
Semalaman Eleonara tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan keputusan yang sudah dia ambil untuk memutus hubungan dengan keluarga Abraham. Seakan tidak menyangka kalau sekarang dia sudah bukan anggota keluarga Abraham lagi. Apa pun problematika yang bersangkutan dengan keluarga Abraham, dia tak bisa campur tangan lagi.
Berkali-kali Abraham mengirimkan pesan padanya, menyuruhnya untuk membujuk Juna, tapi hal itu sudah tidak mempan lagi sekarang. Eleonara sudah berada di sisi Juna, dia akan menuruti setiap perkataan suaminya.
Pagi harinya, Juna memadu Eleonara olahraga memakai alat-alat gym. Makannya pun mulai sekarang terkontrol, tidak bisa sembarangan makan atau jajan. Tak lupa juga Juna mengolesi obat pembesar pada bagian-bagian yang diinginkan sambil sesekali merayunya dan ujung-ujungnya berakhir dengan dessahan Eleonara.
Juna sedang berusaha agar Eleonara tidak melulu memikirkan keluarganya.
....
"Bu Mariam, saya Juna. Bagaimana dengan uang 30 juta, kenapa sampai saat ini masih belum masuk rekening?" tanya Juna yang sedang menelepon Mariam.
"A-anu ... itu ... saya sedang mengusahakannya. Saya mohon Nak Juna beri kelonggaran sampai siang. Saya pasti akan menggantinya," ujar Mariam gelagapan.
"Satu jam. Saya beri waktu satu jam dari sekarang. Jika masih belum masuk uangnya, maka -"
"Baik, baik! Saya janji satu jam lagi akan saya kirim uangnya!"
Panggilan telepon pun terputus. Juna menyunggingkan senyumnya. Baru ditagih 30 juta saja sudah kelimpungan seperti itu, bagaimana kalau mengganti kerugian dari awal dengan total miliaran rupiah. Entah apa yang akan terjadi.
"Sayang, sedang apa, sih? Senyum-senyum sendiri?" tanya Eleonara dari belakang sambil menengadahkan wajah Juna yang sedang duduk santai di sofa. Mereka baru selesai olahraga dan Juna memutuskan istirahat sambil menghubungi Mariam.
"Sedang menagih hutang," jawab Juna.
"Ah, uang 30 juta itu, ya? Aku sampai lupa. Apa kata Ibu?"
"Dia akan mengusahakannya."
"Hehe, kasihan sih, tapi ... uang yang diambil secara paksa termasuk maling dan karena sudah tertangkap mau tak mau harus dikembalikan," ujar Eleonara. Dia mengusap peluh di kening Juna.
__ADS_1
Juna menarik pundak Eleonara dan mengecup bibirnya. Muah. "Lagi?"
"Lagi? Apa?"
Juna hanya menggerakkan kedua alisnya sambil menatap genit tanpa bicara. Eleonara langsung menarik diri. "Tidak mau! Aku mau istirahat sekarang."
"Tunggu dulu, mau ke mana? Sini ...." Juna menggendong tubuh Eleonara dan dia mendudukannya di atas pahanya sambil memeluk perutnya erat-erat.
"Bulan ini kamu belum datang bulan, kan? Biasanya kapan?" tanya Juna penasaran.
"Emm ... sebentar lagi. Biasanya pertengahan bulan. Ini saja sudah timbul jerawat di hidung," tunjuk Eleonara pada bagian jerawatnya yang membengkak merah di hidung.
"Tuh kan, sebentar lagi. Jadi saya harus mempersiapkan diri sebelum kamu benar-benar datang bulan. Seminggu itu waktu yang lama untuk menunggu dan bersabar," keluh Juna sambil diam-diam memasukan tangannya ke dalam celana gym Eleonara.
Eleonara langsung menahan tangan nakal Juna sambil protes. "Mau apa ini tangan?"
"Mau apalagi? Bicaralah pada tangan saya."
"Aha, kalau begitu sambil mandi saja." Tanpa menunggu respon Eleonara, Juna menggendongnya menuju kamar mandi. Eleonara berteriak pun Juna tak menggubrisnya. Kedua tangan Eleonara sampai menahan kusen karena saking tidak ingin masuk ke dalam, tapi Juna bersikeras menariknya masuk sampai pada akhirnya tangan Eleonara terlepas dan ...
Errr, awas kamu, ya! Aku balas saat aku datang bulan! (Batin Eleonara emosi)
....
Di kediaman Abraham.
"30 juta itu bukan uang kecil untuk kita. Aku bisa memakainya untuk menambah modal. Siinting kalian mengambil uang itu secara paksa dari Eleonara. Kalau kalian mau, kalian kan bisa minta padanya, dia pasti akan memberinya. Jangan direbut paksa. Haduh, kalian ini bodohnya sudah tidak ketulungan. Sekarang Juna sudah memutus hubungan aku dengan Eleonara, kita mau bagaimana ke depannya tanpa mereka?!" teriak Abraham emosi, memarahi Mariam dan Sora di kamarnya.
"Ayah, kita saat itu tidak terlalu memaksa mengambil uangnya. Kita juga bertanya pada Eleonara, apa uangnya boleh kami minta. Dia sendiri yang memperbolehkannya. Jadi, ini bukan mengambil secara paksa, kan?" bantah Sora sambil mengusap air matanya karena sebelumnya sudah habis dicaci maki Abraham.
__ADS_1
"Kamu pikir setelah semua kejadian yang menimpa kita akhir-akhir ini, Ayah akan percaya dengan ucapanmu begitu saja?! Jangan harap! Kepercayaan Ayah terhadapmu sudah hancur! Ayah sudah sangat kecewa padamu, Sora!" kata Abraham sambil melotot dan jari tangannya menunjuk-nunjuk kepala Sora.
"Mariam, aku tidak bisa membantumu. Aku juga sedang butuh modal. Kamu jual saja semua emas yang ada di tubuhmu itu," usul Abraham secara spontan begitu melihat kesilauan dari satu set emas yang Mariam kenakan.
"Apa! Jual emas-emasku? Tidak akan! Beraninya kamu bicara begitu. Aku menginvestasikan uangku selama ini ya, pada emas-emas ini."
"Iya, tapi sekarang kamu sedang butuh uang. Jangan menyulitkanku dengan apa yang kamu perbuat. Tanggung jawab sendiri, kekacauan ini disebabkan oleh perbuatanmu dan anakmu! Kenapa jadi aku yang harus mengganti rugi?! Enak saja! Aku saja sedang kesusahan," gerutu Abraham sambil berkacak pinggang.
"Kalau pun emas-emas ini aku jual, tidak sampai 30 juta. Mungkin hanya 15 jutaan. Kamu melihat istri sendiri sedang kesusahan, apa tidak ada hati untuk menolong?!"
"Mariam! Pertolongan seperti apa dulu yang aku lihat. Kamu sedang kesulitan karena merampok uang Eleonara, bukan karena hal baik. Kalau memang setelah menjual emas itu masih kurang, Sora juga harus turut berkontribusi karena dia juga melakukannya bersamamu. Jual laptopmu, tas-tas mewah dan sepatu brandedmu. Jual apa pun itu sampai uang 30 juta terkumpul dalam satu jam!"
Tentu saja Sora yang mendengar usul Abraham menolak keras sampai dia beranjak bangun dan buka suara.
"Tidak! Barang-barang milikku tidak boleh dijual, apalagi tas dan sepatu branded. Aku mendapatkannya susah payah, Ayah dengan gampangnya malah bilang jual saja. Kalau aku pergi ke agensi tanpa memakai barang-barang mewah, aku akan malu pada teman-temanku yang lain. Mereka akan memandangku rendah, Ayah!" protes Sora dengan kerutan di kening.
"Gaya saja terus yang ada di otakmu! Jika di pikir baik-baik Eleonara lebih bagus sifatnya dari pada kamu tukang menghambur-hamburkan uang. Kalau saja Eleonara itu anak kandung Ayah dan kamu anak angkat Ayah, Ayah tidak akan segan menendangmu ke luar dari rumah ini."
Deg!
"Mariam, Sora sudah tidak mengerti bahasa manusia. Kamu saja yang membujuknya untuk menjual barang-barangnya itu. Juna memberi waktu satu jam, sekarang sudah lewat beberapa menit. Kalau dia masih tidak mau menjual barang brandednya, ke luar dari agensi model lalu cari pekerjaan!" sambung Abraham sambil berlalu pergi dengan menutup pintu secara kasar.
"Ke luar dari agensi model?! Ayah, model adalah cita-citaku sejak kecil. Ayah tidak bisa menghentikanku begitu saja! Bu, huhu ... aku tidak mau ke luar dari agensi model. Aku baru saja lolos seleksi tahap kedua, tinggal satu langkah lagi, hiks...," rengek Sora sambil duduk di lantai seperti anak kecil yang tidak dikasih mainan oleh orang tuanya.
"Tenang, Sora. Kita cari jalan ke luarnya. Di mana kakakmu?" tanya Mariam.
"Dia pergi ke rumah Juna. Kak Varel dan Ayah satu komplotan, aku sangat marah dan membenci mereka! Aaaaaaa, aku sangat kesal! Semua ini gara-gara si culun! Jika saja saat itu aku yang menikah dengan Juna, aku pasti sudah hidup enak tanpa memikirkan apa pun lagi! Aku bisa membahagiakan kalian Ayah, Ibu, huhuuuu ... jika sekarang aku merebut Juna darinya apa masih sempat?" tanya Sora dengan air mata yang membasahi pipi.
...
__ADS_1
BERSAMBUNG!!