
Setelah memberikan nomor ponsel Sora, Mariam bergegas mengirimkan pesan pada Sora, memberitahukannya kalau Juna sedang mencarinya dan Mariam ingin Sora menonaktifkan nomornya atau lebih bagus membuang ponselnya jauh-jauh.
Di rumah sakit, saat Syam kembali setelah membeli makanan untuk Eleonara yang sudah siuman, dia melihat di ruangan Eleonara ada Vivian. Syam tentu terkejut dan bertanya-tanya.
Kenapa bisa ada teman Nona Leona? Tahu dari mana dia Nona Leona ada di rumah sakit? (Batin Syam)
Syam berusaha menguping pembicaraan Eleonara dan Vivian dari celah pintu sambil menggenggam jinjingan makanan di tangannya.
"Kamu lagi ngapain di sini, Vi?" tanya Eleonara dengan wajah pucat dan terlihat sangat lemah tak bertenaga.
"Aku abis berobat, flunya gak sembuh-sembuh," jelasnya. "Kamu sendiri kenapa? Kok, bisa dirawat? Keserang flu juga?"
Eleonara hanya menghela napas hampa sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa?" Vivian semakin penasaran. "Muka kamu juga pucet banget." Dia menyentuh kening Eleonara memeriksa suhu tubuhnya, tapi tidak panas.
"Aku tenggelam di kolam renang," ungkapnya.
"Apa?! Serius kamu? Di kolam renang rumah majikan kamu itu? Jatuh, kepleset, apa gimana?" cecar Vivian cemas.
"Bukan, di dorong Kak Sora."
"Kakak lampir itu lagi? Astaga, dia udah bener-bener kelewatan, udah gak bisa dimaklumi, El. Lapor aja langsung ke polisi, biar dipenjara. Kasih pelajaran dong kali-kali, jangan diem terus kamu. Liat kan, karena selama ini kamu diem terus ditindas dia sama ibunya, dia semakin menjadi-jadi," ucap Vivian sambil mengusap idungnya yang gatal. Sedang sakit saja semangatnya mengomel tidak pudar.
Eleonara mengangguk. "Aku tau, aku udah pernah beberapa kali nyoba buat ngelawan mereka, tapi mereka selalu bilang kalau mereka bakal buang aku kayak waktu aku bayi. Kamu tau kan, masalah aku yang dibuang waktu bayi itu jadi bikin aku trauma sampai sekarang," ucap Eleonara sambil menatap sendu.
"El, denger ya, kalau mereka mau buang kamu, harusnya kamu bersyukur. Kamu bisa lepas dari keluarga yang toxic kayak gitu. Coba aja tiap hari kalau kamu gak dipukul, dicubit, ya dijadiin babu. Terus kalau kamu lepas dari mereka gak bakal ada yang bisa nyakitin kamu lagi. Orang-orang kayak gitu mah gak pantes di sebut keluarga. Mana ada keluarga yang suka main tangan kayak gitu, yang dari kecil sampai sekarang bikin kamu menderita," ucap Vivian panjang lebar dengan mulut komat-kamit.
__ADS_1
Eleonara terdiam merenung, tampak sedang memikirkan dengan penuh pertimbangan.
"Emangnya kenapa sih, kok si Kakak Lampir itu nemuin kamu ke rumah majikan kamu? Kayak yang gak ada kerjaan lain aja," tanya Vivian penasaran.
"Mau nginep katanya mumpung majikan aku lagi ke luar negeri, tapi dia malah tiduran gitu aja di kamar majikan aku. Aku kasih tau dia jangan bersikap seenaknya di rumah orang, eh dia malah marah-marah, terus jambak rambut aku. Aku udah nyoba ngelawan, tapi gak sanggup. Kak Sora kalap terus nyeburin aku ke kolam," jelas Eleonara dengan bibir mengerucut.
"Bener-bener gila! Udah ilang rasa kemanusiaannya tu orang. Terus kamu ditolongin sama siapa, dong?"
"Emm ... majikan aku kebetulan pulang. Dia yang nyelametin aku."
"Di mana dia sekarang? Aku pengen ngucapin rasa terima kasih aku sebagai sahabat kamu."
"Eh, dia ... lagi ke luar cari makanan," bualnya lagi dan lagi.
"Hah, gitu ya. Terus gimana sama si Kakak Lampir itu? Dia langsung kabur pas nyeburin kamu?" tanya Vivian dengan mata menyipit.
"Kamu mau laporin dia ke polisi, gak? Kalau mau aku bakal bantuin," ucap Vivian. Dia melihat Eleonara yang sedang bimbang. Karena memasukan Sora ke dalam tahanan merupakan keputusan yang tidak mudah. Pasti akan terjadi perselisihan dengan Abraham dan Mariam.
"El, dari kejadian ini sebenernya Tuhan lagi buka pintu hati kamu biar kalau di tindas gak diem terus. Kali ini Tuhan kasih kamu kesempatan buat bangkit lawan mereka, lho. Lain kali mungkin kamu udah gak ada kesempatan kayak gini lagi. Mau emangnya mati diusia muda? Bukannya kamu mau jadi desainer terkenal, terus sama-sama sukses bareng aku? Aku gak suka ah, kalau kamu lemah terus kayak gini. Bikin aku kesel tiap denger curhatan kamu. Udah dikasih tau lawan atau laporin, malah enggak juga." Vivian meluapkan semua isi di hatinya meskipun perkataannya terdengar cukup kejam, tapi terselip maksud untuk membuat Eleonara kuat.
"Kayaknya kalau masukin Kak Sora ke penjara gak semudah itu, Vi. Tapi, kalau ngelawan mereka aku bakal coba nanti. Cuma perlu tekad dan keberanian doang, kan?" tanyanya sambil menyeringai.
"Iya, gitu dong. Kalau mereka gak terima terus ngusir kamu, ya udahlah tinggal pergi. Di rumah aku juga masih ada kamar kosong. Gak usah ditangisin diusir sama keluarga kayak gitu mah. Yang ada mereka nyesel ngusir kamu, paling si Kakak Lampir itu yang bakal di suruh-suruh Mak Lampir buat cuci baju, cuci piring sama masak tiap harinya, hahaha! Kali-kali tunjukin kelicikan sama sifat jahat kamu dong, El," kata Vivian sambil tertawa, berusaha mencairkan suasana.
"Hehe, oke, oke. Kalau aku lawan mereka, kamu janji gak bakal bilang kayak tadi lagi, ya?"
"Yang mana? Yang gak suka sama kamu kalau kamu lemah?" tanya Vivian bingung. Eleonara mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. "Hihi, iyalah gak bakal. Tenang aja. Aku bakal setia sama kamu. Anggap aja aku ini bebeb kamu, ya. Kita kan sama-sama jomblo yang butuh kasih sayang dan perhatian. Sini peyuk."
__ADS_1
Vivian beranjak bangun, lalu memeluk Eleonara. Eleonara pun membalas pelukan hangat itu meski tubuhnya masih lemah. Di punggung tangannya terdapat selang infusan.
Mungkin sekarang waktunya aku harus berani. Tapi, bagaimana memulainya? Haruskah memberi Kak Sora pelajaran dulu? Benar, Kak Sora, Ayah dan Ibu begitu tunduk pada Pak Juna. Aku akan menyalahgunakan kekuasaannya saja untuk menakut-nakuti mereka, hihi. Lupa kalau sekarang sudah punya suami yang hebat. (Batin Eleonara)
Syam yang masih menguping dari luar begitu terkejut mengetahui kalau ternyata Eleonara bukan anak kandung Pak Abraham dan lebih terkejutnya lagi kalau ternyata Eleonara selalu diperlakukan tidak baik di dalam keluarganya.
Berita bagus! Tuan harus tahu semua ini. (Batin Syam)
Syam menjauh dari ruangan Eleonara karena dia akan menghubungi Juna.
"Halo, Tuan?" bisik Syam hati-hati.
"Leona sudah siuman?" tanya Juna penasaran campur cemas.
"Sudah, Tuan. Nona sedang berbincang dengan Vivian, temannya. Saya punya kabar baru untuk Tuan dengar," ucap Syam tak sabar ingin tahu seperti apa reaksi Juna nanti setelah mendengarnya.
"Tahan dulu. Aku memiliki tugas penting untukmu," celetuk Juna yang membuat rasa menggebu-gebu dalam hati Syam hancur luluh lantak.
"Eh, tugas apa, Tuan?"
"Aku sudah mendapatkan nomor Sora, tapi begitu aku lacak dan pergi ke lokasinya, dia tidak ditemukan. Ponselnya ditinggalkan. Orangnya entah ke mana. Kerahkan semua anak buahku untuk mencarinya. Aku beri kamu waktu 24 jam, Syam! Kalau tidak, tanggung konsekuensinya nanti," ancam Juna.
-tut-
Panggilan telepon terputus.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!