Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Hot Jeletot Part-2 (18 Plus Plus)


__ADS_3

Sebenernya rawan banget Sabtu-Minggu nulis adegan nganu, ihi. Soalnya kalau gak hati-hati bisa masuk meja review-revisi dan babnya gak bisa terpublish kayak kejadian sebelumnya. Kalau di bab sebelumnya gak nyaman sama kata 'dad-a' atau kata sensitif lainnya yang dipisah-pisah aneh gitu, mohon dimaafkan ya, bestie. Itu cara saya biar update terus setiap hari meski isi babnya ada yang bikin degdegserr. Kedepannya mungkin lebih banyak, yah sesuai judul novelnya aja ygy, hehe (⁠´⁠ε⁠` )⁠ Jadikan sebagai hiburan aja cerita Juna dan Leona.


...


Juna membaringkan Eleonara di atas ranjang dengan tatapan sayu. Dia menindihnya dari atas sambil ditutupi dengan selimut dan melepaskan kacamata Eleonara. Gairahnya semakin menggebu melihat mulut Eleonara yang berair terbuka kecil. Ditambah lagi dengan dagunya yang terbelah, memberi kesan menggoda.


Namun, tiba-tiba saja bayangan Elena terlintas di pikiran Juna. Juna melihat Eleonara seperti Elena karena Elena juga memiliki dagu yang persis sepertinya. Juna segera menepis bayangan Elena dari pikirannya secepat mungkin. Dia tak ingin bayangan Elena malah mengecohkannya.


Eleonara masih saja menyilangkan kedua tangan di dad-a. Belum leluasa memperlihatkannya pada Juna segamblang itu. Dia malu.


"Leona, kita harus berkomitmen untuk berusaha mencintai satu sama lain. Mulai sekarang, hanya saya laki-laki yang berhak menyentuhmu dan melihat lekuk tubuhmu. Begitu pun kamu pada saya. Kamu berhak atas tubuh saya seutuhnya," ujar Juna lirih sambil menarik tangan Eleonara dan meletakkannya di denyut jantungnya.


Eleonara menelan saliva saat melihat tangannya menyentuh tepat di bagian tato berinisial El yang telah dia temukan jawabannya yaitu Elena.


Eleonara menganggukan kepalanya sambil tersipu malu karena Juna sesekali menatap ke inti da-danya yang sudah menegang dari tadi, seakan minta disentuh. Eleonara merasakan tangan Juna yang satunya sedang sibuk melakukan sesuatu di bawah sana. Entah sedang apa karena tidak terlihat, tertutup selimut.


Namun, saat Eleonara hendak bertanya, tiba-tiba Juna menekuk kedua lututnya yang membuat Eleonara panik seketika. Eleonara langsung membekap mulutnya saat sesuatu terasa menerobos mahkotanya dengan begitu kuat.


Deg!


Sakit dan perih yang dia rasakan sampai air matanya pecah tak tertahan. Satu kali percobaan gagal, kedua kalinya masih gagal dan ketiga kalinya berhasil. Kepemilikan Eleonara begitu sempit untuk ukuran jamur super Juna yang wow.


Wajah Eleonara sampai dibuat merah total, antara menahan sakit, sakit, sakit dan nik'mat. Ingin dia teriak sekencang mungkin, tapi tak berani.

__ADS_1


Juna tersenyum sambil mengusap air mata di sudut mata Eleonara. Dia mengecup pundak Eleonara sambil menghentak-hentakkan pingg-ulnya secara hati-hati. Uh, aroma tubuh Eleonara begitu enak, membuatnya semakin bergair-ah.


Juna menyingkirkan tangan Eleonara dan dia kembali melahap bibir manisnya. Eleonara membuka mulutnya secara tak sadar, Juna pun langsung mengeksplor lidahnya ke dalam.


Eleonara mendekap tubuh Juna diriingi erangan yang kuat karena semakin lama semakin perih. Air matanya tak henti mengalir dengan napas tersengal-sengal.


Kedua mata Juna sudah tertutup nafsu, dia meny-sap kuat sekitar da-da dan leher Eleonara sampai meninggalkan beberapa tanda merah kecil-kecil. Suasana semakin terasa panas, membuat kedua pemain dibanjiri peluh. Padahal sejak tadi AC dihidupkan, tetap saja rasanya sekujur tubuh mereka terbakar.


Hingga pada akhirnya Juna mencapai puncak kenikmatan yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Rasanya tubuh seakan melayang di udara. Dia mempercepat ritmenya.


Dan usai sudah.


Eleonara merasakan jamur super Juna berked-ut di dalam kepemilikannya dan menjadikan itu hangat juga lengket. Diikuti ambruknya tubuh Juna yang melemah sambil terengah-engah, seperti orang yang sesak napas.


...


Eleonara mengerjapkan matanya perlahan. Dia sedikit terkejut saat mendapati dirinya sedang memeluk manja perut Juna yang sixpack. Juna masih tidur, nyenyak sekali sepertinya, karena penglihatan Eleonara agak buram tidak memakai kacamata.


Eleonara membenamkan wajahnya ke dalam selimut sambil senyum-senyum sendiri. Hatinya berbunga-bunga mengingat kejadian semalam. Perasaannya bahagia. Dia sampai menggigit sarung bantal karena saking senangnya. Ingin sekali rasanya terbang ke angkasa.


"Sudah, sudah. Jangan terlalu bahagia, sisakan sedikit ruang untuk kecewa," gumam Eleonara memperingati dirinya sendiri untuk tidak berlebihan.


"Pak Juna?" bisiknya sambil tersenyum lebar. Namun, tampaknya Juna tidak bergerak sedikit pun. Napasnya masih terdengar teratur.

__ADS_1


Eleonara jadi memperhatikan Juna dalam diam. Dia larut pada paras tampan suami Turki-nya itu. Alisnya tebal membentuk, bulu matanya juga tebal lentik, hidungnya mancung, bibirnya tipis, rahangnya tegas dengan jambang yang merambat di pipi. Belum lagi dengan bentuk tubuhnya yang ideal.


Mimpi apa aku saat itu sampai bisa mendapatkan suami tampan, baik dan ramah seperti Pak Juna? Semalam ... ehem, semalam dia juga memperlihatkan keperkasaannya, hihi. Duh, jadi malu. Kenapa kejadian semalam terbayang terus, sih?! Andai aku bisa mengeluarkan otakku, akan kutampar dia agar berhenti memikirkannya. (Batin Eleonara sambil tertawa tanpa suara)


"Pak Juna?!" panggil Eleonara lagi. "Pak Juna, bangun, dong!" Eleonara sampai harus mengguncang tubuh Juna dengan sedikit kasar karena rasanya sepi ditinggal tidur.


Juna pun terbangun dari tidurnya. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku, lalu mengerjapkan matanya perlahan. Begitu penglihatannya jelas, sosok Eleonara yang pertama kali dia tangkap.


Blush...


Kedua pipi Juna langsung merona dengan mata terbelalak. Dia buru-buru menarik selimut dan bersembunyi di dalamnya.


"Lho, lho, kok malah sembunyi?!" tanya Eleonara, heran.


"Saya malu, memangnya kamu tidak?!" kata Juna dengan suara yang menggema di dalam selimut.


"Apa? Malu? Astaga, yang benar saja, hahaha. Bisa-bisanya Pak Juna malu. Aku kira Pak Juna tidak punya urat malu, bhahahaaa...."


Eleonara ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk Juna gemas, lalu menghujani pipinya dengan kecupan manja. "Muah, muah, muah, muah! Oh, çok güzel, Maşallah."


"Hey, itu kata-kata saya!" teriak Juna tak terima.


....

__ADS_1


BERSAMBUNG!!!


Jangan dulu kaboor, like dulu atuh bestie, hihi. Oiya, mau minta dukungannya buat para readers yang baik hati, saya lagi ikut lomba Chat Story judulnya 'Setelah Nikah Kontrak' (bisa di cari dipencarian). Masih tentang Juna sama Leona juga, tapi dikemas dengan kisah yang berbeda. Bantu like, komen dan tambahkan favorit ya, makasih^^


__ADS_2