Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Lagi-lagi Membuat Juna Kesal


__ADS_3

"Sayang, ada notif 30 juta masuk ke rekeningku!" teriak Eleonara sambil berjalan menghampiri Juna yang sedang memasukan mentahan agate ke dalam box. Tubuhnya di balut handuk kimono dengan handuk kecil yang melilit rambutnya.


"Tepat waktu juga. Baguslah, kamu bisa pakai uangnya," ucapnya tanpa menoleh, tampaknya Juna sedang fokus.


"Mereka mengumpulkan uang dari mana, ya?" gumam Eleonara bertanya-tanya.


"Mungkin meminjam atau menjual apa pun yang bisa dijual. Jangan dipikirkan," duga Juna. "Canım, tolong ambilkan kertas berisi alamat yang sudah saya print di atas meja kerja saya dan juga timbangan digital. Di kolong mejanya."


"Oke!" Eleonara berlari kecil menuju ruang kerja Juna. Dia mengambil apa yang Juna sebutkan tadi, lalu kembali membawanya.


"Mau kirim barang lagi?" tanya Eleonara.


"Evet. Serkan Yıldız adalah teman saya sejak kecil. Dia tinggal di Turki. Saya akan mengirimkan agate ini padanya."


"Ah, apa dia orang Turki asli?" Eleonara terlihat penasaran.


Juna mengangguk sambil menimbang bahan agate satu persatu.


"Bagaimana orangnya? Tampan tidak? Apa dia akan berkunjung kemari?" Pertanyaan Eleonara ini sudah mengusik ketenangan Juna sampai Juna menoleh menatapnya dengan sinis.


"Sangat-sangat tampan. Beberapa waktu lagi dia akan datang ke sini. Kenapa bertanya begitu? Firasat saya jadi tidak enak," ujar Juna dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Hehe, hanya bertanya saja. Sensitif sekali."


Tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi. "Lihat siapa yang datang. Sepertinya paket saya," kata Juna.


"Paket? Paket apa?" tanya Eleonara heran.


"Apalagi? Tentu saja agate. Beberapa hari lalu saya memesannya dari Greenland. Sudah, cepat bukakan pintunya. Eh, tunggu, tunggu! Tutupi dulu dadamu dengan kain." Juna mengambil kain random secara asal dari yang bisa dia gapai saja, lalu dia membelitkannya di dada Eleonara karena belahan dadanya terlihat akibat mengenakan handuk kimono.


Eleonara pun berlalu meninggalkan Juna. Begitu dia membuka pintu. Dia melihat sosok Varel yang sedang berdiri di luar gerbang.


"El!" teriak Varel.


"Kak Varel?" Eleonara berjalan menghampiri dengan kening mengernyit. "Ada apa, Kak?" tanyanya.

__ADS_1


"Buka gerbangnya. Kakak ingin buat perhitungan pada orang Turki itu!" Varel tampak menyimpan dendam menggunung pada Juna.


"Buat perhitungan bagaimana?" tanya Eleonara. Kedatangan Varel yang tidak ramah membuatnya merasa cemas.


"Kamu dipaksa putus hubungan dengan keluargaku, haruskah Kakak diam dan menerimanya begitu saja? Memangnya siapa dia? Mentang-mentang kaya bisa seenaknya memutus hubungan kita. Meski dia sekarang adalah suamimu juga tidak berhak bicara begitu!" geram Varel sambil berkacak pinggang.


Eleonara tidak kunjung membukakan pintunya. "Kalau Kakak ke sini untuk membuat keributan dengan Pak Juna, sampai kapan pun aku tidak akan bukakan pintunya," ancam Eleonara. Dia tak ingin melihat kakak dan suaminya bertengkar lagi seperti sebelumnya.


"Kamu sekarang sudah berpihak padanya? El, kamu sudah berubah drastis. Kakak merasa sedih setiap kali kamu ada di pihaknya. Apa yang membuatmu seperti ini, hm?" tanya Varel sambil menggenggam tangan Eleonara melalui celah gerbang.


"Aku ... aku masih sama seperti dulu. Tidak ada di pihak mana pun. Aku hanya tidak ingin melihat kalian bertengkar seperti kemarin. Apalagi kalau sampai ada yang terluka, aku tidak mau," jelasnya sambil menatap getir.


"Kakak datang bukan untuk mencari masalah, tapi untuk meluruskan masalah kemarin. Kamu tidak percaya lagi pada Kakak? Kakak ingin bicara berdua dengan suamimu, itu saja. Kakak bisa berjanji tidak akan membuat keributan," kata Varel memohon.


Eleonara merasa tidak tega melihat Varel sampai memohon dengan ekspresi kasihan begitu. Akhirnya dia memutuskan untuk membukakan kunci gerbang. Namun, begitu gerbang hampir terbuka. Juna datang dan mencegah Eleonara.


"Leona, lain kali harus minta izin pada saya jika ada orang lain bertamu. Jika saya tidak mengizinkan, dia tidak boleh masuk, mengerti?" kata Juna sambil mengusap pipi Eleonara dengan lembut di depan mata Varel.


Rahang Varel mengeras, tangannya mengepal kuat. Dia berusaha untuk tidak emosi karena baru saja Eleonara memperingatinya untuk tidak membuat keributan.


"Kalian sudah tidak ada hubungan keluarga lagi. Kamu juga sudah bukan kakaknya lagi, masih menyombongkan apa?" balas Juna sambil menatap tak suka.


Tin!


Tiba-tiba saja suara klakson mobil mengejutkan mereka dan memecah suasana mencekam. Juna dan Eleonara melihat mobil siapa yang datang. Ternyata mobil David.


"Tante!" teriak Moza dari dalam mobil sambil melambaikan tangan dengan senyum manis yang terukir indah di wajahnya.


Juna menghela napas hampa sambil membukakan gerbang. Melihat ada celah, tanpa pikir panjang Varel masuk dan berdiri di samping Eleonara diikuti dengan mobil David yang terparkir di halaman depan.


"Kamu?!" kata Juna sambil melotot pada Varel. Sejak kapan dia mengizinkan Varel masuk?


"Kenapa? Rumah ini juga rumah adikku, tidak bolehkah aku masuk? Yang datang dengan mobil mewah juga sepertinya kakakmu dan anaknya," balas Varel sambil memasang wajah menantang.


"Ck!" Juna hanya bisa berdecak sebal. Eleonara pun menyuruh Juna tenang dan meminta untuk membiarkan Varel di sini.

__ADS_1


"Siapa, Jun?" tanya David sambil melirik ke arah Varel. Dia melihat tampilan Varel dari ujung jaki hingga kepala. Remaja yang penampilannya seperti badboy dengan anting di telinga kirinya.


"Saya kakaknya Eleonara, Varel Lincoln," sapa Varel sambil mengulurkan tangan kanan dengan senyum ramah pada David. Juna merasa iri hati melihat sikap Varel yang sangat berbeda.


"Ternyata kamu bisa bersikap ramah juga," singgung Juna.


"Tentu saja. Sikapku itu pilih kasih, lihat-lihat dulu seperti apa orangnya baru memilih sikap mana yang cocok ditunjukkan," ujarnya mengada-ada.


"Maksudmu saya terlihat kasar jadi kamu menunjukan sikap kasar pada saya, begitu?" tanya Juna sebal.


"Yup, memangnya ada alasan lain yang lebih masuk akal dari itu?" jawab Varel dengan ekspresi songong.


"Argh!"


"Sudah, sudah! Jangan mulai lagi! Malu dilihat Moza," kata Eleonara protes yang kini sedang menggendong Moza.


"Ada apa sebenarnya? Yang satunya adalah kakak Leona, satunya suami Leona. Kalian bertengkar meributkan apa? Jun, dia ini kakaknya Leona, kenapa sikapmu kasar begitu? Beri hormat padanya," ujar David memarahi Juna.


"Pfftt ... memang seharusnya begitu kalau orang normal yang berpikir. Di mana-mana juga adik ipar harus hormat pada kakak ipar. Benar kan, Bro?" kata Varel pada David sambil menggerakkan kedua alisnya.


"Bra, Bro, Bra, Bro. Siapa Bro-mu?" ujar Juna sambil menyipitkan kedua matanya.


"Tentu saja benar. Meski kelihatannya usiamu lebih tua dari kakaknya Leona, tapi kamu harus tetap menghormatinya, Jun. Jangan bikin malu, dong," kata David.


"Ck, Kakak tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara kita kemarin. Jangan ikut campur." Juna merasa terusik dengan apa yang David katakan karena dia tidak tahu apa-apa, tiba-tiba langsung menyudutkannya. "Varel, kan? Ada apa datang kemari? Kalau mau cari masalah, pergi dari sekarang," ujarnya tak ramah.


"Tidak punya etika atau apa? Melihat ada tamu agung sepertiku bukankah hal pertama yang harus dilakukan itu menyuruhku masuk dan duduk? Benar tidak, Bro?" tanya Varel lagi pada David, sengaja karena sepertinya dia akan mendapat keuntungan bila memanfaat David di depan Juna.


"Masuklah, abaikan saja sikap kekanak-kanakan adik saya. Sepertinya dia hanya ketakutan kamu mengambil Leona darinya. Ayo," ajak David.


Varel dan Eleonara pun masuk ke dalam bersama Moza. Diam-diam Varel tersenyum mengejek pada Juna. Dia terlihat puas melihat Juna kesal.


....


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


__ADS_2