
Setelah selesai teleponan dengan Juna, David segera membawa Moza pergi. Moza menolak dengan keras karena niatnya kemari memang untuk menginap dan tidur bersama Eleonara. Eleonara merasa curiga pada David yang memaksa Moza pulang tanpa henti.
Akhirnya David mengatakan kalau dia akan pergi membeli koleksi unicorn untuk dipajang di kamar Moza. Barulah Moza setuju untuk ikut dengan David. Eleonara tidak ingin Moza pergi karena firasatnya buruk, tapi David sudah membawanya pergi, mau bagaimana lagi.
"Nona, segeralah bersiap-siap," kata Syam tiba-tiba.
"Siap-siap ke mana?" tanya Eleonara heran.
"Tuan menyuruh saya memanjakan Nona dengan pergi ke spa, salon dan butik."
"Untuk apa aku pergi ke sana? Tidak mau, itu bukan kebiasaanku," ujar Eleonara langsung menolak mentah-mentah.
"Dibiasakan saja mulai sekarang. Lagipula tujuan Tuan sangat baik. Tuan ingin Nona merasa senang. Bukankah beberapa hari ini di Sekolah sangat melelahkan? Setidaknya pergi ke spa, salon dan butik bisa membuat tubuh rileks. Tuan juga akan pulang malam ini. Nona tidak ingin tampil cantik saat menyambutnya nanti?" kata Syam berusaha membujuk.
"Mau sih, tapi ... yakin kalau aku tampil berbeda dia tidak menyentuhku? Jujur, aku masih takut, Pak Syam," bisik Eleonara malu-malu.
Eh? Apa maksudnya? Tuan Juna dan Nona Leona belum melakukannya? (Batin Syam)
"Jangan khawatir, Nona. Saya kenal betul seperti apa Tuan Juna. Ayo, segera berganti pakaian. Malam akan segera tiba."
Eleonara tampak menimbang-nimbang cukup lama sampai Syam kesal menunggunya. Namun, pada akhirnya dia pergi juga dengan Syam.
Apa yang Syam katakan benar, dari ujung kaki hingga kepala semuanya dimanjakan, tidak ada yang terlewat. Seluruh tubuh Eleonara mendapatkan pijatan di spa, wajahnya difacial hingga terlihat segar dan sehat, kuku-kukunya di mani-padi dan diolesi cat kuku, penampilannya disihir menjadi begitu cantik hampir mendekati kata sempurna, rambutnya bergelombang indah dan menjadikannya bervolume.
"Nona? Nona Leona?" panggil Syam sambil mengguncang lengan Eleonara secara perlahan karena Eleonara tertidur saat sedang dirias wajahnya. Saking rileksnya Eleonara sampai mangap mulutnya saat tertidur. Membuat Syam tak bisa tidak tertawa.
Eleonara mengerjapkan matanya perlahan. "Ah, aduh, sampai tidak sadar ketiduran, hehe. Maaf ya, Pak Syam. Apa sudah selesai riasannya?" tanyanya yang sedang duduk di kursi putar salon kecantikan. Tubuhnya menjadi terasa sangat ringan. Enak sekali.
"Sudah, Nona terlihat sempurna," ucap Syam senang sambil memeriksa ponselnya yang bergetar. "Mari, Nona. Tuan sudah menunggu di luar."
"Apa?"
Syam memberikan mantel selutut serta tas branded berwarna hitam pada Eleonara untuk dipakai, setelahnya dia menggiring Eleonara ke luar.
Sebuah mobil mewah yang terparkir di depan salon kecantikan membuka kaca jendelanya dan memperlihatkan sosok Juna yang sedang tersenyum lembut penuh pesona.
Benar-benar Pak Juna?! (Batin Eleonara)
"Çok güzel, Maşallah," puji Juna dengan bola mata yang berubah menjadi bentuk hati. Membuat Eleonara salah tingkah dan jadi malu sendiri. "Masuklah."
Eleonara mengangguk sambil mengulum senyum. Hatinya berbunga-bunga dengan rona di pipi.
"Tunggu, Nona. Saya melupakan sesuatu. Ini ...." Syam memberikan sebuah jinjingan.
__ADS_1
"Apa ini Pak Syam?"
"Nanti saja dibukanya kalau sudah sampai. Selamat bersenang-senang." Syam pun pergi dari hadapan Eleonara setelah mengedipkan sebelah matanya pada Juna sebagai sebuah isyarat.
Eleonara tak mau ambil pusing. Dia membawanya masuk ke dalam mobil. Kerinduan terhadap Juna sudah meronta-ronta.
Baru saja duduk dan memakai sabuk pengaman, Juna menyodorkan seikat bunga mawar berwarna pink muda, lalu mengecup pipinya tanpa aba-aba. "Muah. Oh, çok güzel."
"Ih, Pak Juna!" Eleonara langsung menyentuh pipinya dengan ekspresi kesal, tapi jantungnya berdebar kencang.
"Saya rindu," bisik Juna penuh sensual sambil menggenggam tangan Eleonara.
Ehem, kenapa jantungku tidak bisa diam begini?! Hey, kecilkan suaramu, Pak Juna bisa mendengarnya! (Batin Eleonara memarahi jantungnya sendiri)
"Sudah ah, ayo jalan," kata Eleonara sambil menyentuh kacamatanya salah tingkah.
"Tidak sabaran sekali. Baiklah." Juna menginjak pedal gas dan mobil pun melaju menuju tempat yang dituju.
Setengah perjalanan, Eleonara merasa ada yang aneh dengan arah jalan pulang yang seharusnya berbelok ke kanan, tapi Juna malah berbelok ke kiri.
"Pak Juna, kita mau ke mana? Bukannya rumah Pak Juna belok ke kanan?" tanya Eleonara heran.
"Saya punya banyak kejutan untukmu," ucap Juna sambil memperlihatkan senyum penuh maksud. Membuat Eleonara bertanya-tanya.
Juna menggiring Eleonara yang sedang terserang panik masuk ke dalam. Setelah mengambil kartu akses, Juna dan Eleonara naik lift. Sampailah mereka di depan pintu kamar hotel. Juna membuka pintu dan menarik Eleonara masuk begitu saja.
Eleonara yang sedang menggenggam tas jinjingan menelan salivanya dengan wajah pucat pasi. Pikirannya berkecamuk tidak tenang melihat banyak taburan kelopak bunga mawar di lantai serta lilin dan pencahayaan yang remang-remang.
Juna yang diam-diam melihatnya tertawa puas dalam hati.
Bhahaha, apa yang dia takutkan sampai wajahnya sepucat itu? Lucu sekali. (Batin Juna)
"Pak Juna?" panggil Eleonara sambil menarik jasnya dari belakang.
"Ya?"
"Emm ... a-apa semua ini?" tanyanya gugup sampai lidahnya hampir kelu.
"Kejutan. Kamu tidak suka sesuatu yang berbau romantis seperti ini? Kemarilah." Juna menariknya masuk ke dalam kamar. Terdapat ranjang berukuran besar dengan aroma wewangian yang manis, menggugah selera.
Juna menyuruh Eleonara duduk di ranjang tersorot lampu remang-remang yang terasa hangat menyentuh kalbu. Dia memberikan kotak hadiah yang sebelumnya sudah tersedia di atas nakas.
__ADS_1
"Apa ini?" tanyanya heran.
"Hadiah ulang tahunmu," ucapnya sambil tersenyum. "Bukalah."
"Hadiah ulang tahunku? Tapi, ulang tahunku sudah lewat."
Juna mengangguk. "Saya tahu, tapi belum terlambat untuk memberikan hadiah, kan?"
Eleonara senyum-senyum sendiri sambil membuka kotak hadiah dari Juna. Begitu melihat isinya betapa terkejutnya Eleonara saat satu set perhiasan dengan berlian yang indah begitu menyilaukan mata.
"I-ini ... ini untukku?" tanya Eleonara tak menyangka.
"Tentu saja."
"Tapi, ini semua terlalu berlebihan, Pak Juna. Aku tidak bisa menerimanya," tolaknya.
"Leona, kamu adalah istri saya. Perhiasan seperti ini bisa saya berikan setiap hari jika kamu mau. Tidak ada yang berlebihan. Simpan saja kalau tidak sempat memakainya."
Eleonara hanya mengangguk. "Benar, akan lebih baik kalau disimpan saja. Lagipula tidak mungkin memakai ini ke Sekolah, kan. Terima kasih."
Tiba-tiba Juna menyodorkan pipinya. "Saya ingin yang lain sebagai ucapan terima kasih," ucapnya mulai menggoda.
Eleonara meremas dengkul dengan kegemasan mencuat. Jantungnya kembali berdebar. Dia tahu apa maksud Juna. Perlahan tapi pasti, Eleonara mengecup pipi Juna, satu kecupan saja.
"Muah. Apa itu cukup?" tanyanya malu-malu.
Kedua pipi Juna langsung merah merona dan dia berkata, "Tentu saja tidak." Juna mengangkat tubuh Eleonara dan mendudukkannya di atas pa-hanya. Tangan beruratnya merengkuh dalam tubuh Eleonara.
Saat Juna memiringkan kepalanya dan hendak melahap bibir manis Eleonara, Eleonara mendorong pundaknya.
"A-apa yang mau Pak Juna lakukan?" tanyanya gelagapan. Tangannya sampai dingin sedingin es.
"Apalagi? Saya sedang meminta hak saya sebagai suami," ujar Juna dengan tatapan sayu.
Glek!
"Tapi ... tapi, aku kan, masih datang bulan," jawab Eleonara ketar-ketir.
"Benarkah? Coba saya ingin lihat. Siapa tahu malam ini sudah berhenti," pinta Juna.
Mati aku! Sepertinya kali ini aku tidak selamat. (Batin Eleonara)
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!
Nungguin, ya? Ciieeee ( ꈍᴗꈍ)