarenakan keluarganya sangat tunduk pada Juna, suaminya.
"Emm ... itu soalnya aku ngancem mereka. Kalau Kak Sora gak minta maaf, aku bakal laporin dia ke polisi. Majikan aku punya buktinya, mereka gak bisa ngelak. Jadi daripada masalahnya berbuntut panjang, Ayah sama Ibu maksa Kak Sora buat minta maaf sama aku. Hihi, lucu banget ekspresinya pas tegang, gak nerima kalau harus minta maaf sama aku." Eleonara kembali tergelak menertawai.
"Serius kamu ngancem mereka kayak gitu?" Vivian merasa tidak percaya atas keberanian sahabatnya. Namun, Eleonara mengangguk penuh keyakinan.
"Wih, gak nyangka aku. Bisa-bisanya kamu ngegertak mereka. Gitu, dong lawan! Sayang banget aku gak liat gimana ekspresi kepaksa sama ketekennya si Kakak Lampir itu waktu bilang maaf sama kamu, wkwkwk. Pasti lucu banget, ya?"
"Aku aja sampe sekarang gak bisa berhenti ketawa kalau kepikiran itu."
"Berarti majikan kamu itu emang orang baik ya, El. Dia kan temen kerja ayah kamu, tapi gak memihak mereka. Bagus deh, kamu tinggal sama orang baik kayak gitu. Aku jadi bisa tenang, kedepannya mungkin si Kakak Lampir itu gak berani gangguin kamu lagi," ujar Vivian.
"Oh, iya, El. Bagus gak wallpaper HP aku?" tanya Vivian antusias sambil memperlihatkan foto hot jeletot Juna tanpa baju di ponselnya. Dada bidang serta perut kotak-kotaknya terekspos sempurna layaknya seorang model dengan kulit eksotis yang berkilau.
"Hehe, dari komunitas fans berat Juna Syach Emirhan, dong. Pengen ya, hihiyyy ... emangnya kamu gak tau kalau Mr.Juna ini pernah jadi model? Katanya sekitar taun 2016-an," jelasnya.
Model? Dapet dari komunitas fans berat? Artinya bukan cuma Vivian doang yang punya foto Pak Juna kayak gitu, tapi banyak! (Batin Eleonara semakin tidak rela)
"Aku gak tau," jawab Eleonara lesu.
"Tuh, udah aku kirim di chat. Bukan cuma ini aja, masih banyak foto-foto Mr.Juna yang cetar membahana ulala, bikin kelepek-kelepek pokoknya... kalau mau, masuk dong ke komunitasnya. Banyak info-info terbaru seputar Mr.Juna. Cerita masa lalunya juga ada," ucap Vivian menjabarkan yang dia tahu.
Masa lalu?
"Denger-denger Pak Juna punya kekasih masa lalu, apa di grup komunitas itu ada cerita detailnya? Aku penasaran banget, Vi." Eleonara bertanya seolah dia memang fans berat Juna.
"Ada! Nama mantannya Elena Racuela, katanya sih orang Eropa. Cuma sayang gak pernah ada yang tau siapa dia. Fotonya juga gak ada di komunitas mana pun, jadi gak tau secantik apa cewek ini sampai bisa naklukin hati Mr.Juna. Katanya Mr.Juna di ghosting sama cewek ini beberapa taun yang lalu sampai Mr.Juna punya trauma berat. Tiap beberapa bulan sekali kontrol ke psikolog, bulak-balik aja gitu. Kasian banget ternyata ya, orang seganteng Mr.Juna aja bisa di ghostingin. Pasti cewek ini hebat!" jelas Vivian dengan mulut komat-kamit.
__ADS_1
Benar, pasti Elena adalah wanita yang hebat. (Batin Eleonara, minder)
"Secinta itu Pak Juna sama Elena sampe trauma pas ditinggalin? Pasti mereka udah ngelakuin hal yang enggak-enggak atau Pak Juna udah ngasih segala-galanya sama dia. Biasanya kan, kayak gitu. Di film-film juga sama kayak gitu," tuduh Eleonara karena merasa cemburu Elena lebih unggul darinya dan pasti lebih cantik karena orang Eropa.
"Betul, bisa aja, sih. Pergaulan orang barat kan, beda sama kita, El. Mereka bebas ngelakuin apa aja, gak ada larangannya kaya di negeri kita. Secara Mr.Juna itu orang Timur Tengah, terus Elena ini orang Eropa. Tau gak umur legal ngelakuin s'eks di Eropa itu 16 taun, bahkan ada di negara mana tuh ya di umur 14 taun udah wajar berhubungan sama lawan jenis. Di umur segitu rata-rata cewek di sana udah gak perawan. Gila emang," jelas Vivian penuh keyakinan. Membuat hati dan telinga Eleonara semakin panas terbakar mendengarnya.
Dadanya terasa berdebar, perasaannya tak karuan. Sesak yang dia rasakan kini. Seakan oksigen di kelasnya menipis.
"Ck, gak usah baper gitu. Kita ini sebatas fans sama idola doang. Biarin aja Mr.Juna mau ngelakuin apa juga sama mantannya itu, lagian mereka udah lama putus," ujar Vivian sambil terheran-heran melihat ekspresi tak terima Eleonara yang rasanya berlebihan.
"El, HP kamu bunyi, tuh! Lupa gak di silent, ya?" sambung Vivian sambil menyenggol lengan Eleonara.
Lamunan Eleonara yang sedang membayangkan Juna dan Elena bercinta pun langsung pecah. Pikirannya kosong sejenak. Dengan linglung Eleonara mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat siapa yang menelepon.
Nomor siapa ini? (Batin Eleonara)
"OMG! El, ini ... ini HP kamu?!" ucap Vivian antusias sambil merebut ponsel Eleonara yang memiliki tiga kamera di belakangnya dengan logo apel digigit. Ponsel yang paling banyak peminatnya di dunia dengan harga yang cukup mahal.
Eleonara langsung menepuk keningnya. Akhirnya hari ini pun tiba. Dia telah ceroboh. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Eleonara tak memiliki kesempatan untuk menyangkalnya karena wallpapernya adalah foto masa kecilnya yang Vivian sendiri tahu betul siapa itu.
...
BERSAMBUNG!!
Kira-kira siapa yang nelepon Eleonara, ya? Buat yang ngasih vote, makasih buanyak ya ( ˘ ³˘) up satu bab lagi jangan nih, hihi^^
.
.
__ADS_1