
"Maaf, maaf, mungkin aku sedang tidak fokus. Kakak terluka cukup parah. Aku akan antar ke rumah sakit sekarang," ujar Eleonara kelimpungan setengah mati sambil berusaha membopong wanita yang terlihat lebih dewasa darinya.
Namun, wanita cantik ini menolak ajakannya ke dokter. "Tidak perlu, hanya lecet-lecet saja. Tidak masalah. Aku juga sedang tidak fokus barusan. Tidak tahu kalau ada mobil yang lewat," jelasnya dengan nada lembut menghangatkan kalbu.
"Tapi, darahnya nempel ke mana-mana. Setidaknya harus segera diobati, takutnya infeksi. Di dalam rumahku ada kotak obat, mungkin aku bisa sedikit membantu," usul Eleonara dengan raut cemas. Entah apa yang terjadi, Eleonara merasa tidak yakin kalau dia bisa menabrak wanita ini dengan keras sampai luka-luka seperti itu.
"Rumahku dekat kok, dari sini. Lagipula kita sama-sama lengah. Aku juga salah," ucapnya rendah hati.
"Obati dulu di rumahku. Nanti kalau Kakak pulang ke rumah, orang tua Kakak pasti akan mempertanyakan luka-luka ini. Takutnya berbuntut panjang. Jangan menolak Kak, setidaknya aku ingin bertanggung jawab." Eleonara bersikeras memaksa wanita cantik ini masuk ke rumah. Untung saja suasana sekitar sedang sepi, tidak ada yang melihat. Bisa gawat urusannya kalau ada yang melihat.
Tubuhnya begitu mulus, aroma parfumnya harum menyegarkan, parasnya pun amat cantik dan tingginya hampir sama dengan Eleonara, hanya berbeda beberapa centi saja karena memakai sepatu hak tinggi. Dia berjalan pincang sambil merintih kesakitan saat memasuki rumah Juna karena lutut serta pergelangan kakinya terluka.
"Duduk dulu ya, Kak. Aku akan ambilkan kotak obat sebentar," kata Eleonara tergesa-gesa.
Namun, baru saja Eleonara hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia melihat Juna dengan berbalutkan pakaian panjang-panjang berdiri mematung di ambang jalan antara ruang tamu dan ruang televisi.
"Elena?"
Deg!
Kedua mata Eleonara sontak membulat sempurna. Jiwanya terguncang. Jantungnya terasa merosot jatuh ke bawah.
"Juna?!" Wanita cantik ini pun memanggilnya dengan tatapan getir sama seperti Juna. Tanpa perhitungan dia berjalan cepat menghampiri Juna dan memeluknya di hadapan Eleonara.
Eleonara yang sebelumnya melihat dia berjalan pincang sampai merintih kesakitan, tiba-tiba terlihat segar bugar merasa sangat aneh hingga bertanya-tanya. Namun, bukan waktunya fokus pada hal itu. Masalahnya dia ini Elena mantan kekasih Juna dan kini sedang memeluk suaminya tepat di depan matanya.
Hati Eleonara perih bak tertusuk ribuan duri saat Juna pun merespon pelukan itu. Bahkan Juna memejamkan matanya seolah dia sedang memecah celengan rindunya pada Elena.
__ADS_1
"Ke mana saja kamu, Ele?" tanya Juna dengan kedua mata berkedut memerah panas sambil mengusap manja rambut Elena.
"A-aku ... aku minta maaf karena pergi tidak bilang-bilang. Kamu pasti sangat marah dan kecewa padaku sekarang. Tapi, aku memiliki alasanku sendiri kenapa melakukan itu," jelas Elena sambil terisak-isak.
Eleonara mengusap air matanya yang entah sejak kapan ke luarnya karena tidak bisa lagi di bendung. Hatinya terasa sesak sekali melihat pemandangan di depannya yang sangat sulit di percaya. Dia kira Juna telah melupakannya seperti apa yang dia ucapkan pada kebanyakan orang, tapi kenapa saat dipertemukan kembali dengan masa lalunya ekspektasinya malah berbeda. Eleonara tidak sanggup melihatnya.
Dia berusaha memisahkan mereka dengan mata memerah. "Sayang, siapa dia? Kenapa kamu memeluknya di depanku?" tanya Eleonara yang sedang menegarkan hatinya. Di saat situasi seperti ini hanya bisa tebal muka menyelinap diantara Juna dan Elena.
Juna tampak menjepit keningnya. Seakan menyadari kalau dia telah terkecoh dengan kelakuannya. Pasti Eleonara tersinggung melihatnya memeluk Elena secara refleks barusan.
"Dia ... dia Elena. Mantan kekasih saya yang pernah saya ceritakan padamu. Maaf, Leona, saya refleks barusan," jelas Juna dengan tatapan menyesal.
"Siapa dia, Jun?" tanya Elena dengan kerutan di kening, tidak terima.
Namun, sebelum Juna berhasil menjawabnya teman-temannya berhamburan masuk ke ruang tamu. Mereka terkejut melihat kehadiran sosok Elena yang sudah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar, kini ada di rumah Juna. Zafer yang paling syok melihatnya karena saat Elena menghilang, dia turut mencarinya bersama Juna, mengerahkan orang-orangnya.
"Ternyata ada kalian? Ini tadi, adik ini tidak sengaja menabrakku saat aku sedang lengah. Hanya lecet-lecet saja, tidak begitu sakit," ujarnya sambil memasang ekspresi minta dikasihani.
"Kamu menabraknya?!" tuduh Zafer dengan tatapan menuntut pada Eleonara.
"Kenapa bisa kamu sampai menabraknya, Leona?! Apa tidak hati-hati?" Ucapan Juna pun ikut menyerangnya, membuat Eleonara merasa tertekan dan tersudutkan.
"Kok, kamu berani meninggikan suaramu? Tidak mau dengar penjelasanku dulu? Aku sudah hati-hati, tapi entah kenapa bisa sampai menabraknya. Dia sendiri juga bilang kalau dia sedang lengah, bukan hanya aku saja yang salah, kan?!" jelas Eleonara protes. Okelah kalau Zafer kesal padanya bisa Eleonara terima, tapi kenapa Juna juga ikutan kesal?
"Tenang, tenang. Jun, kamu sedang sakit, pikiranmu jadi kacau. Sebaiknya kamu masuk kamar untuk istirahat. Leona, kamu temani Juna. Luka Elena biar kami yang tangani," ujar Serkan menengahi karena dia mengerti betul situasinya seperti apa. Dia tak ingin karena kehadiran Elena yang tiba-tiba, Juna jadi mengesampingkan istrinya.
"Tunggu dulu, Juna apa kamu sedang sakit?" tanya Elena sambil meraih tangan Juna, cemas.
__ADS_1
Eleonara langsung menepisnya secara terang-terangan. "Tanya, tanya saja. Tidak perlu sampai pegang-pegang."
"Akh!" rintih Elena sambil menyentuh bekas tepisan Eleonara di tangannya.
"Leona, jangan kasar begitu!" seru Juna membela. Begitu pun dengan Zafer.
Eleonara melemparkan tatapan menusuk pada Juna sambil terengah-engah emosi. Dia kecewa berat melihat perlakuan Juna yang turun drastis di hadapan kekasih masa lalunya. Memangnya sebesar apa damage Elena sampai bisa mengecohkan pikiran Juna?
"Jun, sadarlah apa yang kamu katakan bisa melukai perasaannya. Perlakuan Leona sudah benar. Jangan protes," kata Emran yang berada di pihak Eleonara.
Juna mengusap kasar wajahnya sambil berusaha mengontrol suasana hatinya. Suhu panas tubuhnya serta pusing kepalanya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Dia benar-benar bingung sekarang, sikap apa yang seharusnya dia tunjukan.
"Sebentar, siapa adik ini? Apa dia salah satu adik kalian? Tapi, sepertinya kalian tidak ada yang mempunyai adik perempuan, kan? Setahuku, Emran dan Serkan anak tunggal. Osman dan Juna memiliki kakak laki-laki. Zafer ada dua adik laki-laki. Ah jangan-jangan adik manis ini salah satu kekasih kalian, ya? Atau malah calon istri?" ucap Elena nyerocos tanpa henti sambil memainkan ujung rambutnya.
Eleonara berdiri dengan tegap di hadapan Elena. Sikapnya yang sok paling cantik membuatnya gerah. Dia mengulurkan tangan kanannya sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Kenalkan, Leona, istri sah Juna. Sah secara agama dan negara. Diakui mertua serta kakak ipar," jelasnya dengan lantang dan penuh percaya diri.
Meski sakit hati mendengar tuduhan Elena yang mengatakan kalau dia kekasih dari salah satu teman Juna, tapi pengakuan Eleonara yang secara berani itu telah membuat Elena bungkam untuk waktu yang lama dengan mulut menganga serta mata membulat.
"I-istri?" kata Elena gelagapan.
...
BERSAMBUNG!!
.
__ADS_1
.