Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Aku Pulang, Siapkan President Suite di Hotel


__ADS_3

"Leona? Canım? Hayatım? Güzelim?" panggil Juna dengan panggilan sayang karena melihat Eleonara malah melamun di sana.


"Ah, iya, iya, aku akan mengingatnya. Sepertinya kedepannya tidak akan semudah yang dibayangkan. Tapi, aku akan mencoba menyesuaikan diriku dengan kehidupan Pak Juna," ucapnya sungkan.


"Bagus. Leona, persiapkan dirimu. Saya pulang dalam empat hari lagi," kata Juna sambil tersenyum penuh maksud.


Eleonara jadi bertanya-tanya. "Emm ... persiapkan diri untuk apa?" tanyanya dengan kening mengernyit.


Juna malah terus memberikan senyuman dalam diam. Eleonara jadi semakin resah dibuatnya. "Apa sih, Pak Juna? Bikin takut saja."


"Bukan sesuatu yang harus ditakutkan, tapi dinikmati. Nanti kamu juga tahu sendiri," ujar Juna. "Ada apa ini Syam menelepon malam-malam? Sudah, kamu cepat tidur. Saya matikan teleponnya, ya. İyi geceler."


"Iyi gejeler?" tanya Eleonara.


"Selamat malam," jawab Juna lirih.


"Oh, iya, selamat malam, hehe." Panggilan telepon pun di matikan begitu saja oleh Juna. Padahal Eleonara sudah berharap kalau Juna meminta kecupan seperti sebelumnya. "Huh, dasar!"


...


Setelah menelepon Eleonara, Juna menjawab telepon Syam yang masuk. "Ya, Syam?"


"Tuan sedang sibuk, tidak?" tanya Syam sungkan.


"Tidak, aku sedang istirahat. Kenapa?"


"Anu ... emm, tadi saat saya sedang menunggu Nona Leona membeli kacamata, saya melihat Nona Elena."


Deg!


Juna langsung terkesiap dan duduk dengan tegak. "Di mana?!" tanyanya panik.


"Di pusat perbelanjaan, tapi saat saya mengejarnya, Nona Elena menghilang di keramaian," jelas Syam.


"Kamu tidak salah lihat, Syam?"


"Tidak, Tuan. Saya yakin yang saya lihat adalah Nona Elena. Tidak mungkin salah lihat," ujar Syam penuh keyakinan. "Perlukah saya memulai pencarian lagi?"

__ADS_1


"Itu ...." Perkataan Juna langsung terhenti saat dia memikirkan Eleonara. Wajahnya mendadak murung. "Aku ... aku memang sudah lama penasaran bagaimana dan seperti apa keadaan Elena, tapi sekarang aku sudah menikah, Syam. Sepertinya tidak pantas masih mencari Elena."


"Benar, Tuan. Itu yang saya pikirkan dari tadi. Saya bingung mau mengatakan ini pada Tuan karena melihat sudah ada Nona Leona di samping Tuan. Tuan, kali ini saya ingin tanya, tolong Tuan dengarkan baik-baik dan jawab pertanyaan saya," pinta Syam serius, membuat Juna merasa takut dengan pertanyaan yang hendak dia dengar.


"Hm?"


"Tuan sudah melupakan Nona Elena?" tanya Syam.


Syam tidak mendengar suara Juna untuk beberapa saat. Juna membisu di sana. "Melupakannya adalah suatu hal yang tidak mungkin. Semua memori dengan Elena sudah terekam jelas dan tersimpan dalam pikiranku. Aku hanya mencoba tidak mengingatnya saja. Biarkan Elena menjadi bagian masa laluku dan Leona menjadi masa depanku."


"Huff ... saya lega kalau Tuan berpikir terbuka. Ketika hati masih menginginkan seseorang di masa lalu kembali dengan kenangan indah dulu, lihatlah sekarang ada Nona Leona yang sudah menjadi tanggung jawab Tuan sepenuhnya. Jangan biarkan masa lalu merusak rumah tangga Anda. Saya lihat Tuan dan Nona Leona cocok," ujar Syam lirih.


"Terima kasih, Syam. Aku harap Leona bisa memperbaiki perasanku yang berantakan. Aku ingin coba mencintainya. Semoga kali ini berakhir baik."


"Bagus, berjuanglah, Tuan. Saya dan keluarga Anda memberikan harapan besar pada hubungan kalian. Oh ya, Tuan, ngomong-ngomong Nona Leona baru saja berulang tahun bulan kemarin. Meski sudah lewat, tapi apa tidak ada rencana memberikan hadiah?" tanya Syam.


"Benarkah? Apa yang dia suka?"


"Em, akan saya tanyakan nanti. Tuan pulang hari apa?"


"Baik. Oh ya, Tuan, satu lagi. Saya dengar keluarga pria yang menyelamatkan Nona Leona sedang mencari pelaku tabrak lari itu. Apa boleh saya membantu mereka?"


"Membantu mereka? Kamu punya bahan apa untuk membantu mereka?" tanya Juna heran.


"Saya memiliki video saat Nona Leona hampir ditabrak pengendara motor. Sepertinya akan sangat membantu mereka. Lagipula, saya rasa target pengendara motor itu adalah Nona Leona, bukan pria itu," jelas Syam.


"Benarkah? Kenapa pengendara motor itu mau mencelakai Leona? Kalau begitu kamu bantu mereka dan cari tahu alasan di baliknya. Selama aku tidak ada, pantau terus Leona. Jangan biarkan dia dekat dengan pria lain dan terluka sedikitpun."


"Siap, Tuan!"


....


Empat hari pun berlalu dengan cepat, Eleonara sudah menyelesaikan urusannya dengan Bu Asih. Namun, tidak dengan Midas. Dia masih menghindarinya sampai sekarang dengan ribuan alasan ketika Midas memintanya datang ke rumah.


Begitu pun dengan pelaku tabrak lari. Ternyata yang berniat mencelakai Eleonara adalah Risty. Risty menyuruh orang bayaran untuk mencelakai Eleonara karena dia berpikir kalau Eleonara yang sudah melaporkannya pada Kepala Sekolah dan membuat anak-anak yang sering dia tindas ikut melaporkannya juga. Dia di skors selama dua minggu, kini malah mendapatkan hukum pidana dan di keluarkan dari Sekolah.


Namun, karena Eleonara tidak tega memasukan Risty ke dalam penjara, dia mencabut tuntutannya dan melepaskan Risty dengan syarat. Akhirnya Risty bebas dan berjanji tak akan mengganggu Eleonara lagi.

__ADS_1


Saat Eleonara pulang Sekolah, dia mendapatkan panggilan video dari Juna. Kabar buruk untuk Juna, tapi kabar baik untuk Eleonara.


"Saya tidak jadi pulang hari ini. Masih ada urusan di Sri Lanka," ucap Juna di balik layar.


Yessss! Kalau bisa pulangnya diperpanjang sampai taun depan juga tidak masalah. (Batin Eleonara bersorak ria)


"Yah, tidak jadi pulang? Huhu ... aku kira malam ini sudah bisa memeluk Pak Juna," bual Eleonara sambil pura-pura mengerucutkan bibir.


"Hmm, mau bagaimana lagi? Saya pulang kira-kira malam Jumat," katanya.


"Malam Jumat?"


"Ya, beberapa hari lagi."


Aih, aku kira diundurnya sampai taun depan. (Batin Eleonara kecewa)


"Baguslah, hari jumatnya aku libur. Ada rapat guru katanya."


"Wah, benarkah? Berarti kamu bebas selama tiga hari? Jumat, Sabtu, Minggu?" kata Juna sambil tersenyum lebar.


"Kelihatannya Pak Juna senang sekali. Senyumnya bikin takut, seperti ada maksud tersembunyi di balik senyum Pak Juna."


"Hehe." Juna malah cengengesan sambil menyusun rencana di kepalanya.


...


Hari rabunya.


"Syam, besok malam aku tiba di Indonesia. Siapkan president suite di Hotel bintang lima dengan kolam renang pribadi. Dekor dengan beberapa taburan kelopak bunga mawar, pilih lampu yang hangat dan jangan lupa dengan lilinnya. Tambahkan juga wewangian, aroma yang kuat, manis atau dark, terserah. Pokoknya yang bisa membangkitkan gairah. Belikan Leona pakaian renang, b*kini lebih disarankan. Sekian!"


Juna langsung mematikan panggilan telepon itu dan sontak membuat Syam menganga dengan pikiran berdesakan di kepala. "Sepertinya saya bisa mengira apa yang akan Tuan lakukan."


...


BERSAMBUNG!!


Apa yang Syam pikirkan mewakili para readers, hihi. Jangan lupa dukungannya, ya^^

__ADS_1


__ADS_2