
Eleonara bergegas ke luar untuk melihat. Setelah dilihat, ternyata itu adalah Syam. "Pak Syam, jangan masuk, jangan masuk! Gawat, ada Vivian di dalam!" ucapnya tergesa-gesa.
"Vivian? Teman Nona yang kakaknya pernah menolong Nona?"
"Iya, iya!"
"Dari mana dia tahu Nona di sini?" tanya Syam ikut terbawa panik.
"Ibuku yang memberitahunya. Pak Syam jangan dulu masuk ya, Vivian tahu mengenai Pak Syam. Tolong telepon Pak Juna juga, jangan biarkan dia pulang sebelum Vivian pergi," kata Eleonara yang kemudian berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Syam karena takut Vivian mencarinya.
Saat melangkahkan kaki ke halaman belakang, Eleonara melihat Vivian yang sedang berenang di dalam kolam yang bahkan dia sendiri pun baru menyentuhnya beberapa menit yang lalu. Baju seragamnya dilepas dan disimpan di atas ayunan rotan. Eleonara sampai menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala.
"Vivian!" teriak Eleonara. "Ngapain, aduh?!"
"Berenang, hehe ... numpang maksudnya. Biarin kan, mumpung gak ada majikan kamu. Sini ikutan," ajaknya.
Eleonara menggelengkan kepalanya. "Aku kan gak bisa renang."
"Belajar dong, sama aku."
"Gak, ah. Kamu berenang kayak gini emangnya bawa baju ganti?" tanya Eleonara.
"Pinjemlah sama kamu," jawab Vivian sambil cengengesan.
"Aih, dasar."
"Kapan lagi berenang gratis, El, hihiy."
Byur...
Vivian kembali masuk ke dalam air dan berenang dengan bebas sampai lupa waktu, langit pun sudah berubah warna menjadi gelap. Eleonara hanya memperhatikan dari tepi kolam renang. Begitu Vivian beranjak naik, tubuhnya menggigil dengan keriput di seluruh jari tangannya. Bibirnya pun membiru.
Eleonara memberikan handuk dan segelas teh hangat. "Gak kira-kira renangnya mentang-mentang gratis. Kalau flu gimana coba?"
"Brrr, gak bakal. Segini mah bentar, El," jawabnya dengan bibir gemetar sampai giginya menggemerutuk. Vivian membalut tubuhnya dengan handuk sambil menye'sap teh hangat yang Eleonara buatkan untuknya.
Tiba-tiba saja mata Vivian menangkap sosok bayangan hitam besar di balik jendela yang membatasi halaman depan dengan dapur. Vivian sontak terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Dia menajamkan indera penglihatannya dengan wajah panik.
"Mr.Juna! El, i-itu Mr.Juna?!" teriak Vivian yang langsung membuat Eleonara mengejang panik setengah mati.
Pak Juna?! (Batin Eleonara)
Eleonara mengikuti ke arah mana Vivian melihat. Namun, begitu Eleonara melihat sejauh mata memandang tidak ada siapa pun.
__ADS_1
"Di mana? Jangan ngaco kamu, m-mana ada Pak Juna di sini?" tanya Eleonara sambil meremas dengkulnya dengan tubuh panas dingin.
"Itu, tadi di balik jendela yang itu. Bener, aku gak salah liat. Itu Mr.Juna!" seru Vivian bersikeras.
"Gak ada, Vi. Ampun deh kamu, nyampe segininya ngefans sapa Pak Juna. Lagi di rumah orang aja terbayang-bayang," racau Eleonara.
"Sumpah, tadi Mr.Juna di sana lagi liatin kita ngobrol. Masa sih, aku salah liat?"
"Iyalah, pasti salah liat. Buat apa Pak Juna ke sini? Ini kan, rumah orang. Ada-ada aja kamu," cecar Eleonara. Begitu Eleonara kembali menatap Vivian, Juna lagi-lagi muncul di balik jendela dan tersenyum pada Vivian.
"Tuh, El, Mr.Juna...!" teriak Vivian lagi. Namun, begitu Eleonara menoleh, Juna langsung bersembunyi.
"Vi, gak lucu!"
"Astaga, beneran, sumpah! Tadi Mr.Juna senyum ke arah aku," kata Vivian yang semakin keras kepala.
"Jangan nakutin, ah. Di sini gak ada siapa-siapa selain kita berdua, lho. Kamu tiba-tiba bilang ada Pak Juna. Jangan-jangan itu hantu yang lagi nyamar, hiiiihhh...!"
"Apa? Ha-hantu?" Nyali Vivian langsung ciut mendengar kata hantu. Dia mengedarkan pandangan matanya ke sekitar. Suasana sunyi, udara malam yang berembus dengan pepohonan yang bergoyang karena tertiup angin membuat Vivian merinding ketakutan.
"Masuk yuk, El. Jadi takut, nih," bisik Vivian sambil memeluk lengan Eleonara dan memaksanya bangun.
Eleonara mengulum senyum puas karena berhasil membuat Vivian mengalihkan fokusnya. Mereka pun masuk ke dalam.
Begitu Eleonara masuk ke dalam, dia tak lagi melihat ruangan kosong seperti sebelumnya. Justru ruangan ini sudah dipadati dengan alat-alat gym, dari matras yoga, gym ball, sepeda statis, treadmill, pull up bar yang menempel di dinding, dumble, chest press dan satu benda yang terlihat tak lazim di mata Eleonara, letaknya di paling ujung. Seperti sofa berwarna hitam, tapi bentuknya aneh. Alat itu seperti sebuah mustika yang begitu spesial sampai tempatnya dibedakan dari tempat alat gym lainnya.
Juna sedang merebahkan tubuh di atasnya dengan begitu santai. Dia melihat Eleonara yang sedang menyentuh alat-alat gym dengan raut bertanya-tanya. Kelihatannya Vivian sudah pulang.
"Pak Juna, ini semua -"
"Pak Juna? Siapa itu Pak Juna?" kata Juna sedikit menyinggung.
"Ehem, maksudnya ... Sayang, sejak kapan alat-alat gym ada di ruangan ini? Sebelumnya ruangan ini kosong, kan?" tanya Eleonara mengulang sambil berjalan menghampiri. "Lalu, ini alat gym apa? Kok, bentuknya aneh," tunjuknya pada sofa hitam yang Juna duduki saat ini.
"Akhir minggu ini persiapkan diri untuk olahraga. Saya akan melatihmu. Mengenai ini, ini adalah sofa tantra atau bisa disebut juga sofa kamasu'tra," jelas Juna sambil membentangkan tangannya, meminta Eleonara agar mendekat dan dekap tubuhnya.
Kaki Eleonara melangkah sendiri mendekati Juna, tahu-tahu dia sudah duduk di pah'a Juna.
"Untuk apa sofa ini? Apa manfaatnya untuk kesehatan? Bisa mengencangkan payu'dara juga?" tanya Eleonara dengan tatapan polos.
"Astaga, polos sekali istri kecil saya ini," ucap Juna sambil menjepit hidung Eleonara. "Ini adalah kursi cinta, Canım, yang didesain untuk kenyamanan tingkat tinggi saat kita sedang berhubungan."
__ADS_1
Blush...
Telinga Eleonara langsung memanas mendengarnya. "A-aku belum tahu juga belum pernah liat," ucapnya gelagapan.
"Sekarang sudah tahu dan sudah melihatnya, bahkan sudah menyentuhnya. Bagaimana dengan mencobanya?" goda Juna sambil memeluknya erat.
Astaga, orang ini benar-benar! (Batin Eleonara)
Eleonara mendesis sebal sambil geleng-geleng kepala. "Sehari saja, tidak bisakah memberiku kedamaian?" keluhnya.
"Saya belum memperhitungkan perlakuan kamu tadi pagi, ya. Kamu tahu tidak yang kamu pakai itu spidol permanen. Saya sampai sulit menghapusnya," kata Juna protes.
"Apa? Benarkah?"
"Hm, lain kali hati-hati. Untung saja bisa dihapus."
"Hehe, maaf. Habisnya aku ingin sedikit memberimu pelajaran. Ah, iya, kenapa kamu membeli banyak alat fitness? Sayang uang, kan? Semua ini pasti mahal."
"Untuk kesehatan apa salahnya? Biasanya saya pergi ke gym dekat pusat kota, tapi sekarang kan saya sudah menikah. Memangnya kamu rela tubuh suami tampanmu ini dilihat oleh wanita lain saat sedang ngegym? Apalagi di tempat gym banyak sekali wanita se'ksi dengan tubuh yang bagus. Bagaimana jika saya terlena secara tidak sadar, lalu lupa kalau sudah ada kamu," bisik Juna penuh sensual, membuat Eleonara tersipu karena maksud baiknya.
"Benar juga. Tubuh Pak Juna ini, eh salah ... tubuh suamiku ini hanya boleh aku seorang yang lihat dan menyentuhnya," ujar Eleonara sambil meraba-raba dad'a bidang Juna dengan lembut. "Karena sepertinya kamu memang menyukai tubuh yang ideal, aku akan berusaha membentuk tubuhku sesuai keinginanmu. Kata ayah mertua kan, buat Juna betah di rumah bagaimana pun caranya, hehe."
"Gitu, dong. Coba kemari, kelihatannya hari ini bibirmu terlihat lebih manis dari sebelumnya. Saya jadi penasaran semanis apa rasanya. Sedikit saja."
"Cih, sedikit-sedikit nanti kebablasan seperti yang sudah-sudah," sindirnya sambil menepuk lengan Juna dengan manja.
"Coba dulu, baru nanti lihat kelanjutannya seperti apa. Besok saya harus pergi ke Dubai, lho. Cuma dua hari."
"Dubai? Kalau pergi jauh tidak mungkin minta sedikit kan, pasti banyak."
"Hahaha, tidak, Leona. Tidak tahu maksudnya."
"Tuh, kan!"
Dan mereka pun bla bla bla...
...
BERSAMBUNG!!
Like dulu bestie. Bab selanjutnya dan selanjutnya bakal muncul Sora beserta otak jahatnya^^
.
__ADS_1
.