
Sebelumnya Juna memberitahu Eleonara kalau dia harus pergi ke Turki untuk beberapa waktu. Eleonara yang merasa kesepian selalu bermain ke luar untuk menghabiskan waktu dengan Vivian.
Namun, hari ini Juna mengirimkan pesan padanya kalau dia akan pulang. Ternyata Juna terserang demam sejak dari Turki.
Setibanya di Indonesia, Eleonara dan Syam langsung membawanya ke dokter. Setelah diperiksa dan diberi obat, mereka kembali ke rumah.
"Pak Syam, bikin bubur terlalu lama. Tolong belikan saja, jangan pakai kerupuk dan kacang, ya. Pak Juna harus segera minum obat," kata Eleonara pada Syam.
"Baik, Nona." Syam pun pergi dari hadapan Eleonara.
"Sayang, kenapa bisa sampai demam, sih?" tanya Eleonara sambil mengusap lembut pipi Juna yang sedang berbaring di ranjang. Wajahnya merah karena panasnya cukup tinggi. Eleonara sudah memintanya untuk dirawat, tapi Juna menolak.
"Kelelahan dan juga saat saya sedang di pertambangan Soma Turki saya sempat hujan-hujanan. Mungkin itulah sebabnya," ujar Juna dengan suara lemah.
"Hm, lain kali jangan memaksakan diri. Sakit itu tidak enak, tahu. Mana tadi obatnya ya, sebentar lagi Pak Syam akan membawakan bubur."
Tidak lama menunggu, Syam pun datang dengan bungkus bubur di tangannya. Dia memberikannya pada Eleonara dan inisiatif ke dapur mengambilkan segelas air.
"Tuan, bukannya datang bersama Tuan Serkan?" tanya Syam.
"Ya, dia langsung pergi ke hotel begitu melihat kamu menjemput tadi."
"Serkan? Serkan teman kamu sejak kecil yang pernah kamu ceritakan itu?" tanya Eleonara dengan bola mata berbinar.
"Evet. Dia tahu saya sakit, tidak tega melihat saya pulang sendiri. Akhirnya ikut ke sini menemani," jelas Juna.
"Ah, perhatian sekali. Sepertinya dia memang orang yang baik. Tidak heran pertemananmu dengannya sudah berjalan lama sampai saat ini," ujar Eleonara memuji hubungan baik mereka. "Aaa, buka mulutnya, buburnya sudah dingin," kata Eleonara sambil menyodorkan sesendok bubur yang sudah dia tiupi sejak tadi.
__ADS_1
Juna melahapnya tanpa nafsu, dia terpaksa saja di depan Eleonara. Padahal lidahnya terasa pahit dan tidak enak menelan.
....
Pagi harinya, karena hari ini hari Sabtu dan kebetulan tidak ada ekstra kulikuler menjelang Try Out Senin depan, Eleonara memutuskan untuk merawat Juna.
Semalam entah dari mana keluarga Juna tahu Juna jatuh sakit, mereka berbondong-bondong datang menengok. Diana dan Mohsen memperlakukan Juna selayaknya Juna yang masih kecil saat melihatnya terbaring lemah tak berdaya. Mereka berbicara manja satu sama lain. Juna merasa malu pada Eleonara, tapi Eleonara yang melihatnya justru merasa bahagia bisa berada di keluarga yang harmonis.
Saat mereka semua akan pulang, Moza merengek ingin menginap di rumah Juna. Dia ingin tidur bersama Eleonara sambil diceritakan sebuah kisah anak-anak. Pada akhirnya David tak bisa menolak karena Eleonara pun memperbolehkannya.
Pagi ini setelah mengurus sarapan Juna, Eleonara memandikan Moza di kamar mandi. Mereka mandi bersama. Anak kecil dengan pipi bulat itu tubuhnya dibalut handuk dan rambut basahnya pun dililit handuk oleh Eleonara. Moza terlihat seperti orang dewasa yang sehabis mandi. Namun, kesannya lucu dan menggemaskan karena tubuhnya cukup gemuk, perutnya buncit sampai tumpah ke mana-mana.
"Moza, Tante punya alat gym di ruang belakang. Kalau kamu mau, bisa minta ajarkan pada Tante, biar langsing. Leher dan perutmu sampai berlipat-lipat begitu, bagaimana cara ayahmu merawatnya akhir-akhir ini?" tanya Juna yang sedang bersandar di ranjang. Dia sehabis makan buah-buahan.
"Kata Baba, anak kecil gemuk itu lucu. Semakin gemuk semakin lucu. Kami para anak kecil tentu berbeda dengan kalian orang dewasa. Jadi, Paman jangan menyamaratakan asupan kami," ujar Moza sambil memperlihatkan wajah sombongnya pada Juna.
"Selalu saja pipiku yang jadi sasaran Paman! Tante, katanya Tante bisa merias wajah. Kita kan, sudah mandi nih, Mosa ingin di make up dong sama Tante, hehe...." Moza mengedip-ngedipkan matanya genit sambil memasang wajah imut seperti seekor anak kucing anggora gemuk dengan bulu-bulunya yang tebal.
"Anak kecil itu kulitnya masih bagus dan sehalus kulit bayi, belum cocok pakai make up. Nanti kalau iritasi bagaimana? Kulit Moza akan merah-merah panas dan gatal," kata Eleonara sambil menggaruk-garuk wajahnya memeragakan. Tubuh Eleonara dibalut handuk putih, hanya menutupi dada dan bagian bawah pusarnya saja.
"Apa iya bisa sampai begitu?" tanya Moza dengan bibir mengerucut.
"Tentu saja. Moza seperti ini pun sudah sangat cantik, tidak perlu pakai apa-apa. Benar tidak, Paman?" tanya Eleonara sambil melempar pandangan pada Juna.
Juna langsung membuang muka dengan melipat kedua tangannya di atas perut. "Tidak cantik kalau belum cium Paman," ujarnya pura-pura marah.
Moza menyeringai, lalu dia berlari dan naik ke pangkuan Juna dan tanpa pikir panjang mengecup pipinya.
__ADS_1
"Paman bau! Belum mandi, hihihi...."
"Masa, sih? Padahal Tante suka cium ketek Paman sebelum mandi, lho. Katanya sebelum mandi baunya semakin sedap," bual Juna sambil terkekeh geli dengan wajah pucat.
"Cium ketek apaan? Bohong, Moza! Jangan dengarkan pamanmu," kata Eleonara sambil mengepalkan tangannya di udara dengan mata melotot, mengancam Juna.
"Paman, Nenek bilang kalau bohong itu dosa, masuk neraka, lho."
"Wah, benar juga. Baiklah, Paman akan tutup mulut," ujar Juna sambil menepuk mulutnya.
"Sini Moza, pakai minyak kayu putih dulu. Moza jangan terlalu dekat dengan Paman, ya. Paman Juna kan, sedang demam, nanti bisa tertular." Eleonara menggendong Moza dan mendudukannya di sofa seberang ranjang. Dia membalurkan minyak kayu putih di perut serta punggung Moza dengan hati-hati.
Juna memperhatikannya dalam diam. Dia membayangkan gambaran masa depannya kelak akan seperti ini kalau mereka sudah memiliki anak.
"Moza, Moza ingin punya adik tidak?" tanya Juna sambil tersenyum penuh maksud. Mata Eleonara langsung menyorotinya. Dia paham maksud Juna ke mana.
"Adik?!" Kedua mata Moza berbinar ria. "Tentu saja Moza -"
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu memecah suasana. "Ini Syam, Tuan, Nona. Ada Tuan Serkan, Omar, Ebrahim dan Tuan Zafer bertamu," ujar Syam dari luar pintu.
"Serkan?" Telinga Eleonara langsung aktif mendengar nama Serkan tercetus. Sudah lama dia penasaran dengan sahabat baik Juna dari kampung halamannya di Turki. Seperti apa orangnya? Namun, kenapa ada nama lain juga yang Eleonara dengar?
...
BERSAMBUNG!!!
__ADS_1