
Tiba-tiba saja Osman muncul dan dua pelayan pria itu menghentikannya, lalu entah apa yang mereka bicarakan karena di bar ini sangat berisik. Tidak mau ambil pusing, Eleonara pun masuk ke toilet.
Dia merapikan riasannya sambil menatap cermin. Banyak wanita malam yang berlalu-lalang di toilet tak dia hiraukan. Sesekali Eleonara mengecek ponselnya, apakah ada pesan dari Juna untuk menyuruhnya pulang? Sayangnya tidak ada. Tidak ada satu pun pesan atau bahkan panggilan tak terjawab dari Juna. Uh, membuat Eleonara semakin kecewa dan sakit hati.
Dia benar-benar sudah tidak peduli padaku. Apa wanita itu masih ada di rumah? (Batin Eleonara resah)
Saat dia hendak menghubungi Syam, tiba-tiba saja masuk panggilan video dari David. Eleonara terheran-heran menatap layar ponselnya. Namun, tak mau berlama-lama, dia pun menjawab panggilan video tersebut.
Wajah menggemaskan Moza yang terlihat. "Ah, Moza, halo?" kata Eleonara sambil tersenyum lebar.
"Halo, Tante. Tante sedang di mana? Kok, kedengarannya berisik sekali?" tanya Moza penasaran. Dia sedang memeluk bantal unicorn dengan mengenakan piyama bunga-bunga. Rambut depannya di kuncir ke atas, hingga dahinya terlihat jelas.
"Emm ... Tante sedang di luar," kata Eleonara sambil memutar bola matanya.
"Iya, di mana? Sudah lama kita tidak bertemu. Moza kangen, nih," rengeknya sambil cemberut. Pipi gemoynya sampai tumpah.
"Besok Tante main ke rumahmu, ya. Mumpung sekolah Tante sedang bebas karena baru selesai ujian."
"Asik! Benar ya, Tante mau main ke rumah Mosa?" Moza sampai melompat-lompat kegirangan di atas ranjang. Terdengar suara David berbisik menyuruhnya duduk, tapi tidak terlihat wajahnya. Mungkin sedang mengawasi dari belakang kamera.
"Iya, Sayang. Mau Tante bawain apa?" tanya Eleonara.
"Emm ... apa, ya?" gumam Moza bingung. Dia membelakangi kamera dan berbisik pada ayahnya apa yang harus dia minta pada tantenya. Eleonara menahan tawa melihat tingkah lucu Moza. Dia jadi lupa kekesalannya pada Juna. "Ah, aku ingin cup cake rasa cokelat dan keju!" serunya antusias.
"Oh, cup cake? Oke, besok Tante belikan. Kalau begitu sekarang Moza tidur, ya. Tapi, sebelum itu gosok gigi dulu, terus cuci tangan dan kaki, lampu kamar matikan, tarik selimut dan pejamkan mata," jelas Eleonara memberitahu secara runut dengan nada lembut.
"Siap, Tante. Güle güle! (Bye!)"
"Güle güle!"
Panggilan telepon pun dimatikan. Eleonara melihat jam melalui ponselnya, waktu sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.
"Hah, ternyata sudah selarut ini. Aku harus pulang," gumam Eleonara sambil memasukan ponselnya ke dalam tas dan berjalan menuju room di mana sebelumnya dia bersama Osman dan Zafer.
__ADS_1
Baru saja Eleonara membuka pintu, seseorang mendorongnya dari belakang hingga Eleonara tersungkur ke lantai. Pintu langsung ditutup rapat dan dikunci dari luar.
"Ukh!" rintih Eleonara sambil berusaha beranjak bangun. Lututnya terluka karena room ini lantainya menggunakan karpet berbahan kasar hingga membuat kedua lutut Eleonara lecet-lecet. "Siapa sih, itu? Tidak sopan sekali!" gerutunya. Eleonara tidak menyadari dia telah dikunci dari luar.
"Kamu tidak apa-apa, Güzel?" tanya Osman sambil berusaha menghampiri dengan langkah terhuyung-huyung.
Eleonara mengangguk. Osman memapahnya duduk di sofa. Eleonara merasa risih saat melihat Zafer sedang bernyanyi sambil melepaskan coat dan melepaskan kedua kancing atas kemejanya.
"Zafer Bey, kenapa melepas coatnya?" tanya Eleonara.
Zafer meletakan mic di atas meja sambil mengedikkan bahunya. "Saya merasa kepanasan saja," katanya sambil membuka seluruh kancing kemejanya. Sontak saja membuat mata Eleonara membulat sempurna.
Eleonara menelan saliva, canggung. Apa yang Zafer lakukan? Apa tidak punya urat malu? Karena gugup, Eleonara mengambil segelas minuman beraroma buah di atas mejanya dan langsung meneguknya sampai habis. Niatnya untuk meredakan rasa gugup dan gelisah di hati yang sedang menggebu-gebu.
Zafer melemparkan kemejanya ke sembarang tempat, lalu berusaha menyadarkan diri. Sementara Osman, wajahnya sudah begitu merah, keringat bermunculan di keningnya. Apa yang terjadi?
"Osman Bey, kamu baik-baik saja?" tanya Eleonara, cemas.
Osman tidak menjawab, malah menyeringai sambil menatap nakal ke arah Eleonara. Matanya menatap tajam ke arah dada, leher serta bibir Eleonara. Tentu saja Eleonara semakin resah dan menjadi berpikir yang tidak-tidak.
Koktail? Eleonara memperhatikan ketiga gelas kotail tersebut. Terbesit ingatan saat dia mengintip dua orang pelayan sedang memasukan serbuk ke dalam koktail secara sembunyi-sembunyi.
Apa jangan-jangan ... (Batin Eleonara)
Eleonara menoleh ke arah Zafer. Zafer sedang menatapnya penuh nafsu sambil terengah-engah. Dia buru-buru beranjak bangun. Dilihatnya Osman pun begitu, menatapnya penuh nafsu. Kini Osman sedang berusaha melepaskan pakaiannya.
"O-Osman Bey, Zafer Bey, a-aku pulang dulu. Sudah malam," ucapnya ketar-ketir. Eleonara buru-buru melarikan diri. Naas, ketika hendak membuka pintu, pintunya tidak dapat ditarik. Dia terkunci.
Apa?! Terkunci? (Batin Eleonara semakin terancam)
Eleonara mencobanya berkali-kali, tetap tidak bisa dibuka. Kali ini dia mencoba berteriak meminta pada siapa pun yang ada di luar untuk membukakan pintunya. Namun, keadaan bar ini sangat berisik, mungkin sebagian besar orang tidak akan mendengar teriakan Eleonara.
Brak, brak, brak!
__ADS_1
"Siapa pun, tolong buka pintunya! Aku terjebak di dalam," teriak Eleonara. Sesekali dia menengok ke belakang, kesadaran Osman dan Zafer hampir sepenuhnya hilang. Mereka semakin parah.
Eleonara menghampiri mereka, berusaha menyadarkan mereka dengan segala cara. Jangan sampai mereka benar-benar hilang kesadaran dan lupa diri.
"Osman Bey, Zafer Bey, sadarlah!" Eleonara mengguncang tubuh mereka satu persatu dengan kasar. "Kita terkunci, tidak bisa ke luar. Dengan tubuh besar kalian, kalian pasti bisa mendobrak pintunya. Coba lakukan. Aku ingin pulang," rintihnya dengan tetapan memohon.
Dibalik otot-otot lengan yang padat dan dada bidang yang berisi, sudah pasti Osman dan Zafer dapat mendobrak pintu, bahkan dengan satu kali tendangan saja. Namun, sepertinya Osman dan Zafer enggan melakukannya. Mereka malah berjalan mendekati Eleonara.
Eleonara menelan salivanya sambil beringsut menjauh. Kedua tangannya menyilang di dada.
"Hey, aku istri Juna! Teman kalian. Kalian mau apa? Aku adukan pada Juna, ya!" ancam Eleonara sambil melotot marah.
Zafer dan Osman tidak mendengarkan. Matanya hanya tertuju pada lekuk tubuh Eleonara yang menggiurkan. Zafer dengan kedua tangannya mengangkat pinggang Eleonara, lalu menggendongnya dan meletakkannya di atas sofa.
Tanpa siapa pun tahu, ada kamera tersembunyi yang terpasang di sudut pojok kanan atas. Seseorang sedang memantau mereka dengan puas dari kejauhan.
"Zafer Bey, Osman Bey, jangan sampai aku bertindak gila untuk menyadarkan kalian!" teriak Eleonara dengan kedua mata berkaca-kaca.
Dia berusaha melarikan diri, tapi lengan Osman yang berurat menahannya dan menariknya kembali ke sofa. Eleonara melihat kedua pria di hadapannya ini sudah bukan Osman dan Zafer lagi, melainkan iblis.
Bagaimana bisa aku melawan mereka? Tubuh mereka dua kali lipat lebih besar dariku. (Batin Eleonara)
Tiba-tiba saja, Zafer menindihnya dari atas dan mengecup tengkuk leher Eleonara dengan mata terpejam nikmat. Kemudian Osman menarik pergelangan kaki Eleonara dan membelai pahanya yang mulus.
"Tidak!"
Obat dalam koktail yang sebelumnya Eleonara teguk pun mulai bereaksi dalam tubuh dan melumpuhkan beberapa saraf kesadarannya, hingga kesadaran Eleonara menurun secara perlahan.
...
BERSAMBUNG!!
.
__ADS_1
.