
Eleonara menyuruh Vivian pulang. Dia akan menghadapi Mariam dan Sora sendiri dengan lapang dada. Eleonara pun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan Mariam. Vivian menatap cemas sampai diam memperhatikan.
"Ngapain kamu ke luar dari Hotel? Lupa sudah punya suami? Atau mau coba-coba jadi pel*cur?" tanya Mariam dengan kasar sambil memelototi Eleonara yang kini duduk menunduk di sampingnya.
"Aku hanya menanyakan lowongan pekerjaan bersama Vivian di Hotel itu. Ibu jangan berprasangka buruk," jelas Eleonara memberitahu.
"Jangan bohong! Kamu ke luar dari Hotel siapa yang tidak akan berprasangka buruk? Apa suamimu tahu kelakuanmu ini?" cecar Mariam. Sora yang sedang memegang setir hanya tersenyum meledek, terlihat dari kaca spion tengah.
"Aku tidak bohong. Pak Juna tidak tahu, Bu."
"Heh, culun, kamu udah punya suami kaya juga ngapain susah-susah nyari kerja? Tinggal minta duit, pasti langsung dikasih," tutur Sora angkat bicara, tapi perkataannya sedikit tidak enak di dengar.
"Jangan-jangan suamimu itu pelit, ya? Dia tidak memberikan uang dan kemewahan padamu?" tanya Mariam dengan tatapan sinis.
Eleonara langsung menoleh menatapnya. "Pak Juna tidak seperti itu. Dia sangat baik soal uang, tidak pelit," bantah Eleonara. Sakit hati mendengar Juna dihina meski Mariam hanya menduganya saja.
"Benarkah?" tanya Mariam seolah tak ingin mempercayai.
"Bu, si pendek masih ada, tuh. Sepertinya sedang mengawasi kita," bisik Sora ketika melihat keberadaan Vivian yang masih di depan Hotel.
Mariam kembali marah setelah melihat Vivian. "Jalan, Sora. Jangan-jangan selama ini kamu memberitahu temanmu itu ya, mengenai perlakuanku?!" geramnya dengan tatapan mengintimidasi.
Eleonara menyentuh kacamatanya sambil menggelengkan kepala dengan lutut gemetar.
"Jangan bohong! Kamu kalau jujur pasti akan langsung membantahnya. Sekarang malah menggelengkan kepala saja!" Mariam mencubit lengan Eleonara sambil menggertakan giginya.
"Akh, sakit, Bu! Aku tidak berbohong. Aku ... aku tidak pernah menceritakan masalah di rumah pada Vivian. Vivian tidak tahu apa-apa," rintih Eleonara dengan mata berkaca-kaca sambil menahan sakit.
"Jangan percaya, Bu. Yang namanya teman, apalagi sudah berteman sejak lama, tidak mungkin tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan di rumah. Dia pasti ngadu tuh, sama si pendek." Sora sengaja mengompor-ngompori Mariam agar cubitan Mariam semakin keras karena Sora tampak tidak puas melihatnya.
"Sungguh, aku tidak mengatakan apapun pada Vivian!" bantah Eleonara tegas, demi membela diri.
Mariam langsung menimpuk mulut Eleonara dengan kaleng minuman bekas karena sudah berani menaikan suara di hadapannya. Eleonara merintih kesakitan karena bibirnya berdarah, tergores gigi depan. Matanya berkedut memerah panas. Perih yang dia rasakan kini, tapi harus tetap ditahan.
"Mulai berani teriak-teriak! Tidak takut aku menghukummu?!" bentak Mariam sambil memelototi.
Eleonara hanya diam sambil mengusap air matanya yang entah kapan menetes. Tiba saja ponselnya berdering. Ada panggilan masuk. Eleonara panik karena tak mungkin menunjukan ponsel barunya yang mahal itu pada ibu dan kakak angkatnya. Apalagi dengan peringai mereka yang seperti ini.
__ADS_1
Dia meletakan tas ranselnya di atas paha untuk mengalihkan perhatian Mariam dan Sora. Namun, tampaknya mereka sudah terlanjur penasaran dengan suara telepon.
Mariam menggeledahi seragam sekolah yang Eleonara kenakan, dari saku baju sampai saku rok sekolah. Saat Mariam akan mengambil ponselnya di saku rok, Eleonara menghindarinya dengan cepat.
"I-ini pasti Pak Juna yang menelepon," ucap Eleonara gelagapan.
"Sini, aku mau lihat!" seru Mariam memaksa.
Eleonara tak bisa bilang tidak. Dia hanya masih menghindar saja. Namun, tanpa di duga, Mariam merampas ponsel Eleonara dengan paksa. Dia merogoh isi saku roknya dan mendapati ponsel baru yang cukup mahal harganya.
Sora yang melihatnya dari kaca spion tengah, langsung menginjak pedal rem. Mobil pun terhenti. Saat Sora hendak merampas ponsel dengan tiga kamera di belakangnya yang dia impikan, Mariam malah memberikannya pada Eleonara.
"Siapa kecoak?" tanya Mariam.
"Itu ... nama samaran Pak Juna. Aku tidak bisa menamai kontaknya dengan namanya, takut di Sekolah ada yang tahu," jawabnya sambil meremas lutut.
"Angkat. Besarkan suaranya. Jangan bilang sedang bersamaku. Awas kalau kamu sampai ngomong macam-macam!" ancam Mariam sambil mencubit paha Eleonara dengan keras.
Eleonara ingin menjerit kesakitan, tapi Mariam sudah terlanjur mengangkat telepon Juna. Dia takut suara teriakannya membuat Juna cemas. Jadi, dia tahan rasa sakitnya.
"Halo, Leona?"
"Kenapa dengan suaramu? Sedang menangis?" tanya Juna cemas.
Cubitan di pahanya semakin menusuk terlihat dari wajah Eleonara yang menegang kesakitan. "Ti-tidak. Aku ... hanya sedikit mengantuk," bualnya.
Sora tersenyum menyungging dari bagian kemudi. Dia menjulurkan lidahnya, senang melihat Eleonara tersiksa. Malah dengan kejamnya mengambil beberapa foto Eleonara yang sedang menyedihkan untuk ditertawai di kemudian hari.
"Sudah selesai kelas?" tanya Juna perhatian.
"Sudah."
"Syam menghubungi saya, katanya dia menunggumu di tempat biasa, tapi kamu tidak ada. Apa kamu pergi main lagi dengan temanmu?"
Mariam menyuruh Eleonara mengangguk. Eleonara pun mengakuinya pada Juna. "Iya, tadi sempat main sebentar. Ini sudah di jalan pulang."
"Dengan siapa?"
__ADS_1
"S-sendiri dengan taksi," jawabnya gugup karena Mariam dan Sora memelototi.
"Mengenai uang yang saya berikan, Syam bilang kamu tidak menghabiskan uang minimal. Kenapa?"
Eleonara menelan saliva dengan wajah pucat. Kenapa Juna harus membahas uang dalam situasi seperti ini? Dia yakin Mariam dan Sora pasti akan langsung bertingkah setelah mendengar nama uang. Mata mereka seketika hijau dengan pendengaran yang tajam.
"Em, itu ..."
Mariam semakin keras mencubit paha Eleonara sampai air mata Eleonara pecah tak tertahan karena begitu sakit, tapi dia tidak dapat teriak meluapkannya. Bukankah sangat menyiksa?
"Leona?" panggil Juna, curiga.
Wajah Eleonara sudah merah berkeringat menahan rasa sakit dari tadi. Dia tidak kuat lagi! "Aku hampir sampai rumah. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini." Mariam segera mematikan teleponnya dan dia langsung menyerang Eleonara. Begitu pun dengan Sora.
"Dia memberimu uang? Berapa?" tanya Mariam.
"Ini ponsel dia juga yang belikan, ya?" cecar Sora dengan tatapan lapar sambil merebut ponsel Eleonara dari tangan Mariam.
Bagaimana aku menjawabnya? Kalau jujur pasti mereka mengambilnya, tidak jujur pun mereka akan memaksaku mengatakannya sampai menyakitiku. (Batin Eleonara)
Eleonara hanya mengangguk pasrah.
"Berapa?!" tanya Mariam mengulang dengan sedikit menekannya.
"Sehari minimal 500 ribu."
"Minimal 500 ribu!" Mariam dan Sora tercengang karena biasanya mereka memberikan Eleonara bekal sekolah tidak sampai 50 ribu. Sekarang berkali-kali lipat.
"Kamu tidak biasa menghabiskan uang segitu. Mana sisa uangnya?" pinta Mariam.
"Ada, tapi Ibu mau apa?" tanya Eleonara dengan kerutan di kening.
"Jangan pelit-pelit dengan ibu sendiri. Kamu sampai sebesar ini memangnya siapa yang merawat kalau bukan aku? El, kalau kamu punya uang lebih, seharusnya kamu ingat pada Ayah dan Ibu. Jangan disembunyikan seperti ini. Sia-sia aku membesarkanmu kalau ternyata besarnya tidak tahu balas budi. Kamu mau dibuang yang kedua kalinya seperti ibu kandungmu yang membuangmu di saluran air saat bayi, hah?!"
Eleonara langsung menatap pilu ke arah Mariam dengan mata berkedut memerah panas. Hatinya tertusuk ribuan duri setiap ada yang mengungkit kisah menyedihkannya. Seakan menimbulkan trauma mendalam jika mendengar seseorang mengatakan 'buang'. Eleonara menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut.
"Kalau begitu jadilah anak penurut! Mana uangnya? Kamu masih Sekolah, jangan pegang uang terlalu besar, bisa jadi bodoh otakmu nanti. Belajar saja yang benar!" sengor Mariam sambil melipat kedua tangan di atas perut.
__ADS_1
...
BERSAMBUNG!!